Layangan Kertas

Layangan Kertas
23. Usaha Yang Belum Membuahkan Hasil


__ADS_3

"Ma, ada layangan disana." Tunjuk pak Bastian pada istrinya. Mereka sedang dalam perjalanan ingin kekantor Riyan untuk mengunjunginya.


Ibu Shakila pun menatap kearah telunjuk suaminya. Ia menganggukan kepalanya. Bentuk-bentuk layangan tersebut sama persis dengan bentuk layangan yang paling disukai oleh Alis saat mereka mainkan dulu. Shakila merasa sangat sedih, selama ini mereka sudah berusaha mencari Alis namun tidak pernah ketemu, bahkan beberapa orang suruhan mereka pun juga sudah dikerahkan sejak lama.


Pak Bastian tampak terpekur menatap layangan itu, ingatannya kembali pada saat-saat bersama Alis dulu. Matanya tidak pernah lepas dari layangan tersebut.


"Pak, dimana letak orang bermain layangan disini?" Tanya pak Bastian pada sopirnya.


"Di lapangan hijau Tuan, tidak jauh dari sini." Jawab sopir itu sambil memelankan mobil mereka yang hampir mendekati lapangan hijau.


Pak Bastian tampak mengangguk, "kita berhenti disitu saja." Kata pak Bastian, yang dibalas anggukan oleh sopir.


Mobil yang mereka tumpangi tampak berhenti tepat dilapangan hijau. Bergegas pak Bastian turun dari mobil tersebut dan berlari untuk mengitari lapangan. Ia merasakan keberadaan Alis, ia sangat yakin bahwa layangan itu adalah milik anaknya Alis.


Shakila menghampiri Bastian yang tampak kecewa karena mendapati segerombolan anak-anak yang tampak riang dengan benang layangan ditangan mereka. Padahal ia berharap penuh kalau yang memainkan layangan tersebut adalah anak bungsunya, anak gadisnya yang sangat dirindukannya.


Shakila menepuk lembut punggung suaminya untuk menenangkan suaminya. Sekali lagi Bastian menatap kearah layangan kertas yang menggantung di angkasa kemudian menatap anak-anak tersebut.


"Udah pa, lebih baik kita mengunjungi Riyan terlebih dahulu, nanti dia menunggu kita kelamaan." Kata Shakila sambil menatap wajah suaminya yang agak kurusan sekarang.


Bastian menganggukan kepalanya dan berjalan bersama istrinya menuju kearah mobil mereka. Ia kembali menatap layangan tersebut yang membuat bayangan Alis kecil membayang dipelupuk matanya.


Bastian begitu menyesali masa lalunya yang telah mengusir Alis dari rumah mereka dulu. Tanpa mau mendengarkan alasan ataupun penyangkalan yang keluar dari mulut Alis.


Shakila menatap handphonenya yang berbunyi. Ia membuka notif pesan di handphonenya dari Riyan.


Riyan : Mam, kita ketemu dikafe LK. Lokasinya Riyan share.


"Pak, kita ke kafe LK." Kata Shakila menginterupsi sopirnya. Sopir hanya menganggukan kepalanya, sementara Bastian tetap hanyut dengan kenangannya.


Sepuluh menit kemudian mobil yang mereka tumpangi tampak berhenti disebuah kafe yang berada di tengah kota. Kafe ini terlihat ramai pengunjung. Bastian dan istrinya menuruni mobil mereka dan memasuki kafe tersebut.


Bastian tampak terperangah dengan dekorasi kafe ini. Begitu juga dengan Shakila yang menatap takjub pada dekorasi kafe yang di penuhi oleh layangan kertas. Semua ini benar-benar mengingatkan mereka pada sosok Alis. Apakah suatu pertanda atau hanya kebetulan saja?


Mereka menghampiri resepsionis untuk menanyakan tempat yang sudah direservasi oleh Riyan.


"Mba, boleh kami bertemu dengan manejer kafe ini?" Tanya Bastian setelah resepsionis tersebut selesai berbicara dengan istrinya. Shakila mengerutkan dahinya mendengar permintaan suaminya. Ia menatap kearah suaminya, namun hanya anggukan yang diberikan oleh Bastian.


"Boleh, mari saya panggilkan. Atau bapak mau keruangannya." Kata si resepsionis sambil tersenyum manis.


Kebetulan pada saat itu, Anto tampak melintas didepan mereka.


"Pak Anto, ada yang mau bertemu dengan Bapak." Kata Dona yang sudah menghampiri Anto.


Anto menatap kepada Bastian dan istrinya. Mereka saling berjabat tangan.


"Boleh kami tahu pak, kafe ini siapa pemiliknya?" Tanya Bastian menatap Anto.

__ADS_1


Anto tersenyum menatap kearah Bastian, "Ma'af pak, kami tidak bisa memberitahukan pada Anda. Ini merupakan kebijakan dari sang pemilik kafe ini." Kata Anto yang merasa sungkan.


Bastian hanya menganggukan kepalanya dan mengucapkan terima kasihnya. Mereka pun segera berlalu untuk menuju kearah ruangan tempat Riyan menunggu.


💦💦💦


"Pa, papa kenapa?" Tanya Riyan saat melihat papanya yang baru masuk. Bastian tampak pucat bahkan dia sering melupakan istirahat malamnya.


"Ma, papa kenapa ma?" Tanya Riyan lagi yang mengulang pertanyaannya yang tidak mendapat jawaban dari ayahnya.


"Ibu juga tidak tahu, mungkin papa hanya kelelahan saja." Jawab Shakila sambil menggandeng suaminya menuju kearah kursi diruangan privat dikafe tersebut.


Riyan menatap dalam ayahnya, ia mengerti dengan perasaan yang dirasakan oleh ayahnya. "Pasti ayah kurang tidur lagikan?" Tanya Riyan untuk memastikan.


Ayahnya hanya mengangguk saja.


Riyan begitu sangat merasa bersalah sekarang. Ia begitu sangat egois karena tidak pernah memberitahukan tentang Alis pada mereka. Ia menjadi tidak tega untuk membiarkan ayahnya mencari keberadaan Alis. Riyan kembali menatap ayahnya yang tampak berbicara bersama ibunya. Ia menghembuskan napasnya pelan.


'Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberi kejutan pada Alis,' pikir Riyan sambil menatap kearah waiter yang sedang menyajikan pesanan mereka.


"Bagaimana dengan perusahaan kamu Riyan?" Tanya Shakila membuka percakapan setelah lama keterdiaman mereka.


"Semuanya baik ma." Jawab Riyan sambil mencomot kentang goreng.


"Kamu sudah dewasa Yan, sudah cukup umur, kamu juga mapan. Ayah dan ibu juga sudah tua. Kapan kamu memilih calon istrimu dan membawanya pada kami?" Tanya Shakila sambil menatap Riyan penuh harap.


Shakila menganggukan kepalanya. Ia begitu bangga dengan anaknya yang lebih mementingkan kepentingan keluarga mereka.


💦💦💦


Angga sedang duduk dibalkon kamarnya bersama Nando. Ia menceritakan pertemuannya dengan Alis kemarin, bahkan ia juga menceritakan kebingungannya tentang Riyan.


"Jadi si Alis itu orang kaya Ngga?" tanya Nando menatap kearah Angga.


"Iya, aku juga baru tahu Ndo, bahkan baru-baru ini." Jawab Angga.


Nando menganggukan kepalanya. "Dia sangat sederhana bahkan bekerja sebagai pelayan kafe?" Tanya Nando diujung kalimatnya yang terdengar ragu. "Sepertinya tidak mungkin deh Ngga dia bekerja sebagai pelayan kafe, diakan pemimpin perusahaan. Buat apa coba, buang-buang waktu untuk hal seperti itu. Sedangkan perusahaannya jauh sangat memerlukan dirinya." Kata Nando kemudian.


Angga tampak berpikir, benar apa yang dikatakan Nando. "Berarti ada makna lain dari kata-kata Januar kemarin."


Nando menganggukan kepalanya. "Benar Ngga, dan kamu harus mencari tahu tentang semua itu. Aku yakin, dibalik diamnya Alis, ada banyak kejutan yang diberikannya nanti."


"Kamu benar Ndo."


Angga menatap kearah kolam renang yang terdapat disamping rumah mereka. Ia kembali menerawang mengingat pertemuannya dengan Alis kemarin. Ternyata Alis sosok yang begitu mengagumkan bahkan dia seperti sebuah mutiara.


Tok-tok

__ADS_1


Terdengar suara pintu kamar Angga yang diketok. Angga berjalan menghampiri kearahnya, dan membukanya. Tampak berdiri Jessica dengan senyum merekahnya.


"Ada apa?" Tanya Angga tanpa berbasa-basi.


"Aku bosan dirumah, jadi aku jalan-jalan kemari."


"Bukannya kamu sedang dalam masa hukuman oleh om Heru."


Jessica memayunkan mulutnya mendengar kata-kata Angga barusan. Ia begitu sangat bosan dengan hukuman yang diberikan oleh ayahnya. Bahkan baru berjalan 3 hari, rasanya seperti berabad-abad lamanya. Kali ini pun ia telah membohongi ayahnya, dengan pergi kerumah Alis untuk meminta ma'af, padahal ia ingin pergi mengajak Angga keluar.


"Angga, keluar yuk jalan-jalan." Pintanya dengan memelas.


Angga menatap Jessica dengan dalam. "Tidak mau, kamu dalam masa hukuman, aku tidak mau menjadi tameng kamu." Jawab Angga tegas. Ia tidak mau dianggap buruk oleh om Heru karena sudah melindungi dan membebaskan Jessica untuk berjalan-jalan. Dia tahu kalau semua akses milik Jessica sedang disita untuk sementara waktu.


"Jess, apa kamu tidak mau berubah?" Tanya Angga sambil mempersilahkan Jessica untuk masuk. Angga kembali berjalan kearah balkon kamarnya yang diiringi oleh Jessica.


"Berubah jadi apa? Menjadi spaiderman?" Tanya Jessica dengan tersenyum jahil.


Angga berbalik menghadap Jessica dan memutar bola matanya dengan malas.


"Eh ada si cantik." Kata Nando yang melihat keberadaan Jessica. Ia tersenyum menyambut kedatangan mereka.


Jessica menghadap kearah Nando dan tersenyum tipis.


"Wuih, senyummu luar biasa." Nando memegang dadanya sambil menatap dan mengerling kearah Jessica.


Jessica yang melihat hal itu tampak mencibir kearah Nando. Sedangkan Angga yang melihat itu hanya terkekeh senang.


Nando tampak cemberut menatap kearah Angga yang tampak kesenangan melihat dia yang sengsara.


"Angga, pinjam handphonenya dong!" Rengek Jessica sekali lagi. Ia begitu merindukan sahabatnya yang berada jauh disana.


"Tidak mau! Kamu dalam masa hukuman Jess, jadi jalani dengan benar." Kata Angga


Jessica kembali mayun dan menghentak-hentakan kakinya. Ia sangat kesal karena Angga yang selalu menolak permintaannya. Jessica berbalik dan menatap Nando dengan senyum manisnya. Dengan perlahan ia mendekat kearah Nando.


"Tidak, tidak mau!" Jawab Nando dengan cengirannya sambil menatap kearah Angga yang sudah menatapnya dengan tajam.


Jessica kembali menghentakan kakinya, ia bersedekap sambil menatap Angga dan Nando dengan pelototan matanya.


Angga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Jessica yang merajuk. Ia tampak begitu manis, namun hanya karena salah pergaulan dan didukung dengan perlakuan orang tuanya yang terlalu memanjakannya hingga merubahnya menjadi pribadi yang luar biasa angkuhnya bahkan begitu semena-mena.


Semoga kamu berubah Jess dengan bantuan Alis, karena lawanmu kali ini lebih kuat dan lebih hebat dari kamu.


Batin Angga sambil menatap kearah Jessica yang melenggang meninggalkan mereka.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2