Layangan Kertas

Layangan Kertas
21. Permintaan Ma'af Seorang Angga


__ADS_3

Angga menatap Alis yang tampak sangat kaku saat duduk disampingnya. Angga menyopir mobilnya dengan tenang walaupun beribu pemikiran berkecamuk dibenaknya. Ia membelokkan mobilnya kearah kafe LK.


Alis hanya diam dan menatap kearah jalanan, entah hal apa yang akan dibicarakan Angga dan mengenai apa, Alis tidak dapat menebaknya. Pikirannya tampak berkecamuk.


Bergegas Angga membukakan pintu mobil untuk Alis. Sementara Alis masih diam menatap Angga yang bersikap aneh menurut Alis. Biasanya Angga selalu mencubitnya, namun kali ini berbeda. Terasa lebih manis, namun Alis tidak tahu maksud dari semua ini.


Alis keluar dari mobil dan mengucapkan terima kasih. Ia mengikuti langkah Angga untuk masuk kedalam kafe. Sementara Angga mensejajari langkah Alis.


Kini Alis menjadi pusat perhatian dari seluruh karyawannya. Mereka tampak memandang Alis dengan pandangan bertanya, karena tidak biasanya Alis bersama orang lain kecuali Liza. Mereka memberi anggukan hormat saat Alis menatap kearah mereka.


Angga tampak heran melihat sikap mereka pada Alis. Namun ia berusaha untuk memakluminya. Angga tidak mengetahui tentang kepemilikan kafe ini.


"Lis, pesan apa?" Tanya Angga saat mereka sudah menduduki kursi dikafe ini. Sementara, waiter sudah berdiri menunggu untuk mencatat pesanan mereka.


"Jus melon." Jawab Alis sambil menatap kearah manejer kafe yang juga menatap Alis dengan mimik bingungnya. Namun Anto tampak menganggukan kepalanya sebagai tanda sapanya.


Waiter mencatat pesanan mereka, ia berlalu setelah menyapa Alis dengan sopan terlebih dahulu dan hanya dibalas Alis dengan anggukan.


"Lis, bagaimana kabar kamu?" Tanya Angga yang berbasa-basi membuka percakapan.


Alis menatap Angga dengan heran namun ia tetap menjawabnya.


"Seperti yang kamu lihat, semuanya baik." Jawab Alis sambil menatap kearah Angga. Ia mencoba untuk


membaca raut muka Angga, namun sama sekali tidak terbaca.


"Sesuatu yang terlihat baik dari luar belum tentu baik juga didalam." Angga menatap Alis.


Alis tampak mengerinyit mendengar kata-kata Angga yang dimaksudkan untuk siapa.


"Sebenarnya ada sesuatu hal lain yang ingin aku sampaikan padamu." Kata Angga lagi yang paham dengan kebingungan Alis.


Alis hanya diam dan menatap Angga, ia menanti kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Angga.


"Aku ingin membicarakan tentang Jessica dan sekaligus tentang permintaan ma'afku padamu." Angga menjeda kata-katanya saat waiter datang. Ia mengucapkan terima kasihnya pada waiter tersebut, begitu juga dengan Alis. Angga kembali menatap Alis yang juga menatapnya dan tampak menunggu untuk berbicara.


Alis tetap diam untuk mendengar kelanjutan pembicaraan Angga tadi yang dirasanya terdengar belum lengkap.


"Terima kasih karena kamu sudah mau mema'afkan kesalahan Jessica. Sebenarnya Jessica itu baik tapi karena ia anak tunggal makanya ia dimanja oleh kedua orang tuanya sejak kecil. Dan apapun permintaannya selalu dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Karena itu ia tidak menyukai kekalahan dan menganggap semua orang remeh." Kata Angga panjang lebar.


"Bahkan kamu tetap mema'afkannya walaupun bukan dia yang memintanya secara langsung. Apalagi sikapnya padamu juga sudah keterlaluan dan sering berlaku tidak sopan padamu. Kasar mungkin lebih tepatnya." Kata Angga kemudian.


Alis menganggukan kepalanya dan masih menatap Angga dengan tenang. Ia merasa sangat maklum dengan keadaan Jessica, namun baginya walaupun sudah diberi ma'af tetapi hukuman tetap akan berlanjut. Selain untuk memberi efek jera bagi pelanggarnya juga untuk menegakan peraturan disekolah mereka.


"Lalu?" tanya Alis kemudian.

__ADS_1


"Tentang sepeda kamu yang dirusaknya, aku bisa menggantinya dengan sepeda yang baru." Kata Angga.


"Tidak perlu." Jawab Alis sambil tersenyum kaku.


"Tapi, itu alat transportasi kamu untuk sekolah kan?" Tanya Angga kemudian. Rasanya dia tidak mau mendapat penolakan dari Alis.


"Aku bisa naik alat transportasi yang lain, bus contohnya." Kata Alis yang selalu terlihat tenang.


"Oke kalau begitu."Jeda sesaat, Angga tampak menarik napasnya. "Aku minta ma'af padamu." Kata Angga dengan sungguh-sungguh sambil menatap mata Alis dengan sangat dalam.


Alis mengernyitkan dahinya, ia tidak paham dengan arah pembicaraan Angga ini, Alis menyesap jusnya dan kembali menatap Angga.


Angga menatap Alis yang hanya diam saja. "Selama ini, aku selalu mencurigaimu sebagai orang berbahaya." Kata Angga sambil menjeda kalimatnya. Ia menantikan reaksi Alis, namun tidak ada perubahan sama sekali selain pandangan datar.


"Ternyata semua kecurigaanku itu salah, kamu tidak seperti bayanganku. Aku terus dihantui rasa bersalah karena terlalu berpikir negatif tentang kamu. Oleh sebab itu, aku disini secara pribadi meminta ma'af padamu." Jelas Angga panjang lebar sambil menatap Alis dengan tatapan bersalahnya.


Alis menganggukan kepalanya dan masih menatap Angga dengan tenang. Ia maklum dengan kata-kata Angga barusan. Bahkan sebelum kejadian tentang Jessica pun ia sudah dianggap gadis aneh oleh mereka. Jadi, ia tidak mempermasahkan hal tersebut selama itu tidak mengganggunya.


Alis menarik napasnya sesaat. "Tidak apa-apa. Aku sudah mema'afkanmu." Jawab Alis singkat.


Angga tampak melongo mendengar jawaban Alis yang tampak tidak mempermasahkannya. Semudah itu! Bahkan ia juga tidak menganggap bahwa itu kesalahan tapi seperti sebuah pernyataan dari bentuk pengakuan.


Angga menatap Alis yang menyesap jusnya. Cantik, pikir Angga. Ia terkesiap dengan pikiran yang melintas dikepalanya. Angga tampak kikuk dan menghela napasnya.


"Jadi?" Tanya Angga pada Alis setelah keterdiaman mereka.


Alis kembali menatap Angga dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa takjub dengan lelaki didepannya ini, yang berbicara panjang lebar hanya untuk meminta ma'af.


"Semua itu tidak jadi masalah dan aku juga sudah mema'afkan semuanya. Jadi, diantara kita juga sudah tidak ada masalah lagikan?" Tanya Alis diujung kalimatnya.


Angga mengangguk mantap sambil menatap kearah Alis. Ia mengucapkan terima kasihnya. Ternyata Alis tidak seperti bayangannya selama ini. Dia begitu baik dan juga pema'af dibalik sikap kakunya.


Tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Mereka menikmati hidangan yang ada dihadapan mereka.


"Alis, ternyata kamu disini?" Tanya seseorang tepat berada disamping Alis. Alis memalingkan wajahnya, ia melihat keberadaan Januar dan juga Riyan.


Raut wajah Alis tampak menegang menatap keberadaan Riyan. Dan semua itu tidak pernah lepas dari pandangan Angga.


"Duduk aja ka disini." Kata Angga mempersilahkan keduanya untuk duduk dan berkumpul bersama mereka. Angga sangat mengenali Januar yang merupakan orang kepercayaan Alis. Namun ia menatap heran kearah Riyan.


Riyan yang merasa dipandang seperti itu, mengulurkan tangannya pada Angga untuk berkenalan. Ia menatap penuh tanya dengan keberadaan Angga yang baru pertama kali ini dilihatnya. Atau memang selama ini ia yang tidak tahu sama sekali dengan keadaan adiknya tersebut.


"Lis, pulang nanti sama aku dan juga Riyan. kita mau kerumah kamu." Kata Januar sambil melambaikan tangannya pada waiter.


Alis hanya menganggukan kepalanya, pikirannya tampak berkecamuk. Ia menatap jusnya cukup lama hingga dirinya tidak menyadari dengan kedatangan waiter yang meletakkan pesanan Riyan dan Januar.

__ADS_1


Alis menghela napasnya, sebenarnya ia sangat merindukan kakaknya namun dia tidak siap mendengar kabar yang menakutkan yang akan keluar dari mulut Riyan. Dia belum siap mendengar semuanya.


"Kamu tidak kerja Lis dikafe ini?" Tanya Januar sambil menepuk pelan bahu Alis.


Alis tampak terkesiap dan memandang kearah Januar. Dia menggelengkan kepalanya.


"Tumben, biasanya selalu sibuk dengan mengantar pesanan pengunjung." Kata Januar kemudian sambil menyesap minumannya.


Angga tampak mengernyit mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Januar. Alis bekerja sebagai pelayan kafe, kenapa bisa? Pikiran Angga kembali runyam namun ia tetap diam sambil melihat interaksi mereka.


Berbeda dengan Riyan, ia tampak menatap sendu Alis yang hanya diam dan sangat kaku. Hatinya kembali perih melihat perubahan Alis yang sangat jauh. Riyan menekan dadanya yang tampak sakit, ia menatap kearah dekorasi kafe ini yang mengingatkannya pada kenangan mereka. Bahkan hingga sekarang, Alis tetap menyukai layangan kertas. Walaupun kenangan itu meninggalkan bekas luka yang dalam.


Januar berdehem beberapa kali karena merasakan situasi yang canggung. Ia menatap kearah Angga yang tampak menatap Alis.


"Kalian teman dekat?" Tanya Januar sambil menunjuk kearah Alis dan juga Angga.


Angga menatap kearah Januar dan tersenyum tipis. "Tidak juga ka, kebetulan ada yang dibicarakan sama Alis."


"Urusan apa?" Tanya Januar kembali.


"Sesuatu." Jawab Angga sambil menaik-turunkan alisnya, seolah sedang menggoda Januar.


"Urusan cinta?" Tanya Januar kembali karena begitu penasaran.


Alis hanya memutar bola matanya malas. Ia menatap Januar dengan pelototan matanya.


"Awas Lis, matanya mau keluar, menggelinding itu!" Tunjuk Januar kearah Alis.


Angga dan Riyan yang mendengar itu tampak terkekeh, berbeda dengan Alis. Ia tampak jengah dengan suasana ini.


Alis mengeluarkan bukunya dari dalam tasnya. Ia tidak memperdulikan pada ketiga lelaki tersebut yang tampak menatap Alis dengan melongo.


"Dasar kutu buku!" Kata Januar sambil menatap Alis.


💦💦💦


"Lis, abang ingin menginap disini." Kata Riyan setelah keberadaan mereka cukup lama di kediaman Alis.


Alis tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. Alis menatap Riyan dengan haru. Ia begitu merindukan sosok kakaknya, namun ia takut kakaknya juga akan menolaknya seperti ayahnya yang menolak kebenaran yang sesungguhnya. Namun dugaannya ternyata salah, bahkan Riyan sama sekali tidak mengetahui tentang semua itu.


Riyan pun sangat kecewa pada orang tuanya hingga rasa kecewanya membuatnya tidak menemui mereka selama bertahun-tahun. Kebenaran ini baru sekarang diketahui oleh Alis. Bahkan kebenaran tentang penyesalan kedua orang tua mereka. Dan juga usaha mereka untuk menemukan Alis.


Alis meneteskan air matanya, ia berhambur kepelukan Riyan. Sekarang Alis tidak merasa kesepian lagi. Ia sudah tahu tentang kabar ini. Dan ia sangat bersyukur karena kebenaran pada akhirnya terungkap juga.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2