
Suasana kafe tampak sangat sibuk, lebih sibuk dari biasanya. Bahkan para pegawainya hilir mudik tanpa berhenti tapi itu tidak menjadikan kafe LK tempat yang sesak. Di pojok ruangan tidak jauh dari jendela kaca yang menghadap ketaman, duduk dua orang gadis yang saling bercengkrama, sesekali terdengar tawa renyah dari keduanya. Mereka adalah Jessica dan Alifa.
"Besok adalah hari terakhir Alis di skorsing, aku ingin melihatnya didepak dari sekolah kita. Aku bosan melihat perempuan yang angkuh seperti dia, sok berani lagi," tutur Jessica.
"Eh, bagaimana kalau kita memberinya pelajaran tapi diluar sekolah?" usul Alifa.
"Maksudmu?"
"Ya sepulang sekolah, besok kita kumpul lagi untuk rencana selanjutnya. Soalnya kan dirinya lusa baru muncul disekolah," kata Alifa.
"Oke! Aku setuju sekali, jangan hanya membuatnya keluar sekolah saja tapi buat dia jera seumur hidupnya karena berani melawan kita."
"Iya, pasti." Mereka tampak bertos ria sambil cekikikan tertawa tanpa menyadari seseorang yang sudah mendengar celotehan mereka.
"Siapa tuh?" tanya Alifa yang melihat Angga yang menghampiri mereka. Tatapan Angga begitu dingin pada mereka hingga Alifa merasa merinding. Ia pernah melihat lelaki tampan ini bersama Alis sebelumnya.
"Jess, kamu sedang apa disini?" tanya Angga dingin yang sudah duduk dihadapan Jessica, matanya tidak pernah lepas dari sosok Alifa. Ia tidak suka apabila Jessica terlalu dekat dengan gadis asing tersebut.
"Tentu saja kumpul sama Alifa, memangnya kamu buta?" Jessica tampak jengkel dengan pertanyaan Angga. Ia memberengut sambil menatap Angga. "Eh Angga, matamu kenapa sejak tadi menatap Alifa terus, coba lihat dia merasa kurang nyaman," bisik Jessica.
Angga hanya mengedikkan bahunya saja. "Om Heru mencari kamu, katanya handphone kamu tidak bisa dihubungi," ucap Angga acuh.
"Ya ampun, aku lupa kalau sekarang ada janji sama papa!!" teriak Jessica sambil menepuk jidatnya. "Oh iya Fa, aku duluan ya." Jessica meraih tasnya, ia bergegas meninggalkan mereka berdua.
Selepas Jessica pergi, Alifa tampak canggung. Sesekali ia melirik kearah Angga, namun yang dilirik tidak peduli. Dan sibuk dengan handphone yang ada ditangannya.
"Kamu... tidak pulang ikut Jessica atau... pesan sesuatu mungkin?" tanya Alifa berbasa basi, ia senang karena salah satu the most wanted sekolah sedang duduk di kafe bersamanya persis seperti orang yang berkencan.
"Kamu... jangan bertingkah polos seperti itu dihadapanku. Aku sudah tahu semuanya tentang dirimu, Jadi jangan pernah kamu mengganggu Alis," desis Angga menatap tajam Alifa yang seketika tampak memucat, namun ia masih bisa menyembunyikannya dengan senyum getirnya. Ia benci saat semua orang justru selalu membela Alis. Baginya, Alis tidak lain adalah seorang munafik.
"Tanpa kamu jelaskan sedikitpun, aku sudah tahu apa yang ada didalam kepalamu itu. Jangan pernah kamu mempengaruhi Jessica dengan hal-hal yang tidak baik, dia masih polos."
__ADS_1
"Rupanya kamu sudah tahu semuanya, apa kamu sudah mendengar percakapan kami sebelumnya?" tanya Alifa tanpa berbasa basi lagi. Ia merasa jengah kalau harus berpura-pura didepan Angga.
"Rencanamu tidak akan pernah berhasil karena orang yang licik pasti akan kalah dengan orang yang jujur." ledek Angga sambil tersenyum sinis.
Alifa menggenggam tangannya erat, ia merasa tidak terima dengan kata-kata Angga yang terdengar meremehkannya.
"Kamu tidak mengenal siapa aku, jadi berhenti untuk ikut campur urusanku." Alifa berdiri, ia bermaksud untuk meninggalkan Angga. Tapi gerakannya terhenti saat Angga tertawa, tawa yang membuatnya semakin marah.
"Aku memang bukan siapa-siapamu. Tapi sudah kukatakan dengan jelas bukan sejak awal tadi kalau aku sudah tau tentang dirimu baik itu masa lalu dan juga semua isi kepalamu."
Alifa kembali menatap Angga, dibola matanya tampak ada rasa kemarahan yang luar biasa. Ia tidak suka ada lelaki asing yang ikut campur urusannya terlebih lagi lelaki ini selalu membela musuhnya.
"Kenapa diam? Haruskah aku beberkan satu persatu kejadian yang sebenarnya saat kamu menuduh Alis dahulu, ataukah saat kamu bersama dengan ayahmu__"
"Stop!! Aku peringatkan padamu sekali lagi, jangan pernah ikut campur urusanku karena kamu tidak mengenal siapa aku," gertaknya pada Angga yang hanya menyeringai padanya. Ia tidak suka Angga terlalu masuk kedalam kehidupannya, apalagi kalau dirinya sampai menghalangi rencana Alifa.
"Dan ingat, kamu hanya sebatas mengenaliku dan juga ayahku. Jadi hati-hati denganku, bisa saja suatu saat nanti kamu yang akan kubuat celaka."
***
Riyan sedang berada dikediaman orang tuanya, ia masuk kedalam rumah tanpa mengetoknya terlebih dahulu dan langsung menuju kearah tangga.
"Duh Riyan, masuk rumah orang tua tidak ada sopan-sopannya. Tidak ada salam," teriak ibunya yang menatap Riyan dengan menggelengkan kepalanya. Tapi sedetik kemudian, ia segera bergegas mendatangi Riyan yang tampak heboh dan sibuk didalam kamar Alis. Ia seperti banyak dihinggapi masalah.
"Yan, ada apa sih kamu sibuk begitu, apa yang sedang kamu cari?" tanya Shakila yang bingung melihat putranya sedang membuka pintu kamar mandi dan juga ruang baju milik Alis, bahkan ia juga membuka gorden kaca milik Alis, tapi semuanya kosong. Tidak ada Alis sama sekali.
"Aku sedang mencari Alis, dia tidak ada dirumahnya. Apakah hari ini ia ada disini?" tanya Riyan dengan tenang setelah ia menatap kearah ibunya. Dengan berbagi masalah pada ibunya, ia merasa sangat lega sekarang walaupun perasaan khawatirnya tetap ada tapi setidaknya bebannya sedikit berkurang.
"Sejak beberapa hari yang lalu, Alis tidak pernah kemari. Sebenarnya mama ingin menyusulnya karena khawatir, tapi ayahmu melarang ibu. Ayahmu ingin agar Alis bisa menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum pertunangan diselenggarakan. Coba kamu tanyakan pada teman-temannya, siapa tahu kalau dia sedang bersama mereka. Jangan terlalu cepat menyimpulkan masalah, bisa-bisa kamu menyesal nantinya." Shakila tampak berkacak pinggang, ia tidak suka dengan kebiasaan anaknya yang terlalu berlebihan, apalagi menanggapi.hal seperti ini. Ia tahu kalau Riyan begitu sangat menyayangi adiknya karena Alis sudah hidup bersamanya sejak ia kecil, apalagi setelah Alis di fitnah dahulu. Riyan lah yang pertama membelanya dan marah pada sang pefitnah.
"Ma, masalah ini tidak semudah itu. Mama tidak mengerti dengan apa yang kutakutkan ini," Riyan tampak frustasi.
__ADS_1
"Mama tahu tapi sebaiknya kita tunggu ayahmu pulang!" Shakila memituskannya, ia meninggalkan Riyan.
"Tapi ma__" Riyan mengejar ibunya, ia tidak bersuara saat ibunya sudah mengangkat tangannya keatas.
"Mama tahu," Shakila segera menuruni tangga yang di ikuti oleh Riyan. Mereka tampak duduk diruang tamu dan tampak saling diam.
"Sebentar lagi ayahmu pulang, sebaiknya kamu saja yang menyampaikan masalah ini padanya."
Riyan hanya mengangguk saja mendengar penuturan ibunya. Tidak lama kemudian pintu rumah mereka tampak terbuka, Bastian muncul dan dengan langkah tergesa-gesa ia menghampiri anak dan istrinya yang berada dikursi ruang tamu.
"Kenapa bisa sampai terjadi?" tanya Bastian menatap Riyan dengan tatapan dalam.
"Aku juga tidak tahu pa, tiba-tiba ia menghilang dari rumah, aku sudah mengerahkan seluruh koneksi untuk mencarinya bahkan temannya yang tadi datang kerumahnya juga sudah memberi kabar bahwa dia tidak mengetahui keberadaan Alis.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Bastian.
"Belum ada hasil pa, semua masih berlanjut." jawab Riyan.
"Ternyata apa yang kutakutkan selama ini akhirnya terjadi juga." Bastian tampak lesu dibuatnya, ia bersandar pada kepala sofa. Pembantu mereka datang dan menyuguhkan minuman untuk mereka.
"Apa maksud papa?" tanya Riyan, ia menatap kearah ayahnya yang hanya diam saja, ia melirik kearah ibunya, namun ibunya hanya menunduk dalam saja.
"Sebenarnya Alis papa usir dari rumah, itu hanya rekayasa saja. Sebenarnya papa melakukan ini untuk melindunginya dari orang yang mengincarnya dan menginginkannya. Papa sengaja mengirimnya pada neneknya, karena papa tahu kalau neneknya sangatlah paham dengan situasi yang dihadapinya." Bastian menghela napasnya.
"Siapa orang itu pa?" tanya Riyan.
Bastian tampak berpikir sesaat dan menggelengkan kepalanya lemah. "Papa tidak tahu, mencari pelaku utamanya begitu sulit, sama seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Tapi papa tahu siapa kaki tangannya."
Riyan menatap ayahnya dengan serius, ia ingin tahu siapa orang yang sudah mengincar keluarganya sejak lama. Riyan paham dengan situasi ini, karena begitu banyaknya rival mereka dalam berbisnis, terlebih lagi perusahaan Alis adalah perusahaan terbesar kedua di Indonesia. Namun ia berharap, dimanapun Alis berada, ia akan baik-baik saja dan selalu menjaga dirinya dengan baik.
💦💦💦
__ADS_1