
Alis masuk kedalam rumahnya, biarlah kali ini ia tidak kerumah orang tuanya, biarlah rasa rindunya dipendam dahulu untuk meredakan gejolak hatinya yang sedikit gundah. Ia berjalan lunglai menuju kearah kamarnya. Ia ingin membersihkan dirinya dengan berendam air hangat beberapa menit kedepan.
Alis kembali mengingat dengan lelaki yang bernama Naufal, anak yang begitu playboy menurutnya bahkan setiap perempuan yang lewat selalu digoda olehnya. Alis bergidik ngeri membayangkan itu semua. "Bagaimana mungkin ayah menjodohkanku dengan pria hidung belang begitu. Bahkan postur tubuhnya yang melebihi kepasitas saja sudah membuatku merasa tidak nyaman saat menatapnya." gumam Alis sambil mencipratkan air kesisi lainnya.
Tok-tok
Alis mengerinyit heran saat pintu kamarnya diketuk. Ia berpikir keras, siapa gerangan orang yang mengetuk pintu kamarnya. Apa jangan-jangan maling, Aliskan hidup selama ini memang sendirian. Bergegas ia membilas badannya di bawah shower. Kemudian dengan cekatan ia mengeringkan badannya dan memakai pakaiannya.
Alis membuka pintu dengan perlahan, ia berjalan mengintip dan mengendap-ngendap. Namun tidak ia temui seorangpun. Ia menatap kearah pintu kamarnya yang terbuka sedikit. Alis mengintip dan melongokkan kepalanya keluar untuk memeriksa keadaan. Namun yang tercium malah bau masakan yang begitu sedap. Tanpa pikir panjang lagi, ia berjalan kearah dapur dan disana ia mendapati punggung lelaki yang sedang menghadap kearah kompor.
"Kak Riyan, kapan pulang?" tanya Alis sambil meletakkan bokongnya dikursi yang ada disana. Ia terus memperhatikan pergerakan Riyan.
"Baru saja." Kakak habis dari super market. Bahan makanan kamu dikulkas sedang kosong." ucap Riyan sambil mengaduk-aduk pancinya.
Alis mengangguk dan meraih cangkir dan menuangkan air minum kedalam gelas tersebut. Lalu ia menenggaknya. "Aku lupa membelinya."
Riyan mematikan kompor dan menuangkan spagetti buatannya kedalam 2 buah piring. Ia berjalan kearah Alis dan meletakkan dihadapan Alis. Riyan mendudukan dirinya disamping Alis sambil menuangkan air kedalam gelas.
"Kenapa kabur dari rumah hem? Apa kamu tidak suka bertemu ayah sama mama?" tanya Riyan sambil menatap kearah Alis.
Alis menghindari pandangan mata Riyan dan menunduk menatap spagetti buatan kakaknya. Ia mencicipinya dengan keadaan diam.
"Alis sebenarnya suka saat bertemu ayah, bahkan Alis merasa semua itu bagaikan mimpi. Itu semua juga membuat Alis sangat bahagia." jawab Alis tanpa menatap kearah Riyan yang menatapnya.
"Jadi, bisa kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Riyan.
Alis menatap kearah Riyan dan tersenyum manis, ia menggelengkan kepalanya.
"Alis, kakak tahu kalau kamu sedang ada masalah dengan ayah hingga kamu tidak ingin bertemu ayah. Sekarang ceritakan pada kakak, masalah apa yang kamu hadapi?" ucap Riyan sambil memegang kedua belah pundak Alis.
Alis menarik napasnya sesaat. "Tidak ada masalah kok. Kakak kapan pulangnya?" tanya Alis yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum manis saat melihat Riyan yang menggelengkan kepalanya.
"Kakak pulang 1 jam yang lalu. Sekarang jawab pertanyaan kakak." ucap Riyan yang terdengar mendesak.
__ADS_1
Alis memayunkan bibirnya, ia mendesah malas. "Sebenarnya Alis dijodohkan ayah sama seseorang. Katanya sih anaknya sahabat ayah. Dan Alis tidak suka itu."
"Kenapa tidak suka?"
"Ayah ternyata datang menemui Alis hanya untuk meraih keuntungan yang lain, hanya ingin menjodohkan Alis hanya demi keuntungan dirinya sendiri tanpa memikirkan diriku."
"Darimana kamu tahu itu?" tanya Riyan lagi.
Alis menatap sebal kearah Riyan yang sejak tadi hanya mengutarakan pertanyaan berkepanjangan.
"Itu menurutku." jawabnya agak ragu.
"Lalu, apa alasanmu hingga menolak perjodohan itu?" tanya Riyan dengan tersenyum tipis.
"Aku sudah melihat orangnya dan dia sangat jauh dari kriteria pria idaman seorang Alis. Badannya gendut dan yang paling tidak Alis sukai, dia sangat playboy." ucap Alis yang terdengar lesu.
Riyan menggelengkan kepalanya mendengar penuturan adiknya tersebut. Wajar saja ia merasa ketakutan, karena memang ia tidak pernah bertatap muka sedikitpun dengan Naufal.
Alis menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, Alis benar-benar sudah melihatnya." ucap Alis dengan pandangan memelas.
"Saran kakak, sebaiknya kamu temui dulu orangnya, baru kamu mengambil keputusannya."
Alis hanya bungkam memikirkan semua itu. Ia menatap kearah piringnya dengan tatapan ragu.
"Yakin sama kakak kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan ayah sangat memikirkanmu hingga mencarikan kamu jodoh terbaik." ucap Riyan meyakinkan.
"Oh ya, apa kakak tadi mampir kerumah ayah sama mama?"
Riyan mengangguk. "Ayah bilang kalau kamu sedang ada pertemuan dengan klienmu. Dan mama yang menyuruhku untuk kesini, karena mama tau kalau kamu pasti sedang berperang batin."
"Tidak, itu bohong. Sebenarnya aku ingin mengambil buku-buku sekolahku kesini. Dan besok aku akan menginap dirumah mama." jawab Alis berusaha meyakinkan Riyan.
Riyan tertawa renyah mendengar alasan Alis yang terdengar aneh saat ia berbohong. Riyan sangat mengenal Alis, sebab itu ia selalu tau keadaan Alis disaat baik ataupun sebaliknya. "Pandai berbohong rupanya adiknya kakak sekarang." sambil menjawil hidung Alis. "Tadi kakak Januar juga menelpon pada kakak dan dia bilang kalau kamu sedang melarikan diri." kembali tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ih, apaan sih kak Januar itu." Alis menatap kearah Riyan dengan tatapan melotot. Ia merasa malu karena sudah ketahuan saat sedang berbohong.
"Besok kakak yang akan mengantarmu sekolah. Soal pakaian dan keperluan sekolahmu, biar seseorang nanti yang membereskannya." ucap Riyan.
Alis terlihat sendu mendengar kata-kata Riyan barusan, ia merasa sedih apabila terpisah dengan rumahnya ini. Ia menatap kearah kaca rumahnya yang menghadap kehalaman belakang rumahnya. Ingatannya kembali melayang saat-saat melewati kesedihannya dengan menanam pohon, buah dan juga bunga. Bahkan hampir dua hari sekali ia bermain layang-layang sendirian disana.
"Kamu tenang saja, rumah dan kebun ini akan ada orang yang merawatnya, dan juga menempatinya." membelai kepala Alis dengan sayang. "Kakak tahu apa yang kamu rasakan, tapi kakak tidak ingin kamu menjadi egois. Mama akan sangat sedih apabila kamu tidak tinggal bersama mereka. Bahkan ia merasa gagal karena kamu terus menjauhi mereka."
Alis mendongak menatap Riyan, airmatanya mengalir mendengar kata-kata Riyan barusan. Ia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Cukuplah dulu ia terpisah dari mereka dan kehilangan kasih sayang mereka. Sekarang, ia tidak ingin itu terjadi lagi, karena ia merasa sempurna saat bersama orang tuanya. Alis menatap sekeliling rumahnya yang sederhana itu.
"Alis, kamu masih bisa mrngunjungi rumah ini kapanpun juga. Jadi jangan sedih lagi, oke." ucap Riyan sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum kearah Alis.
Alis tersenyum dan mengangguk.
"Kakak dengar kalau disekolahmu kembali beredar rumor tentang dirimu." ucap Riyan dengan tatapan dingin. Ia mengetahui dari orang kepercayaannya yang selalu mengikuti alis dan memberikan kabar apapun itu yang berkenaan dengan Alis kepadanya.
Alis menunduk setelah mendengar pertanyaan kakaknya yang terdengar tidak bersahabat tersebut. Ia kembali mengingat janjinya dengan kakaknya dulu saat sebelum kakaknya pergi ke luar daerah. Pasti kakaknya akan menuntut semua janjinya itu.
"Jadi, apa yang seharusnya akan kamu lakukan?"
"Untuk sekarang, Alis tidak ingin mengambil langkah dulu. Nanti saja saat perayaan ultah sekolah." ucap Alis yang terlihat memohon.
"Baiklah. Kakak pegang janjimu. Tapi kalau setelah itu kamu tetap menyembunyikan identitasmu. Kamu akan tahu apa yang akan kakak lakukan." ucap riyan lagi.
Alis hanya mengangguk. Ia tahu bahwa ucapan kakaknya barusan tidaklah main-main.
"Sekarang kamu tidur kekamar, biar semua ini kakak yang akan membereskannya."
Alis berlalu dari hadapan Riyan, ia ingin istirahat dan juga merenungi kata-kata kakaknya barusan soal perjodohan.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Riyan. Ia tidak boleh takut dan harus berani menghadapi semua ini. Ia yakin kalau orang tuanya memang pasti menginginkan yang terbaik untuknya.
💦💦💦
__ADS_1