
Seluruh para undangan tampak berdiri, ini saatnya mereka menikmati pesta dengan acara dansa. Masing-masing pasangan mulai maju ke lantai dansa. Berbeda dengan Alis, sejak tadi ia terus-menerus di kerumuni oleh para orang tua, bahkan diantaranya ada yang sengaja ingin menjodohkan Alis dengan anaknya.
"Sayang, itu anak tante, namanya Azril. Dia tampan loh dan pasti sangat cocok dengan nak Alis," ucap salah seorang wanita paruh baya yang terlihat lebih berisi.
"Aduh jeng, masa kamu mau menjodohkan anakmu yang bongsor itu sih. Lebih tampanan anakku loh, itu orangnya yang pakai jas biru, sayang," ucap salah seorang wanita paruh baya dengan gaun berwarna coklat, dengan suara yang terdengar sangat manis. Ia menunjuk pada anaknya yang tidak jauh dari mereka, yang terlihat kurus dan sangat tinggi.
Alis hanya meringis saja mendengarkan perdebatan kedua wanita paruh baya tersebut.
"Ma'af tante, saya mau menyapa tamu yang lain. Tante-tante silahkan dinikmati acaranya." Sahut Alis yang segera berlalu dari hadapan mereka berdua.
"Oh ini orangnya yang menjadi pemilik sekolah," cibir seorang wanita dengan gaunnya yang super wah. Alis tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya samar sebagai sapaan hormat pada tamu undangan.
"Punya satu sekolah saja kok bangga, baru juga punya harta segitu sudah sombong!" cibirnya lagi dihadapan Alis sambil membuka kipas tangan miliknya.
"Ma'af bu, saya tidak sombong seperti yang ibu tuduhkan. Kalau bangga, ya jelas saya harus bangga karena sekolah ini mampu membuat siswa-siswinya cerdas. Contohnya anak ibu yang mau bersekolah disini. Silahkan ibu tanyakan padanya, apakah dia bangga menjadi murid di sekolah Bima Galaxy atau tidak." Alis tersenyum manis kearah wanita tersebut yang tampak kesal dengan jawabannya.
"Heh sombong!!" cibirnya dengan kesal. "Coba kamu kenal sama suami saya, dia punya perusahaan ternama di Indonesia bahkan kami juga memiliki butik dan restoran. Hanya punya sebuah sekolah ini kamu sudah sombong, kami juga mampu membelinya." Wanita itu menatap kearah Alis, ia begitu pamer dengan harta milik keluarganya.
Alis hanya mengangguk saja. Ia paham dengan dunia ini. Dimana orang yang tidak senang pada dirinya pasti mencari celah untuk menjatuhkannya.
Januar datang menghampirinya, membisikkan sesuatu padanya. Alis tampak sedikit menegang namun hanya sedetik saja, ia kembali rileks.
"Selamat malam pak Januar. Ini nona Alisya ya? Selamat ya atas keberhasilan sekolah milik nona hingga mencapai usia hingga 37 tahun lamanya." Salah seorang lelaki paruh baya menghampiri Alis dan juga Januar. Di samping mereka masih berdiri wanita sombong tadi. Matanya melirik kearah Alis sesaat kemudian menatap kearah lelaki yang menyapa Januar tadi.
"Iya, sama-sama pak," sahut Alis sopan sambil menyambut uluran lelaki paruh baya tersebut.
"Senang bisa bertemu langsung dengan pemilik perusahaan Emily's Corp, saya beruntung bisa langsung bertemu dengan Anda," ucapnya lagi. Wanita yang berada disisinya tadi tampak membelalakkan matanya menatap tidak percaya pada gadis belia didepannya.
"Hahaha... Bapak bisa saja," sahut Alis lagi di iringi tawa. Tawanya terdengar sumbang ditelinga mereka. Bagaimana tidak sumbang, seumur hidupnya ia sulit untuk tertawa. Bukan karena aneh tapi ia merasa tidak mampu untuk melakukannya.
"Senang juga bertemu dengan Bapak disini. Silahkan dinikmati acaranya," sambung Alis lagi. Ia bermaksud ingin meninggalkan pasangan tersebut namun langkahnya tertahan saat wanita sombong tersebut menyentak tangannya tiba-tiba.
"Ma'afkan saya karena sudah lancang dengan Anda. Saya tidak tahu kalau Anda adalah pemilik perusahaan besar di Imdonesia." Ia tampak menunduk malu. Wanita itu sudah banyak mendengar tentang nama besar dibalik kepemilikan perusahaan besar tersebut. Ia tidak menyangka kalau ternyata pemiliknya sangatlah belia.
Alis hanya mengangguk saja. Ia sangat maklum dengan wajah-wajah penjilat seperti mereka dan ada banyak didunia ini. Ia kembali berjalan namun langkahnya tertahan karena Rafael sudah menghalanginya. Ia menatap Alis dengan tatapan kerinduan.
"Alis,ayo kita berdansa berdua!" pintanya pada Alis. Ia sudah tidak tahan lagi apabila tidak bertatap muka dengan Alis dan juga menjaga jarak dengannya. Bulshit! Dengan perjanjian yang ada, ia tidak ingin kehilangan satu momen pun dengan Alis. Ia bahkan rela menunda untuk pulang ke negaranya demi ingin terus bersama Alisya.
__ADS_1
Alis mengangguk, tidak ada salahnya ia berdansa dengan salah seorang tamunya. Matanya melirik kekanan dan kekiri, rupanya dirinya kembali menjadi pusat perhatian. Ia berusaha untuk menyesuaikan keadaan. Ia mengulurkan tangannya namun belum sempat Rafael menggenggamnya, tangan Alis sudah ada yang menggenggam dan menarik tangannya dengan lembut.
Matanya bergerak menatap kearah orang yang baru saja melakukan hal itu padanya.
Deg.
Aldebran. Menatapnya dengan sorot tak terbaca. Namun tatapan itu begitu hangat. Al menundukkan sedikit kepalanya hingga mencapai sisi telinga Alis, ia membisikkan sesuatu.
"Ada banyak hal yang ingin aku ketahui darimu," bisiknya.
Alis terlihat kaku dan menegang menatap kearah Al, matanya beralih melirik kearah Rafael yang sudah memerah menahan marah dan kesal. Bagaimana tidak kesal, ia yang terlebih dahulu mengajak Alis tapi Al justru datang dan merebutnya. Benar-benar momen yang menjatuhkan harga dirinya.
"Kak, aku berdansa sebentar dengan Al, nanti akan berdansa denganmu!" Rafael hanya mengangguk kaku, ia sebenarnya tidak ikhlas melihat Alis bersama Al. Hatinya meradang dan cemburu.
Tiba-tiba wanita berusia 45 tahun datang padanya dan mengajaknya berdansa. Ia menerimanya begitu saja tanpa pikir panjang, ia hanya ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua dengan saling bertatapan dalam seperti itu. Sebenarnya banyak remaja sekolah yang mengincar Rafael namun Rafael tidak mau perduli mengenai itu semua. Baginya, wanita dimatanya hanya ada satu yaitu Alisya.
Alis dan Al bergerak dengan perlahan seiring dengan musik klasik yang diputar. Gerakan mereka begitu seirama.
"Aku tidak menyangka, ada banyak rahasia dalam hidupmu. Bahkan kamu juga tidak pernah mau membaginya pada kami. Aku salah ternyata menilai dirimu hingga sekarang. Ma'afkan aku!" ucap Al.
"Al, kamu tidak salah padaku. Seharusnya aku yang meminta ma'af padamu. Aku terlalu krisis kepercayaan pada seseorang. Bukan karena apa-apa, aku hanya merasa prihatin dengan keadaan yang terus-menerus memojokkanku. Terima-kasih karena kamu sudah sering membantuku," sahut Alis.
"Tadinya Aku pikir kamu hanya ingin mencari seseorang yang tulus dan menolak yang palsu. Ternyata aku salah, kamu memang seperti kamu yang apa adanya. Aku benar-benar kagum padamu. Kamu gadis terkuat yang pernah aku temui."
Alis tersenyum, senyum yang tulus dan manis. Entah mengapa saat bersama Al ia merasakan perasaan yang tenang dan damai. Rasanya tatapannya begitu hangat.
"Aku tidak menyangka kamulah pemilik sekolah ini. Kenapa selama ini kamu hanya diam saja saat mereka membullymu, apa kamu harus terluka dulu baru kamu melawan mereka?"
Alis terdiam, ia memang selama ini selalu berusaha untuk tidak perduli dengan apapun juga yang ada di sekeklilingnya karena itulah ia tidak ingin melawan mereka, walaupun sebenarnya ia mempunyai kekuasaan yang mutlak.
"Aku tidak ingin menuntut apapun darimu dari hubungan kita yang menggantung, tapi izinkan aku untuk mengisi ruang kosong di hatimu. Aku tidak perduli masalah apa yang kamu hadapi, tapi kita bisa sama-sama untuk menghadapinya dan menyelesaikannya," ucap Al dengan tulus. Ia ingin momen malam ini menjadi istimewa.
Alis terdiam mendengar kata-kata Al barusan. Ia meminta Alis untuk apa tadi? Ia sudah tidak bergerak lagi di lantai dansa, matanya hanya menatap lurus kearah Al.
"Aku___." Baru saja Alis ingin menjawab kata-kata Al, musik sudah berganti. Tiba-tiba tangannya sudah ditarik oleh seseorang, Alis mendongak. Rupanya Rafael lah pelakunya. Ini saatnya pergantian pasangan. Alis melirik kearah Al, ia mendapatkan anggukan dan senyuman dari Al.
"Hei. Tatap aku, jangan menatap yang lain. Kamu seperti seorang istri yang sedang berselingkuh saja!" gumam Rafael kesal. Dia terlihat tidak suka saat Alis masih menatap Al padahal Alis sedang bersamanya, apa tidak semenarik itu dirinya bagi Alis.
__ADS_1
Alis melotot mendengar ucapan Rafael barusan, apa katanya tadi. Istri?
"Hei Tuan, aku bukan istrimu. Disini aku hanya pasangan dansamu!" sahut Alis kesal. Entah kenapa saat bersama Rafael, emosi Alis selalu naik turun namun tidak dapat dipungkiri saat bersama Rafael, Alis merasakan perasaan yang terlindungi.
"Memang bukan tapi besok kamu pasti akan mengakui kalau akulah calon suamimu," sahut Rafael dengan senyum miringnya.
Alis kembali melotot, ia berdecih tidak suka. Dimata Rafael, Alis terlihat sangat menggemaskan.
"Sayang, disini didalam sini ada kehidupan yang lain," tangan Rafael yang tadinya berada di pinggang Alis beralih ke perut rata Alis dan merabanya.
Alis menahan napasnya, ia merasa gugup dengan Rafael dengan keadaan yang seintim ini.
Rafael ingin memeluknya tetapi urung setelah terdengar musik yang berhenti. Apalagi di atas panggung sudah terdengar suara MC yang meminta perhatian penonton sebentar untuk menyaksikan pertunjukkan dan hiburan yang akan berlangsung.
Seluruh mata kembali menatap kearah panggung, bahkan mereka berjalan dan beralih untuk duduk di masing-masing kursi yang sempat mereka duduki.
Pertunjukkan pertama, sekelompok siswa dan sisiwi sedang mementaskan drama kolosal hingga selesai.
Kemudian pertunjukkan kedua adalah pemutaran film dokumenter mulai berdirinya sekolah Bima Galaxy hingga sekarang.
Alis tetap pada posisinya yaitu berdiri di lantai dansa. Ia hanya ingin melihat dari jarak jauh saja. Banyak tamu yang lainnya juga berdiri pada posisi yang sama seperti dirinya.
Disisi kanannya berdiri Rafael dan disisi kirinya berdiri Aldebran. Sedang dibelakangnya ada Januar dan juga Yaska.
Alis tidak menatap curiga pada film yang diputar hingga is mengenali sosok yang sedang berada diatas ranjang tersebut.
Rupanya bukan film dokumenter sekolah yang diputar melainkan video tentang dirinya yang berada di kamar club malam waktu itu.
"Hentikan film itu!" Rafael berteriak marah saat ia melihat adegan dirinya yang sudah mulai menciumi Alis yang tidak bergerak sama sekali. Ia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras pertanda ia benar-benar marah.
Yaska dan Januar bergerak secara bersamaan menuju kearah belakang panggung. Namun sebelumnya, pihak yang berada dibelakang panggung sudah ditahan oleh anak buah Januar.
Ricuh, semua undangan terdengar sangat ricuh, bahkan mengalahkan ibu-ibu yang sedang menawar harga obralan di pasar.
Gelap. Film sudah dimatikan namun suara ricuh itu tidak juga berhenti. Alis kembali merasa terpojok. Ia tidak menyangka akan ada kejutan besar di balik kejutan.
💦💦💦
__ADS_1