Layangan Kertas

Layangan Kertas
Langkah Selanjutnya


__ADS_3

Seperti tekadnya, kali ini Al menunggu Alis didepan kelasnya. Ia ingin mengantar Alis pulang namun ditambah dengan alasan yang lain.


"Alis, pulang sekolahnya ikut aku ya, soalnya aku ada keperluan." ucap Al menatap penuh harap pada Alis yang baru saja keluar kelas.


"Ma'af Al, aku ga bisa. Soalnya aku ada janji sama seseorang hari ini." jawab Alis sambil menatap kearah Liza.


"Kemana? Biar aku antar sekalian." tawar Al.


Alis menggeleng. "Aku dijemput. Memangnya kamu ada perlu apa ya?" tanya Alis memastikan.


Al terlihat kecewa mendengarnya, namun ia tetap berusaha tersenyum manis didepan Alis.


"Mama, ingin belajar menanam bunga yang kamu tanam waktu itu, sekaligus ingin membeli beberapa bibit bunga yang lain."


"Oh, tapi untuk sekarang aku tidak bisa. Lain kali aja ya." Alis merasa tidak enak hati pada Al, apalagi ia tadi telah membentak Al. Anggap saja ia merasa bersalah karena melampiaskan kemarahannya pada orang yang salah.


"Oke, kabari aku ya kalau kamu sudah siap." ucap Al tersenyum sumringah.


Aldo yang memang sedari tadi mengikuti Al tampak memperhatikan Alis dengan seksama. Ia merasa kalau Alis menyimpan sesuatu rahasia yang besar, tapi ia tidak ingin mengatakan kecurigaannya pada Al.


"Alis! tunggu!" teriak Angga yang melihat Alis yang baru selangkah meninggalkan Al.


Alis berbalik dan menatap Angga. Ia menggerakkan dagunya pertanda bertanya.


"Apa kamu sibuk sore ini?" tanya Angga sambil menatap Alis yang menatapnya heran.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"Ayahku hanya ingin mengundangmu untuk sekedar acara makan malam." jawab Angga. Ia menatap kearah Al dengan tersenyum miring. Kemudian kembali menatap kearah Alis. "Sekedar pertemuan bisnis, jangan lupa ajak kak Januar." bisik Angga ditelinga Alis.


Al mengepalkan kedua belah tangannya, rahangnya mengeras. Ia tampak geram dengan tingkah Angga tersebut.


Alis tampak berpikir. "Akan kukabari nanti, setelah aku bertemu dengannya." jawab Alis sambil berlalu dari hadapan Angga dan juga Al dengan diiringi oleh Liza.


Setelah kepergian Alis, Al menghampiri Angga.


"Apa maksudmu dengan semua itu?" tanya Al dengan ketus. Ia tak suka dengan tingkah Angga yang sok mesra dan sok akrab dengan Alis.


"Itu urusanku Al, lagi pula diantara kami ada sesuatu." tersenyum smirk. "Jadi kuharap, kamu yang harus menjaga sikap dengan Alis, karena kamu bukan siapa-siapanya." ucap Angga dengan nada dingin.


Al tampak geram dengan Angga. Kali ini ia tak akan salah langkah dan ketinggalan 1 point dari Angga.


"Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi orang yang bukan siapa-siapanya Alis." Al berdesis dengan suara bassnya ditelinga Angga. Ia berlalu dengan kemarahan yang dalam.


Sementara Aldo hanya menatap dingin perdebatan antara Al dan juga Angga.


__________________________

__ADS_1


Alis memasuki mobil yang sudah menunggunya sedari tadi. Januar menyerahkan berkasnya pada Alis agar Alis dapat mempelajarinya sebelum bertemu orang yang ingin bekerjasama dengan perusahaan mereka. Ini adalah langkah awal untuk mengembangkan perusahaan mereka agar merambah lebih luas lagi.


"Alis, pak Rafael adalah orang yang tegas, kesalahan sekecil apapun tidak akan ditoleler olehnya. Jadi, kuharap kamu bisa menarik perhatiannya kali ini." Ucap Januar sambil menatap Alis yang tampak sibuk membolak-balikkan berkas-berkasnya.


"Berapa lama lagi pertemuannya?" tanya Alis tanpa melihat kearah lawan bicaranya.


"Sekitar 45 menit kemudian. Perjalanan kita menuju kesana perlu waktu 20 menit. Jadi, masih ada waktu sekitar 25 menit untukmu bersiap."


Alis menganggukan kepalanya. "Dimana kita akan bertemu?" tanya Alis kemudian.


"Sebenarnya aku ingin merencanakan direstoran bintang 5 tapi ia menolaknya. Ia menginginkan suasana yang agak santai, jadi aku merekomendasikan di kafe milikmu, LK kafe. Lagipula, kamu tidak akan kerepotan saat bersiap nanti dan tidak akan makan waktu banyak."


"Baiklah." Alis kembali mengangguk dan menyerahkan berkas tersebut kepada Januar.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan kafe LK, bergegas Alis melangkah masuk kedalam kafe. Ia menuju kearah tangga untuk menuju keruangannya dilantai tiga.


"Oh ya ka, apa ruangannya sudah direservasi?" tanya Alis.


Januar yang mengikuti Alis hanya mengangguk. "Ruangan no 7 diruangan privat."Jawab Januar. "Aku kesana dulu untuk mengecek dan juga menunggumu."


"Baiklah."


Sesampainya diruangannya, Alis memanggil manejer kafenya melalui interkom. Sambil ia menunggu Anto naik, ia membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Kurang lebih 15 menit, Alis sudah siap dengan dandanannya yang terlihat elegan namun terkesan sederhana. Ketika ia membuka pintu ruangannya, Anto sudah menunggunya.


"Ada apa bos?" tanya Anto.


"Siap bos." Anto segera keluar ruangan Alis untuk memberitahukan pada bawahannya.


Alis melirik kearah jam yang terletak dipergelangan tangannya. Ia segera berjalan kearah ruangan yang dimaksud oleh Januar.


Sesampainya didepan ruangan tersebut, Alis berpapasan dengan pria kisaran 27 tahun yang bermata biru dan berambut coklat. Alis menatap kearah pria tersebut yang juga menatapnya saat akan memasuki ruangan yang sama.


"Silahkan masuk, Tuan." ucap Alis dengan sopan mempersilahkan pemuda tersebut bersama asistennya.


Rafael mengangguk dan segera memasuki ruangan privat tersebut. Ia menuju kearah meja yang sudah ditempati oleh Januar.


Sedangkan asistennya tampak terperangah menatap dekorasi dinding kafe tersebut. "Kafenya luar biasa. Terasa seperti berada dialam bebas." ucapnya dengan tersenyum tipis.


"Terima kasih tuan atas pujiannya." jawab Januar. "Silahkan duduk." ucap Januar kemudian.


Anto masuk keruangan mereka dengan membawa buku menu. "Silahkan tuan dilihat buku menunya." ucap Anto pada Rafael.


Rafael menatap sebentar pada buku menu tersebut kemudian memesan beberapa menu andalan kafe tersebut. Sedangkan Alis hanya mengangguk saja pada Anto.


"Tuan Rafael, perkenalkan ini Alisya pemilik perusahaan Emily's Corp." tunjuk Januar pada Alis. Alis menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rafael.

__ADS_1


Rafael mengangguk dan menjabat tangan Alis.


"Rafael."


"Alisya."


"Dan ini asisten saya, Yaska." ucap Rafael memperkenalkan pemuda yang seumuran dengannya.


"Kupikir pemilik perusahaan Emily's Corp adalah laki-laki yang dewasa. Ternyata dugaanku salah. Ternyata pemiliknya hanya seorang gadis yang sangat belia." sambil menatap kearah Alis yang hanya mengangguk dan tersenyum tipis. "Semoga saja, semua sesuai dengan harapanku." ucapnya lagi yang terdengar meragukan Alis.


"Tuan tenang saja, semua akan berjalan seperti harapan Anda." ucap Alis meyakinkan.


Anto datang dengan membawa nampan bersama pegawai kafe yang lainnya.


"Ini bos pesanannya. Mari tuan, silahkan dinikmati hidangan dari kafe kami." ucap Anto dengan sangat ramah.


"Jadi, ini kafe milikmu nona?" tanya Rafael sambil menatap kearah Alis.


Alis menganggukan kepalanya. Rafael kembali menatap kearah dekorasi kafe yang tidak biasa, ia sedikit mengagumi gadis didepannya ini. Ingat, hanya sedikit. Karena ia adalah orang yang sombong dan selalu meragukan orang lain.


"Hmm menunya juga tidak buruk." ucapnya kemudian setelah mencicipi beberapa menu.


Alis hanya diam saja saat mendapatkan kritikan pedas tersebut. Tidak ada raut marah ataupun kecewa. Wajahnya tetap terlihat datar seperti biasa.


Rafael kembali menatap wajah Alis yang tidak terpengaruh sedikitpun dengan kata-katanya barusan. Benar-benar gadis yang tangguh.


"Benar-benar lawan yang sepadan." gumam Januar didalam hati, sambil memperhatikan Alis dan Rafael yang sama-sama bersikap dingin.


Alis mulai mengajukan proposal miliknya dan dilihat oleh Rafael. Ia juga menyampaikannya dengan sangat baik.


"Baiklah, kami akan mempelajari proposalnya lebih jauh lagi. Senang berkenalan dengan anda, Nona." ucap Yaksa dipenghujung pertemuan mereka.


"Terima-kasih atas kerjasamanya." ucap Januar sambil menjabat tangan Rafael dan juga Yaksa.


"Kalau begitu, kami permisi Tuan dan Nona." ucap Yaksa kemudian.


Alis dan Januar mengantar rekan bisnisnya hingga pintu keluar kafe.


"Kamu hebat Lis, bisa mematahkan kesombongan seorang Rafael." puji Januar pada Alis.


"Ka, aku hampir lupa, kita mendapat undangan makan malam dari keluarga pak Hendri dirumahnya."


"Baiklah, kita akan segera kesana. Masih ada waktu sekitar 1 jam." ucap Januar sambil melihat kearah jam dipergelangan tangannya. "Sebaiknya kita bersiap-siap dulu."


Alis mengangguk, ia ingin keruangannya sebentar untuk memeriksa berkas keuangan kafenya yang lainnya.


"Nanti akan kakak jemput kesini." Januar pamit kepada Alis.

__ADS_1


Setelah kepulangan Januar, Alis kembali keruangannya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


💦💦💦


__ADS_2