
Alis kali ini berangkat sekolah bersama dengan kakaknya Riyan, ia menatap kearah bus yang berhenti dihalte dekat rumahnya. Ia sudah lama tidak menaiki angkutan umum tersebut, sejak Riyan mulai bertemu kembali dengannya. Sejak saat itu juga ia selalu diantar oleh kakaknya ataupun Januar. Bahkan ia juga tidak berkesempatan sedikitpun untuk menaiki sepedanya yang baru saja dibelinya setelah ia disibukan dengan pekerjaan kantornya. Dan juga, waktunya berkumpul bersama Liza juga berkurang. Ia merindukan saat-saat mereka berpetualang mencari buku baru ditoko buku ataupun saling berlomba saat memainkan layangan diakhir pekan.
"Alis, apa yang kamu pikirkan?" tanya Riyan sambil sesekali melirik kearah Alis. Sejak awal berangkat hingga tiba didepan sekolah, Alis terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri, mungkin ia sedang memikirkan masalah perjodohan itu. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu cepat beruban." ucap Riyan sambil menaruh telunjuknya didahi Alis.
"Apa?" tanya Alis yang baru saja sadar dari keterdiamannya.
"Ck. ck. ck. kakak bilang, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang nenek." ucap Riyan dengan tersenyum jahil.
"Kurang jelas kak. Apa kakak tadi bilang kalau kakak akan punya anak dan mama akan menjadi seorang nenek?" tanya Alis dengan wajah polos.
Riyan melotot kearah Alis, barusaja tangannya ingin meraih telinga Alis bermaksud untuk menjewernya. Alis sudah keluar mobil dengan menjulurkan lidahnya. Dan tampak bersikap konyol.
Riyan tertawa terpingkal-pingkal melihat semua itu. Coba aja tadi ia memegang handphone, maka akan direkamnya aksi kekanakan seorang Alis. Yang biasanya bersikap sok tegar dan cuek juga pendiam tapi kini lihatlah, ia bahkan bersikap jahil.
Alis menatap kearah sekelilingnya setelah menyadari kelakuannya yang pasti terlihat konyol dan juga aneh. Semua siswa dan siswi tampak menatap kearahnya dan beberapa dari mereka ada yang tertawa. Alis benar-benar malu dibuatnya. Ia segera berlalu dari sana setelah bersalaman dan mencium tangan kakaknya seperti biasa.
"Hey... Alis! kamu terlihat bahagia hari ini. Tidak seperti biasanya yang hanya diam saja dan baca buku. Dapat vitamin apa kamu?" tanya Alex sambil menyenggol Alis.
Alis melotot menatap kearah Alex yang asal senggol itu. Ia menatap kearah Alex yang menaik turunkan alisnya. Alis memutar bola matanya dengan malas setelah kembali mendengar teriakan suara melengking milik sahabatnya satu-satunya.
"Alis!!! kangen kamu!!" sambil menggandeng bahu Alis dan menariknya untuk menuju kearah kelasnya. "Siapa tadi yang ngantar kamu?" tanya Liza.
"Yang biasa." jawab Alis.
"Yang biasakan ada dua orang. Emang siapa?" tanyanya lagi.
Alis mendelik kearah Liza yang terdengar cengengesan. "Kakak lah, emang siapa lagi. Udah ah. Pertanyaanmu kurang bermutu." jawab Alis sambil menarik buku dari tas punggungnya.
__ADS_1
"Lah, emangnya aku barang apa?" Liza terperangah dengan kata-kata Alis. Ia terdiam dengan mulut yang menganga.
"Lex, dia kenapa? Habis sakit ya?" tanya Liza sambil menatap kearah Alex.
"Sedikit." jawab Alex sambil tertawa cekikikan bersama Liza.
Alis kembali mendelik tajam kearah mereka. Ia berusaha tidak perduli dan tetap dengan buku bacaannya.
Alis tetap melangkah menuju kearah kelasnya namun tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh seseorang. Alis mendongak menatap tangan tersebut, ia menatap punggung lelaki yang menariknya itu.
Al berbalik kearah Alis setelah ia melepas tangannya saat sudah sampai ditaman depan sekolah. "Lis, kemarin apa yang kamu lakukan bersama Angga?" tanya Al sambil menatap Alis dengan tatapan tajam.
"Hanya makan malam." jawab Alis menatap Al.
"Selain itu?" tanya Al sambil memegang kedua belah pundak Alis.
Al mempererat pegangan tangannya yang berada dipundak Alis. Tanpa sadar ia telah mencengkeramnya. Ia merasa tidak suka dengan semua itu. Alis meringis dan melepaskan pegangan tangan Al tersebut.
"Ma'af, aku tidak sengaja." ucap Al dan menuntun Alis untuk duduk pada bangku taman yang terdapat disitu.
"Iya ga pa-pa." jawab Alis. "Soal kata-kataku yang kemarin, aku minta ma'af. Aku tidak bermaksud bicara tidak sopan seperti itu padamu."
"Iya, aku paham kok. Mungkin kamu sedang ada masalah. Kalau kamu tidak keberatan, kamu boleh kok cerita sama aku. Aku pasti akan selalu ada untukmu."
Alis menatap Al sesaat, disana didalam mata hitam itu ia menemukan kehangatan. "Makasih. Aku baik-baik saja kok." tersenyum tipis.
Al memandang kearah Alis yang tersenyum tipis, ia merasa bahagia untuk pagi ini karena sudah bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila karena senyuman Alis sudah kembali lagi. Bukan malah jantungnya yang berdetak tak karuan karena menahan emosi dari rasa cemburu. Ia benar-benar menyadari bahwa gadis didepannya ini begitu sangat berarti baginya. Begitu sangat berharganya.
__ADS_1
"Lis, coba kamu rasakan mentari pagi ini, ia begitu hangat dan banyak mengandung vitamin. Walaupun terkadang ia bersembunyi dibalik awan, semua orang tetap menantinya." merentangkan kedua belah tangannya sambil memejamkan matanya. "Begitu juga dengan seorang gadis yang baik, walaupun ia tidak punya apa-apa, orang-orang pasti akan merindukannya karena kebaikan dan pertolongan yang ditebarkannya. Kuharap kamu benar-benar bahagia dengan kehidupanmu saat ini." membuka mata dan menatap kearah Alis.
Alis kembali menghangat mendengar kata-kata Al, seolah itu adalah kata-kata penyemangatnya pagi ini.
"Lis, seandainya ada seseorang yang kamu suka namun ia tidak menanggapimu sama sekali dan malah membuatmu cemburu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Al.
Alis mengerinyit heran mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya itu. Ia tampak diam, pikirannya kembali berkelana pada perjodohan yang dialaminya. Ia tampak mendesah dan kembali melamun. Al mengerutkan dahinya saat melihat perubahan drastis yang dialami Alis. Ia merasa tidak nyaman karena telah membuat Alis kembali murung.
"Sebenarnya aku tidak tahu maksud dari pertanyaanmu tersebut. Tapi baiklah, aku akan tetap menjawabnya." Alis kembali bersemangat dan menyembunyikan kegundahan hatinya tersebut. "Orang yang kita cintai itu tidak harus bersama dengan kita, walaupun pada akhirnya keinginan terakhir kita adalah tetap ingin bersamanya. Melihat ia bersama orang lain, pasti akan membuat kita sakit hati walaupun pada kenyataannya kita kadang berkata bahwa kita akan bahagia apabila melihat ia bahagia. Dan itu menurutku adalah bulshit." menarik napas sesaat. "Tapi dibalik semua peristiwa itu, ada yang bisa membuat kita lebih bahagia lagi, yaitu dengan berusaha untuk mendapatkannya tapi bukan dengan cara memaksa ataupun merampas."
Al menatap Alis tanpa berkedip, ia melihat senyum Alis yang mekar dengan tulus. Bahkan baru kali ini ia mendengar Alis berbicara sepanjang ini mengenai cinta, padahal dia adalah orang yang terbiasa hidup dengan kesendirian dan juga tertutup.
"Itu kamu Lis yang berbicara?" tanya Al tersenyum jahil.
"Bukan, tapi orang lain." ucap Irfan. Irfan tiba-tiba datang dan menghampiri mereka bersama yang lainnya. "Asyik benar pacaran, sampai melupakan bel sekolah yang berbunyi nyaring." mencibir dan menatap kearah Al. "Lis, hati-hati dengan Al, pacarmu ini suka ngigau kalau bicara." ucapnya lagi.
Al melotot mendengar Irfan yang menjelek-jelekkan dirinya dihadapan Alis.
Alis hanya diam saja dan kembali bersikap seperti biasa. Ia menatap kearah Aldo yang menatapnya sejak tadi dengan tatapan dingin. Ia merasa heran dengan tatapan itu, namun ia tidak perduli.
"Permisi, aku kekelas dulu." ucap Alis sambil menatap kearah Al dan ketiga sahabatnya. Ia mengambil buku yang tergeletak disampingnya duduk.
Al tersenyum manis dan menganggukan kepalanya. "Hati-hati Lis."
"Alah Al, pake hati-hati segala. Ini jaraknya cuman beberapa meter aja bukannya beberapa kilo Al." Irfan menggeleng melihat tingkah Al seperti itu.
"Do, kekelas yuk." ajak Al pada Aldo. Aldo mengalihkan pandangannya setelah mendengar Al bersuara. Ia menatap Alis hingga Alis mencapai pintu masuk kelasnya. Ia tampak heran dengan kebiasaan Alis yang suka membaca buku bisnis. Buku yang bukan levelnya untuk saat ini. Ia tanpa sengaja menatapnya tadi. Pikirannya kembali berkecamuk mengenai Alis, keyakinannya runtuh saat ia mendatangi Arya dikantornya kemarin. Alamat yang diberikan oleh om Arya ternyata benar, tidak salah sedikitpun baik dalam penulisan ataupun dalam ingatannya. Tapi ia perlu menyelidiki lebih dalam lagi mengenai Alis karena gadis itu penuh dengan misteri.
__ADS_1
💦💦💦