
Hari ini adalah hari besar dan bersejarah bagi Alis dan Al, karena mereka mengadakan pertunangan yang sengaja di gelar secara khusus dan mengundang beberapa kolega bisnis mereka. Selain para sahabat mereka.
Alis dan Al saling berhadapan berdiri di atas podium. Saling mengenakan cincin pertunangan di jari masing-masing.
Selepas Al dan Alis saling mengenakan cincin, ruangan kembali ramai di isi tepuk tangan yang membahana. Acara kembali di isi dengan suara musik dan juga dansa.
Beberapa orang tampak berjalan kearah mereka berdua untuk memberikan ucapan selamat pada mereka berdua.
"Rafael?" Alis menatap lelaki yang tepat berada didepannya. Ia masih mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat senyum yang terbit dari bibir Rafael.
"Iya. Apa kabar?" tanya Rafael. Ia melirik kearah Al yang tampak posesif dengan Alis. Tangannya melingkar di pinggang Alis dengan sangat erat.
"Aku baik," sahut Alis. Ia masih memperhatikan lelaki yang tepat berdiri di hadapannya tersebut.
"Aku minta ma'af soal kejadian terakhir kita bertemu. Aku tidak bermaksud sekasar itu berbicara padamu," ucap Alis.
Rafael terkekeh mendengarnya, ternyata gadis yang ia cintai dulu sama sekali tidak pernah berubah.
"Aku sudah melupakan semua itu. Dan sudah seharusnya aku berterima kasih padamu tentang itu," ucap Rafael.
Alis mengernyit bingung mendengar penuturan Rafael tersebut. Apakah ia sedang bercanda sekarang ataukah dia sedang tidak sehat.
"Jangan berpikir terlalu dalam soal itu. Nanti kamu akan merindukanku," seloroh Rafael di sela kekehannya.
"Hmm!" Al berdehem tepat berada di samping Alis. Ia memeluk pinggang Alis dengan erat, menandakan tentang kepemilikannya atas Alis.
"Dia tidak akan merindukanmu karena di relung hatinya hanya ada namaku saja," sahut Al dengan seringaiannya.
"Selamat untuk kalian berdua. Pada akhirnya kalian bisa melewati beberapa tahap hingga mencapai tahap di acara hari ini." Rafael menatap kearah sepasang cincin yang melekat di jari Alis dan Al.
"Terima kasih," sahut Al tulus.
"Kamu juga, segera temukan pasangan yang cocok denganmu."
Rafael terkekeh mendengarnya. "Pasti!" sahutnya.
"Bagaimana kalau aku merekomendasikan tempat yang romantis untuk kalian berdua berbulan madu nantinya?"
Al tersenyum mendengar usulan Rafael tersebut.
"Boleh, tapi lain kali saja kamu mengatakannya. Karena pernikahan kami cukup lama baru di gelar. Mungkin bulan depan kami akan menikah," jawab Al.
"Itu waktu yang singkat Al, bukan waktu yang lama!" sahut Rafel.
"Itu menurutmu, tapi menurutku menunggu momen yang mendebarkan seperti itu sangatlah lama walaupun waktunya singkat. Apalagi menunggu dengan tidak sabar."
Al terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Iya. Kamu benar. Semoga acaranya nanti lancar!" ucap Rafael tulus.
"Jangan lupa kamu untuk datang keacara kami," ucap Al lagi.
"Baiklah. Selamat untuk kalian berdua. Semoga langgeng sampai usia kalian di makan oleh waktu." Rafael menyodorkan tangan kanannya yang langsung di sambut oleh Al dengan sigap.
"Aku akan memberikan tiket bulan madu kalian nanti, tapi tempatnya masih menjadi misteri!" Rafael terkekeh.
__ADS_1
Al mengernyit saat merasakan sebuah cincin yang melingkar di tangan kiri Rafael. Alisnya terangkat mengernyit menatap Rafael.
"Perkenalkan dia pada kami!" pinta Al.
Rafael terkekeh. "Baiklah. Aku akan memperkenalkannya pada kalian berdua."
"Siapa?" tanya Alis bingung.
"Kekasih Rafael, sepertinya dia sudah bertunangan secara diam-diam," bisik Al.
Alis mengangguk dan menatap Rafael dengan senyum tipisnya.
"Selamat Rafael, akhirnya kamu menemukan orang yang pas untuk tempat berlabuh."
"Semua itu tidak akan terjadi seandainya aku tidak berdebat dengan kalian berdua," sahut Rafael.
Al terkekeh mendengarnya.
Seorang wanita tampak berjalan kearahnya.
"Ada apa, sayang kamu memanggilku kesini?" tanya wanita itu.
Al dan Alis menatap lekat wanita itu, mata Al membulat setelah mengingat identitas wanita itu.
"Dokter...." sahut Al.
"Iya. Aku dokter kandungan yang memeriksa Alisya tempo lalu," sahut dr Femi.
"Selamat ya untuk kalian berdua!" ucap Al sekali lagi.
"Aku pikir dia adalah pria gila yang sedang impoten waktu itu karena sangat menginginkan istrinya yang masih perawan untuk hamil."
Tawa Femi pecah saat dia mengingat pertemuan mereka.
"Lupakan semua itu, sayang. Nanti kamu akan membuatku malu!" sahut Rafael.
"Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya tetapi aku akan selalu mengingatnya!" sahut Femi.
"Ayo sayang kita mencari makanan untuk kita makan, aku sudah sangat lapar!" ucap Rafael sambil menggandeng Femi menjauhi mereka.
"Al, selamat ya untuk kalian berdua. Dan Alis, ma'afkan aku karena sudah meragukan perasaanmu pada Al."
Aldo menghampiri mereka.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti tentang kalian berdua. Kalian adalah sahabat dan sudah sewajarnya sahabat saling perduli dan saling mengingatkan," sahut Alis.
"Makasih atas pengertian kamu!" sahut Aldo.
"Alis! Bagaimana kalau kita foto bersama saja. Kenang-kenangan!"
Liza tiba-tiba datang dengan Alex.
"Boleh juga. Tapi lebih banyak orangnya lebih rame!" sahut Al.
Alis mengangguk.
__ADS_1
"Aku akan panggilkan semuanya kesini!" sahut Liza. Bergegas ia berjalan menghampiri seluruh sahabat Al. Dan tidak lupa juga dengan Jessica yang selalu menempel pada Andra.
"Duh pasangan ini so sweet bangat, kemana-mana selalu lengket!" ejek Irfan pada Andra.
"Iyalah, punya pasangan memang seharusnya begitu. Bukannya jauh-jauhan dan sedikit musuhan," sindir Andra.
"Aku bukannya sedang musuhan ya tapi dia sedang sibuk dengan kegiatannya!" sahut Irfan.
"Beruntungnya aku tidak jomblo lagi sekarang." Irfan melirik kearah Aldo yang menatapnya tajam.
"Kena timpuk baru tahu rasa!" sahut Andra.
"Biarin saja yang jomblo di tepi!"
Liza sibuk mengatur pose mereka.
"Eh, ada Angga tuh!" tunjuk Jessica.
"Angga! Gabung sini!" teriaknya lagi.
Angga berjalan kearah mereka, berdesakan di sela-sela Liza dan Alis.
"Begini baru pas!" sahut Angga.
Al melotot menatap tajam kearah Angga yang tidak perduli dengan peringatannya. Ia tetap berpose dengan manis di samping Alis.
"Dia tunanganku!" ucap Al saat Angga menatapnya.
"Iya. Aku tahu kalau dia sudah menjadi tunanganmu. Tidak usah mengucapkannya lagi, aku juga sudah tahu!" sahut Angga acuh.
"Tapi jaga jarak dengannya!" sahut Al lagi.
"Duh yang lagi cemburu, tidak kasian apa pada yang patah hati!" sindir Jessica.
Al segera meraih Alis dan memeluknya posesif. Ia merasa sangat tersaingi dengan keberadaan Angga.
"Al, aku tidak akan berpindah ke lain hati. Percayalah padaku. Aku akan selalu setia untukmu!"
Seluruh mata di sana terperangah dengan sikap Alis yang terlihat manis. Bahkan pipinya tampak merona.
"Sudah dengar bukan apa yang di katakan oleh Alis. Aku bukan penghalang kalian berdua lagi. Tapi kalau kamu menyia-nyiakan Alis, aku akan merebutnya darimu."
Angga terkekeh setelahnya.
Ia memang merasakan patah hati setelah mengetahui hubungan Alis dan Al yang semakin maju. Tetapi ia tidak akan pernah menjadi perusak bagi hubungan orang lain.
"Sayang, selama pernikahan kita nanti, aku ingin benar-benar menjalani semuanya dengan apa adanya. Dan kita saling terbuka."
Al menghadap kearah Alis.
"Iya. Aku pasti akan menerima dirimu apa adanya bukan karena ada apanya."
Al dan Alis menatap cukup dalam meresapi perasaan yang seakan tidak akan pernah terpisah hingga maut memisahkan.
💦💦💦
__ADS_1
TAMAT