Layangan Kertas

Layangan Kertas
Munculnya Seseorang Dari Masa Lalu


__ADS_3

"Alis, apa kamu sudah memikirkan permintaan kakak tadi malam? Apa kamu sudah siap untuk bertemu dengan ayah dan juga bunda?" tanya Riyan kepada Ails, ia mendekati Alis yang sedang menyusun makanan dimeja makan untuk sarapan mereka.


Segala pergerakan Alis tampak terhenti. Ia menatap kearah Riyan dalam diam. Tanpa mengucap sepatah katapun ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang terhenti sesaat. Alis menuang air putih kedalam gelas mereka selain air susu.


"Alis, apa kamu belum bisa berdamai dengan masa lalumu?" tanya Riyan lagi dengan hati-hati. Riyan mendudukan dirinya dikursi yang tepat berada di samping Alis. Ia menatap pergerakan yang dilakukan oleh Alis.


Namun Alis tetap diam, ia tidak dapat menjawab pertanyaan Riyan tersebut. Ia takut kalau suatu saat, apabila ia bertemu dengan mereka, maka penolakanlah yang kembali ia dapatkan. Ia tidak sanggup untuk menghadapi itu semua. Tidak sanggup lagi. Wajah Alis yang tampak putih bersih itu menjadi semakin putih karena pucat, bahkan kantong hitam sudah mengelilingi matanya. Ia kembali terbayang dengan semua yang terkandung didalam hatinya. Rupanya luka itu sangatlah sakit dan merobek hatinya. Dua tiga kali ia menarik napas panjang sebelum Riyan membuyarkan lamunannya.


Alis tersentak tatkala Riyan memegang bahunya. Riyan membalik Alis agar menghadap dirinya.


"Percayalah pada kakak, kakak berjanji akan selalu ada untukmu, membantumu dan juga melindungimu." Riyan menatap pada Alis yang juga menatap kedalam matanya untuk mencari kesungguhan itu. Alis hanya menatapnya dalam, ia tahu kalau kakaknya sungguh-sungguh tapi ia tetap ragu pada dirinya. Alis kembalj menatap makanan yang ada didepannya.


Riyan yang melihat hal itu hanya menarik napas pasrah. Mungkin Alis perlu waktu untuk memikirkannya. Tapi semoga saja Alis dapat mempertimbangkannya.


"Kak, pulang sekolah nanti kakak tidak perlu menjemput Alis. Alis bisa naik bus kok." Kata Alis sambil meminum susu yang ada digelasnya. Setelahnya Alis tidak bersuara lagi. Ia tetap terlihat tenang dengan makanan dihadapannya. Namun siapa sangka, hatinya bergemuruh hebat bahkan rasa nyeri didadanya makin terasa.


Riyan hanya menganggukan kepalanya mendengar pernyataan Alis tersebut. Ia menyangkal pun percuma, ia juga tidak ingin mendapati Alis yang akan semakin menjauhinya karena paksaannya. Riyan mengunyah makanannya dengan cepat, rasanya ia ingin cepat-cepat melewati rasa canggung ini.


Alis menatap kearah Riyan, kemudian menundukan kepalanya. Ia ingin mengucapkan sesuatu, tapi ia ragu. Apa Riyan merasa kecewa dengan sikap Alis, tapi harus bagaimana lagi Alis menjawab. Ia tidak mampu menghadapi mereka. Ia tidak mampu lagi melihat mereka.


"Ada apa Lis?" tanya Riyan yang melihat Alis tampak ingin berbicara padanya tapi terlihat kembali urung. Ia seperti merasa canggung denganku, bahkan rasa percayanya dulu semakin berkurang. Riyan meringis pelan membayangkan itu.


Alis menatap kearah Riyan dengan tersenyum manis kemudian menggelengkan kepalanya.


Riyan tampak terperangah dengan senyum itu, senyum yang dulu sempat hilang. Bahkan senyum yang tidsk pernah muncul sebelumnya. Riyan tampak terharu, ada satu kemajuan yang didapatnya.


Alis yang menyadari semua itu berdehem pelan dan ia segera berdiri. Ia mengambil sebuah kotak bekal untuk Riyan dan menyerahkannya pada Riyan.


"Ini kotak bekal untuk kakak."


Riyan menatap Alis dengan senyum manisnya, kemudian menerimanya. "Bekal untuk kamu mana Lis?" tanya Riyan kemudian.


"Ada, itu! tunjuk Alis pada dua buah kotak bekal yang masih terletak dimeja makan tersebut.


Riyan yang melihat itu tampak mengerutkan dahinya bingung. Ia memandang kotak bekal milik Alis, kemudian menatap Alis yang tampak sibuk dengan cucian piringnya.


"Kok dua, Lis? Kamu makannya porsi besar ya?" tanya Riyan.

__ADS_1


"Aku selalu bawa dua kotak bekal, untuk teman aku kalau ada yang kelaparan tapi lupa bawa uang." sahut Alis tanpa menoleh kearah Riyan.


Riyan menganggukan kepalanya beberapa kali, ia paham dengan maksud Alis. Ia begitu perduli dengan teman-temannya. Alis yang baru selesai mencuci piringpun menghampiri Riyan.


"Berangkat sekarang yuk!" ajak Riyan pada Alis.


Alis hanya menganggukan kepalanya sambil mengikuti langkah Riyan yang keluar menuju mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Alis dan Riyan hanya diam saja. Alis yang terlihat sibuk dengan buku bacaannya hingga melupakan keberadaan Riyan yang berada disamping kanannya.


Riyan menatap sekilas kearah Alis, ia tampak berdecak karena terus diabaikan oleh Alis. "Rupanya buku yang hidup dan aku yang dianggap benda mati!" gerutu Riyan yang mendelik kearah Alis.


"Lis, baca buku apa?" tanya Riyan tanpa menoleh kearah Alis. Riyan yakin kalau Alis sangat merespon dengan pertanyaannya.


"Bisnis." jawab Alis tanpa menolehkan kepalanya. Riyan tampak berdecak , "anak kecil kok bacaannya orang dewasa begitu, bahkan aku yang hampir tua saja tidak menyukai buku itu." Gumam Riyan pelan. 'Pantas saja kaku begitu.' gumamnya didalam hati.


"Aku punya reperensi buku yang bagus buat kamu baca, Lis." Riyan tersenyum manis sambil melirik Alis sepintas.


Alis menjeda bacaannya dan menatap kearah Riyan. Ia bertanya dengan gerakan dagunya.


"Ya ampun, Lis. Kamu pelit bangat dengan kata-kata." Royan menatap Alis dengan terkekeh. Alis mendelik kesal kearah Riyan.


Alis melirik kearah Riyan dan menganggukan kepalanya.


Setibanya digerbang sekolah, banyak siswa-siswi yang menatap heran dengan kedatangan mobil milik Riyan. Mereka menatap dengan penuh tanya tentang siapa pemilik mobil mewah ini.


Alis membuka pintu mobil dan keluar dari mobil dengan disusul oleh Riyan yang juga keluar dari dalam mobilnya.


Semua siswa-siswi menatap takjub pada Riyan dan mencibir pada Alis. Sudah beberapa hari ini, Alis terlihat bersama pria-pria tampan dan memikat. Namun mereka tidak heran karena memang wajah Alis yang terbilang cantik namun sayang, tidak didukung dengan sikapnya yang pendiam.


Riyan menatap kearah Alis dan memegang kedua belah bahunya. "Kalau ada apa-apa, jangan lupa hubungi kakak." kata Riyan menatap kedalam mata Alis.


Alis hanya menganggukan kepalanya.


Tangan Riyan bergerak mengacak rambut Alis hingga sedikit berantakan, dia terkekeh. "Belajar yang benar, jangan lupa senyumnya." Kata Riyan sambil menyodorkan tangannya yang disambut oleh Alis. Alis menatap kepergian mobil Riyan.


"Siapa ya? tampan sekali."

__ADS_1


"Sepertinya lelaki itu terlihat tidak asing deh."


"Iya, kamu benar."


"Ih, gadis dingin begitu tidak pantas sama laki-laki tampan begitu. Pakai acara salaman segala lagi."


"Paling juga benar romur yang beredar dulu. Gadis miskin seperti itu, apa sih yang memikat darinya." Gumam yang lainnya yang didengar oleh Alis saat ia melangkah. Alis hanya diam dan menatap mereka dengan melotot. Hingga ada beberapa siswa-siswi yang tampak bergidik ngeri.


Al yang berada diparkiran pun tampak menatap Alis dengan penuh tanya. Ia menyaksikan semua itu, bahkan ia sangat mengenali mobil hitam tersebut. Mobil yang selalu diperhatikannya karena terus mengintai Alis.


Apa hubungan Alis dan lelaki tersebut? Kenapa dulu, dia mengintai Alis? Apa mungkin benar dugaanku?


Benak Al dipenuhi dengan teka-teki. Namun tak dapat ia pungkiri kalau hatinya berdenyut sakit saat melihat keakraban Alis dengan lelaki lain.


"Al, lihat disana, si Alis. Siapa tuh laki-laki yang bersamanya itu?" tunjuk Irfan yang juga memperhatikan kedatangan Alis tadi.


"Ya mana aku tahu! tanyakan saja padanya." jawab Al yang terdengar emosi.


Irfan dan Andra tampak melongo mendengar jawaban Al. Bukannya ia yang selama ini selalu membicarakan tentang Alis. Tapi kok sekarang, kenapa juga saat ditanya seperti itu, jawabnya malah kesal dan terdengar emosi.


Aldo yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya. Ia juga memperhatikan Alis dalam diamnya.


"Al, kamu kenapa sih?" tanya Andra yang menatap heran kearah Al, karena tidak biasanya Al bersikap seperti ini sebelumnya.


Al hanya menatap mereka dan berlalu darisana tanpa sepatah katapun. Matanya melirik kearah Alis yang berjalan tidak jauh darinya. Ia terus melihat kearah Alis yang tidak menyadari dengan keberadaan Al.


Alis yang tampak asyik dengan bukunya, berjalan dengan perlahan. Sesekali ia menatap kearah depan untuk menjaga langkahnya. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang dengan sengaja menabraknya. Alis hampir saja terjatuh, untung saja ia bisa menyeimbangkan badannya. Alis berpaling dan menatap kearah belakangnya untuk menatap sang pelaku.


Deg.


"Alifa!" gumam Alis yang bahkan terdengar seperti bisikan saja. Alis menatap dalam keberadaan perempuan ini, ia begitu terkejut dan bercampur heran dengan keberadaan perempuan itu disini. Sementara perempuan didepannya itu hanya tersenyum sinis menatap kearahnya. Ia segera berlalu dengan angkuh dari hadapan Alis.


Alis menatap nanar kepergian Alifa, bahkan tangannya tampak bergetar hingga ia tidak menyadari kalau buku yang dipegangnya sudah diremasnya beberapa kali. Pandangan Alis dipenuhi dengan rasa sakit yang mendalam, rasa itu mencuat kepermukaan. Sakit itu begitu dalam dan tanpa ada penawarnya. Alis merasakan airmata yang membasahi pipinya.


Ya, benar. Gadis itu bernama Alisha Alifa, mantan sahabatnya dimasa lalu. Masa-masa bahagia namun masa-masa penuh luka. Ia rela menghianati persahabatan mereka hanya ingin membalas dendam pada Bastian karena perusahaan ayahnya yang bangkrut. Ia begitu dendam hingga persahabatn yang mereka bangun dengan gampangnya dikorbankannya. Bayangan kejadian itu terus berputar dibenaknya. Bahkan semakin memasuki benaknya dan menguasai pikirannya.


Alis tampak bergetar hebat, kucuran airmata turun dengan derasnya tanpa ia sadari. Al yang menatapnya sejak tadi pun tampak sangat terkejut. Ia tidak pernah melihat gadis itu seperti ini, bahkan lebih sakit lagi dengan dirinya yang tidak berdaya menatap Alis.

__ADS_1


Al mendekat kearah Alis, ia mengepalkan tangannya saat melihat Alis yang tampak berlari dengan kencang, hingga menabrak beberapa orang. Mereka tampak menatap heran kearah Alis, namun mereka tidak perduli dengan semua itu. Ia kecewa pada dirinya yang terlambat mendekati Alis tersebut. Ia yang khawatirpun ikut menyusul Alis.


💦💦💦


__ADS_2