
Alis hanya melirik kearah Rafael yang sejak tadi tidak pernah berhenti berbicara, tapi sikapnya yang sèlalu sombong membuat Alis merasa jengah.
"Aku ingin jalan-jalan ke kebun, soalnya aku sangat merindukan mereka. Kalau kamu ingin melakukan sesuatu, silahkan saja. Oh iya, sebaiknya kamu istirahat saja di kamar atas, kamar yang paling pojok. Siapa tahu kamu lelah karena sejak tadi kamu tidak berhenti bicara," ucap Alis membuat Rafael tampak kesal dibuatnya.
"Iya, aku tahu. Tapi aku harap pelayananmu pada tamu seperti aku harus maksimal," ucap Rafael sombong. Ternyata ia sangat sulit menghilangkan sifat sombongnya walaupun dihadapan gadis yang di cintainya sekalipun.
Alis hanya mendelik saja kearah Rafael. Ia hanya diam saja tanpa menanggapi sikap Rafael yang sudah diketahui sejak mereka tinggal bersama. Ia meraih buku yang tergeletak diatas meja tamu. Membawanya pergi keluar rumah. Ternyata lelaki sombong itu tidak benar-benar membebaskan Alis, dia selalu mengacau keseharian Alis. Bahkan tatapan matanya tidak pernah luput dari pergerakan Alis.
Baru saja Alis melangkah ke halaman, sebuah mobil tampak berhenti tepat di halaman rumahnya. Alis menatapnya dengan seksama, ia mengenali mobil tersebut dan menantikan sang pemiliknya keluar dari mobilnya. Ia memendam sesaat keinginannya untuk pergi ke kebun dan menghimdari pria sombong yang tetap pada posisinya.
Januar keluar mobil dan menatap kearah Alis dengan senyum senangnya, ia mengacak rambut Alis sesaat setelah ia berada dihadapan Alis, hingga berantakan tanpa tahu ada seseorang yang menahan amarahnya melihat semua itu. Sejak tadi Rafael terus-menerus memperhatikan Alis. Ia tidak pergi keatas seperti yang di suruh oleh Alis, melainkan duduk santai di ruang tamu tersebut.
"Hemm," sambut Rafael saat Januar dan Alis baru saja memasuki rumah. Ia melirik sinis kearah Januar, hatinya tidak rela gadis kecilnya disentuh oleh lelaki lain, apalagi Rafael hanyalah asisten Alis saja.
"Sebaiknya kita bicara di ruang kerjaku saja," ucap Alis. Matanya melirik kearah Rafael. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan Rafael yang seperti ingin mengulitinya saja. Januar hanya mengangguk mengiyakan ajakan Alis. Berbeda dengan Rafael yang membelalakkan matanya pertanda terkejut dengan usul Alis tersebut.
Berduaan didalam kamar, antara laki-laki dewasa dan gadis remaja. Oh tidak! Rafael tidak akan mengizinkannya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Januar saat berduaan. Saat ada dirinya saja, Januar sudah berani menyentuh kepala gadisnya, lalu bagaimana saat didalam ruangan. Ia tampak keberatan dan tidak setuju dengan semua itu.
"Sebaiknya kalian berbicara disini saja, aku juga tidak akan mengganggu!" ucapnya sambil meraih bantalan sofa dan memeluknya. Ia memejamkan matanya mencoba untuk bersikap santai tanpa menghiraukan keberadaan mereka. Namun hatinya tidak dapat berbohong kalau dirinya sangat ingin menendang Januar jauh dari hadapannya.
"Baiklah, sebaiknya kita disini saja. Aku mengerti kok apa yang sebenarnya sedang di pikirkannya," ucap Januar dengan sedikit sindiran sambil tersenyum ramah kearah Rafael yang hanya dibalasnya dengan anggukkan. Ia juga tahu kalau rekan kerja mereka tersebut bermaksud ingin menikahi Alis seperti pernyataannya pagi tadi dihadapan seluruh anggota keluarga Bastian.
Alis mengangguk, ia mendudukkan dirinya agak jauh dari keberadaan Rafael. Ia tidak ingin mengganggu Rafael yang sedang memejamkan matanya, entah tidur ataukah hanya memejamkan matanya saja.
Januar juga mendudukkan dirinya, ia membuka tas kerja miliknya. Mengeluarkan beberapa proposal yang akan diperiksa oleh Alis. Ia meletakkannya diatas meja yang ada dihadapan mereka.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kantor selama aku tidak ada?" tanya Alis langsung. Ia meraih berkas yang ada dihadapnnya. Membacanya sesaat dan memeriksanya dengan detail kemudian meraih pulpen yang sudah disediakan oleh Januar dan membubuhi tanda tangannya disana.
"Keadaan kantor aman-aman saja, hanya kami terlalu sibuk melakukan pencarian mengenai keberadaanmu selama dua minggu belakangan ini. Jadi, beberapa pertemuan dengan rekan bisnis dan juga klien kita, kebanyakannya di tunda dulu. Nanti akan di handle lain waktu, akan aku atur jadwalnya kembali," sahut Januar.
Alis menatap kearah Januar, ia melirik kearah Rafael yang tampak berdehem, namun matanya pura-pura masih terpejam. Ia tidak suka Alis terlalu menatap Januar lama. Alis tidak memperdulikan keberadaannya.
"Lalu, bagaimana dengan ulang tahun sekolah yang akan diadakan lusa? Apa persiapannya sudah matang?"
"Semua sudah 100% selesai, tinggal acaranya saja lagi." Januar tersenyum tipis.
"Pasti semua siswa tampak keheranan karena pestanya diundur dan itu bukan kebiasaan sekolah kita," gumam Alis.
"Bukankah itu sesuai dengan rencana kita sebelumnya, kalau kita ingin memperkenalkan pemilik sekolah yang sebenarnya. Semua orang begitu penasaran dengan sosok pemilik sekolah yang misterius. Lagi pula kamu sendirikan tahu bagaimana situasi sekolah saat ini."
Alis menghela napas berat, sebenarnya ia sangat malas untuk muncul dihadapan semua orang yang ada di pesta itu. Selain dirinya yang tidak menyukai keramaian, ditambah lagi dengan kejutan yang pasti membuat semua orang berbalik manis dan menjilat padanya. Ia tidak suka pada orang-orang yang bermuka dua.
"Seperti biasa, kafe semakin ramai bahkan kita sekarang mengadakan acara khusus seasion tanya jawab mengenai keluhan pelanggan dan juga keinginan serta saran dari para pelanggan, diadakan setiap satu kali seminggu. Kita juga punya doorprize bagi mereka yang beruntung."
"Bagus, kalian sudah menjalankan semuanya dengan baik."
"Semua pasti akan baik kalau pemimpinnya gadis pintar sepertimu, lagi pula semua ide itu berasal darimu," ucap Januar dengan senyum lebarnya. Tangannya terulur ingin menyentuh surai Alis, namun deheman keras dari Rafael menghentikan gerakannya. Ia kembali menarik tangannya sambil melirik kearah Rafael yang sudah menatapnya dengan sangat tajam.
"Apa dia tidak punya pekerjaan lain, selain menunggui Alis dan juga menjaganya seperti dirinya bodyguard saja," gerutu Januar dalam hatinya. Ia kesal dengan Rafael yang terlalu sering berdehem.
"Oh iya, setelah ulang tahun sekolah nanti, jadwal kamu sangat padat. Aku harap kamu dapat menyiapkan semuanya dari sekarang," ucap Januar. Ia membereskan semua map yang ada diatas meja tersebut, memasukkannya kedalam tas kerjanya. Ia melirik sesaat kearah jam tangan miliknya. Alis juga menatap kearah jam yang tergantung di dinding. Ia tersenyum samar.
__ADS_1
"Sebaiknya kakak besok saja lagi bekerjanya. Pasti akhir-akhir ini kakak sangat lelah karena menghandle semua pekerjaanku."
Rafael tampak mencibir saat mendengar perhatian Alis yang tertuju kearah Januar. Sedangkan Januar hanya melirik sesaat dengan ekor matanya. Alis hanya diam acuh saja. Ingin rasanya ia menendang pria sombong ini dari rumahnya, tapi ia bisa dikatakan sangat tidak sopan dengan tamunya, lagi pula mereka juga mempunyai kerjasama dalam pekerjaan.
"Kebetulan kakak juga hari ini ada keperluan dengan Riyan dan sekarang Riyannya masih belum keluar kamar," sahut Januar. Matanya menatap kearah atas. Ternyata Riyan sudah berdiri disana sejak tadi. Ia terus-menerus memperhatikan Alis dan juga tingkah Rafael. Pria tua itu ternyata sangat menyukai adiknya, tapi ia tidak yakin akan semua itu. Rasanya sangat sulit ia mempercayai cinta pada pandangan pertama. Ia yakin kalau terjadi sesuatu diantara mereka berdua sewaktu berada di luar negri.
"Hey! Yan, turun. Kita berangkat sekarang!" seru Januar.
Riyan tampak memposisikan dirinya bersandar pada tiang besar yang ada diatas, tangannya menyilang didepan dadanya, matanya terpejam. Kemudian terbuka sesaat, ia bergegas turun kearah mereka yang ada dibawah.
"Alis! Alis!!!" teriak seseorang dari luar. Alis yang mendengarnya hanya bisa memutar bola matanya malas. Ia tahu siapa yang baru saja memanggil namanya. Tanpa disuruh pun ia sudah masuk kedalam rumah Alis dan menghambur memeluk Alis.
"Alis... kangen!! Kamu kemana aja!!" ucap Liza dengan suara sendu. Ia melepaskan pelukannya, menatap Alis dengan seksama.
"Mereka bilang kalau kamu sedang diculik. Aku sangat takut dan khawatir mengenai keadaanmu sewaktu pertama kalinya mereka mengatakan tentang dirimu. Aku penasaran sekuat apa orang yang sudah bisa mengalahkanmu, padahal selama ini kamu tidak terkalahkan," ucap Liza menyerocos. Semua ucapannya menimbulkan perasaan hangat pada Alis namun ia justru memutar kedua belah bola matanya karena merasa jengah dengan ucapan Liza yang sedikit berlebihan.
"Apa semua orang sudah tahu tentang berita diculiknya aku?" tanya Alis dengan sedikit was-was.
"Tidak ada yang tahu dong sayang, semuanya dirahasiakan. Mana mungkin kami tega melihat mereka bahagia setelah mendengar berita ini. Dan tertawa diatas penderitaanmu. Bahkan mereka sangat senang karena kamu tidak ada di sekolah lalu bagaimana kalau mendengar kabar buruk ini. Bisa-bisa sekolah milikmu akan hancur karena aku mengamuk pada mereka," gerutu Liza tampak kesal saat ia mengingat percakapan seluruh sekolah saat mengetahui kabar Alis yang simpang siur. Bahkan ada yang menyebarkan romur kalau Alis diberhentikan dari sekolah. Namun tidak sedikit dari mereka yang mengatakan bahwa Alis berhenti sendiri karena malu dengan kesalahan yang diperbuat olehnya.
Alis tersenyum, ia meraih Liza dan memeluknya. Ia bahagia memiliki sahabat yang benar-benar pengertian. Mata Liza tanpa sengaja menatap kearah Rafael yang menatap kearah mereka. Rafael segera memalingkan wajahnya saat Liza melebarkan mulutnya dan matanya melotot.
"Benar-benar tampan, Siapa dia?" gumam Liza masih terdiam dalam pelukan Alis. Ia tampak kaku dan terpesona dengan semua yang ada pada diri Rafael.
Alis mengerutkan dahinya setelah mendengar gumaman Liza, ia berusaha untuk mencernanya. Ia tersenyum smirk setelahnya.
__ADS_1
"Oh iya, aku hampir lupa!!" teriak Liza bersamaan dengan lepasnya pelukan Alis padanya. Bergegas ia berdiri dan berlari kearah luar rumah. Semua itu membuat mereka yang sedang berada di ruangan tamu tampak keheranan dibuatnya.
💦💦💦