
Disebuah gudang tak terawat tampak seorang laki-laki yang berusia 35 tahun sedang tak sadarkan diri. Kedua tangannya terikat dan darah tampak mengering di sebagian wajahnya yang juga tampak bengkak dan membiru. Rupanya laki-laki itu baru saja mengalami kekerasan fisik.
Terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat kearahnya, derap langkah kaki dari beberapa buah pasang kaki. Pintu terbuka dan menimbulkan bedebam yang kuat. Namun suara itu tetap tidak membuat tawanan tersebut terbangun. Bahkan tidak berpengaruh sama sekali padanya. Ia tetap pada posisinya yang bersandar lunglai pada sebuah kursi.
"Bos! dia masih belum sadarkan diri sejak beberapa menit yang lalu," ucap seseorang yang sejak tadi menunggui lelaki tersebut diluar ruangan itu.
Rafael hanya diam saja, ia menatap kearah lelaki yang sangat jelas di ingatannya. Lelaki yang sempat bertemu dengannya beberapa waktu lalu di klub malam dan lelaki ini juga yang menolongnya waktu itu. Tetapi ia tidak tahu lagi kejadiannya seperti apa setelahnya. Dengan gestur tubuhnya ia menyuruh salah satu anak buahnya agar membangunkannya dengan cara menyiramnya.
Byuurrr
Seember air yang terlihat agak kotor dan keruh mengguyur tubuh yang sudah tidak berdaya itu hingga basah kuyup. Terlihat ada sedikit pergerakan dari tawanan tersebut hingga ia membuka matanya dengan perlahan, bahkan ringisan tampak keluar dari mulutnya karena rasa pedih yang dirasakannya saat air menyentuh permukaan lukanya. Beberapa kali ia mengerjap dan menatap kearah Rafael. Matanya sedikit lesu karena masih belum sadar sepenuhnya.
"Katakan pada kami siapa yang sudah menyuruhmu untuk melakukan itu semua!!?" tanya salah satu anak buah Rafael yang berotot besar dengan rambut jabrik. Ia maju selangkah dan menggertak pada tawanan tersebut dengan geram. Bahkan tangannya sejak tadi sudah terkepal.
Lelaki itu hanya bergumam dengan tidak jelas karena lakban masih menyangkut dimulutnya. Ia beberapa kali menggeram karena ucapannya tidak dimengerti oleh mereka yang ada disana.
Salah seorang dari mereka kembali maju kedepan dan melepaskan bekapan lakban yang ada dimulutnya. Lelaki itu tampak menarik napasnya berulang kali, ia menatap kearah semua orang yang ada didepannya dengan sedikit ketakutan. Matanya nyalang menatap kearah Rafael dengan pandangan menghiba. Ia masih sangat jelas mengingat Rafael yang sudah dijebaknya.
"Aku benar-benar tidak tahu siapa yang menyuruhku. Mereka hanya menyodorkanku bayaran uang yang besar dan pekerjaan yang sangat mudah," ucapnya dengan tampak memelas. Keringat dingin mulai bercucuran diwajahnya bahkan badannya terlihat gemetaran.
"Kamu pembohong!!" teriak lelaki berambut jabrik sambil menampar keras tawanan mereka hingga menimbulkan bunyi yang menggema. Bahkan wajahnya tertoleh kesebelah kanan karena saking kerasnya pukulan. Darah yang tadinya sudah mengering, kini kembali mengalir dari hidung dan juga mulutnya yang mengalami luka sobek.
"Jangan tampar dia lagi, Boy!!" teriak Yaska saat Boy ingin kembali melayangkan tangannya kearah pipi yang sebelah kanan. Boy mengangguk dan segera mundur dengan perlahan. Ia menurunkan tangannya yang hampir menyentuh wajah lelaki tersebut.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Yaska, kini gilirannya yang kembali maju kedepan. Ia memang sudah tahu kalau tawanan ini adalah seorang bartender disebuah club malam, yang sempat mereka sambangi beberapa waktu yang lalu.
"Tuan, ampun Tuan," ucapnya lirih. Ia menatap kearah Yaska dengan tatapan menghiba. Bahkan ketakutannya terlihat semakin membesar.
"Baiklah kalau kamu tidak ingin menjawab. Bagaimana kalau aku tawarkan sebuah pekerjaan yang bayarannya jauh lebih besar dari bayaran yang kamu terima!" Yaska menaikkan sebelah alisnya dengan senyum miring yang tersungging dibibirnya.
Tawanan tersebut hanya diam saja, ia tampak sedang berpikir. Namun berpikir sekarang pun percuma karena nyawanya sudah menjadi taruhannya. Semua baginya sudah terlambat, ia menyesal kini karena sudah berani menjebak orang yang berkuasa. Sama saja artinya ia sedang menyerahkan nyawanya pada mereka.
"Ayolah Dani, ini kesempatan yang sangat baik untukmu," ucap Yaska sambil memainkan jemarinya diwajah tawanan mereka yang bernama Dani tersebut.
Dani tampak membeliakkan matanya, ia tidak menyangka bahwa mereka sudah mengantongi identitasnya. Tapi tentu saja ia tahu, semua itu sangatlah mudah bagi mereka karena mereka adalah orang-orang kaya dan berkuasa. Bahkan hanya dalam sekali kedipan mata saja, maka mereka pasti sudah akan memperolehnya. Ia mengeratkan tangannya dan terlihat semakin gemetaran. Ia tampak ragu untuk menjawabnya.
"Bagaimana kalau aku beri tawaran yang sepadan. Kamu bergabung dengan kami atau adikmu yang sedang sakit dan tidak berdaya tersebut akan kami kuliti!?" Ancam Yaska dengan menatap garang kearah pemuda yang ada didepannya ini. Ia berdesis rendah tepat disamping telinga Dani.
"Ya! Aku mau! Aku mau bergabung dengan kalian, asalkan adikku tidak kenapa-napa," ucapnya dengan setengah memelas. "Aku akan memberitahukan semuanya pada kalian. Asalkan adikku jangan di apa-apakan," sambungnya lagi.
__ADS_1
"Bagus!" Yaska tampak menepuk tangannya dengan pelan dan berdiri. "Eits... tunggu dulu, kalau kamu berani melawan ataupun berkhianat, kamu akan tahu sendiri apa yang akan terjadi kedepannya."
Dengan lesu dan masih ketakutan Dani mengangguk lemah. Ia merasa sudah salah berurusan dengan orang-orang yang berada didepannya ini. Seandainya ia tidak tergiur dengan uang yang bayarannya cukup besar tersebut, ia juga tidak akan pernah melakukan pekerjaan yang mereka suruh dan berurusan seperti ini. Ia hanya terpaksa menempuh jalan seperti itu karena adiknya yang sangat memerlukan perawatan.
"Lepaskan dia dan bersihkan badannya. Setelah itu bawa keruang interogasi!!" ucapnya tegas dan menghampiri kearah Rafael yang sejak tadi hanya diam saja dan menyaksikan semuanya.
Mereka berjalan dan melangkah kearah lantai dua markas tersebut dan memasuki sebuah kamar yang didalamnya hanya terdapat sebuah meja dan beberapa kursi. Keadaan disana cukup terawat dan sangat bersih, tidak seperti diruang penyekapan tadi yang sengaja dibiarkan kotor dan berdebu.
Rafael tampak sibuk dengan ponselnya yang berdering sejak tadi. Bahkan durasinya cukup panjang. Ia menatapnya sesaat, rupanya panggilan yang datangnya dari maid yang sedang mengurusi Alisya dirumahnya.
"Halo."
"________"
"Katakan padanya, aku pulang saat makan malam tiba. Suruh dia untuk istirahat terlebih dahulu," ucapnya dan mematikan sambungan telpon tersebut terlebih dahulu tanpa mendengarkan sapaan orang diseberang sana, tidak sopan memang, namun memang seperti itulah sifatnya. Ia menghembuskan napasnya dengan perlahan sambil menutup matanya sesaat.
"Ada apa?" tanya Yaska yang sejak tadi memperhatikannya.
"Gadis itu selalu bertanya mengenai kejadian sebelumnya. Bahkan ia terus mendesak pelayannya untuk menceritakan yang sebenarnya," ucap Rafael yang hanya diangguki oleh Yaska.
"Kamu buat saja cerita karangan yang bisa membuatnya percaya dan masuk akal."
Rafael hanya diam saja mendengar usul dari asisten pribadinya tersebut.
"Aku juga tidak ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya. Itu akan membuatnya syok tentu saja. Untuk apa aku memberikannya obat tersebut kalau pada akhirnya aku jujur padanya. Bodoh!!" desis Rafael sambil tersenyum sinis.
Pintu tampak diketok dari luar. Setelah terdengar interupsi dari Yaska, Boy tampak muncul dengan seorang pemuda yang sudah tampak bersih dan juga terawat, siapa lagi kalau bukan Dani.
"Duduk!!" perintah Yaska pada Dani yang diangguki olehnya dan segera mendudukkan dirinya tepat dihadapan Rafael.
Rafael menatap tajam kearah Dani yang terus-menerus menundukkan kepalanya. Kini Dani sudah tahu siapa lelaki yang ada dihadapannya ini, karena Boy sudah memberitahukan padanya sebelumnya.
"Kamu ceritakan sejak awal sampai akhir!" ucap Yaska tegas dengan sorot mata tajam mengintimidasi.
Dani mengangguk dan melirik kearah Rafael yang masih menatapnya dengan tajam.
"Waktu itu aku sedang bekerja di bar, keadaan pengunjung masih sepi karena club baru saja dibuka." Dani tampak menerawang pada kejadian beberapa hari yang lalu.
Flashback
__ADS_1
Dani tampak sedang sibuk dengan beberapa botol minuman ditangannya. Ia sesekali tampak bersiul, keadaan club masih tampak sepi karena baru saja dibuka beberapa menit yang lalu.
"Hei sobat! bisakah kita berbicara sebentar. Aku hanya ingin meminta sedikit bantuanmu," ucap seseorang yang baru saja datang dan berdiri tepat dihadapannya.
Dani tersenyum dan mengangguk, ia memang terkenal dengan sikapnya yang pemurah dan suka menolong. Setelah ia meminta tolong pada temannya yang ada disana, akhirnya Dani meninggalkan bar sebentar. Ia mengikuti langkah orang asing yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali.
Lelaki tersebut mengajaknya kesebuah kamar. Setibanya disebuah ruangan private, lelaki asing tersebut tampak menutup pintunya. Kalau dilihat dari penampilannya, dia bukanlah orang biasa atau setidaknya dia mempunyai uang yang banyak.
"Aku mengajakmu kesini sedikit memberikan tawaran. Pekerjaannya mudah saja," ucapnya sambil menatap Dani. "Aku tahu kalau kamu sangat memerlukan uang untuk perawatan adikmu yang sakit jantung," ucapnya lagi sambil memperlihatkan uang yang ada dihadapannya.
Dani menatap tak percaya pada tumpukan uang yang ada dihadapannya. Dolar-dolar tersebut begitu berharga dimatanya.
"Apa pekerjaannya?" tanyanya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Mungkin dengan ia mengetahui pekerjaannya, ia dapat memikirkannya terlebih dahulu.
"Pekerjaannya sangat mudah. Kamu hanya tinggal memasukkan obat ini kedalam minuman seseorang."
Dani meraih obat yang dimaksud oleh lelaki yang tidak dikenalnya sama sekali. Ia meneliti obat tersebut dengan seksama, ia tahu jenis obat ini. Akan menghilangkan kesadaran seseorang namun tidak sampai pingsan.
"Lalu, pada siapa aku akan memberikan obat ini?"
Laki-laki asing tersebut menyerahkan sebuah foto yang terpampang jelas disana foto seorang Rafael. "Sebentar lagi dia akan datang kesini. Dan pastikan setelah ia meminumnya, bawa dia kekamar 707. Ini kuncinya!" ucapnya sambil menyerahkan sebuah kunci duplikat pada Dani.
Lelaki itu ingin melangkah, tetapi kembali urung. "Pastikan orang yang bersama dengannya tidak mengetahuinya sama sekali. Kamu cukup mengecohnya, karena ia adalah orang yang sangat setia pada Tuannya. Dan uang ini, semuanya untukmu. Dan satu hal lagi, jangan beritahukan hal ini pada siapapun," ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan Dani yang hanya menatapnya saja.
Dani tampak membelalakan matanya menatap kearah uang yang ada dihadapannya tersebut. Ia menatap kepergian lelaki yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya. Hanya suara dan wajahnya lah yang akan selalu di ingatnya. Senyumnya seketika mengembang dibibirnya karena tanpa bersusah payah, ia akhirnya bisa mendapatkan uang yang banyak
Bergegas ia mengambil uang tersebut dan menyimpannya, ia bersyukur karena masih ada orang baik yang ingin menolongnya untuk mengobati adiknya satu-satunya.
***
Rafael memasuki club malam yang biasa ia sambangi bersama Yaska. Ia berkunjung ketempat ini hanya untuk minum dan menghilangkan penat pada dirinya karena seharian penuh hanya berhadapan dengan setumpuk pekerjaan dan juga berkas-berkas.
"Bos, aku mau keluar sebentar untuk menerima telpon. Soalnya disini tidak akan kedengaran karena sangat berisik," ucap Yaska yang baru saja ingin duduk didepan bar tapi urung saat merasakan handphonenya yang terus-menerus bergetar. Disana ia melihat bahwa seorang klien perusahaan mereka sedang menghubunhinya. Bergegas Yaska keluar club tersebut setelah menerima anggukan dari Rafael.
Rafael beralih menatap kearah bartender yang ada dihadapannya. Ia meminta bartender membuatkannya sebuah minuman mocktail, yang diangguki secara cepat oleh Dani. Senyum Dani seketika langsung terbit karena orang yang sudah ditunggunya sejak tadi, kini sudah berada dihadapannya.
Tanpa menunggu lama, Rafael langsung meneguk habis minuman yang sudah disuguhkan padanya. Ia mengernyit dalam saat merasakan sesuatu yang berbeda pada kepalanya. Rafael mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia merasakan pusing yang menyerangnya. Bahkan kesadarannya mulai tidak bisa dikontrol olehnya. Ia menatap kearah Bartender yang datang menghampirinya, dengan sekuat tenaga ia mempertahankan kesadarannya tetapi rasa lain sudah menguasai pikirannya.
"Kenapa kepalaku pusing, bukankah aku tadi memesan minuman yang tidak beralkohol," ucapnya lemah disela kesadarannya.
__ADS_1
"Sebaiknya Tuan beristirahat kekamar saja terlebih dahulu. Saya akan membawa Tuan kesana," ucap Dani yang sudah membopong Rafael menuju kearah kamar 707.
💦💦💦