Layangan Kertas

Layangan Kertas
Tak Sekuat Yang Terlihat


__ADS_3

Alis terus berlari kearah rooftop sekolah. Ia ingin mencari tempat yang sunyi untuk menumpahkan rasa marah, sedih, kecewa dan bencinya. Alis menangis sejadi-jadinya, bahkan matanya yang sudah bengkak pun tampak semakin bengkak. Rasa perih dimatanya pun tidak ia hiraukan. Ia merasa lemah saat ini, sangat lemah. Alis terduduk dilantai dengan wajah yang acak-acakan bahkan ia juga sudah tidak perduli lagi dengan kelasnya.


Alis memukul dadanya berulangkali untuk menghalau rasa sesak itu. Sakit! benar-benar sakit rasa itu, saat dia kembali muncul disaat sekarang. Sakit! saat Alis melihat orang yang sudah merenggut kebahagiaan dalam hidupnya.


Alis mengepalkan tangannya dan dengan bergerak tanpa aturan, ia memukulkan tangannya berulang-ulang pada lantai rooptof dengan kencang. Hingga membuat tangannya kebas dan terkoyak, tapi ia tidak perduli. Bercak-bercak darah itu dengan perlahan mengalir memenuhi tangannya.


Masa lalu itu kembali membayanginya, benar-benar membayanginya. Alis yang selalu percaya dengan Ifa, bahkan ia sangat menyayanginya layaknya saudara. Tapi apa yang ia dapatkan, penghianatan, kehancuran, hina bahkan kebencian orang tuanya pada dirinya.


Flashback


Semua itu berawal dari Alifa yang mengajaknya untuk berjalan-jalan bersamanya dihari libur. Seperti biasa, Alis akan selalu bermain bersama dengan Alifa karena memang hanya Alifa lah satu-satunya sahabat yang ia punya. Ia tidak pernah menaruh kecurigaan dengan sahabatnya tersebut. Ketika itu hari masih pagi.


"Alis, ketaman yuk yang ada diujung kompleks." Kata Alifa yang tersenyum manis saat menghampiri Alis yang sedang menyiram bunga-bunga dihalaman.


"Ayo, aku juga ingin jalan-jalan. Sudah lama tidak jalan-jalan bareng kamu." Jawab Alis.yang tersenyum senang dengan ajakan Alifa.


Mereka pun berangkat bersama dengan diantar oleh mang Danu, sopirnya keluarga Alis. Namun si sopir kembali pulang karena ada pekerjaan lain yaitu mengantar ayahnya Alis, Bastian.


"Lis, aku ingin pipis. Kamu tunggu aku disana." Tunjuk Alifa pada bangku yang terdapat pada lorong jalan. Alis hanya mengangguk menyetujui usul Alifa.


Cukup lama Alis menunggu, hingga ia mendengar seperti suara rintihan seseorang. Bahkan sayup-sayup ia mendengar suara yang meminta tolong. Alis bergidik ngeri mendengarnya, bahkan ia memperhatikan disekelilingnya yang tampak sunyi.


Rintihan itu terus terdengar hingga Alis yang merasa takut pun menjadi rasa iba. Ia tidak tega mendengar rintihan kesakitan itu. Alis pun mencari-cari keberadaan suara tersebut, hingga cukup jauh ia berjalan menuju kearah hutan.

__ADS_1


Alis terperanjat kaget saat menemukan orang yang tergeletak dipinggir jalan dengan keadaan badannya penuh darah. Alis yang merasa takut pun beringsut mundur. Dia menatap kesekelilingnya yang banyak ditumbuhi kayu jati, ia semakin takut karena merasakan ada binatang buas.


Namun, rasa takutnya itu tergantikan dengan rasa iba, saat orang itu menggapai-gapaikan tangannya pada Alis. Alis pun menghampirinya, ia terkejut dengan keadaan orang itu yang penuh luka sayatan. Bahkan belati masih menancap diperutnya.


Alis yang merasa kasihanpun segera menolong lelaki yang berusia 40 tahun tersebut. Alis mencabut pisau tersebut dan merobek bajunya yang panjang untuk menutupi luka tersebut. Namun naas, ada sebuah mobil yang lewat, dengan berisikan beberapa orang. Mereka yang lewat tersebut, menghentikan mobilnya. Mereka sangat terkejut melihat pemandangan itu, dengan tangan Alis yang berlumuran darah ditambah dengan dia yang masih memegang pisau tersebut. Tanpa bertanya sedikitpun terlebih dahulu, malah menuduhnya yang melakukan semua itu.


Alis yang dipojokan membela diri, tapi percuma. Karena hanya ada dia dan sang korban ditempat kejadian. Hingga Alifa datang, Alis merasa senang kalau ia akan tertolong. Ia meminta pada Alifa agar dia membenarkan penyanggahan yang diucapkan oleh Alis. Namun apa? dugaannya meleset, Alifa dengan tegas menyatakan bahwa Alis lah pelakunya, bahkan ia rela menjadi saksinya. Alifa dengan keji menuduhnya dan memfitnahnya. Bahkan ia juga mengeluarkan video rekaman yang memperlihatkan Alis yang mencabut pisau dari tubuh korban.


Alis merasa sangat kalut waktu itu karena dituduh sebagai pembunuh waktu itu, dengan bukti-bukti yang ada ditangan Alifa. Hingga Alis benar-benar tidak berdaya atas semua itu. Satu-satunya harapan Alis, adalah meminta pembenaran dari sang korban. Namun, seolah kenyataan dan alam semesta ikut berkonspirasi untuk menjatuhkannya. Korban meninggal dunia setelah 10 menit, ia tiba dirumah sakit.


Dunia Alis terasa runtuh, bahkan ayahnya yang paling percaya padanya pun kini membencinya dan mengusirnya dari hidupnya. Alis benar-benar merasa terkucilkan dengan banyaknya orang yang memanggilnya pembunuh. Bahkan tidak jarang dari mereka mencaci makinya. Sedangkan ketika itu usianya baru memasuki 10 tahun.


Fla**shback off**


Al yang baru sampai di rooftop menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bergegas ia menghampiri Alis yang sudah duduk tidak berdaya. Ia begitu rapuh. Al menarik kuat tangan Alis yang sudah berlumuran darah tersebut, agar ia berhenti menyakiti dirinya sendiri.


"Siapa gadis baru itu? Dan kenapa Alis se emosi ini saat melihatnya?" Gumam Al sambil mengangkat tubuh Alis ala bridal style. Pikirannya tidak pernah lepas dari gadis baru yang dilihatnya pagi tadi. Al akan mencoba mencari tahu melalui sahabat-sahabatnya.


Al kembali mengingat awal mula ketika Alis turun dari mobil tadi. Ia memang sengaja memperhatikannya. Tidak ada apa-apa, semua berjalan seperti keadaan yang biasanya. Bahkan Alis juga membaca bukunya sambil berjalan.


Tapi yang membuat Al terkejut adalah saat Alis melihat siswa baru tersebut, tiba-tiba ia melihat Alis yang terlihat sangat emosi, pembawaannya yang tenang hilang sudah. Bahkan ia menangis didepan umum, itu merupakan hal yang jauh dari kebiasaan sosok seorang Alis. Rasa khawatir Al semakin kuat saat Alis berlari kencang kearah yang bukan menuju arah kelasnya. Al yang memiliki firasat buruk pun mengikutinya, hingga teriakan dari sahabat-sahabatnya tidak dihiraukannya sama sekali.


Al menatap wajah Alis yang berada digendongannya. Wajah cantik itu, begitu pucat dengan matanya yang membengkak dan terlihat sisa jejak air mata yang mengering dipipinya.

__ADS_1


"Astaga, Al! Alis kenapa? Kenapa bisa sampai seperti ini?" Andra menutup mulutnya karena terkejut melihat Alis yang tampak pingsan dalam gendongan Al. Bahkan tangannya tampak dipenuhi darah yang tampak masih mengalir. Beberapa bercak darahpun sampai ada yang menempel dibaju Al.


Bel berbunyi sejak 5 menit yang lalu, sehingga lorong sekolah tampak sunyi.


"Kalian kekelas, soal Alis biar itu menjadi urusanku. Tolong izinkan aku pada guru yang masuk." kata Al yang tampak setengah berlari menuju kearah UKS.


"Alis?" Gumam Angga setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mendapat giliran berjaga diruang UKS untuk hari ini.


Beberapa dari rekannya yang juga ikut bertugas diruang UKS, dengan segera memberikan pertolongannya pada Alis.


"Al, sebaiknya Alis kita bawa kerumah sakit. Keadaannya cukup parah. Dia perlu penanganan yang lebih, untuk memeriksa keadaan tangannya. Takut adanya keretakan tulang." Angga yang baru saja selesai membersihkan luka Alis, segera keluar menghampiri Al yang masih menunggui Alis tersebut.


"Tidak usah,biar aku saja yang membawanya. Aku bisa menjelaskannya pada dokter tentang apa yang terjadi pada Alis." Al menatap Angga dengan mengintimidasi. Ia mengingat saat Angga yang mengajak Alis untuk pulang sekolah waktu itu.


"Aku lebih mengenal Alis daripada kamu!" Angga menatap Al tajam dan suaranya terdengar seperti desisan. Ia menunjuk tepat didada Al.


Al tersenyum miring dan meninggalkan Angga seorang diri, tangannya mengepal erat mendengar kata-kata Angga. Sekuat tenaga ia menahan amarahnya.


"Ma'af, sebaiknya dia segera dirujuk kerumah sakit. Sepertinya keadaannya cukup memprihatinkan." Kata salah satu yang berada di ruang UKS tersebut sambil menatap Al dan Angga.


Al dan Angga saling menatap dalam.


"Ini bukan waktunya berdebat tentang siapa yang pantas membawanya, tapi tentang kondisinya." Kata Ani menyadarkan Al dan Angga yang saling mengintimidasi.

__ADS_1


Bergegas Al mengangkat tubuh Alis dan disusul oleh Angga di belakangnya. Biarlah kali ini ia yang mengalah, ia yang akan menyopir untuk mereka.


💦💦💦


__ADS_2