
Alis benar-benar merasa bosan karena sudah terkurung didalam kamar yang megah tersebut, beberapa kali ia meminta pada pelayannya agar di izinkan keluar.
Karena bosan mendengar permintaan Alis yang itu-itu saja, akhirnya Maria meminta izin pada tuannya, dan beruntungnya dia karena tuannya memberikan izin untuknya membawa Alis keluar.
Senyum Alis terkembang saat tangannya sudah berhasil menyentuh bunga yang ada dihadapannya. Bunga-bunga yang begitu indah saat ia memandangnya dari atas balkon tadi. Sungguh ia bersyukur karena bisa berada ditaman yang indah ini sekarang. Namun masih menjadi tanda tanya besar diotaknya mengenai keberadaannya disini.
"Maria, sudah berapa lama kamu berada disini?" Alis menatap kearah maid yang berdiri dibelakangnya, maid tersebut tampak menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya pada Alis.
"Sejak saya kecil sudah berada disini, Nona. Ayah dan ibu saya juga seorang pelayan disini. Tugas mereka ada dibagian dapur, sedangkan ayah saya khusus mengelola kebun milik tuan Rafael."
"Kebun?" tanya Alis sambil mengernyit dan kembali menatap kearah sekeliling mereka. Sejak dia berada diatas balkon tadi, ia sama sekali tidak melihat kebun yang dimaksud oleh Maria .
Sedang Maria hanya mengangguk saja. "Iya nona, kebun anggur dan letaknya tidak jauh dari tempat ini," jawab Maria yang tidak merasa enak mendapat pertanyaan dari Alisya.
Alis hanya mengangguk saja mendengar penuturan Maria tersebut, pantas saja ia tidak melihatnya kalau ternyata kebunnya jauh dari sini. Ia paham dengan situasi yang dialami oleh gadis berambut sebahu tersebut, yang terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan Alis yang bersifat pribadi.
"Kalau kamu ada pekerjaan didalam, sebaiknya kamu pergi saja. Aku tidak apa-apa kok sendirian disini. Lagi pula aku tidak akan berbuat yang macam-macam." Alis menatap kearah Maria yang tampak gelisah.
"Bukan itu Nona, saya hanya ingin ketoilet sebentar. Sebaiknya nona ikut saya saja kedalam, cuaca diluar sini sangat tidak baik untuk kesehatan nona."
"Aku ingin sebentar lagi disini. Sebaiknya kamu segera tunaikan hajatmu dulu." Maria mengangguk saja dan bergegas meninggalkan Alis sesaat kedalam rumah.
Alis tampak duduk dibangku taman sambil mengeluarkan buku yang sejak tadi dibawanya. Sudah lama ia tidak membaca buku ditempat terbuka seperti ini, bahkan membaca dengan bebas tanpa ada orang lain disekelilingnya.
"Nona!"
Alis mengernyit saat menatap seorang perempuan yang berada didekatnya. Perempuan yang tiba-tiba sudah berada didekatnya. Alis hanya melirik saja, perempuan itu memakai baju yang sama seperti yang digunakan oleh Maria tadi. Hanya saja perempuan ini terlihat lebih tua dari Maria.
__ADS_1
"Saya menggantikan Maria untuk menjaga keberadaan Nona disini," ucapnya dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Alis melirik kearah Maid tersebut, ia mengangguk saja kemudian fokus dengan bukunya. Matanya terus menatap awas huruf-huruf yang ada disana namun benaknya dipenuhi dengan tanda tanya. Ia merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya sehingga mereka bersikap overprotektif seperti ini. Tidak mungkin kalau Alis yang hanya berstatus sebagai tamunya Rafael saja kalau ia diperlakukan dengan cara seperti ini.
"Nama kamu siapa?" tanya Alis yang masih fokus dengan bukunya. Ia merasa tidak nyaman saat bersama orang asing yang bahkan tidak diketahuinya namanya.
"Nama saya Ni__"
Alis mengernyit heran saat maid tersebut tidak meneruskan ucapannya. Ia bermaksud melihat kearah maid tersebut namun pandangannya terhenti saat ia mendengar sebuah suara yang tegas dan dingin yang tepat berada dibelakangnya.
"Alis! Kamu masih sakit. Kenapa berlama-lama duduk diluar seperti ini. Cuacanya juga terasa dingin!" Rafael menghampiri Alis dan mendudukkan dirinya tepat disamping Alis. Entah kenapa ia merasa sangat khawatir mengenai Alis yang terus-menerus meminta pada Maria untuk keluar mansionnya. Ia segera pulang setelah Maria menelponnya tadi.
Sedangkan maidnya yang bernama Nia tadi sudah pergi meninggalkan mereka. Ia tahu bahwa ia tidak diperlukan sekarang.
"Aku merasa bosan saja berada dikamar hampir seharian, jadi aku kesini untuk menikmati pemandangan yang kulihat dari balkon tadi."
Alis melirik kearah Rafael yang bersikap ramah padanya. Sangat berbeda dengan pertemuan pertama mereka waktu itu. Ia sangat dingin dan juga sangat sombong. Namun keramahannya tetaplah sebuah perintah dan juga sebuah larangan, tidak jauh berbeda layaknya sebuah peraturan.
"Baiklah Tuan kalau itu maumu."
Rafael terkekeh saat memdengar lelucon yang dilontarkan gadis dingin dan pendiam yang ada disampingnya tersebut. Sedikit banyak ia sudah mengetahui watak Alis yang sesungguhnya. Bukan Rafael namanya kalau hal yang terkecil pun ia tidak tahu.
"Kak! Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
Rafael merubah raut wajahnya menjadi dingin saat mendapat pertanyaan yang serius dari gadis mungil ini. Ia tahu kemana arah pertanyaan ini. Ia hanya berdehem saja untuk menanggapi pertanyaan Alis barusan. Ia menunggu Alis untuk melontarkan pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku, sehingga aku sama sekali tidak mengingat sesuatu yang kualami sebelumnya?"
__ADS_1
Rafael kembali terkekeh saat mendengar pertanyaan Alis yang terdengar sangat serius itu. Ia menarik napasnya sesaat sambil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Sungguh, gadis ini sangat beruntung karena ia yang menemukannya bukan orang lain. Ia mengalihkan tatapannya kesekeliling mereka dan memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
"Sebaiknya kita masuk kedalam terlebih dahulu. Kamu pasti kelelahan dan sebaiknya kamu beristirahat dikamarmu. Aku juga ada kesibukan," Rafael bermaksud meninggalkan Alis, ia berdiri dan ingin melangkah pergi.
"Kenapa kamu menghindariku? Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku!?" tanya Alis dengan mengintimidasi. Biarlah kali ini ia dikatakan tidak sopan pada orang yang sudah menolongnya. Ia hanya ingin tahu saja kenapa ia berada dinegara yang sangat jauh dari negaranya.
Rafael menghentikan pergerakannya sesaat, tidak mungkin ia mau menceritakan hal yang sebenarnya karena itu akan membuka aib yang besar untuk Alis sendiri. Ia merasa kasihan dengan gadis yang mempunyai sifat yang hampir sama dengan sifatnya tersebut. Namun disisi lain ia merasa tidak tega dan juga tidak ingin egois. Hanya saja ia memerlukan sedikit waktu agar Alis bisa mendengarkannya diwaktu yang tepat.
"Maria! Sebaiknya kamu bawa Alisya kekamarnya!" perintah Rafael yang sudah berlalu meninggalkan Alis seorang diri dengan kemarahannya. Namun Alis tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya diam dan memandang kepergian Rafael dengan seribu kekecewaan.
"Nona, sebaiknya kita pergi beristirahat saja kekamar nona." Alis hanya mengangguk saat Maria sudah menuntun dirinya untuk memasuki mansion yang besar tersebut. Ia tidak ingin kembali berdebat, rasanya percuma saja dan akan menguras tenaga sementara ia hanya diacuhkan saja.
Alis merebahkan dirinya yang memang merasa pusing karena terlalu memaksakan dirinya untuk berpikir. Ia benar-benar ingin pulang kenegaranya sekarang tapi tidak mungkin ia bertemu dengan Rafael untuk meminta izin, setelah mengingat sikap Rafael yang acuh seperti tadi padanya.
Dengan sekuat tenaga ia memejamkan matanya dan menghalau rasa penasaran yang terus bersemayam diotaknya tersebut. Ia akan menurut apa yang di inginkan oleh tuan rumah ini sekarang, karena ia merasa mempunyai hutang budi padanya.
***
Rafael tampak marah dan membanting semua barang yang ada diruang kerjanya. Ia tampak marah saat Alis menanyakan kejadian yang sudah berusaha untuk dilupakannya. Kejadian yang hampir membuatnya lepas kontrol.
"Yaska! apakah kamu sudah menemukan siapa pelakunya?" tanya Rafael disela kemarahannya.
"Pelakunya sudah ditemukan tapi kami masih tidak mengetahui siapa pelaku utamanya. Karena yang kami tangkap sekarang adalah suruhannya saja. Hanya orang bayaran yang sama sekali tidak tahu-menahu mengenai kejadian yang sesungghunya. Ia hanya melaksanakan perintah dari orang yang juga statusnya sebagai suruhan juga."
"Brengsek!!" Maki Rafael sambil memukul meja kerjanya. "Kita ketempat mereka sekarang!!" ucapnya yang sudah berjalan meninggalkan ruang kerjanya yang sangat berantakan tersebut. Yaska mengangguk dan mengikuti langkah lebar Rafael.
💦💦💦
__ADS_1