
Alis melangkahkan kakinya memasuki halaman sekolah, ia menatap bingung kearah beberapa siswa dan siswi yang tampak mencibir kearahnya bahkan secara terang-terangan.
"Waw... ada bumil lagi jalan sama siapa itu? Pacar apa suaminya ya?" Ifa menatap kearah Alis dan juga Riyan. Ifa yang bahkan sudah menjadi mantan sahabatnya itupun tidak mengenal Riyan. Karena memang Riyan yang berada diluar negeri sejak kecil untuk melanjutkan sekolahnya.
Alis menatap tajam kearah Ifa, kali ini ia tidak akan emosi lagi seperti waktu lalu ataukah ia perlu meladeninya terlebih dahulu agar dia tahu bahwa apa yang dihadapinya tidak seburuk yang disebutnya.
"Kamu tidak mengenal siapa aku, jadi kuharap kamu menutup mulutmu atau kamu ingin aku tendang dari sekolah ini." Alis menatap Ifa dengan lirikan tajam dan ia tampak berdesis ditelinga Ifa sewaktu melihatnya.
"Beraninya kamu Lis, apa kamu lupa tentang masa lalu itu?" Ifa menggertak Alis yang tetap bertahan dengan pandangannya.
"Aku sangat ingat bahkan lebih daripada ingat, apa kamu ingin menonton film dokumenter, sebagai acara reuni kita karena telah lama tidak bertemu." Ia tersenyum miring menatap kearah Alifa yang tampak memucat. Alifa mengepalkan tangannya dan segera berlalu darisana.
Aku sudah berubah, aku tidak seperti dulu lagi. Gadis lemah yang suka kamu injak-injak.
"Lis, ayo ikut kakak. Kita keruangan kepala sekolah." Riyan yang melihat Alis yang tertinggal dibelakangnya kembali mendatangi Alis.
Untung kak Riyan tidak mengenal Alifa. Coba kalau dia tahu, bisa habis tuh anak.
"Ayo!" Riyan menarik tangan Alis yang berjalan sangat lambat bahkan ia beberapa kali berhenti untuk mengerjai Riyan.
Tok-tok
"Masuk, pak Riyan dan juga nak Alisya." Siswanto beramah tamah kepada Riyan dan juga Alis yang menjadi tamu spesialnya kali ini.
"Apa bapak tahu tentang isu itu darimana sumbernya?" Riyan yang baru duduk langsung saja membicarakan poinnya saja.
"Begini pak Riyan, kami sudah menelusurinya namun belum menemukan titik terangnya.
"Memangnya gosip apa sih kak?" Alis yang penasaran dengan pembicaraan mereka juga angkat bicara.
"Makanya Lis, kalau punya handphone itu dipakai, jangan disimpan dikantong melulu, nanti karatan loh. Ia bukan emas loh yang disimpan makin lama makin berharga."
"Maksud kakak apa sih, aku tidak paham?"
"Maksud kakak, coba kamu lihat berita di group sekolahmu. Disana ada apa?"
Riyan menunjuk kearah handphone Alis yang baru saja dikeluarkan dari dalam tasnya.
"Ini, maksudnya apa? Siapa yang hamil?" Alis menatap tak percaya dengan foto dirinya yang berada didepan ruangan dokter kandungan dan juga isu yang beredar. Berita itu terlalu mengada-ada.
"Ya, kamulah yang hamil Lis. Hamil lemak, perutmukan gendut Lis." Riyan tertawa sendiri dengan kata-katanya. Ia menatap pak Siswanto yang mengulum senyumnya.
Alis memberengut dan menatap kesal kearah Riyan. Ia menggelengkan kepalanya.
Jadi ini yang membuat mereka bertingkah jijik padaku. Bahkan mereka menganggapku wanita murahan.
"Nak Alisya, sebaiknya kita konfirmasi saja tentang diri anda yang sebenarnya. Agar isu ini tidak menyebar lebih keluar lingkungan sekolah. Karena akhir-akhir ini, reputasi sekolah kita agak menurun karena berita yang negatif beberapa hari yang lalu."
__ADS_1
"Iya, Lis. Sebaiknya memang seperti itu. Kamu harus memperkenalkan dirimu go publik, agar tidak ada lagi yang merendahkanmu."
"Saya tidak setuju Pak, berita ini bisa kita konfirmasi ulang tanpa harus melibatkan jati diri saya. Kita bisakan tampil ditengah umum dan menyatakan bahwa kita saudara."
Riyan tampak berpikir dengan usul Alis tersebut. Ia mendesah berat, usul Alis tersebut memang mudah untuk direalisasikan tapi fakta dilapangan banyak yang tidak percaya.
"Apa yang dikatakan oleh pak Siswanto ada benarnya Lis, usulmu tidak akan berhasil. Itu malah akan menambah bebanmu kedepannya. Finalnya kamu akan membuka identitasmu saat acara ulang tahun sekolah nanti. Setuju atau tidak setuju, kamu harus setuju. Titik!"
Alis yang mendengar keputusan final tersebut menatap kearah Siswanto, berharap agar usul tersebut dipertimbangkan. Namun gelengan Siswanto cukup membuat Alis mendesah. "Baiklah, saya setuju." Alis menatap kearah Riyan yang mengangguk mantap.
"Sebaiknya kamu kekelas dulu, ada yang ingin kakak bicarakan berdua dengan pak Siswanto."
Alis menganggukan kepalanya dan segera keluar dari ruang kepala sekolah.
Alis berjalan dilorong sekolah, ia berjalan dengan begitu tenang. Bahkan gunjingan yang didapatkannya tidak menyurutkan langkahnya. Sesampainya didalam kelas, kelas kembali riuh dengan berbagai cibiran dan hujatan yang diarahkan untuk Alis.
Alis menatap kearah mereka dengan melotot, hingga ada beberapa diantara mereka tampak menundukkan kepala. Mereka merasa ngeri menatap mata Alis yang tampak sangat tajam dan mengitimidasi.
"Alis, tolong kamu konfirmasi mengenai gosip itu." Liza menatap kearah Alis, ia merasa prihatin dengan keadaan Alis yang terus-menerus dirundung masalah.
"Sebenarnya berita itu hoak, aku sedang bersama kak Riyan."
"Jadi, itu kak Riyan? Sudah kuduga bahwa gosip itu hanya hoak yang bermaksud menjatuhkanmu."
"Iya, tenang saja, pak kepala sekolah akan mengkonfirmasi ulang mengenai berita tersebut dan pelakunya pasti akan ditemukan."
"Yakin Lis kamu tidak apa-apa?"
"Semua akan baik-baik saja. Percaya sama aku Za."
"Jidat kamu kenapa Lis?" Liza yang baru menyadari tampak sangat terkejut melihat perban yang menempel dijidat Alis.
"Ini hanya terbentur pintu."
Liza menganggukan kepalanya, ia percaya begitu saja dengan kata-kata Alis barusan. Ia menatap kearah pintu. Tampak bu Marni memasuki kelas. Pelajaran pun kembali dimulai dan berlangsung hingga istirahat kedua.
💦💦💦
"Kantin yuk Lis."
Alis menggelengkan kepalanya mendengar ajakan Liza tersebut.
"Kamu bawa bekal?" Liza bertanya dengan antusias.
Alis kembali menggelengkan kepalanya.
"Yah... padahal aku kangen loh sama masakan kamu."
__ADS_1
"Nanti kita mampir dikafe, bagaimana?"
"Wah... benaran ya Lis." Liza tampak bertepuk tangan karena saking girangnya.
"Za, aku mau keperpustakaan dulu, kamu mau ikut?" Alis menatap kearah Liza yang menggelengkan kepalanya.
Alis berjalan keluar kelas, ia tampak menyusuri lorong sekolah yang tampak ramai. Keadaan pun masih sama seperti awal ia memasuki sekolah pagi tadi, masih mendapat cibiran. Tapi Alis tetap melangkah, ia tidak perduli dengan semua itu karena itu memang bukan tentang dirinya.
"Alis, apa benar berita itu? Kamu punya hubungan dengan Riyan?" Angga yang melihat Alis sedang berjalan dilorong sekolah sengaja menghampirinya dan menariknya hingga berada ditaman belakang sekolah seperti sekarang ini.
"Aku tidak hamil, itu cuma salah paham. Dan mengenai Riyan, aku memang ada hubungan dengannya___"
"Jadi benar kalau kamu dan Riyan memiliki hubungan spesial?" Angga menatap kedalam mata Alis, ia mencari pembenaran disana.
Alis menatap kearah Angga yang memotong kata-katanya yang belum diselesaikannya.
"Aku dan Riyan sebenarnya adalah___"
"Cukup! Aku tidak mau dengar itu. Aku paham dengan dirimu." Lagi-lagi Angga memotong kata-kata Alis yang ingin menyatakan bahwa ia dan Riyan adalah kakak adik. Alis hanya menarik napas jengkel dengan sikap Angga barusan.
"Aku mau keperpustakaan."
"Oke, silahkan." Angga menatap kepergian Alis dengan sendu bahkan ia berharap bahwa yang didengarnya tadi hanyalah ilusinya saja. Saking fokusnya ia dengan masalah ini hingga ia melupakan pertanyaan tentang perban yang menempel dijidat Alis.
Sementara itu ditempat yang sama, Al yang tidak sengaja melewati taman belakang tersebut mendengar semua percakapan Alis dan juga Angga. Ia tampak semakin kecewa bahkan ia bertekad akan melupakan Alis dan menghapusnya dari hatinya.
Al mengingat-ingat ekspresi Alis saat berbicara tadi, ia terlihat tenang dan tanpa emosi. Padahal ini menyangkut reputasinya.
Lalu, luka dijidat Alis itu karena apa? Al kembali menanyakan hal yang sebenarnya ia pun tak mampu untuk menjawabnya.
"Al, kenapa lagi?" Aldo tiba-tiba sudah berada disamping Al dan menepuk pundaknya.
Al begitu terkejut menatap kearah Aldo yang tiba-tiba muncul.
"Kamu kenapa sih Al, tidak seperti biasanya?" Aldo kembali bertanya.
"Kaget ya?" Irfan tersenyum dengan cengiran sambil menunjuk kearah Al.
"Iya, kaget. Untung jantungku kuat. Kalau tidak, kalian yang ganti rugi, mau?"
"Yey... kamu sendiri yang keasyikan melamun disini sejak tadi." Irfan
"Ada setan lewat kayaknya." Andra menatap sambil berkeliling.
"Apaan sih, tidak jelas." Al
"Yang jelas itu, kantin sekarang yuk." Irfan merangkul pundak Al dan membawanya berjalan dilorong untuk menuju kearah kantin.
__ADS_1
"Sip" serempak mereka menjawab disertai dengan kekehan sepanjang jalan.
💦💦💦