Layangan Kertas

Layangan Kertas
Penghargaan


__ADS_3

Sudah 2 hari sejak kejadian itu, Alis tidak lagi bertemu dengan Rafael dan juga Al. Karena Rafael harus pulang ke negaranya, perusahaannya sedang memerlukan kepemimpinannya.


Namun Rafael pernah berjanji pada Alis bahwa dia akan kembali lagi ke Indonesia setelah urusannya beres. Dia bahkan meninggalkan seorang mata-mata yang di khususkan untuk mengawasi Alis untuknya. Ia tidak ingin Alis dalam bahaya, terlebih lagi membahayakan hatinya.


Sejak diketahuinya bahwa Alis masih perawan saat itu, Alis berusaha bersikap layaknya seorang pemimpin. Dia tidak ingin marah pada Rafael karena Rafael melakukan semua itu atas dasar cintanya pada Alis. Dan Alis memaklumi semua itu, tapi tetap saja ia menolak Rafael untuk tinggal di rumahnya.


Alis juga tidak ingin memperpanjang masalah tersebut, terlebih lagi membawanya kedalam hati. Ia juga tidak ingin hubungan kerjasama antara dirinya dan Rafael rusak begitu saja. Apalagi Rafael pernah menolong dirinya yang diumpankan pada pria hidung belang saat itu. Dan lebih beruntungnya lagi, Rafael tidak melakukan hal yang akan merugikan dirinya. Ia sudah bersyukur atas semua itu.


Sedangkan Al di kirim kesekolah lain untuk mengikuti cerdas cermat mewakili sekolah mereka pada lomba kejuaraan tingkat nasional. Dan hari ini adalah kepulangan Al yang akan di sambut oleh pihak sekolah sekaligus merayakan kemenangannya atas prestasi yang didapatnya.


Berbeda dengan Alis, ia merasa sangat jengah dengan muka-muka palsu yang setiap hari datang padanya dan menyapanya serta memperlihatkan senyum yang melebihi manisnya gula. Ia muak dengan sikap mereka yang suka menjilat dan berusaha mencari muka didepannya.


Walaupun begitu, Alis tetaplah bersikap seperti dulu, seorang yang pendiam dan jarang berbicara bahkan ia juga sangat jarang tersenyum. Ia tidak perduli walaupun dikatakan gadis aneh oleh yang lainnya.


"Alis, kamu sudah makan siang?" Dewi berjalan menghampiri bangku yang diduduki oleh Alis. Di tangannya terdapat sebuah tempat bekal. Alis hanya melirik sekilas padanya dan meneruskan bacaan bukunya yang sempat tertunda karena panggilan tadi.


"Kenapa? Kamu mau membagi bekalmu pada Alis?" Cibir Liza yang menatap kesal kearah Dewi.


"Aku bicara pada Alis, bukan denganmu!" Bersikap ketus dan melotot kearah Liza.


Liza hanya mencebikkan bibirnya dan menyenggol Alis dengan pelan.


"Tuh nenek Lampir sedang berbicara denganmu!" Tidak perduli dan fokus dengan handphone yang ada di tangannya.


"Apaan sih!!" gerutu Dewi yang merasa geram dengan sikap Liza yang menyebalkan.


Alis menutup bukunya, matanya mengedar menatap kearah Dewi. Ia menggerakkan sedikit dagunya pertanda sedang bertanya 'ada apa?'.


"Ini, aku bawakan bekal untukmu. Ini masakanku sendiri dan aku yakin kalau kamu juga sangat menyukainya." Berkata dengan lembut serta memamerkan senyum termanisnya. Ia meletakkan kotak bekalnya diatas meja di hadapan Alis.


"Di makan ya, hitung-hitung sebagai permintaan ma'afku padamu karena kesalahanku selama ini." Dewi masih tersenyum manis menatap kearah Alis.


"Hmm... itu suapan namanya. Mana ada suapan dengan makanan seperti itu. Bisa saja makanannya asin semua atau juga pahit!" Liza kembali mencibir tapi matanya tetap fokus kearah handphone yang ada di tangannya.


Dewi yang mendengar hinaan tersebut seketika langsung memanas, ingin rasanya ia memaki-maki Liza sekarang juga. Namun, sebisa mungkin ia menahannya karena ia tidak mau dikatakan oleh Alis sebagai perempuan penjilat.


"Aku yakin setelah kamu memakan masakanku maka kamu akan ketagihan!" Dewi berlagak sombong untuk menghilangkan kekesalannya.


"Memangnya narkoba!" Liza kembali mencibir.

__ADS_1


"Sini. Biar aku yang coba mencicipinya. Siapa tahu didalamnya ada racun. Bisa-bisa Alis jadi lupa kalau kamu itu pernah mengatainya macam-macam."


Tangan Liza bergerak ingin meraih kotak bekal tersebut. Tapi belum sempattangannya meraihnya, kotak bekal tersebut sudah kembali diambil olehnya.


"Apa-apaan sih kamu. Ini khusus untuk Alis. Kenapa kamu yang ingin mencobanya. Bilang saja kalau kamu kelaparan tadi gengsi untuk mengatakannya!" Dewi membalas mencibir kearah Liza.


Liza melotot, ia meletakkan handphone asal. Berdiri dan menatap Dewi dengan tajam, begitupun dengan Dewi yang justru berkacak pinggang.


"Apa yang kamu katakan tadi? Aku kelaparan!?" Liza tidak terima ia dihina dan dikatai dengan kata-kata kelaparan. Bukankah keluarganya kaya, lalu haruskah ia mengemis-ngemis makanan seperti yang dikatakan oleh Dewi.


"Iya. Memang kelaparan. Kalau kamu tidak kelaparan, tidak perlu mengatainya seperti itu karena aku pasti akan menyisihkan sedikit bekalku yang lain untukmu." Tersenyum miring menatap Liza yang kembali melotot. Amarahnya sudah naik mencapai ubun-ubun.


"Kamu!!" Liza membentak Dewi.


"Stop! Bisakah kalian berdua bersikap tenang dan tidak kekanakan!" Alis angkat bicara untuk melerai perdebatan mereka. Ia merasa pusing mendengar keributan tersebut.


Keduanya tampak kicep bahkan langsung terdiam.


"Bekal itu akan aku bagi menjadi 3. Satu untukku, satu untuk Liza dan satu lagi untuk Dewi sendiri." Alis menatap mereka satu-persatu. Mereka layaknya seorang tersangka yang divonis hukuman mati, tidak dapat berkutik lagi.


"Tidak ada protes!" Alis kembali membuka suaranya yang terdengar tegas.


Akhirnya mereka bertiga makan dalam diam.


Seluruh siswa dan siswi di perintahkan untuk berkumpul di aula untuk menyambut kedatangan Al dan timnya. Mereka akan diberikan penghargaan oleh pihak sekolah karena sudah berhasil mengharumkan nama baik sekolah mereka.


"Za, sejak tadi kamu tidak lepas dari handphone. Ada disana sangat penting daripada pekerjaan yang ada didepanmu?"


Liza terperanjat saat mendapat pertanyaan dari Alis. Ia menatap Alis sejenak dan melupakan chatannya bersama seseorang.


"Oh eum aku sedang mengerjakan sesuatu." Liza berusaha mencari-cari alasan.


"Baiklah. Tapi kamu harus menyelesaikan tugasmu dahulu. Sebentar lagi acaranya akan dibuka."


Liza beralih menatap kearah panggung. Saat ini mereka menduduki bangku yang paling depan.


"Kamu sudah siap dengan pidatomu?" Liza menutup ponselnya dan berbalik menatap kearah Alis.


"Aku tidak berpidato hari ini. Cukup kak Januar saja yang mewakilkanku."

__ADS_1


"Lalu, dimana kak Januarnya?" Liza berusaha mencari-cari keberadaannya. Tapi tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


"Mungkin dia sedang bersama kepala sekolah." Alis meraih buku yang ada di tangannya.


Mereka menyudahi percakapan mereka setelah terdengar suara siswa dan siswi sebagai pembawa acara.


Semua tampak fokus kearah panggung saat Al mewakili timnya untuk naik keatas panggung dan menerima sejumlah penghargaan dan juga bonus dari pihak sekolah.


"Baiklah. Acara puncak hari ini adalah penyerahan penghargaan kepala tim cerdas cermat kita yang di wakilkan kepala teman kita Aldebran." Terdengar siswi memimpin acara.


"Kepada Aldebran dipersilahkan untuk naik keatas panggung!" Tepuk tangan membahana mengisi ruangan aula tersebut.


"Dan sebagai perwakilan sekolah untuk menyerahkan penghargaan dan sejumlah hadiah, atas nama Alisya. Di persilahkan naik keatas panggung!"


Tepuk tangan kembali terdengar riuh. Bahkan beberapa diantara mereka ada yang bersorak senang setelah Alis sudah berada dipanggung yang sama dengan Al.


Alis mengambil alih piagam dan piala. Ia berjalan kearah Al yang menatapnya dengan lembut. Bahkan senyuman Al begitu menenangkan.


"Selamat atas keberhasilanmu!" Menyerahkan piala dan piagam, sekaligus menjabat tangan Al.


"Makasih."


Saat Alis ingin melepaskan tangan Al, justru Al menarik tangannya dan memeluknya erat. Alis dibuat begitu terkejut, tapi sebisa mungkin ia bersikap normal.


"Apakah kamu tidak merindukanku?" Al berbisik di telinga Alis. Hingga membuat Alis memerah dan salah tingkah.


Sorak dan siulan terdengar membahana mengisi seluruh aula yabg sejak awal sudah dipenuhi dengan keriuhan.


"Al, lepaskan. Ada saatnya kita bicara, tapi bukan disini," bisik Alis.


Al tersenyum sumringah mendengarnya. Ia senang, karena ia sudah dapat menghilangkan separuh dari rindunya.


"Apakah itu kode untukku?" Goda Al sambil melepaskan pelukannya.


Alis hanya diam dan segera pergi dari atas panggung untuk kembali ketempat duduknya. Ia meraba dadanya yang berdebar dan menggila, bahkan ia merasakan kesulitan dalam bernapas.


"Duh, dadaku kenapa?" gumamnya yang hanya didengar oleh Liza.


"Biasa itu. Euforia saat kembali bertemu kekasih hati," ledek Liza sambil sibuk dengan handphonenya disertai dengan wajahnya yang sejak tadi tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Alis hanya bungkam dan menggelengkan kepala atas ucapan konyol yang barusan didengarnya.


💦💦💦


__ADS_2