
"Alisya!!" teriak Rafael terkejut, bahkan ia sempat mundur kebelakang karena saking terkejutnya. "Apa? Apa yang kulakukan padanya tadi malam?" gumam Rafael dengan frustasi. Ia tidak menyangka bahwa ia telah melakukan hal sebejat itu pada gadis yang tidak tahu apa-apa tersebut. Lalu kenapa Alis sampai berada disini
Rafael segera berdiri dan meraih boxer miliknya ia mengenakannya dan meraih Alis yang masih berbalut selimut tersebut serta mengangkatnya keatas tempat tidur. Ia menatap leher Alis yang tampak dipenuhi dengan kismark bahkan hampir diseluruh dadanya. Ia memejamkan matanya dengan perlahan sambil menggertakan giginya karena geram dengan perbuatannya sendiri.
Dengan langkah cepat ia berjalan kearah handphone yang tergeletak diatas sofa single. Sial. Handphonenya dalam keadaan mati, bagaimana bisa ia menghubungi asistennya dan memintanya untuk membawakan pakaian mereka berdua kesini.
Rafael bergegas memasuki kamar mandi namun sebelum itu ia mencharger handphonenya terlebih dahulu.
Beberapa kali ia tampak menyugar rambutnya bahkan ia meninju dinding kamar mandi dibawah guyuran shower. Akh, menyesal pun tidak berguna, semua sudah terjadi. Yang ada justru ia yang akan menyesal seumur hidupnya apabila sudah mengingat kebejatannya pada Alis.
Tok tok tok
Terdengar bunyi pintu diketok beberapa kali, tepat pada saat Rafael sudah keluar dari kamar mandi. Ia membuka pintu dengan perlahan, tampak Yaska sedang menyodorkan dua buah paperbag padanya. Rafael mengernyitkan dahinya dalam, ia menatap kearah Yaska dengan tanda tanya.
"Sebaiknya kamu pakai dulu bajumu, setelah itu aku akan menjelaskannya nanti padamu," ucap Yaska yang mengerti arah tatapan Rafael.
Rafael hanya mengangguk. Ia meraih paperbag tersebut. "Kamu panggilkan salah satu pelayan wanita kesini untuk membantu dia mengenakan pakaiannya, dia masih belum bangun juga," ucap Rafael yang kembali menutup pintu kamarnya setelah mendapat anggukan dari Yaska.
Ia menatap kearah Alis yang masih memejamkan matanya diatas tempat tidur. Bahkan sejak tadi gadis itu tidak melakukan pergerakan sama sekali.
Apa ia selelah itu hingga sampai sekarang gadis itu tidak bangun juga. Ia kembali berjalan kearah kamar mandi untuk mengenakan pakaian yang masih baru tersebut.
Tok tok tok
Pintu kembali diketok. Bergegas Rafael membukanya. Tampak Yaska bersama salah seorang pelayan dibelakangnya. Ia mempersilahkan pelayan tersebut untuk masuk dan memakaikan pakaian Alis, sementara dirinya menunggu diluar bersama Yaska.
Tidak ada percakapan dari mereka berdua. Rafael tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Yaska hanya diam saja.
__ADS_1
Pintu kembali terbuka, pelayan wanita tersebut tampak menganggukkan kepalanya dan pergi dari hadapan mereka berdua.
"Yaska, kamu siapkan mobil. Aku akan membawa gadis itu kekediamanku!"
Yaska hanya menganggukkan kepalanya. Ia melirik kearah Rafael yang masih menatap dirinya. Ia tampak keheranan dengan sikap Rafael tersebut. Biasanya mereka akan meninggalkan wanita malam itu dikamar mereka tanpa menghiraukannya lagi. Berbeda dengan Rafael, ia justru ingin membawanya kerumahnya, apa ia masih belum puas dengan servis yang diberikan wanita tersebut? Berbagai pertanyaan berseliweran dibenaknya.
"Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu akan tahu alasanku nanti setelah aku menyelesaikan urusanku dengan gadis tersebut. Kamu, urus yang lainnya!"
Yaska kembali mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Rafael.
Rafael kembali masuk kedalam kamar tersebut. Ia menatap Alis yang sudah berpakaian lengkap, namun ia masih tidak bergerak sama sekali. Dan itu membuat Rafael tampak khawatir dibuatnya. "Apa aku terlalu kasar padanya ataukah aku terlalu keras padanya?" gumam Rafael pada dirinya sendiri. Dengan perlahan ia meraih tubuh mungil Alis dan menggendongnya ala bridal style.
Sesekali Rafael menatap kearah wajah Alis yang tampak memucat. Bahkan gadis itu tetap tidur dengan damai dalam gendongannya. Sungguh, pemandangan ini baru yang pertama kalinya ia melihatnya.
Pintu mobil sudah terbuka, Yaska masih berdiri menunggu Rafael yang sedang berjalan mendekat kearahnya. Ia menatap kearah Rafael yang menggendong wanita tersebut dengan berhati-hati bahkan ia mau bersusah payah menggendongnya dari lantai 3 gedung tersebut hingga keparkiran sekarang.
Setelah Rafael duduk dikursi belakang, Yaska masuk kedalam mobil dan duduk tepat disamping sopir. Matanya sesekali melirik kearah Rafael yang masih memangku kepala gadis tersebut. Rafael menatap kearah samping mobilnya, menatap jalanan yang masih lengang tersebut.
"Siapa sebenarnya gadis tersebut sehingga kamu seperhatian itu padanya?" tanya Yaska disela keheranannya.
"Kalau kamu melihat wajahnya kamu pasti akan terkejut," ucap Rafael datar. Ia kembali mengalihkan pandangannya kearah Alis yang masih tidak melakukan pergerakan sejak tadi.
"Oke, baiklah. Nanti aku akan melihatnya setelah kita sampai dimansion." Yaska melirik kearah Rafael yang fokus dengan gadis yang masih dalam pangkuannya tersebut. Beberapa kali ia tampak mendesah setelahnya.
Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir cantik dihalaman mansion yang sangat besar dan luas. Mansion itu bahkan terdiri dari empat tingkat. Beberapa anak buah Rafael tampak berlari dan membukakan pintu mobil untuknya. Rafael kembali menggendong Alis kedalam mansion miliknya.
Dengan langkah lebar tanpa kesulitan sedikitpun ia masuk dan menuju kearah lift yang ada disana. Yaska memencet tombol yang ada disana untuk naik menuju ke lantai 3.
__ADS_1
Ting.
Bunyi lift berdenting pertanda lift yang mereka naiki sudah tiba dilantai yang mereka tuju. Yaska memencet tombol buka pada Lift tersebut. Langkah ringan Rafael membawanya memasuki sebuah kamar yang luas dengan dindingnya berwarna karamel. Kamar itu tidak jauh dari letak kamarnya. Dengan perlahan ia meletakkan Alis disana dan menyelimutinya.
"Dokternya sudah ada dibawah," ucap Yaska yang masuk kedalam kamar dan menghampiri Rafael. Ia menatap kearah gadis yang masih tertidur pulas tersebut, gadis itu sangat dikenalinya. Ia mengerutkan dahinya saat melihat begitu banyaknya kismark dilehernya dan juga dadanya. Matanya tampak terbelalak saat melihat kearah wajah gadis itu untuk kedua kalinya.
"Alisya!?" gumam Yaska yang hampir menyerupai bisikan, namun masih bisa didengar oleh Rafael. Ia menatap kearah Rafael yang tampak mengangguk dengan tatapan setengah tidak percaya. Inikah jawaban kegelisahan dari seorang Rafael yang dingin dan angkuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Yaska.
"Nanti akan aku jelaskan setelah Alisya selesai diperiksa," ucap Rafael. Yaska berbalik setelah mendengar derap langkah kaki yang semakin mendekat kearah mereka. Rupanya dokter Marcel sudah datang.
Marcel mengerutkan dahinya saat melihat Rafael yang sehat-sehat saja. "Siapa yang sakit?" tanyanya.
Dengan gestur tubuhnya Rafael menatap kearah Alis yang masih terbaring ditempat tidur. Marcel berjalan mendekat dan menatap Alis dengan wajah herannya, ia kembali menatap kearah Rafael dengan banyak pertanyaan dibenaknya. Karena setahunya Rafael tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun dalam hidupnya, lalu tiba-tiba sekarang ada seorang gadis yang sedang tak sadarkan diri dan dalam keadaan yang memprihatinkan. Apakah dia korban pemerkosaan, tapi kenapa bisa bersama Rafael, tidak mungkin seorang Rafael mau menolong orang asing dan membawanya ke mansionnya. Itu sangat mustahil dan kejadian yang sangat langka.
"Cepat periksa keadaannya, nanti aku jelaskan setelah kamu memeriksanya!" ucap Rafael datar setelah melihat keterdiaman Marcel.
Marcel memeriksa Alis dengan teliti, bahkan terlihat ada rasa keterkejutan dari garis wajahnya. Bahkan ia memeriksa Alis dengan berulang kali.
"Dimana kamu menemukan gadis ini?" tanya Marcel sambil menatap kearah Rafael dengan nada khawatir.
"Aku menemukannya di klub malam. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku setelah aku minum dibar tersebut. Aku dijebak karena setelah aku memesan mocktail, yang ada justru aku merasakan mabuk berat dan libidoku sedikit naik. Dan pagi tadi setelah aku sadar, aku melihatnya sedang ada bersamaku. Memangnya ada apa dengan gadis itu?" tanya Rafael.
"Dia dalam pengaruh obat bius dosis tinggi. Efeknya bisa sampai berhari-hari dan ini sangat berbahaya untuk kesehatannya dan juga kinerja otaknya. Tapi kamu tenang saja, aku akan memberikannya beberapa resep untuk mengembalikan kesadarannya, juga menghilangkan memar disekujur tubuhnya." Marcel mengambil kertas resepnya dan tampak mencorat-coret disana, entah apa makna dari tulisan tersebut. Ia kemudian menyerahkannya pada Rafael.
Rafael menerima resep tersebut sambil menganggukan kepalanya. Ia menatap kearah Yaska dan diangguki olehnya.
__ADS_1
"Cepat kamu tebus obat tersebut. Aku akan memberikannya infus agar tubuhnya sedikit mendapatkan nutrisi karena sepertinya dia sudah pingsan sejak 2 hari yang lalu."
💦💦💦