Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kebenaran


__ADS_3

"Lis, kamu kenapa bisa sampai kayak gini?" tanya Aldo pada Alis, sesampainya mereka di ruang UKS.


Alis merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang ada diruang UKS tersebut. "Aku cuma pusing kok. Aku mau istirahat sebentar." ucap Alis yang mulai memejamkan matanya.


Aldo hanya menatap kearah Alis seraya mengangguk dan berlalu dari sana. Ia tahu kalau Alis sedang menghadapi masalah yang rumit. Dan perlu waktu untuk sendiri.


Selepas kepergian Aldo, Alis membuka matanya. Ia menatap kearah ruangan UKS yang tampak sunyi, hanya ada seorang siswa yang sedang berjaga didepan ruangan.


"Alis!" teriak seseorang dari luar.


Alis menatap kearah tirai, ia mendengar teriakan seseorang, siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Liza. Alis hanya diam saja menunggu Liza yang menghampirinya.


"Kamu kenapa lagi sih Lis, kok bisa masuk ruang UKS?" Liza terlihat sangat khawatir dengan keadaan Alis. Ia bahkan memeriksa setiap jengkal tubuh Alis.


"Ih...apaan sih, aku cuma kena bola basket aja, bukan luka atau lecet loh Za." sewot Alis.


"Pasti kamu kepikiran yang tadikan?"


Alis hanya menarik napasnya dengan perlahan. "Udah, sana. Aku mau tidur sebentar. Kepalaku pusing." ucap Alis mengusir Liza. Ia belum siap untuk mendengar kabar yang tidak bagus yang akan disampaikan oleh Liza tentang keadaan kelasnya.


"Baiklah. Kamu istirahat ya, aku tunggu diluar." Liza menatap Alis dan merasa kembali prihatin dengan keadaan Alis, ini bukanlah beban yang mudah ditanggungnya seorang diri. Beruntungnya Alis mempunyai hati yang kuat. Liza duduk diluar ruangan Alis bersama siswa yang berjaga untuk saat itu.


*****


Sedangkan Al tampak gelisah ditengah lapangan, berkali-kali ia menatap kearah ruang UKS.


Bohong kalau ia sudah tidak perduli lagi pada Alis. Selama ini ia hanya membentengi dirinya dengan berpikir hal-hal negatif tentang Alis. Namun kenyataannya, ia selalu menyangkalnya.


Sekembalinya Aldo, ia ingin menanyakannya namun ia tidak mampu dan merasa gengsi karena Alis dan Aldo sudah terikat hubungan. Begitulah yang dipikirnya, dan ia tidak ingin menjadi orang ketiga diantara mereka, walaupun sebenarnya ia yang terlebih dahulu dekat dengan Alis. Namun, tetaplah Aldo yang berhak atas semua itu karena ia sudah mendapat restu dari kedua belah pihak keluarga.


Akhir-akhir ini Al terlihat bersikap lebih dingin kepada siapapun juga, termasuk kepada orang tuanya sendiri. Mereka juga tampak heran dengan perubahan Al yang mendadak, tetapi mereka tahu bahwa semua itu berawal dari seorang Alis. Entah masalah apa yang mereka hadapi hingga Al terlihat sangat sakit hati. Tapi mereka juga tidak mau ikut campur terlalu jauh masalah yang dihadapi anak muda zaman sekarang.


"Al, kamu lagi ada masalah apa, hingga membuatmu tidak fokus begitu?" Andra menghampiri Al yang sedang duduk ditepi lapangan. "Pasti kamu sedang memikirkan Aliskan?" tanya Andra.

__ADS_1


Al memang terlihat sangat gelisah sejak tadi, bahkan ia tidak fokus saat mereka latihan basket. Akhirnya ia berhenti main dan duduk ditepi lapangan agar pikirannya kembali tenang.


"Apaan sih, masih ada Aldo, kenapa aku harus khawatir?" tanya Al sambil acuh tak acuh. Bohong kalau ia tidak khawatir. Al menggenggam tangannya erat sambil menatap ketengah lapangan.


"Berarti kamu cemburu dong." ledek Irfan yang mendengarkan percakapan mereka sejak tadi.


"Buat apa aku cemburu. Kita bukan siapa-siapa." ucap Al dengan nada dingin. Ia menatap kearah seseorang yang cukup dikenalnya di tengah lapangan. Begitu juga dengan Irfan dan Andra, mereka menatap Riyan yang melintas tepat ditengah lapangan.


"Menurutmu, kejadian apalagi yang akan terjadi?" tanya Irfan sambil matanya tetap mengawasi langkah Riyan yang menuju kearah ruangan UKS.


"Kurasa disini ada kesalahpahaman deh, masa iya laki-laki itu adalah pacarnya si Alis, bukankah Alis sudah hanpir tunangan sama si Aldo." ucap Andra.


Al tampak berpikir cukup lama, apa yang diucapkan oleh Andra sebenarnya masuk akal juga. Tapi, ada hubungan apa antara Riyan dan Alis. Al menatap kearah Riyan yang sudah ditelan ruangan UKS.


Al juga akhir-akhir ini selalu menghindar dari Aldo, padahal Aldo ingin berbicara padanya. Bahkan Aldo ingin menyampaikan hal penting, tapi Al tidak ingin memberi kesempatan padanya. Ia takut tidak akan sanggup mendengar kabar bahagia tersebut.


"Riyan adalah kakaknya Alis dan soal aku dan Alis, sebenarnya kami tidak ada hubungan sama sekali." Aldo menghampiri ketiga sahabatnya. Ia tidak mau kesalahpahaman ini berkepanjangan dan gosip yang tersebarpun sangat merugikan Alis. Apalagi sikap Al yang berubah total padanya akhir-akhir ini.


"Do, jangan bohong kamu!" Al tampak emosi dan menangkap kerah baju yang dikenakan oleh Aldo. Ia geram dengan tingkah Aldo yang pandai berpura-pura.


"Do, apa itu benar?" tanya Irfan memastikan.


Aldo menatap kearah Irfan dan ia mengangguk mantap. "Kalian pasti tahu siapa yang ada didalam hatiku." ucap Aldo sambil melepaskan tangan Al dari kerah bajunya.


Al menatap Aldo dengan serius, ia mencari kebenaran itu dari matanya. Ia tau kalau dari nada bicaranya, tidak terselip sedikitpun kebohongan. "Do, ma'afkan aku yang sudah salah paham padamu." ucap Al sambil menepuk pundak Aldo. "Aku sudah salah paham padamu, tapi kamu masih punya satu hutang penjelasan padaku." Al tersenyum kearah ketiga sahabatnya. Hatinya lega mendengar penuturan Aldo tersebut, namun ia juga bertanya-tanya tentang semua yang diucapkan oleh Aldo. Mereka melakukan tos ria bersama dan saling merangkul layaknya teletubies.


"Al, sebaiknya kamu susul Alis, dia pasti butuh dukunganmu. Aku yakin kalau Alis tidak baik-baik saja seperti yang dikatakannya." ucap Aldo sambil menepuk bahu Al.


Tanpa berpikir panjang lagi, Al berlari kearah ruang UKS untuk menghampiri Alis. Ia begitu bahagia mendengar penuturan Aldo tadi. Senyumpun tak pernah luntur dari bibirnya. Bahkan hatinya kembali menghangat.


"Al, kamu mau kemana?" tanya Liza yang sudah berdiri dan menahan Al yang bermaksud ingin masuk kedalam.


"Ingin melihat Alis. Bagaimana keadaannya?" tanya Al.

__ADS_1


"Dia sedang istirahat dan tolong nanti saja kamu mendatanginya." bohong Liza. Ia tahu kalau Alis sedang berbicara dengan seseorang yang dulu pernah bertemu dengannya beberapa kali. Bahkan ia tidak menyangka bahwa orang tersebut adalah saudaranya Alis.


"Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu." ucap Liza yang berjalan kearah luar sekolah. Ia berjalan kearah taman dan diikuti oleh Al dibelakangnya.


"Ada apa?" tanya Al setelah mereka duduk dibangku taman.


"Sebenarnya ini tentang hubunganmu dan juga Alis."


Al mengerutkan dahinya menatap kearah Liza, ia tidak mengerti dengan maksud pernyataan Liza tersebut. "Apa maksudmu?" tanya Al.


"Kemarin aku lihat kalau kalian seperti orang asing, entah apa masalah yang sedang kalian hadapi, aku tidak ingin ikut campur. Tapi satu pintaku Al, jangan kamu sakiti lagi perasaan Alis. Selama ini, ia hidup dengan penuh perjuangan karena sudah banyak kesakitan yang dialaminya. Bahkan sekarang ia juga sering dibully." menatap kedepan dengan sendu.


"Aku sempat berharap, Alis akan tetap banyak bicara dan sering tersenyum. Dan itu terjadi setelah ia bersamamu. Tapi sejak kemarin, ia terlihat sangat terluka." ucap Liza.


Al yang mendengar semua itu merasa bersalah, ia yang seharusnya menyokong Alis malah pergi meninggalkannya begitu saja. Ia menyesal kini karena sudah menyerah terlebih dahulu tanpa tahu kebenarannya.


"Pagi tadi, seluruh teman sekelas kami sedang mencemooh Alis karena Alis keluar dari mobil Aldo. Bahkan yang lebih parahnya lagi, mereka ingin agar Alis keluar dari sekolah ini. Kau tau Al, yang paling sakit itu saat Alis diam saja saat mereka menginjak-injak harga dirinya. Ia tetap bertahan, walaupun ia merasa tidak mampu lagi untuk memikulnya." Liza terisak.


"Ia sudah berubah, kembali seperti dulu lagi. Alis yang tertutup dan juga pendiam." ucapnya lagi.


"Za, kamu tenang saja. Aku akan berusaha agar selalu ada untuk Alis, kali ini." Al menatap Liza dengan sunggub-sungguh.


Liza mengangguk dan tersenyum kearah Al. "Sekarang kamu hampiri sana, perbaiki kesalahpahaman diantara kalian. Bicara empat mata, dari hati kehati." ucap Liza menyemangati. Ia menatap Riyan yang sudah keluar ruangan UKS dan sedang menuju kearah ruang kepala sekolah. Untuk yang satu ini, biarlah Alis yang mengatakan sendiri kebenarannya.


*****


Alis berusaha memejamkan matanya, ia ingin istirahat sejenak. Kepalanya benar-benar ingin meledak setelah kedatangan kakaknya tersebut. Entah darimana ia mendapatkan kabar tentang Alis yang terjatuh akibat hantaman bola basket, dan juga keributan diruang kelasnya. Ia makin pusing karena Riyan ingin mempercepat acara ulang tahun sekolahnya dari yang sudah direncanakan sebelumnya.


Ia membuka matanya, tatapannya kosong. Entah akan seperti apa jadinya sekolah mereka saat semua tahu bahwa Alis adalah pemilik sekolah. Yang pasti mereka akan menjilat Alis dan kehidupan Alispun tidak setenang sebelumnya. Walaupun pada kenyataannya, untuk sekarangpun kehidupan Alis sudah terlihat tidak tenang lagi tapi setidaknya, tidak akan ada orang-orang yang mendekatinya karena tujuan tertentu saat mereka tahu kalau ia hanyalah gadis biasa.


"Alis..." lirih Al saat ia membuka gorden bilik yang ditempati oleh Alis. Ia menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Benar apa yang dikatakan oleh Liza, kalau Alis mempunyai beban yang bahkan ia sendiri tidak sanggup untuk memikulnya. Ia terlihat sangat rapuh dan kosong.


Alis masih tetap dengan posisi semula, dengan pikirannya yang berkelana kemana-mana. Bahkan ia tidak menyadari keberadaan Al diruangan tersebut yang perlahan mendekat kearahnya.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2