Layangan Kertas

Layangan Kertas
Surat Kaleng


__ADS_3

Alis tampak termenung duduk didepan televisi yang sedang menyala. Ia tidak memperhatikan berita yang sedang ditayangkan. Pandangannya terus menatap kearah dinding rumahnya. Pikirannya berkelana jauh kemasa lalu. Ia kembali mengingat kedua orang tuanya, ia merindukannya.


Apakah aku yang harus menemui mereka terlebih dahulu, ataukah aku hanya diam seperti ini, menunggu sesuatu yang tidak pasti. Tapi, seandainya mereka menolakku, apa aku akan tetap bertahan.


Perlahan, lahar panas itu meleleh membasahi pipinya, dengan cepat Alis menghapusnya dan segera merubah raut wajahnya menjadi dingin kembali.


Gluk gluk.


Bunyi notif pesan di handphone Alis menyadarkannya dari lamunannya yang menyesatkan.


Januar : Kenapa kamu tidak pergi kekantor sepulang sekolah tadi, apa kamu kekafe lagi?


Alis : Tidak, aku hanya sedang sibuk dirumah.


Januar : Masalah kebun lagi? Sudah kubilang untuk urusan begituan, minta tukang kebun yang mengurusnya, jadi kamu tidak perlu repot-repot lagi.


Alis : Bukan itu masalahnya.


Januar : Lalu?


Alis : Ada teman-temanku yang datang berkunjung kerumah, sekedar meminta bunga untuk memenuhi ngidam kakaknya.


Januar : Eh..., teman-teman ya?


Alis tampak mengerutkan dahinya melihat pesan terakhir yang dikirim oleh Januar. Ia tahu diri bahwa dirinya bukanlah orang yang disenangi banyak orang, bahkan bukan pula orang yang terkenal. Jadi wajar kalau Januar merasa heran padanya, karena setahunya bahwa Alis hanya punya seorang sahabat.


Ternyata hidup didunia ini banyak tipuannya, banyak muka-muka palsunya, banyak penjilatnya.


Alis terkenang kembali saat dirinya menghadapi banyak masalah. Tidak ada seorangpun yang ingin membelanya kecuali Liza, sahabatnya. Dan tidak ada seorangpun yang perduli padanya kecuali Liza dan juga Al.


"Eh... Al, ngomong-ngomong soal anak itu, kenapa ia terlihat sangat gugup tadi sore. Apa dia ada masalah?" Alis bergumam saat kembali mengingat ekspresi Al sewaktu dihalaman belakang. "Atau ia takut padaku, karena aku gadis yang aneh." Alis menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan pendapatnya yang kedua.

__ADS_1


Prang!!!


Alis bergegas berlari kearah depan rumahnya setelah mendengar bunyi sesuatu yang pecah untuk memeriksa bunyi tersebut. Namun tidak ada kaca yang pecah seperti yang telah lalu. Ia pergi keteras rumah dan terkejut melihat pot yang belum terisi itu telah hancur berantakan.


"Ulah siapa ini?" Alis memungut satu persatu pecahan pot tersebut sambil sesekali matanya berkeliling menatap sekitar. "Mungkin kucing liar yang sedang berkelahi." Ia bergumam pada dirinya sendiri.


"Apa ini?" Alis memungut kertas yang membungkus batu, ia tampak heran. "Seperti yang difilm-film saja." Ia membukanya dan tampak terkejut melihat isinya yang berupa surat ancaman.


Alis kembali mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru halaman, namun hanya kegelapan yang mendominasi.


Siapa yang menulisnya dan ada masalah apa sehingga ia dendam padaku. Bahkan selama ini, aku sudah bersikap selayaknya orang miskin.


Alis masuk kedalam rumah dengan tanda tanya yang besar. Ia hanya menganggap bahwa surat kaleng tersebut hanya ulah orang yang iseng, tidak ada kerjaan. Toh selama ini ia tidak punya musuh, kecuali Ifa. Tapi tidak mungkin Ifa sampai senekad itu, bukankah ia tidak tahu letak rumah Alis. Pasti orang iseng saja.


💦💦💦


Dikediaman Subhan


"Ada apa nih ma, kita dikumpulkan seperti ini?" Indra, anak tertua dari Subhan angkat bicara karena keheranannya.


"Iya ma, ada apa? Tidak biasanya kita begini?" Yasmina, anak keduanya juga menuntut jawaban.


Subhan menatap anak ketiganya yang hanya bungkam saja, seperti biasa. "Naufal, apa kamu tidak ingin bertanya seperti kakak-kakakmu?"


Naufal menatap semua orang yang ada disana, ia menggelengkan kepalanya. Untuk apa bertanya, toh sebentar lagi juga akan diberi tahu. Sabar sedikit.


Subhan menggelengkan kepalanya, ia menatap kearah istrinya. Ngidam apa istrinya, hingga memperoleh anak yang luar biasa dinginnya, bahkan sangat pelit berbicara. Ngidam batukah?


"Dalam rangka berkumpulnya seluruh anggota keluarga kita, ayah ingin memberikan satu pengumuman penting untuk kita semua." Menatap satu-persatu anaknya yang berada didepannya. "Ayah ingin menjodohkan Naufal dengan anak sahabat ayah. Ini bukan perjodohan bisnis tapi memang pihak ayah dan mama yang menginginkan menantu terbaik untuk Naufal."


"Apa Naufal setuju?" Indra menatap Naufal yang hanya diam saja.

__ADS_1


"Ayah berharap Naufal setuju tentang semua ini. Karena ayah dan mama cukup mengenal gadis itu dengan baik." Subhan menatap tajam anaknya yang ingin angkat bicara, ia tahu bahwa Naufal akan berusaha untuk menolaknya.


"Benar begitu?" Yasmina menatap Naufal yang tetap bungkam.


"Kalau semua itu bagus untuk ayah dan mama, juga kakak. Kenapa aku harus menolak, tapi ada syaratnya." Naufal menjawab dengan tegas, ia juga mengepalkan tangannya kuat.


"Apa syaratnya nak, beritahu kami." Arini tersenyum penuh bahagia. Akhirnya, menantu yang terus diidamkannya selama ini akan terkabul juga.


"Aku akan setuju, apabila gadis itu juga setuju. Dan, tidak ada terkait hubungan apapun dengan pihak ketiga yang akan menghancurkan hubungan ini. Karena, kalau semua itu ada, maka aku yang terlebih dahulu untuk mundur."


"Baiklah. Ayah setuju."


Naufal berdiri dari duduknya dan meninggalkan mereka semua yang berada diruang keluarga tersebut. Ia tidak ingin menghancurkan harapan kedua orang tuanya. Sudah terlalu sering ia mendengar ayah dan ibunya yang selalu memuji gadis itu, seperti konsumsi wajib setiap harinya.


Akhirnya, semua yang ditakutkannya sudah menjadi kenyataan, namun satu hal yang harus dilakukannya kedepan adalah mengenal gadis yang dimaksud oleh ayahnya terlebih dahulu. Mungkinkah ia bisa tersentuh hatinya seperti Al yang sedang memperjuangkan Alis atau seperti Liza dan Alex yang bertengkar namun saling suka dalam diam.


Siapa nama gadis itu? Syaiba, kalau tidak salah.


Aldo menatap dingin kearah ranjangnya saat ia membuka kamarnya, ia akan mencari sendiri identitas gadis tersebut yang bersekolah yang sama dengan dirinya. Ia berharap, gadis itu adalah gadis yang baik seperti yang dikatakan oleh ayah dan ibunya.


Aldo Athalah Naufal yang kerap disapa dengan Aldo dan menjadi nama kesayangan orang tuanya adalah Naufal. Ia terkenal dengan sikap dinginnya dan tatapan intimidasinya, juga orang yang irit bicara. Namun satu yang paling menonjol darinya, ia adalah penyuka makanan. Dan akan diam saat berhadapan dengan yang namanya makanan.


Apakah aku harus senang atau sedih mendengar berita ini.


Aldo merebahkan dirinya dikasurnya dan berbaring kearah samping sambil menatap kaca yang masih terbuka gordennya. Ia masih memikirkan gadis yang bernama Syaiba tersebut. Sepertinya bukan gadis yang terkenal disekolahnya, karena ia tidak pernah mendengar nama itu mencuat dipermukaan.


Apa ia bisa mencintai gadis itu melalui perjodohan, seperti yang dikatakan oleh orang tuanya, bahwa sesuatu yang terbiasa itu bisa menimbulkan cinta. Ataukah ia menolaknya saja dengan alasan yang lain. Namun itu tidak mungkin terjadi, karena ia sudah menyetujuinya diawal tadi.


Baiklah, ia akan mencobanya. Anggap saja ini sebagai tantangan yang akan dilaluinya. Kalau ia berhasil, maka ia akan merasa bahagia kedepannya. Bukankah kata bahagia yang selama ini diidamkan setiap orang. Apapun akan terasa bahagia kalau kita ikhlas menjalaninya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2