
Alis melongo melihat pintu rumahnya yang tampak terbuka. Ia berusaha mengingat-ingat pagi tadi. Rasanya ia sudah menguncinya dengan benar dan tidak pernah membiarkan rumahnya terbuka begitu saja. Jangan-jangan ada maling. Lalu apa yang akan di curinya dari rumah sederhana ini.
Dengan langkah cepat tapi mengendap, Alis berjalan kearah pintu rumahnya. Sambil sesekali ia memperhatikan keadaan sekitar. Ia takut kejadian beberapa waktu yang lalu terulang lagi, saat dirinya dibius dan diculik.
Tidak mungkin ini kakaknya yang melakukannya, karena Riyan masih berada di Pulau Kalimantan untuk memeriksa proyek tambang miliknya. Ataukah ia sudah pulang?
Alis mengernyit saat mendapati tidak ada satupun mobil yang terparkir di halamannya. Berarti dugaannya kali ini juga salah tentang kepulangan Riyan.
Langkahnya semakin waspada saat ia hampir mencapai pintu. Mengintip dengan hati-hati dan dengan perasaan yang cukup tegang. Memantau situasi yang sama sekali tidak mencurigakan. Semua terlihat baik-baik saja, bahkan barang-barangnya masih di tempat semula.
Grabb...
Alis terperanjat saat sebuah tangan yang tiba-tiba melingkari badannya dari belakang. Ia ingin menjerit karena terkejut, namun tangan tersebut bergerak membekap mulutnya terlebih dahulu.
Dengan gerakan gesit, Alis ingin menendang seseorang tersebut. Tapi gerakan kakinya sudah di kunci oleh lelaki tersebut.
"Sayang. Apa kabar? Aku sangat merindukanmu."
Deg.
Alis sangat mengenali suara itu, suara yang baru beberapa hari ini tidak didengarnya dan ia sudah mulai melupakannya.
Perlawanan Alis terhenti setelah memgetahui orang tersebut. Namun ia tetap waspada dan berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Rafael.
"Lepaskan!"
"Biarkan 5 menit. Aku sangat lelah karena menempuh perjalanan jauh," Rafael semakin erat memeluk Alis, bukannya mendengarkan permintaan Alis.
"Tidak bisa bernapas!" Sahut Alis lagi.
Dengan terpaksa Rafael melepaskan pelukannya. Padahal dirinya tidak rela untuk melepasnya.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku? Dan darimana kamu mendapatkan kuncinya?" Alis berbalik dan menatap Rafael dengan tajam. Apa yang membuat lelaki di depannya ini begitu cepat kembali, ada perjalanan bisniskah?
"Aku lelah sayang, makanya aku ada disini!" Sahut Rafael sambil berjalan santai kearah ruang tamu seolah-olah rumah ini adalah rumah miliknya.
Mata Alis masih menatap awas pergerakan Rafael, ia masih berdiri pada posisinya.
"Aku punya banyak kunci cadangan, kalau kamu kehilangan kunci rumahmu, tinggal minta saja padaku." Rafael memperlihatkan duplikat kunci pintu rumah Alis yang ada di tangannya. Semua dibuat serba 3 termasuk kunci pintu kamar dan kamar mandi yang di tempati oleh Alis.
__ADS_1
Dengan perasaan dongkol, Alis berjalan melewati Rafael begitu saja, tanpa memyahut satupun ucapan Rafael. Ia sangat kesal dengan lelaki tersebut, yang seenaknya saja. Ia sudah seperti seorang pencuri saja, naik ke rumah orang tanpa permisi pada pemiliknya.
Bahkan sekarang ia berlaku seperti ia pemiliknya dan Alis hanya menumpang saja. Rafael selalu membuat perasaannya down. Padahal tadi pagi dirinya baru saja merasakan senang luar biasa karena Al yang sudah menembak dirinya.
Alis menapaki anak tangga, saat menapaki anak tangga kedua ia berbalik dan menatap Rafael datar. Membuat Rafael mengernyit dan tersenyum samar kearahnya.
"Sebaiknya kemasi barangmu dan menginaplah di hotel. Aku tidak ingin orang salah sangka! Terlebih lagi kita tidak ada hubungan darah." Alis kembali meneruskan langkahnya.
"Hei sayang! Orang tidak akan salah sangka karena sebentar lagi kamu akan menikah denganku!" Rafael terkekeh melihat wajah Alis yang cemberut, sangat menggemaskan menurutnya.
Alis menutup pintu kamarnya dengan kasar, mungkin besok-besok ia akan mengganti seluruh kunci rumahnya dengan kunci baru. Agar Rafael tidak bebas lagi keluar masuk rumahnya.
Baru saja ia ingin berjalan kekamar mandi, handphonenya sudah berbunyi terlebih dahulu. Dengan cepat Alis membuka pesan yang baru didapatnya. Senyumnya terbit saat mendapati pesan dari Al untuknya.
Al : Sayang, sore ini aku ingin kerumahmu. Kamu ada di rumahkan?
Ingin mengetik mengatakan ada, tapi Alis teringat dengan Rafael yang sedang berada di rumahnya. Kalau Al sampai mendapatinya, bisa-bisa Al salah sangka dengannya.
Tapi kalau dia katakan tidak ada, berarti Al tidak datang untuk bertemu dengannya. Alis menjadi bingung, seperti inikah orang yang sedang pacaran, harus berpikir seribu kali demi alasan ketemuan.
Alis : sore ini aku ke kafe. Kalau kamu ingin bertemu denganku, sebaiknya kamu temui aku di kafe LK.
Senyum Alis terbit, bergegas ia mematikan handphonennya dan bersiap untuk pergi ke kafenya. Sudah lama ia tidak mengunjunginya, bahkan yang terakhir itu sebelum dirinya di culik.
"Kenapa seribet ini hanya untuk bertemu dengan Al," gerutu Alis sambil mendesah pasrah. Ia duduk di tepi ranjangnya menatap keadaan kamarnya yang sudah seperti sarang tikus.
"Biasanya aku juga tidak pernah memperhatikan penampilan. Kenapa sekarang harus?" Alis memijit pelipisnya. Ia mengambil acak gaun miliknya yang sebenarnya sangat jarang di gunakannya. Karena biasanya ia lebih sering menggunakan pakaian santai dengan atasan berbahan kaos dan bawahan berupa celana jeans panjang.
Tok tok tok
Alis tahu siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya. Dan ia berharap Rafael menemuinya kali ini untuk berpamitan padanya.
"Astaga, ini kamar atau sarang tikus? Berantakan sekali!" Rafael melongo melihat pemandangan yang pertama kali dilihatnya dalam hidup Alis. Biasanya gadis belia ini tidak pernah seberantakan ini, ada apa dengannya.
Mata Rafael beralih menatap kearah Alis, ia terkesima di buatnya. Alis terlihat sangat cantik dengan gaun biru navy selutut. Rambutnya dibiarkannya tergerai begitu saja. Rafael berdecak beberapa kali, tapi tatapannya berubah menjadi tatapan curiga.
"Apa yang membuatmu berpenampilan seperti ini ha?" Masih memicing curiga.
Alis hanya melirik sekilas kearah Rafael. Ia kembali sibuk dengan kegiatannya, mencari sepatu yang pas dengan gaunnya. Tidak menanggapi sama sekali pertanyaan dari Rafael.
__ADS_1
"Ada apa kamu kemari?" Alis menanyakan keberadaan Rafael sekarang.
"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang!" Rafael masih menatap Alis yang sibuk dengan sepatunya.
Dengan gerakan cepat Alis berbalik menghadap Rafael, dahinya berkerut pertanda bingung. Matanya melirik kearah jam dinding yang menunjukkan bahwa hari sudah mulai sore.
"Ehm... tadi siang aku melewatkan makan siangku, makanya sekarang aku kelaparan." Wajah Rafael tampak merona, ia meringis malu.
Alis berdecak kesal tapi ia merasa kasihan setelah menatap Rafael cukup lama. Lelaki di depannya ini baru saja menempuh perjalanan jauh, dan sekarang dirinya justru sibuk berkutat dengan rumahnya tanpa istirahat sedikitpun.
"Bagaimana? Apa kamu mau menemaniku?"
Alis mengangguk mendengar jawaban Rafael. Ia tidak tega untuk menolaknya. Senyum Rafael semakin mengembang, ia tahu kalau Alis sedang ingin bertemu dengan seseorang di luar sana.
Rafael sengaja melambat-lambatkan kunyahannya untuk memperlambat waktu. Dia hanya ingin Alis berada di rumah sore ini dan menghabiskan waktu bersamanya.
"Makanlah, cicipi masakanku," pinta Rafael yang menatap kearah Alis yang sejak tadi hanya memperhatikan dirinya makan.
"Aku kenyang." Alis menatap masakan yang ada di meja. Semuanya terlihat lezat dan menggiurkan.
"Apa ini semua kamu yang masak?" Alis masih menatap menu-menu makanan tersebut.
"Tentu saja! Mana ada masakan luar yang seperti ini di jual di kafemu!" Rafael berucap sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Sebaiknya kamu telan dulu makananmu, baru bicara denganku."
Rafael mengangguk dan mengunyah mekanan dengan lambat.
"Bisakah kamu mempercepat makanmu. Setelah ini aku ingin memantau kafeku!" Alis memperhatikan jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Hei, apakah kamu tidak tahu cara mengunyah makanan dengan baik saat makan agar makanan halus dan mudah di serap oleh usus. Dan sekarang aku sedang melakukannya." Rafael bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu dengan kode yang di berikan oleh Alis.
"Baiklah kalau begitu, aku berangkat sekarang!" Alis berdiri dan meraih buku bacaan miliknya.
"Tunggu. Aku akan mengantarmu," Rafael makan dengan cepat.
"Tidak perlu. Aku bisa minta jemput Januar," Alis menyahut cepat. Ia tidak ingin Al melihat kebersamaannya dengan Rafael.
"Aku akan tetap ikut denganmu." Rafael berjalan dan menyeret tangan Alis kearah luar rumahnya.
__ADS_1
Alis mengernyit saat mendapati keberadaan mobil Rafael yang dudah terparkir cantik di halamannya. Dengan pasrah, ia masuk juga kedalam mobil tersebut.
💦💦💦