
Alis dan Al memasuki kantin bersama rombongannya dan tidak lupa, Jessica dan Liza yang mengekor dibelakangnya. Seluruh mata menatap kearah dirinya, mereka merasa iri dengan Alis karena sudah di tembak oleh Al.
Gosip tentang Al yang menembak Alis sudah menyebar ke seantero sekolah. Bahkan Angga juga sudah mendengarnya, tapi ia tidak percaya dengan semua itu. Ia yakin kalau Alis bukan gadis yang suka pacaran. Bahkan dekat dengan lawan jenis saja bisa di hitung jari.
Sejak tadi mata Angga tidak pernah lepas menatap kearah Alis yang duduk tepat di samping Al. Memperhatikan gerak-geriknya, tapi tidak ada yang mencurigakan. Bahkan ia tetap terlihat kaku dan tidak banyak bicara. Hanya yang lainnya saja yang banyak bicara, termasuk Irfan dan gadis judes yang satunya, Liza.
Pasti anak-anak hanya mengada-ada saja.
Sedangkan di meja Alis terdengar sedikit kegaduhan karena Liza dan Irfan yang terus mengoceh tanpa henti.
"Cie... yang baru jadian, senyumnya mana?" Liza meledek Alis dan Al.
Alis hanya mendelik kearah Liza, ia tidak suka dijadikan sebagai bahan ledekan dan lelucon. Bibirnya tetap terkatup rapat, ia bahkan meraih buku miliknya seperti kebiasaannya yang dulu. Kemudian fokus dengan bacaannya tanpa menghiraukan mereka semua.
Sedangkan Al sejak tadi tidak pernah surut memamerkan senyumnya pada mereka. Ia terlihat sangat sumringah.
"Ya ampun Lis, kenapa pacarnya di cuekin begitu? Nanti babang Al cemburu sama buku yang kamu pegang." Lagi, terdengar ledekan dari Liza.
Alis semakin merasa malu dan gerah. Tidak tahukah mereka kalau dirinya sangat gugup. Bahkan untuk menarik napas saja ia merasa kesusahan. Bagaimana kalau dia hanya berdua dengan Al, bisa-bisa ia mati karena tidak bisa menarik napas.
Beda dengan yang dulu, mereka hanya berteman saja. Dan sekarang statusnya sudah pacaran. Alis juga sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang yang pacaran.
"Sayang, pesanan kamu sudah ada. Ayo makan dulu, lepaskan bukunya." Al menatap Alis.
Deg.
"Sayang?" gumam Alis dalam hati. Ia terlihat tidak fokus dengan bacaan miliknya. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan panggilan asing itu benar-benar untuknya. Ia bahkan terlihat semakin kaku.
Al menggeleng melihat tingkah Alis tersebut. Ia tahu kalau Alis terkejut dengan perubahan yang drastis ini. Sedang yang lainnya kembali bersorak. Hanya Aldo sajalah yang diam dan sibuk dengan makanannya.
Alis segera meletakkan bukunya, percuma ia membaca kalau ternyata pikirannya tidak sinkron. Tanpa sengaja matanya bertaut dengan mata Aldo yang menatapnya tajam. Lagi, Alis merasa seperti di musuhi karena mendapat tatapan yang tidak bersahabat.
"Ayo. Mau aku suapin," lagi, Al menatap Alis dengan hangat membuat Alis terlihat serba salah bahkan ia terlihat gugup. Sehingga ia mengangguk kemudian menggeleng.
"Emm pasangan baru tapi kaku begitu. Rileks dong Lis. Bagaimana nanti kalau kamu di cium sama Al, bisa-bisa kamu pingsan," Irfan berucap dengan acuh.
Alis melotot mendengarnya, matanya melirik kearah Al, yang justru mendapat gelengan kepala dari Al.
"Apa-apaan kamu sih Fan. Aku tidak akan mengambil kesempatan seperti itu. Lagi pula kita belum sah," ucap Al.
Lagi, sorakan kembali terdengar di telinga Alis. Bahkan kali ini membuat Alis menunduk dan tidak dapat berkutik sama sekali.
__ADS_1
"Sayang, jangan hiraukan mereka. Kamu habiskan saja makananmu." Al mendorong mangkok bakso milik Alis kehadapannya. Ia menatap Alis yang mulai meraih sendoknya. Dan melakukan suapan pertamanya.
Rasanya melihat Alis makan saja sudah membuat Al kenyang.
Alis langsung menghentikan suapannya karena ia merasa di perhatikan oleh Al.
"Kamu tidak makan?" dengan susah payah Alis membuka suaranya yang sedikit bergetar. Ampun Tuhan, kenapa ia segugup ini dihadapan Al, padahal ini bukan yang pertama kalinya mereka bersama. Bahkan yang sebelumnya lebih daripada duduk bersama. Tapi kenapa sekarang terasa benar-benar memalukan.
Dengan cepat Alis meraih gelas jus miliknya, meneguknya hingga separuh kemudian meletakkannya. Matanya melirik kearah Al yang kembali tersenyum kearahnya. Lagi, Alis dibuat gugup olehnya hingga ia merasa laparnya hilang.
"Aku akan makan tapi kamu habiskan dulu makananmu," sahut Al.
"Lebih baik kita makan bersama," gumam Alis. Ia tidak ingin kehilangan fokusnya gara-gara tatapan Al padanya sejak tadi tidak pernah lepas.
"Boleh juga, itu ide yang sangat bagus," sahut Al lagi.
Alis mengernyit mendengarnya, berpaling dan menatap Al dengan penuh tanya. Apakah ia salah bicara hingga Al menjawab dengan jawaban yang terdengar berbeda.
"Kenapa? Katanya tadi mau makan bersama," goda Al.
Alis mengangguk dan kepalanya menunduk. Apa ada yang salah dengan kata makan bersama sehingga Al juga ikut menggodanya.
"Makananku biar yang lainnya saja yang habiskan karena kita akan makan dalam satu mangkok," Al berbisik tepat di telinga Alis.
"Bukankah itu yang dimaksud makan bersama," goda Al lagi. Ia sangat senang melihat pipi Alis yang merona. Ia ingin rona itu hanya akan di perlihatkan padanya.
Saking gugupnya Alis, ia mengangguk kemudian menggeleng membuat Al sedikit terkekeh dan mengacak rambut Alis dengan lembut.
Ingin rasanya Alis pingsan saja karena tidak tahan diperlakukan seperti ini. Ini bukan kebiasaan yang didapatnya dan terasa sangat berbeda. Rasanya ia ingin meledak-ledak saja karena euforia melebihi batasnya.
"Biasakan dirimu dengan kata sayang dariku dan juga perhatianku," bisik Al lagi. Ia merasa tidak tega melihat Alis yang terdiam sejak tadi. Bahkan bakso miliknya tidak bergerak sama sekali, masih utuh hanya sedikit yang masuk ke mulutnya.
"Ya sudah. Sekarang kamu habiskan makananmu. Aku akan makan juga milikku."
Mata Alis bergerak melirik kearah Al yang sudah meraih mangkok bakso miliknya. Alis juga melakukan hal yang sama. Menyuap sesendok demi sesendok sambil sesekali mata mereka saling melirik.
"Ehem... memangnya kita patung?" ucap Irfan yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya. Ia senang sahabatnya terlihat sangat bahagia. Tapi sekaligus iri, karena hanya dirinyalah yang terus bertahan dengan status jomblo dan jangan lupakan si pria kutub, Aldo. Dia benar-benar tidak laku karena sikapnya yang selalu membuat para gadis takut.
Alis menunduk sambil kembali melahap baksonya. Ia tidak sadar kalau tangan Al sedang bergerak menggapai wajahnya, tepatnya di pinggir bibirnya.
Alis dibuatnya membeku seketika, ia ingin menjauhkan wajahnya tapi terlambat. Al sudah menyapunya terlebih dahulu menggunakan tisu.
__ADS_1
Dalam beberapa detik tatapan mereka saling mengunci.
"Ciee... yang lagi kasmaran, tatapannya gitu loh. Dalammmm sangat!" ledek Liza untuk yang kesekian kalinya.
Al dibuat salah tingkah karenanya, sedangkan Alis kembali menunduk. Ia tidak biasa menjadi bahan ledekan seperti sekarang ini. Apapun rasanya serba kena.
"Eumm... aku sudah selesai dan mau ke toilet," Alis berdiri.
"Aku juga," sahut Al yang mengikuti gerakan Alis. Dalam waktu 3 detik mereka saling berpandangan sebelum Alis memutus tatapan itu.
Alis meraih bukunya yang tergeletak di atas meja kantin. Menatap satu persatu temannya yang ada disana, kecuali Aldo. Ia tidak ingin melihat tatapan dingin darinya.
Alis berbalik dan melangkah menuju kearah pintu kantin, di ikuti dengan Al yang mengekor dibelakangnya. Baru saja ia melangkah sebanyak 2 langkah, suara Irfan menginterupsi.
"Loh... Alis! Bukannya toilet ada disana ya?" tunjuk Irfan kearah belakang kantin.
"Aku mau ke perpustakaan sekaligus," sahut Alis santai.
"Tidak sabar nih ingin berduaan. Sejak tadi Liza selalu mengganggu mereka, jadinya mereka tidak betah berada disini," cibir Jessica angkat bicara.
"Enak aja! Mereka itu baru beberapa menit jadian, jadi wajar saja kalau mereka perlu privasi." Liza menatap kesal kearah Jessica.
"Tidak seperti kamu, yang suka mengumbar-umbar kemesraan di tempat umum," tambah Liza lagi. Ia mendelik kearah Jessica yang menggenggam kuat garpu dan sendok di tangannya.
Baru saja Jessica ingin berdiri, Andra sudah menahannya dan menenangkannya. Ia hanya melirik sinis kearah Liza, yang di balasnya dengan peletan lidah.
Alis dan Al sudah berjalan di koridor sekolah, mereka tidak menghiraukan perdebatan yang biasa terjadi sesama perempuan.
Al berjalan bersisian dengan Alis. Tangannya tergerak dengan perlahan meraih tangan Alis dan menggenggamnya dengan hangat. Membuat Alis berpaling padanya, tapi yang ditemuinya justru pandangan Al yang tetap fokus kedepan.
"Aku ingin kita terus bergandengan tangan setiap hari selamanya. Bahkan aku selalu bisa menggenggam tanganmu, walau bagaimanapun keadaan kita suatu hari nanti," ucap Al masih tetap fokus kedepan.
Alis kembali berpaling dan menatap kearah Al. Rupanya ucapan Al tidaklah main-main. Ada keseriusan disana, dalam gambaran matanya.
"Apa kamu bersedia jika suatu hari nanti kita akan mengikat janji dan duduk bersanding selamanya." Al menghentikan langkahnya, menghadap kearah Alis yang menatapnya dalam. Alis bungkam, tanpa tahu harus menjawab apa.
"Ini bukan janji, hanya sebuah harapan. Harapan hidupku untuk terus bersamamu." Senyum Al mengembang di bibirnya. Tautan tangan mereka tidak pernah lepas. Mereka kembali melangkah bersama menuju kearah tempat yang di inginkan oleh Alis.
💦💦💦
Mohon ma'af atas ketidaknyamanan kemarin. Soalnya La salah up episode dan sekarang sedang menunggu admin untuk menghapusnya. Seharusnya bab sebelumnya adalah bab cerita pada novel yang satunya.
__ADS_1
Karena kesulitan mencari nama, makanya La ambil nama yang sama saja. 😊😊🙏🙏