
Riyan duduk termenung menatap Alis yang sedang tertidur. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu, saat dokter mengatakan kondisi Alis. Dokter mengatakan bahwa Alis mengalami trauma ringan.
Betapa pedih hatinya mengetahui semua itu. Benaknya semakin berkecamuk setelah tahu siapa yang sudah membuatnya seperti ini. Gadis itu telah kembali, masa lalu Alis yang paling menyakitkan dan meninggalkan trauma hingga kini. Alis yang merasa dihianati, Alis yang sudah dibuang oleh keluarganya kemudian tidak diakui, dan Alis yang hidup dalam kesepian, sendirian. Setetes dua tetes air mata akhirnya jatuh juga dipelupuk matanya. Tangannya erat tergenggam bahkan bahunya terlihat bergetar. Ia tidak kuat melihat adik kecilnya seperti ini. Sesal itu kembali hadir, namun ia tetap tidak berdaya.
Pergerakan Alis yang terlihat gelisah membuat Riyan tampak khawatir. Ia yakin, kalau Alis sedang mengalami mimpi buruknya dibawah alam sadarnya. Ia juga kembali teringat dengan permintaan kedua orang tuanya. Mereka sangat menginginkan bertemu dengan gadis mereka, Alis. Lalu, ia harus bagaimana? Sedangkan dokter melarangnya untuk bertemu dengan orang-orang yang terhubung dan berasal dari masa lalunya, untuk sementara waktu. Riyan menarik napasnya panjang.
Riyan kembali menatap tangan Alis yang masih diperban itu, dengan gemetar tangannya meraih tangan Alis. Ia tidak menyangka, Alis akan sejauh ini dalam menyakiti dirinya sendiri. Padahal tadi pagi ia terlihat baik-baik saja.
"Aku harus menyewa beberapa orang untuk menjaga dan juga memantau Alis. Gadis itu sepertinya memang sengaja datang kesini untuk kembali membalas dendamnya atau memang sudah ada yang direncanakannya. Aku harus waspada dan bergerak terlebih dahulu." Gumam Riyan pada dirinya sendiri. Ia kembali dengan amarahnya, tangannya begitu kuat terkepal hingga buku-buku jarinya memutih.
"Yan, sebaiknya kamu makan siang dulu. Alis, biar aku yang jaga." Januar menepuk pundak Riyan yang tampak termenung, ia tidak menyadari keberadaan Januar yang memasuki ruang rawat Alis.
tadi.
Riyan menatap kearah Januar dan menganggukan kepalanya. Ia kembali menatap kearah Alis kemudian melangkahkan kakinya menuju kearah kantin rumah sakit.
Tok-tok
"Masuk," setelah terdengar interupsi dari Januar untuk mempersilahkan seseorang dibalik pintu untuk masuk kedalam ruangan, pintu pun terbuka. Tampak Liza dan Alex yang datang dengan membawa parcel buah.
"Bagaimana keadaan Alis kak?" Liza menatap miris kearah ranjang Alis, ia tampak damai dengan tidurnya.
"Yang seperti kalian lihat, dia baik-baik saja. Dia hanya perlu waktu sedikit untuk istirahat." Tunjuk Januar kearah Alis. Ia menarik napas dengan perlahan. Sungguh, kata baik-baik saja tidak pantas disematkan diantara kabar Alis. Januar begitu terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Riyan pagi tadi sekembalinya dari ruangan dokter. Januar kembali menatap Alis yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Alis terlihat baik-baik saja dengan raga yang sehat. Namun, siapa sangka, batinnya mengalami trauma. Dibalik diamnya ternyata menyimpan luka dalam yang bahkan tersimpan lama hingga bertahun-tahun.
"Kakak yakin dia baik-baik saja?" Liza menatap punggung Januar yang membelakanginya menghadap kearah luar jendela.
Januar memalingkan wajahnya, ia menatap dalam kearah Liza yang juga menatapnya dengan penuh harap. Ada gambaran kekhawatiran didalam sana. Mungkinkah dia sudah tahu semuanya? Januar menatap kembali kearah Alis kemudian menganggukan kepalanya. Ia tetap akan menyembunyikan ini sesuai dengan permintaan Riyan sahabatnya.
Hening.
Hanya deruan napas masing-masing yang terdengar diruangan itu. Semua hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga terdengar lenguhan Alis yang baru bangun dari tidurnya. Bergegas Januar menghampirinya.
Yang pertama kali dilihat Alis saat membuka matanya hanyalah kekosongan. Ia merasa sangat kosong bahkan merasa teramat sepi.
"Lis, kamu mau apa, minum?" tanya Liza yang sudah berada disamping kepala Alis.
__ADS_1
Alis menatap kearah samping kanannya. Ia menemukan keberadaan Liza dan juga Januar. Ia menganggukan kepalanya. Ia menatap kearah Alex kemudian matanya berkeliling seperti mencari keberadaan seseorang.
"Riyan sedang keluar, ada keperluan mendadak, jika itu yang kamu cari." Januar menuju kearah sofa yang sudah diduduki oleh Alex.
"Lis, gimana keadaan kamu?" tanya Liza menatap Alis dengan tersenyum.
Alis menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit-langit rumah sakit yang berwarna putih. Ia menarik napasnya sesaat sebelum kembali menatap kearah Liza.
"Aku baik Za, seperti yang kamu lihat." Alis tersenyum tipis menjawab pertanyaan Liza tersebut.
"Sebenarnya kamu kenapa sih Lis, cerita sama aku. Aku sahabat kamu Lis."
Alis menatap kearah jendela sesaat setelah mendengar kata-kata Liza barusan. Sahabat, sahabat, sahabat.
Alis memijit kepalanya yang terasa berdenyut, bahkan ia merasa luapan emosi seakan memuncak. Ia benci rasa ini, rasa yang ingin meledak. Air mata kembali mengucur dengan derasnya bahkan Liza yang berada didekatnya pun merasa sangat terkejut dengan perubahan emosi Alis. Dengan segera ia memeluk Alis. Ia tahu bahwa Alis sekarang sedang terpuruk, setelah sekian lama menyimpan sakit sendirian.
Januar dan Alex bergegas menghampiri Alis. Mereka sangat khawatir melihat keadaan Alis yang mendadak emosional.
"Lis, kamu kuat. Kamu pasti bisa melawan semua ini. Kamu tidak sendiri Lis, masih ada aku, ada Alex, ada kak Januar dan juga ada kak Riyan." Liza tergugu dengan ucapannya. Ia ikut meneteskan air matanya. Perasaan sedih sahabatnya begitu pilu bahkan suara Alis pun tidak terdengar lagi. Ia menyesal atas kata-katanya barusan. Ia tidak tahu kalau efeknya sekuat ini mempengaruhi Alis. Liza berjanji akan menjadi sahabat terbaik bagi Alis selamanya.
Alis mengukir senyum kakunya saat menatap Alex dan juga Januar. Ia berusaha meredamkan semua emosi ini. Ia akan mengontrolnya. Benar kata Liza, ia tidak sendiri. Masih ada orang-orang yang perduli padanya. Bahkan ia selama ini selalu baik-baik sajakan walaupun sendiri. Matahari akan tetap bersinar walaupun sendirian.
💦💦💦
"Al, bagaimana keputusan kamu mengenai rencana papa semalam?" Arya menatap anaknya yang sedang membolak-balik buku pelajaran ditangannya. Saat ini mereka sedang berada diruang keluarga. Tidak seperti biasanya, kali ini Arya pulang lebih awal. Selepas ia bertemu kliennya diluaran, ia menancapkan gasnya menuju rumah.
Al menatap kearah ayahnya sesaat, ia kembali membolak-balik bukunya. Ia tidak bisa fokus pada objek bacaannya, karena pikirannya terus dibayang-bayangi oleh keadaan Alis tadi pagi.
"Aku belum memikirkannya pa, aku perlu waktu." Al memperhatikan ayahnya yang tersenyum kearahnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan Al?" tanya Arya.
Al hanya diam saja menatap kearah ayahnya. Apa mungkin ayah sudah tahu dengan perasaan Al yang mulai berubah bahkan terlihat gelisah.
Arya menarik napasnya melihat Al yang hanya diam saja. "Kamu sudah dewasa Al, kamu pasti mengerti dengan apa yang menjadi harapan orang tua."
__ADS_1
"Tapi pa, kenapa harus dijodohkan?" tanya Al yang tampak kecewa dengan keputusan papanya mengenai hidupnya.
"Hanya itu satu-satunya cara agar kamu tidak salah dalam memilih pasangan hidup. Papa tahu, selama ini kamu tidak mengenal perempuan dengan baik bahkan tidak ada seorang pun yang dekat denganmu. Iyakan?" tanya Arya untuk memastikan argumennya. Arya menatap kearah Al yang hanya menatap kosong buku yang dipegangnya.
Al menatap kearah ayahnya. "Aku sedang dekat dengan seseorang pa." Tanpa ragu Al menjawab dan mematahkan argumen Arya.
"Itu bagus, kamu ajak dia kesini. Ayah ingin mengenalnya."
Al menganggukan kepalanya. Ia tersenyum sumringah setelah mendengar kata-kata ayahnya barusan, tidak ada penyangkalan dan paksaan.
Arya segera berlalu dari hadapan Al untuk menuju kearah ruang kerjanya. Ia ingin memberi ruang dan waktu terlebih dahulu untuk Al sebelum ia memutuskan semuanya.
Ingatan Al kembali kepada sosok Alis, namun dibayangi dengan keberadaan sosok Riyan. Al kembali kecewa, hatinya sudah merasa patah melihat kedekatan Riyan dan Alis. Al meraba dadanya yang terasa berdenyut. Perasaan asing ini kerap menghinggapi dirinya.
💦💦💦
"Ma, pa. Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian." Riyan menatap kedua orang tuanya yang sedang berada dirumahnya. Selepasnya dari ruangan Alis tadi, Riyan mendapatkan telpon dari ayahnya yang mengajaknya ingin bertemu.
"Alis sekarang sedang berada dirumah sakit." Riyan menjeda kalimatnya, ia menatap kearah orang tuanya yang tampak sangat terkejut. Bahkan ayahnya tampak menangis.
"Dia kenapa Yan?" Ayahnya bertanya dengan perasaan pedih. Hatinya begitu terluka mendengar kabar ini. Ia begitu sangat merindukan sosok Alis, putri kecilnya.
"Dia terluka pa, dia menyakiti dirinya sendiri." Jawab Riyan sambil menengadahkan kepalanya keatas. Ia menyugar rambutnya dengan perlahan.
"Alis melihat keberadaan Alifa disekolahnya tadi pagi pa." Bastian menatap dengan membelalakan matanya kearah Riyan. Ia paham sekarang, itu artinya Alis sedang trauma.
Isakan keluar dari mulut istrinya yang mendengar penjelasan Riyan. Hatinya kembali bergelut, bahkan sesal ini belum juga hilang, sekarang ditambah dengan perasaan bersalah semakin membesar.
"Lalu, sekarang bagaimana keadaannya?" Bastian menatap kearah Riyan kemudian menatap kearah istrinya yang menangis sesenggukan.
Riyan menarik napasnya dengan perlahan. "Setelah dia bangun tidur siang tadi, ia tampak menangis mendadak setelah mendengar pertanyaan dari sahabatnya. Jadi, untuk sementara waktu, aku minta agar papa menahan keinginan papa dulu untuk menemuinya. Aku takut pa, dia akan melakukan hal lebih." Riyan menatap kearah ayah dan ibunya. Ia merasa sangat bersalah mengucapkan kata-kata itu. Seolah-olah memisahkan antara ayah dan anak. Tapi mau bagaimana lagi, semua perlu waktu.
Arya menatap Riyan dalam. Ia tampak kecewa dengan keputusan Riyan tersebut. Namun ia juga berharap agar Alis segera sembuh. Ia begitu merindukan sosok Alis yang keberadaannya ternyata sudah lama diketahui oleh Riyan. Dan baru kemarin Riyan mengatakannya pada mereka. Apa mau dikata, semua kesalahan berawal darinya, ya. Semua masalah berawal dari ketidak percayaannya pada anaknya sendiri. Ia kembali hanyut dalam sesalnya.
"Izinkan papa melihatnya dari jauh." Bastian menatap penuh harap kearah Riyan.
__ADS_1
Riyan menganggukan kepalanya. Dan disambut dengan pelukan oleh Bastian. Riyan berharap, setelah ini keluarga mereka kembali utuh seperti dulu, bahkan dipenuhi dengan teriakan dan rengekan manja adiknya. Riyan meneteskan air matanya yang sejak tadi ditahannya. Ia benar-benar merindukan keluarga utuh mereka.
💦💦💦