
Mereka semua sudah berada di ruang tamu. Tampak saling bungkam dan saling melirik satu sama lain, termasuk Jessica yang sejak tadi menatap iri kearah Alis yang tampak lengket disamping Rafael.
"Emmm, jadi bisakah kamu ceritakan sesuatu pada kami?" tanya Bastian yang memecah keheningan. Ia juga bingung dengan situasi ini.
"Yaska! Antarkan gadis ini kerumahnya!" perintah Rafael pada asistennya. Dengan cepat Yaska mengangguk dan berjalan menghampiri Jessica.
"Nona, sebaiknya nona pulang dahulu kerumah nona untuk membersihkan diri ataupun beristirahat atau juga sekedar memberitahukan pada keluarga nona tentang keadaan nona."
Jessica melotot dan berdecak tidak suka, ia menatap kearah Rafael dengan tatapan memelas, ia masih ingin bersama dengan Rafael disini.
"Nona, sebentar lagi nona akan dipanggil ke kantor polisi untuk dimintai keterangan, apakah nona masih ingin berpenampilan kumal seperti ini?" bujuk Yaska sekali lagi pada Jessica yang sangat keras kepala.
"Kumal?" Jessica menatap dirinya sendiri. Ia melirik kearah Rafael yang sejak tadi acuh padanya. Rasanya harga dirinya baru saja di injak-injak.
Semua yang ada disana semakin bingung setelah mendengar ucapan Yaska barusan, apakah Jessica juga termasuk salah satu korban penculikan.
"Aku tidak ingin pulang! Tante, tolong izinkan aku untuk membersihkan diriku di rumah ini," pinta Jessica pada Shakila. Ia sudah duduk bersimpuh dihadapan Shakila dan menggenggam tangannya.
Shakila menatap kearah semua orang, ia juga menatap kearah Rafael yang tampak acuh. "Baiklah. Ayo ikut dengan Tante." Meraih tangan Jessica dan membawanya pergi dari hadapan semua orang untuk menuju kearah kamar tamu yang berada tidak jauh dari tempat mereka.
"Jadi, apa maksud dari semua ini?" tanya Bastian menatap dalam kearah Rafael setelah kepergian istrinya dan juga seorang gadis yang tidak dikenalnya. Matanya beralih menatap Alis yang terlihat sedikit gugup. Tidak biasanya ia bersikap seperti itu dihadapan semua orang. Ada apa dengannya?
"Kami hanya mengantar Alis kesini karena dia sangat ingin bertemu dengan keluarganya, kalian sudah melihatkan keadaannya baik-baik saja. Jadi kalian tidak perlu khawatir lagi karena aku selalu menjaganya dengan baik."
Bastian mengangguk, semua yang ada disana hanya terdiam menatap kearah Alis dan Rafael secara bergantian. Bahkan sejak tadi Januar dan Riyan tidak melepaskan mata mereka dari tangan Rafael yang bertengger manis dipinggang Alis.
"Lalu, bagaimana dengan gadis itu?" tanya Januar.
"Gadis itu korban pelecehan saat kami dalam perjalanan kesini. Nona Alis yang pertama kali melihatnya dan kami menolongnya," jawab Yaska.
"Dia temanku, pa," sela Alis.
"Pantas saja aku merasa familiar dengan wajahnya. Diakan yang sering membullymu di sekolah," ucap Riyan tanpa merasa bersalah sedikitpun dengan ucapannya.
Rafael terkejut mendengarnya, ia tidak tahu kalau gadis sekuat Alis bisa mendapatkan bullyan di sekolahnya. Kehidupan macam apa yang sedang di jalani olehnya sehingga ia diperlakukan buruk. Mulai sekarang, Rafael akan menjaga Alis dengan semua kemampuannya, tidak akan ada yang bisa untuk menyentuhnya walaupun seujung kuku.
"Apa yang terjadi dengan Alis diluar sana? Coba kalian ceritakan pada kami," desak Riyan, sesekali matanya melirik kearah pergerakan Alis yang terlihat sangat kaku. Ia tahu kalau Alis merasa sangat tidak nyaman dengan sikap Rafael padanya.
"Aku tidak sengaja menemukan Alis yang sedang diumpankan pada pria hidung belang. Aku menolongnya karena kebetulan aku mengenalnya. Jadi, selama ini Alis tinggal bersamaku!"
Alis mendelik, berdecih dalam hati. "Dialah pria hidung belang itu. Menolong tapi setelah mendapat keuntungan."
Riyan melotot saat mendengar ucapan Rafael barusan, tinggal bersama? Matanya kembali melirik kearah Alis yang semakin menunduk dalam. Gadis kecil itu seperti berada didalam ruang sidang dan dia yang menjadi tersangka utamanya.
"Kenapa kamu tidak memberitahukan pada kami sebelumnya? Kami bisa menjemput Alis dan membawanya pulang?" tanya Riyan yang terdengar geram, ia sudah ingin berdiri namun bahunya ditahan oleh Januar sehingga ia urung melakukannya.
"Alis masih dalam bahaya pada saat itu, jadi kami tidak memberikan kesempatan pada sang tersangka!"
__ADS_1
"Baiklah, ma'afkan aku yang sedikit emosional tadi. Aku tahu kamu orang yang sangat berpengaruh di dunia, tapi bisakah kamu melepaskan tanganmu dari pinggang Alis!" ucap Riyan lagi dengan nada naik satu oktaf. Ia tidak suka ada orang asing yang memperlakukan Alis dengan sesukanya.
Rafael menatap kearah Riyan, ia tidak tahu ada hubungan apa antara lelaki didepannya ini dengan Alis sehingga lelaki itu seperti tidak rela kalau Alis disentuh olehnya.
"Tidak bisa! Sebentar lagi Alis akan menjadi istriku!" ucapnya dingin.
Bastian, Riyan dan juga Januar tampak terkejut mendengarnya. Apa yang mereka dengar barusan tidak salah, seorang Rafael yang terkenal dingin dan sombong bahkan tidak suka pada wanita tiba-tiba menyatakan ingin menikahi Alis, gadis belia yang terpaut cukup jauh dari umurnya.
"Alis! Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Kamu baik-baik sajakan? Ceritakan pada kami!" desak Riyan terlihat sangat khawatir, ia sudah berjalan menghampiri Alis.
Rafael semakin mengeratkan tangannya di pinggang Alis saat melihat Riyan mendekat. Ia tidak mau Riyan menyentuh gadisnya. Tatapan tajamnya memperhatikan gerak-gerik Riyan yang ingin menyentuh bahu gadisnya. Dengan cepat ia menangkisnya.
Alis melongo dibuatnya, begitu juga dengan semua yang ada disana. Seposesif itukah Rafael pada Alis hingga kakaknya sendiri dilarang untuk menyentuhnya.
Riyan melirik kearah Rafael yang menatapnya tajam, ia menahan kesabarannya karena mungkin saja Rafael tidak mengetahui statusnya bersama Alis. Senyum miringnya muncul dibibirnya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu ingin menikah dengannya, bagaimana dengan diriku?" tanya Riyan bermain drama, ia mengerling kearah Alis yang melirik kearahnya.
"Aku tidak___." Seketika Alis terhenti berbicara saat Rafael meremas pinggangnya. Alis melirik kearah Rafael yang bersikap acuh padanya. Alis merasa geram diperlakukan seperti ini. Namun ia tidak bisa berkutik karena Rafael memiliki kartu As miliknya.
Cukup! Cukup sudah sandiwara Riyan dihadapan mereka. Ia penasaran dan menginginkan jawaban dari Rafael dan juga Alis mengenai apa yang sudah mereka alami bersama.
"Dek! Ceritakan pada kakak, apa yang terjadi padamu diluar sana? Tidak tahukah kamu bahwa kami disini sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan mama sampai sering pingsan dan sakit karena kamu menghilang tanpa jejak.
Alis menatap kearah Riyan, ia baru menyadari kalau wajah Riyan sangatlah letih, bahkan kantong mata masih bertengger dibawah matanya. Ia merasa bersalah karena membuat mereka semua khawatir.
"Kamu baik-baik sajakan dan tidak diapa-apakan sama diakan?" Tanya Riyan sambil menunjuk kearah Rafael. Rafael tampak berdecak tidak suka.
"Aku baik-baik saja kak, dia tidak seperti yang kakak bayangkan. Dia sangat baik padaku bahkan menjagaku dengan sangat baik."
"Baguslah!" Ucap Riyan sambil meraih tubuh Alis dan memeluknya. Rafael seketika melotot, ia mengeraskan rahangnya, bagaimana bisa lelaki ini memeluk gadisnya dihadapannya. Yaska berjongkok dan berbisik ditelinganya. Rafael tampak terkejut namun sedetik kemudian wajahnya kembali mengetat.
Tok tok tok
Semua mata yang ada disana menoleh kearah pintu, disana sudah berdiri Arya dan juga Al beserta sahabatnya. Mereka mendapat kabar dari Januar tentang kepulangan Alis.
Dengan langkah tergesa Al menerobos dan langsung mendekap Alis yang baru saja selesai dipeluk oleh Riyan.
Mata Alis seketika melotot, hatinya berdenyut. Dengan perlahan tangannya terangkat untuk membalas pelukan Al, pelukan yang selalu membuatnya tenang. Tanpa tahu kalau wajah seseorang yang berada disampingnya sudah nemerah, menahan geram.
Belum sempat sedetik tangan Alis bertengger dibadan Al, Rafael sudah menarik tangannya. Membuat Al mengakhiri pelukannya. Namun tangannya justru beralih membelai wajah gadis yang sangat dirindukannya. Ia menatap dalam mata hitam yang ada dihadapannya. Mata yang memancarkan kelembutan, kesedihan dan ketegaran.
"Hmmm!" dehem Rafael keras, ia sudah menarik Alis kepelukannya.
Al tersadar dan segera melepaskan tangannya. Ia merasa malu sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Salahkan saja hatinya yang tidak bisa mengontrol dirinya karena sangat merindukan Alis, kekasihnya. Matanya beralih menatap kearah Rafael yang memeluk Alis dari sisi, dahinya berkerut samar saat mendapat pelototan tajam dan tatapan tidak suka dari Rafael. Ia merasa tidak melakukan salah, namun ia juga merasa heran dengan sikap Rafael barusan.
Al menyadari sesuatu, matanya melotot menatap tangan Rafael yang bertengger di pinggang Alis. Ia geram melihatnya, jiwa cemburunya memberontak.
__ADS_1
"Alis, apa kabar?" tanya Irfan memecah ketegangan dan memutus tatapan antara Rafael dan juga Al.
Alis mendongak dan menatap kearah Irfan. "Baik!" Matanya beralih menatap kearah yang lainnya, ia terpaku menatap Arya, ayahnya Al. Alis segera berdiri dan melepaskan tangan Rafael, ia tidak suka pada keadaan seperti ini.
"Alis, aku sudah tahu semua kebenarannya dan aku bisa bernapas lega sekarang. Karena kita bisa bersama selamanya."
Alis menatap Al penuh tanya, ia tidak mengerti apa yang baru saja dibicarakan oleh Al. Al memposisikan dirinya berdiri dan menatap Alis.
"Jadi, kita bisa membicarakan semua ini dan kembali melanjutkan rencana yang sempat kita susun dulu, Bastian!" ucap Arya sambil menepuk pundak Bastian yang berada disisinya, senyumnya mengembang.
Rafael semakin geram menatap Al berada sangat dekat dengan Alis, bahkan tangannya menggenggam tangan Alis dengan erat. Pandangannya sangat dalam seolah menyatakan cintanya dan juga rindunya.
"Alis! Katakan pada semua orang kalau kita akan menikah!" desis Rafael tepat di telinga Alis. Ia juga berdiri tepat disamping Alis. Membuat mata Alis seketika langsung melotot, ia melupakan keberadaan Rafael disisinya. Alis tiba-tiba dihantui rasa gugup.
"Aku mau kedalam dulu, ingin melihat keadaan Jessica." Bergegas Alis berjalan menjauh dari Al dan juga Rafael yang menatapnya hingga menghilang dibalik tembok. Ingin rasanya mereka berdua mengejarnya, namun itu tidak akan mereka lakukan karena Alis menginginkan privasi.
"Arya, sebaiknya nanti saja kita membicarakan semua ini, sekarang kita lebih baik kita fokus untuk menangkap pelakunya terlebih dahulu," ucap Bastian. Ia sadar, karena tidak seharusnya ia mengekang Alis. Alis punya tujuan hidupnya sendiri.
"Arya, perkenalkan dia adalah tuan Rafael, orang yang sudah menolong Alis dan membawanya hingga selamat sampai disini!"
Arya beralih menatap kearah Rafael, ia tidak menyadari keberadaan Rafael disana. Arya menatap kearah Rafael dan mengangguk hormat, ia sangat mengenal tentang Rafael, seorang pebisnis muda yang handal didunia.
"Tuan Rafael! terima kasih karena sudah menolong Alis. Dan sesekali aku ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan milikmu!"
Rafael hanya mengangguk saja sambil menatap Arya dengan sorot dingin. Ia tidak suka dengan keberadaan Arya dan semua lelaki yang baru datang. Riyan yang notabennya sebagai saudara tiri Alis saja membuatnya cemburu, apalagi mereka yang statusnya sebagai teman sekolahnya. Matanya beralih menatap kearah Al yang menatap dirinya dengan sorot tidak suka. Dan ia tahu kalau lelaki bernama Al inilah yang menjadi rival sesungguhnya.
"Ma'af tuan Bastian jika saya menyela. Kami sudah menemukan keberadaan penculik Alis. Dia masih dalam perjalanan kesini. Mungkin saja diantara kalian ada yang mengenalinya setelah kalian nanti melihatnya." Yaska sedikit memberitahukan kabar terbaru dari anak buahnya pada semua yang berada disana.
"Wah, kalian memang selalu dapat diandalkan. Bahkan kalian bergerak sangat cepat, lebih cepat dari pergerakan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang," puji Arya. Ia mengagumi sosok dingin yang berada dihadapannya, bahkan anak buah miliknya yang sudah terlatih dan merupakan orang-orang pilihan saja sampai saat ini belum menemukan petunjuk sama sekali.
Rafael hanya mengangguk mendengar pujian yang biasa seperti yang dilontarkan oleh Arya barusan. Matanya kembali beralih menatap kearah ruangan yang sempat dimasuki Alis tadi. Rasanya ia bosan dengan situasi ini. Ia sydah biasa menghadapi orang seperti Arya, memuji, menjilat hanya ingin mendapatkan sedikit perhatian darinya.
***
Alis melangkah kekamar yang ditempati oleh Jessica tadi. Ia membuka pintu dengan perlahan dan melongok kedalam, tidak menemukan keberadaan Jessica disana. Samar-samar ia mendengar suara tawa yang renyah berasal dari ruang dapur. Dengan langkah lebar ia berjalan menghampiri ruang dapur. Matanya menelisik keberadaan Jessica yang sedang sibuk bersama ibunya dan juga pembantu mereka.
"Alis!" sapa Shakila saat ia berbalik. Ia berjalan menghampiri Alis yang masih diam menatap kearah mereka berdua. "Bantu mama untuk membawa minuman dan juga cemilan ini kedepan!" ucap Shakila.
Alis mengangguk, ia melangkah mendekati Jessica yang sudah berganti baju. Gaun selutut berwarna peach sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna putih pucat.
"Alis, kamu tidak perlu repot-repot, biar aku saja dan juga bibi yang mengantarnya kedepan," ucap Jessica merasa tidak senang dengan kehadiran Alis. Sampai sekarang ia tidak tahu kebenarannya kalau Alis adalah putri dari Bastian pemilik rumah ini.
Alis memgangguk dan dia segera keluar ruangan dapur bergegas menghampiri tangga. Ia naik keatas menuju kearah kamarnya. Rasanya ia sangat merindukan kamarnya dan juga suasana tenang dan sunyi.
Seketika langkahnya terhenti saat ada seseorang yang memanggilnya dari bawah. Alis berbalik dan menatap kearah Shakila yang melihat kearahnya dengan penuh tanya.
"Aku mau istirahat ma, aku capek!" sahut Alis. Ia kembali meneruskan lamgkahnya menuju keruang kamarnya. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak untuk menghalau rasa gundah yang menghampirinya.
__ADS_1
💦💦💦