Layangan Kertas

Layangan Kertas
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Sepulang sekolah Alis langsung menuju kantornya. Hari ini ia hanya memeriksa berkas dan menandatanganinya saja.


"Lis, ini berkas hasil dari rapat dengan perusahaan Rhys Corp. Dan pemiliknya ingin mengadakan pertemuan langsung dengan pemilik perusahaan ini." ucap Januar.


"Kapan?" tanya Alis masih dengan menatap berkas yang ada ditangannya.


"Mungkin minggu depan. Tapi, beliau akan mengkonfirmasi ulang."


"Kenapa begitu?" tanya Alis


"Mungkin beliau menyesuaikan dengan jadwal yang sudah ada."


Alis menganggukan kepalanya mengerti. "Kakak atur saja jadwalnya, nanti beritahu aku." jawab Alis sambil merapikan berkas yang sudah ditandatanganinya. "Ini, berkasnya. Sudah diperiksa juga." Alis menyerahkan berkasnya pada Januar. "Oh ya ka, sore ini aku pulangnya lebih awal." Alis menatap kosong kearah depan, kemudian ia menarik napasnya yang terasa sesak.


Januar menatap kearah Alis yang terlihat dalam keadaan tidak baik. Januar sudah tahu bahwa hari ini keluarga Alis dan keluarga Naufal akan bertemu. Tidak biasanya Alis bersikap begini, mencampur adukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Pastilah bebannya sangat berat dan bahkan ia seperti tertekan.


"Lis, semua akan baik-baik saja, percaya pada kakak. Kalaupun ada masalah kedepannya, kakak harap kamu akan menyelesaikannya bukan malah lari ataupun menghindarinya. Apalagi kamu sudah dewasa dan mungkin sebentar lagi juga akan menikah."


Alis terlihat sangat sedih mendengar kata menikah. Haruskah ia hidup bersama orang yang belum dikenalnya bahkan tidak dicintainya. Alis memejamkan matanya sesaat saat bayang-bayang kebersamaannya dengan Al melintas dibenaknya.


"Lis, walau bagaimanapun, kamu harus menghadapinya. Dan menghormati keputusan orang tuamu selagi itu baik bagimu. Kakak keluar dulu." Januar melangkahkan kakinya menuju kearah pintu. Sesampainya ia didepan pintu dan tangannya sudah memegang gagang pintu, ia menoleh sebentar menatap kearah Alis, ia merasa prihatin pada gadis didepannya ini yang selalu menghadapi masalah yang tidak berkesudahan. Gadis yang terlihat tegar dan kuat namun didalamnya sedikit rapuh. Januar melangkahkan kakinya keluar ruangan Alis untuk menuju kearah ruangannya.


Sedangkan Alis tampak sedang melamun sambil menatap keluar melalui jendela kacanya. Ia menatap hamparan gedung-gedung yang menjulang dan jalanan dibawah sana yang tampak padat merayap.


Sejak 2 jam yang lalu sehabis ia melamun, ia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Bahkan kali ini ia sangat fokus hingga tidak menyadari keberadaan Januar yang sudah berdiri dihadapannya.


"Lis, waktunya pulang." ucap Januar.


Alis memperhatikan jam yang tergantung di dinding ruangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Masih ada waktu 2 jam dari acara pertemuan tersebut.


Bergegas ia berdiri dan melangkah keluar ruangannya menuju kearah lift yang dikhususkan bagi staf petinggi perusahaan.


"Ka, antar aku kebutik dulu, soalnya mama sudah menunggu disana." ucap Alis sambil melihat notif pesan yang dikirimkan oleh ibunya. Januar hanya mengangguk saja.


Mereka memasuki lift hanya berdua saja. Tidak ada hal yang dibicarakan. Januar tampak sibuk dengan handphonenya sedangkan Alis tampak asyik dengan bukunya.


"Pertemuannya dimana Lis?" tanya Januar menatap kearah Alis dan menyimpan handphone tersebut kedalam kantong celananya.

__ADS_1


"Yang mama bilang sih direstoran mewah, sesuai dengan kelasnya mungkin." jawab Alis yang tampak terkekeh karena merasa lucu dengan ucapannya.


"Nanti, setelah dari butik, kamu dijemput atau __" belum sempat Januar menyelesaikan kalimatnya, Alis sudah menyela terlebih dahulu. Januar meringis saat melihat Alis yang terkekeh sendiri dengan kekehan yang terdengar mengerikan ditelinganya. Seperti kekehan yang berusaha menutupi rasa sakit.


"Sudah ada sopir yang jemput." jawab Alis sambil memasuki mobil yang sudah di bukakan oleh Januar pintunya terlebih dahulu.


"Kakak pikir, kakak yang jemput. Soalnya kakak juga penasaran dengan lelakinya." Januar tersenyum sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Alis menatap kearah luar jendela, rasanya ia belum siap untuk bertemu dengan lelaki yang dijodohkan dengannya tersebut. Namun, siap ataupun tidak siap, dia tetap akan menghadapinya.


Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti didepan sebuah butik ternama. Alis turun dari mobil Januar dengan disambut oleh Shakila, ibu tirinya.


"Sayang, kamu udah sampai. Ayo kita masuk kedalam untuk mencari gaun yang cocok denganmu." menggandeng tangan Alis untuk masuk kedalam butik.


Alis melirik beberapa kali pada gaun-gaun pengantin yang dipajang didalam kaca. Gaun itu begitu mewah dan indah, tapi ia sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu.


"Ayo! sini, gaunnya sudah mama siapkan buat kamu." Shakila memperlihatkan gaun selutut yang berwarna pink dengan lengan 3/4, ada hiasan brokat dipinggiran dadanya. "Ayo coba sana." tersenyum senang.


Alis hanya mengangguk saja dan mengambil gaun tersebut lalu masuk keruang ganti. Ia menatap dirinya dicermin besar didalam ruangan ganti tersebut dengan tatapan prihatin. Dengan langkah lambat ia keluar menuju kearah ibunya.


"Wah! anak mama memang cantik." ucap Shakila sambil menghampiri Alis.


"Wah, memang anaknya jeng Shakila kok yang cantik, memakai apapun juga pasti cocok loh." ucap Maya yang memperhatikan Alis dari atas sampai bawah. "Tinggal dipoles sedikit make-up maka penampilannya akan sempurna." Maya memutari tubuh Alis.


Alis hanya diam saja, ia merasa tidak nyaman karena diperhatikan dengan seksama seperti itu.


"Atur aja jeng Maya." ucap Shakila.


Maya mengangguk, ia menepuk tangannya sekali maka datanglah seorang pegawainya dan menggiring Alis menuju keruang rias agar wajahnya diberi sedikit riasan.


Shakila duduk dengan tenang sambil memeriksa handphone yang ada ditangannya, sepertinya ia sedang sibuk berbalas chat dengan suaminya. Selama 30 menit lamanya ia menunggu, akhirnya Alis muncul juga dengan dandanan sederhananya namun sangat pas dengan tubuhnya. Rambutnya yang dicurly, memberi kesan lebih dewasa dari umurnya, make-upnya juga sangat natural, cocok untuk usianya yang masih dini. Shakila berdecak kagum dibuatnya melihat Alis yang tampak berbeda, ia yakin kalau calon tunangan Alis pasti tidak akan menolak dengan anak gadisnya. Tapi masih ada yang kurang.


"Alis, senyum sedikit dong sayang. Biar tambah manis dan cantik." ucap Shakila saat mengingat ekspresi Alis yang sejak pertama bertemu tadi tidak menampakkan senyumnya sama sekali.


Alis menatap kearah ibunya dan memberikan sekilas senyum tipisnya.


"Nah, gitu dong. Yuk kita berangkat." Shakila menggiring Alis menuju kearah mobil yang sudah menunggu mereka.

__ADS_1


Selama diperjalanan, Alis hanya memandang keluar jendela yang sudah menggelap, menyisakan cahaya lampu yang bertebaran disetiap sudut jalan dan bangunan. Ia tidak menyadari kalau mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat didepan restoran mewah.


Shakila menatap Alis dengan perlahan. Ia berpikir, apakah keputusan ini sudah benar diambilnya ataukah salah. Namun ia tidak ingin memikirkan semua itu dulu, karena semua sudah terlambat bahkan mereka sekarang sudah berada dimenit-menit menuju detiknya saja.


"Alis, udah sampai. Turun yuk!" ucap Shakila sambil membelai punggung Alis.


Alis berpaling menatap kearah ibunya dan memperhatikan suasana didepannya. Ia mengangguk dan turun dari mobil. Ia meraba dadanya, ada rasa sakit dan perasaan yang tidak rela. Dengan memejamkan matanya sesaat, ia menurunkan kakinya dari mobil.


"Ayo sayang kita masuk!" Shakila meraih tangan Alis dan menggandengnya untuk memasuki restoran mewah tersebut. Ia menghampiri resepsionis dan menanyakan ruangan yang sudah dipesan oleh keluarga Subhan dan Arini.


Alis hanya mengikuti langkah ibunya saat mereka memasuki lift untuk menuju kearah lantai dua.


Alis kembali meraba dadanya yang berdebar dengan sangat kencang saat mereka sudah berada didepan ruangan yang dimaksud. Dengan menggenggam kedua tangannya dengan erat, Alis melangkah masuk kedalam ruangan dibelakang ibunya.


"Alis, udah datang sayang. Wah, kamu sangat cantik. Pasti Naufal akan kagum melihatmu." Arini menghampiri Alis, ia memeluk dan mencium kedua pipi Alis, begitu juga dengan Shakila. Ia menyuruh Alis untuk duduk pada kursi yang sudah ada, tepat disamping kakaknya Riyan.


Alis hanya mengulas senyum kakunya, ia duduk disamping Riyan tanpa ingin menatap kemanapun. Ia mengeluarkan buku yang diam-diam dibawanya didalam tas selempangnya. Buku komik kecil, itu hanya sebagai pengalihan dari rasa tidak senangnya dengan situasi ini. Ia tidak mau terlibat percakapan apapun yang sedang dibahas oleh kedua keluarga.


"Dek, kamu baca komik, sejak kapan?" tanya Riyan dengan berbisik. Sejak Alis pertama kali datang hingga sekarang, Riyan terus memperhatikannya. Alis terlihat sangat dingin walaupun penampilannya berbeda, ia tetaplah Alis yang sulit tersenyum, namun juga ada sedikit rasa sakit yang disembunyikannya.


"Baru saja." jawab Alis acuh dan tetap fokus pada bukunya, namun hatinya sedang resah memikirkan semua yang ada didepan matanya.


"Ma'af, aku terlambat." ucap lelaki yang ada didepan Alis. Alis merasa familiar dengan suara itu, namun ia sama sekali tidak ada keinginan untuk melihatnya.


Aldo menatap kearah Alis dengan kagum, Alis terlihat berbeda malam ini, dia kelihatan sangat cantik dari biasanya. Aldo berharap agar Alis menatap kearahnya walaupun untuk sebentar saja.


"Baiklah, karena sudah berkumpul semuanya. Acaranya kita mulai saja." ucap Bastian sambil menatap semuanya. Alis dengan segera memasukkan bukunya kedalam tasnya, namun ia masih enggan untuk mengangkat kepalanya.


"Sesuai dengan permintaan Subhan, maka kami setuju untuk meneruskan perjodohan ini. Namun, kami sebagai pihak tertua ingin menanyakan kepada yang bersangkutan terlebih dahulu, apakah setuju untuk ini, agar perjodohan ini bisa kita teruskan ketahap selanjutnya." Bastian menatap kearah Alis dan juga Aldo. "Alis, apa kamu setuju dengan perjodohan ini?" tanya Bastian.


Alis meremas tangannya yang ada dibawah meja, ia begitu bingung. Wajahnya terlihat sangat kaku. Riyan menggenggam tangan Alis untuk memberikan sedikit semangat. Dengan perlahan Alis mengangkat wajahnya, matanya bersitatap dengan mata Aldo. Alis membola, ia begitu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Aldo sedang tersenyum kearahnya. Alis menatap kearah ayahnya dan melirik kearah Aldo. Dengan kode mata, ia memberi isyarat yang diangguki oleh Aldo.


"Yah, Alis ingin bicara empat mata dulu dengan Aldo." ucap Alis yang diangguki oleh semua yang ada disana. "Tapi sebelum itu, Alis ingin agar kalian semua yang ada disini bisa menghargai keputusan kami nantinya, apapun itu. Walaupun itu bertentangan dengan keinginan kalian."


Semua yang ada disana tampak menatap serempak kearah Alis, mereka saling memandang dan mengangguk.


"Apapun keputusan kamu, kami akan terima. Walaupun itu tidak sesuai dengan kehendak kami." ucap Subhan mewakili semuanya.

__ADS_1


Alis mengangguk, ia berdiri dan berjalan keluar ruangan dengan diikuti oleh Aldo.


💦💦💦


__ADS_2