Layangan Kertas

Layangan Kertas
Pembicaraan Empat Mata


__ADS_3

Selepas Alis pergi suasana ruang tamu tampak mencekam, sejak tadi Al dan Rafael saling menatap dengan tatapan tajam. Seolah-olah mereka sedang perang batin.


"Mari di minum airnya dan juga cemilannya," ucap Shakila yang membawa nampan ditangannya bersama Jessica dan juga seorang pembantunya. Ia terkejut melihat kedatangan Al dan juga Arya sahabat suaminya.


"Eh, ada nak Aldebran, kapan datangnya?" tanya Shakila berbasa-basi dengan senyum yang tidak pernah luntur dari bibirnya. Alasannya suasana hatinya sedang baik.


Jessica tidak dapat melepaskan tatapannya dihadapan Rafael, bahkan matanya berkedip-kedip disertai dengan wajahnya yang memerah. Dengan gerakan lambat ia meletakkan cangkir teh dihadapan Rafael, senyumnya mengembang dengan sangat manis. Pria ini benar-benar tampan dimatanya sehingga ia melupakan keberadaan Al dan ketiga sahabatnya yang menatap heran dirinya.


"Loh Jess, kok kamu bisa ada disini?" tanya Irfan bingung sambil menatap kearah Jessica yang sama sekali tidak dapat memalingkan wajahnya dari wajah Rafael yang tampan.


"Bisa ajalah, inikan bukan rumahmu!!" sahutnya judes. Ia masih menatap Rafael yang acuh padanya.


"Abang Rafael, itu minuman buatan Jessica. Manis tidak? Apa semanis Jessica rasanya?" tanya Jessica dengan gaya centilnya.


Seketika Rafael mengurungkan niatnya yang ingin meminum teh tersebut.


"Yaska! Bukankah kamu sangat menyukai minuman ini, cepat! Ambil kesini!" Perintahnya pada Yaska. Wajah Jessica seketika berubah menjadi masam dan dongkol saat mendengar Rafael menolak buatannya. Tapi tidak apa-apalah, ia akan berusaha lagi untuk mendapatkan perhatian Rafael.


"Jess, kesinikan minuman buatan kamu, aku juga ingin merasakannya, apa benar semanis dirimu?" tanya Andra mengerling nakal kearah Jessica, yang dibalasnya dengan cibiran.


"Al, nanti antar aku pulang ya," pinta Jessica yang sudah menatap kearah Al, ia baru menyadari sosok tampan versi lokal tersebut juga ada di rumah ini.


Al melirik tidak suka pada Jessica yang terlihat centil dimatanya, bahkan lelaki yang tidak dikenalnya juga sedang digodanya. Tapi itu baik, setidaknya Rafael dapat sedikit menjauh dari Alis. Dan mungkin Jessica juga sedikit membantu usahanya.


"Jessica, nanti biar Januar yang mengantarmu!" Shakila menengahi.


"Oh iya, Alisnya mana, Tante?" tanya Irfan sambil celingak-celinguk menatap kearah ruangan dalam rumah.


"Iya ma, Alisnya mana? Kok tidak diajak kesini lagi," sambung Bastian.


"Dia di kamarnya. Mungkin dia kelelahan pa, setelah menempuh perjalanan cukup jauh," jawab Shakila. Semua yang ada disana mengangguk. Sedikit ada rasa kecewa dibenak Al karena ia belum mencurahkan sepenuhnya rasa rindunya.

__ADS_1


"Bastian, aku permisi dulu. Soalnya aku masih ada sedikit pekerjaan." Arya berdiri dan disambut anggukan oleh Bastian.


"Al, ayo kita pulang dulu. Biarkan Alis beristirahat, nanti kalau dia sudah siap kedatangan tamu, kamu bisa datang lagi kesini," ajak Arya pada anaknya.


Mereka semua pulang, kini hanya tersisa Riyan, Bastian dan juga Rafael bersama Yaska. Sedangkan Jessica dia sibuk didapur bersama Shakila. Entah kenapa ia merasa nyaman bersama wanita tersebut. Ia yang seumur hidupnya tidak pernah masuk dapur, entah keajaiban darimana hingga ia suka rela membantu Shakila memasak walaupun ia kesulitan.


"Tante, Rafael itu siapanya tante ya? Apa dia keponakan tante?" tanya Jessica disela-sela kegiatannya memotong sayur.


Shakila tersenyum menghadap kearah Jessica. Rupanya gadis muda ini tidak tahu keluarganya, kalau Alislah yang menjadi bagian dari keluarga ini.


"Rafael bukan siapa-siapa tante. Dia hanya orang asing kok," sahut Sakila.


Jessica mengerutkan dahinya, ia menghentikan gerakan tangannya yang memotong sayur, matanya menatap Shakila. Kalau dia bukan siapa-siapanya Shakila, lalu kenapa ia berada disini dan disambut dengan baik. Apa jangan-jangan, Jessica memutar memorinya beberapa saat kebelakang. Matanya melotot menatap kearah Shakila, rupanya dirinya tidak terlalu pintar untuk mencerna semua kenyataan yang dilihatnya tadi.


"Jadi, Alis adalah anak tante?" lirih Jessica, belum hilang rasa terkejutnya. Ia menatap kearah Shakila yang kembali tersenyum padanya dan mengangguk.


"Aliss memang begitu, ia selalu tampil sederhana walaupun punya segalanya, tante juga heran entah kenapa dia lebih suka naik sepeda ke sekolah dibandingkan naik mobil sendiri ataupun diantar sopir. Dia juga menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya."


Jessica tampak pias, rupanya ia salah membully orang selama ini. Pantas saja Angga keuh-keuh melarangnya, apa Angga juga sudah tahu mengenai keadaan Alis yang sebenarnya. Jessica menggenggam tangannya geram, ingatkan dia saat pulang nanti untuk sedikit memberi pelajaran pada Angga. Ah, dia jadi malu sekarang karena sudah mengatai Alis gadis miskin, padahal kenyataannya Alis adalah gadis kaya dan lebih kaya dari keluarganya ataupun keluarga Angga.


"Jessica, kamu kenapa?" Jessica terperanjat saat Shakila memegang bahunya.


"Tidak apa-apa tante," jawab Jessica.


***


"Bos, sebaiknya kita kembali ke hotel saja, nona Alisnya juga sudah berkumpul bersama keluarganya," saran Yaska ditelinga Rafael.


Rafael mengangguk, matanya menatap kearah Bastian. "Kami ingin pulang ke hotel dulu, mungkin besok akan kemari lagi," ucap Rafael yang sudah ingin berdiri namun ditahan oleh Riyan.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu secara pribadi, sebaiknya kamu ikut keruang kerjaku saja." Riyan berdiri dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Bastian dan Yaska yang menatap kearah mereka berdua.

__ADS_1


Rafael mengiringi langkah Riyan, ia sudah tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Riyan, ia sudah dapat menebaknya.


Sesampainya di ruang kerja, Riyan menutup pintu ruangan tersebut dengan rapat, ia mempersilahkan Rafael untuk duduk pada sofa single yang ada disana.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara dirimu dan juga Alis!?" tanya Riyan langsung tanpa berbasa-basi.


"Tidak ada yang terjadi diantara kami," sahut Rafael santai. Matanya menatap kearah Riyan dengan tatapan tenang. Ia memikirkan Alis yang sejak tadi tidak pernah muncul lagi dihadapannya, padahal dirinya masih ingin bersama gadis mungil tersebut.


"Benarkah tidak ada yang terjadi diantara kalian?" selidik Riyan tanpa melepaskan tatapan matanya yang penuh curiga. Rafael mengangguk samar beberapa kali.


"Bagaimana mungkin kamu bisa dengan gamblangnya menyatakan ingin menikahi Alis, padahal kalian hanya saling kenal dalam beberapa hari saja. Bahkan aku rasa kamu juga sangat jarang berinteraksi dengan Alis."


Rafael hanya tersenyum, senyum miring lebih tepatnya untuk menjawab ucapan Riyan barusan. Bagaimana mungkin seorang saudara tiri bisa seperhatian itu pada adiknya, benar-benar mencurigakan. Rafael menelisik menatap kearah Riyan.


"Hei! Jangan menatapku seperti itu, aku masih normal!" ucap Riyan bergidik ngeri melihat tatapan Rafael yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


"Aku juga normal, sebab itu aku ingin menikahi Alis. Dan jangan salah dalam menebak kami selama berada di rumahku karena kami juga berinteraksi secara normal, wajar dan tidak berlebihan."


"Lalu, apa yang membuatmu ingin menikahi Alis? Apa tidak ada wanita yang menarik hatimu selain adikku?"


Rafael memicing tidak suka kearah Riyan karena ucapannya yang tidak sopan. Ia semakin curiga terhadap Riyan.


"Kamu tidak perlu tahu apa alasan seseorang menyukai orang lain, walaupun baru pertama kali bertemu. Apa kamu tidak tahu kalau ada kata-kata 'jatuh cinta pada pandangan pertama'?" tanya Rafael kembali dengan sikap tenangnya.


Rafael tidak tahu apa yang membuatnya ingin selalu bersama Alis. Ia hanya merasakan perasaan hangat, nyaman dan tenang saat berada disisinya.


"Kamu gila! Usia kalian jauh berbeda!" teriak Riyan.


Rafael tampak tersinggung dibuatnya, ia menatap nyalang kearah Riyan.


"Cinta tidak memandang usia!" ucap Rafael dingin, ia benar-benar jengkel dengan sikap kakak tiri Alis tersebut.

__ADS_1


"Baiklah kalau itu maumu. Tapi kamu harus membuktikannya padaku kalau kamu benar-benar mencintai adikku. Datanglah keacara ulang tahun sekolah yang akan diadakan lusa. Karena kamu akan tahu jawabannya disana." Riyan berdiri di ikuti oleh Rafael, mereka kembali keruang tamu yang sudah tampak kosong.


💦💦💦


__ADS_2