Layangan Kertas

Layangan Kertas
Syok


__ADS_3

Sesampainya digedung perkantoran milik Rafael, Alis tampak mengedarkan pandangannya. Ia menatap takjub pada gedung yang terlihat megah dan tinggi. Bahkan yang paling tinggi diantara yang lainnya.


"Wah... setinggi ini? Apa isinya?" gumam Alis masih dengan rasa takjubnya.


Rafael yang mendengar gumaman Alis, memutar kepalanya kearah Alis, senyum tipis terbit dibibirnya. Alis terlihat sangat manis dimatanya dengan tingkah polosnya.


Alis dan Rafael memasuki gedung perkantoran tersebut. Alis dengan sikap pendiamnya dan tanpa senyumnya, sedangkan Rafael dengan tatapan dingin dan gayanya yang angkuh. Sangat kompak untuk keduanya. Semua pegawai kantor tampak menunduk hormat namun menatap heran dengan sikap Rafael kali ini yang membawa seorang gadis yang sangat belia. Gosip yang mereka tahu bahwa Rafael adalah sosok yang tidak pernah terlihat bersama seorang wanita manapun. Dan kali ini ia membawa seorang gadis, pastilah gadis itu sangat istimewa.


Lift berdenting pertanda mereka sudah tiba pada lantai yang mereka tuju. Sejak tadi tidak ada percakapan diantara mereka. Alis yang terbiasa dengan keheningan tersebut hanya mengikuti saja kemanapun langkah kaki Rafael.


"Rafael, sekitar 30 menit lagi kita akan mengadakan rapat dengan dewan direksi," ucap Yaska sambil membukakan pintu untuk Rafael.


"Persiapkan semuanya!" ucap Rafael.


Yaska mengangguk dan menutup pintu tersebut. Sedangkan Alis hanya menatap kearah ruangan Rafael yang tampak sangat luas. Ia berjalan kearah sofa dan duduk disana dengan sebuah buku ditangannya. Buku yang ditentengnya sejak didalam mobil tadi.


"Aku akan mengadakan rapat sekarang, kalau kamu bosan, kamu bisa menonton televisi," tunjuk Rafael pada televisi LCD yang menggantung ditembok tepat dihadapan Alis.


Alis hanya melirik sesaat kearah Rafael dan dia hanya mengangguk samar.


Selepas kepergian Rafael, Alis menutup buku yang dibacanya dan berjalan kearah kaca yang ada disana, ia menatap kearah depan, pemandangan yang ada dihadapannya. Hanya diam dan pikirannya melayang pada negaranya. Ia merindukan tempat kerjanya, rumahnya, keluarganya dan juga merindukan lelaki yang selalu perhatian padanya, Al. Wajah Al selalu terbayang dipelupuknya. Saat Al menyatakan perasaannya dipantai waktu itu, saat terakhir Al bersamanya waktu itu dirumahnya dan saat Al melindunginya. Ia tidak menyangka itu adalah terakhir kalinya ia melihat dan menatap wajah Al. Tatapan Alis beralih pada kedua telapak tangannya. Tangan yang saat itu menyentuh wajah Al dan mengobati lukanya, tangan yang saat itu digenggam oleh Al.


Alis merasakan sakit kepala yang hebat saat ingatannya menerawang pada kejadian waktu itu. Ia ingat, saat itu ia sudah selesai mengobati luka pada diri Al akibat berkelahi dengan preman waktu itu. Namun Al mendapatkan telpon dari ibunya sehingga ia harus pulang kerumah.


Tanpa membereskan kotak P3K miliknya, Alis segera berjalan kearah luar rumahnya untuk mengantarkan Al pulang hingga sampai pekarangan rumahnya.


Al terlihat sangat berat waktu itu meninggalkan Alis, beberapa kali ia menatap khawatir pada Alis. Namun Alis meyakinkan bahwa dirinya akan baik-baik saja selepas kepergian Al.

__ADS_1


Setelah Al memghilang, Alis berbalik bermaksud ingin masuk kerumahnya. Namun dari arah belakang ia merasakan sesuatu yang menancap ditengkuknya. Ia merabanya dan mendapati sebuah jarum bius yang menancap disana. Saat ia ingin mencabutnya, kegelapan tampak menguasainya.


Tanpa sadar emosi Alis tampak memuncak. Ia geram dengan tingkah pelaku yang hanya bisa bersembunyi dibalik kecurangannya. Dengan gerakan cepat, Alis mundur kebelakang saat ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Ia mendelik kearah Rafael yang sudah ada didekatnya.


"Ada apa?" tanya Rafael dengan sorot bingung saat menatap mata Alis yang tampak sedikit memerah.


"Aku ingin pulang!" tutur Alis untuk yang kesekian kalinya. Sekali lagi ia melirik kearah Rafael yang terlihat emosi kali ini. Ia menatap Alis dengan garang bahkan tangannya terkepal erat disisi tubuhnya.


"Aku sudah memperingatimu untuk tidak meminta hal seperti itu berulang kali, namun dirimu tetap meminta. Aku bilang tidak!! ya tidak!!" tegas Rafael dingin.


Alis menatap kembali kearah kaca. Ia tidak terkejut dengan kemarahan Rafael. Rasanya baru beberapa hari ia tinggal dengan lelaki ini, dia sudah hapal dengan tabiatnya dan sering mendengar juga mendapatkan kemarahan darinya. Entah apa yang dipikirkan olehnya hingga melarang Alis untuk pulang kerumahnya. Alasan keamanankah, sungguh bulshit! Bahkan kemarahannya sungguh aneh, tidak beralasan.


"Aku juga punya pekerjaan dinegaraku kalau kamu lupa, bahkan aku juga tidak masuk sekolah selama hampir sepekan. Tapi bukan itu alasanku ingin pulang. Aku hanya merindukan keluargaku, mereka pasti kesulitan mencari diriku. Sementara diriku disini dalam keadaan baik-baik saja. Setidaknya tolong izinkan aku untuk menghubungi mereka." Alis berbalik dan menatap kearah Rafael yang tampak diam, menatap semakin dingin kearahnya.


"Apa kamu tidak betah tinggal bersamaku? Apa kamu tidak suka dengan sikapku yang selalu mengekangmu!?" tanya Rafael tiba-tiba tanpa menghiraukan permintaan Alis. Tanpa sadar tangannya sudah mencengkram kedua belah pundak Alis. Ia menatap Alis dengan sorot yang dingin.


"Baiklah kalau itu yang kamu minta, aku akan mengabulkannya tapi ada syarat dariku!" ucapnya sambil melepaskan cengkramannya. Rafael sedikit menjauhkan dirinya dari Alis. Ia memasukkan tangannya kedalam saku celananya.


"Apa??" tanya Alis yang bergumam dan hampir menyerupai bisikan. Ia masih menatap Rafael yang menatap keluar gedung.


"Setelahnya kamu akan kembali lagi padaku. Kamu kesana harus bersamaku!!"


Alis tampak membola mendengar syarat yang diajukan oleh Rafael. Menyesal ia menanyakan hal seperti itu pada Rafael, karena setiap ucapan Rafael bagaikan titah seorang raja bagi siapapun dan tidak akan bisa dibantah dan dibatalkan. Dia terlalu egois.


"Kenapa bisa?" tanya Alis yang tepat pada saat Yaska dan Marcel memasuki ruangan mereka. Alis melirik kearah mereka berdua yang tampak terdiam menatap dirinya dan Rafael, namun tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap mendekat kearah dirinya dan Rafael yang sedang berdebat.


"Karena bulan depan kita akan menikah!!" tegas Rafael kembali menatap kearah Alis.

__ADS_1


Alis tampak terkejut dibuatnya, ia menatap tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Kejutan macam apa ini. Ia begitu syok mendengarnya, ia merasakan sakit kembali pada dikepalanya, ia merasakan ruangan yang tampak mulai menggelap. Tanpa ia sadari akhirnya Alis jatuh pingsan kelantai.


"Rafael, kenapa kamu mengejutkan dirinya. Sudah aku bilang untuk tidak membuatnya syok karena keadaannya masih tidak stabil!" ucap Marcel yang sudah berlari dan mendekat kearah Alis. Ia bermaksud untuk menolong Alis dan mengangkatnya namun suara Rafael menghentikan pergerakannya.


"Jauhkan tanganmu dari wanitaku!!" ucap Rafael yang sudah meraih tubuh Alis dan memindahkannya ke sofa yang ada disana. Ia menatap wajah Alis yang tampak pucat.


"Periksa dia!!" ucapnya lagi tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Alis.


Marcel hanya menggerutu mendengar permintaan sahabatnya. Bukan, bukan sebuah permintaan tapi sebuah perintah tepatnya.


"Jangan menggerutu, aku masih bisa mendengarnya!!"


Marcel diam dan fokus pada Alis. Ia memeriksa denyut nadi milik Alis dengan tangannya. Dan juga memeriksa detak jantung Alis.


"Dia hanya syok mendengar ucapanmu tadi. Sudah pernah kuperingatkan padamu agar jangan terburu-buru memberitahukan hal itu padanya. Kamu bisa mendekatinya terlebih dahulu, membuatnya merasa nyaman dan ketergantungan padamu. Bukan seperti ini," ucap Marcel kesal.


"Lalu aku harus bagaimana hah? Apakah harus melihatnya pulang terlebih dahulu, ataukah melihat perutnya besar dan hamil anakku baru aku memberitahunya hal itu?" tanya Rafael prustasi. Ia menyorot sendu Alis yang masih memejamkan matanya. Tatapannya beralih keperut Alis yang masih rata dan datar. Apakah mungkin didalam sana benihnya sudah melekat?


"Rafael, apa yang dikatakan oleh Marcel itu ada benarnya. Seharusnya kamu bisa bersabar sedikit dan bujuk dia dengan perlahan," Yaska menimpali.


"Aku tidak paham dengan makhluk yang bernama wanita, mereka terlalu rumit!!" cemooh Rafael dengan delikan tajam kearah kedua sahabatnya.


"Yaska, apakah kamu sudah menemukan pelaku utama penculikan Alis?" tanya Rafael mengubah topik pembicaraan. Ia menyorot semakin tajam saat mengucapkannya. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi ingin menguliti pelakunya yang sudah mengacaukan hidupnya.


"Belum. Mereka terlalu setia untuk membuka mulutnya. Bahkan Dani sudah menyiksanya namun mereka masih menutup mulutnya. Entah apa yang membuat mereka mau disakiti hanya untuk menutupi kebusukan bos mereka."


"Baiklah, aku hanya ingin menunggu hasilnya. Dan ingat! jangan sampai membuatku menunggu lama!" Yaska mengangguk mendengar peringatan dari bos dan sekaligus sahabatnya tersebut.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2