Layangan Kertas

Layangan Kertas
Aku Mencintainya


__ADS_3

Alis tidak memperhatikan langkah kakinya lagi, ia terus berjalan seiring kakinya melangkah. Bahkan sejak tadi mobil milik Rafael terus-menerus mengklaksonnya beberapa kali. Namun Alis sama sekali tidak mendengarnya, ia masih terhanyut dengan kenyataan yang baru saja dihadapinya.


Sedangkan Rafael, dia sengaja mengirim seseorang untuk selalu membuntuti Alis kemana saja sehingga dirinya berakhir disini setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya.


Dengan langkah tidak sabarnya, Rafael meraih tangan Alis, ia menarik dan mendorongnya masuk kedalam mobil. Gadis kecilnya benar-benar mengacuhkan panggilannya.


Alis menatap nyalang kearah Rafael, ia merubah ekspresinya menjadi diam dan kembali fokus, pura-pura bersikap biasa seolah tidak ada beban yang ditanggungnya. Padahal kenyataannya dirinya sedang stres berat.


"Ada apa denganmu? Kamu bahkan seperti gelandangan saat berjalan ditepi jalan seperti itu," ucap Rafael ketus.


Alis mendelik tidak suka kearah Rafael. Semua ini gara-gara Rafael, seandainya ia tidak menginap di hotel waktu itu maka ia pasti tidak akan di lihat oleh Alifa.


"Kamu tidak perlu tahu tentang itu. Semua itu bukan urusanmu." Alis membalas dengan suara ketus. Ia menatap kearah depan, Yaska tampak sangat fokus menyetir.


"Bagaimana kalau itu sekarang menjadi urusanku juga." Meraih helaian rambut Alis dan mengecupnya sekilas. Alis tetap acuh dan membiarkan begitu saja apapun yang dilakukan oleh Rafael padanya.


"Karena besok aku akan mengumumkan pertunangan kita. Ayahmu sudah setuju dengan semua itu," sahut Rafael dengan senyum miring menghias bibirnya.


Alis terdiam mendengarnya, tangannya terlihat gemetar. Sedapat mungkin ia menahan hatinya yang ingin menjerit mendengar berita yang tidak diharapkannya sama sekali.


"Apa maksudmu?"


"Ayahmu sudah merestui kita berdua sayang, untu menikah." Tangan Rafael bergerak membelai rambut Alis dengan gerakan lembut.


"Oh iya. Sebaiknya mulai sekarang, kamu lupakan saja perasaanmu pada anak bau kencur tersebut. Dia pasti tidak menyukaimu lagi setelah tahu kalau kamu pernah tidur denganku."


Skakmat. Alis tidak dapat berucap apapun lagi. Wajahnya tampak memucat, memang benar apa yang dikatakan Rafael barusan. Alis memang tidak pantas bersama dengan Al ataupun bersama dengan lelaki yang di jodohkan oleh ayahnya nanti. Alis memejamkan matanya sesaat, perasaan sesak semakin menghimpit dadanya. Pikirannya berkecamuk memikirkan kehidupannya mendatang dan juga tentang ayahnya. Bagaimana reaksi ayahnya seandainya ayahnya juga tahu mengenai semua ini.


"Apa yang kamu katakan pada ayahku?" selidik Alis.


"Aku tidak bertemu dengan ayahmu sejak aku keluar dari rumahmu kemarin. Hanya tadi pagi, Yaska ada mendapat telpon dari ayahmu yang meminta padaku untuk mempersiapkan pertunangan kita besok. Dan sekarang kita akan kerumah ayahmu untuk membicarakan semuanya, dia yang meminta padaku untuk datang kesana."

__ADS_1


Alis terbelalak mendengarnya. Pikirannya melayang pada ibunya. Mungkinkah ibunya yang mengatakan pada ayahnya. Tapi itu tidak mungkin, karena ibunya adalah orang yang selalu tepat janji. Ataukah kakak Riyan. Mata Alis seketika langsung terbelalak saat ia mrngingat Riyan yang menghilang dari rumahnya tadi malam setelah ia mengungkapkan rasa kekecewaannya pada Alis yang sudah menyembunyikan hal sebesar itu darinya.


Seluruh sendi-sendi Alis melemah, rasanya ia sudah tidak berdaya lagi. Bahkan untuk berkedip pun ia hampir merasa tidak mampu lagi. Luruh sudah sikap angkuh yang diperlihatkannya pada Rafael tadi saat mobil mereka tiba dikediaman orang tuanya. Bahkan disana juga terdapat mobil ysng dikendarai oleh Al saat bersama dirinya tadi.


Dengan perasaan tidak karuan Alis menatap kearah pintu rumahnya yang masih terbuka. Ketakutan seketika langsung menghinggapi dirinya, apalagi setelah ia melihat beberapa mobil lainnya juga terparkir di halaman rumah orang tuanya.


"Jangan takut! Aku akan selalu berada disisimu dan akan selalu melindungimu."


Alis menatap kearah Rafael yang entah sejak kapan sudah berdiri diluar dan sudah membuka pintu mobil yang didudukinya. Alis menyambut tangan Rafael yang sudah terulur kearahnya.


Ia benar-benar takut dan gugup namun ia masih merasa heran karena mobil Al juga berada disini. Apakah ia ada perlu dengan orang tuanya ataukah ia melaporkan tentang kejadian di sekolah pagi tadi.


"Jangan takut, semua akan kita hadapi bersama," Rafael menggenggam tangan Alis dengan erat. Biarlah kali ini ia terdengar egois dalam mencapai tujuannya untuk memiliki Alis. Sebenarnya ia tidak tega untuk membohongi Alis, namun ia sudah terlanjur mengklaim Alis sebagai miliknya dan ia tidak akan pernah untuk melepaskan miliknya pada orang lain apalagi setelah mendengar rencana Bastian yang tetap akan mrnjodohkan Alis dengan anak sahabatnya.


Alis melepaskan tangannya dari genggaman Rafael saat ia memasuki pintu. Matanya menatap kearah semua orang yang ada di ruang tamu. Disana ada Al bersama kedua orang tuanya. Riyan kakaknya, dan juga kedua orang tuanya.


"Anak biadab kamu, selalu mempermalukan orang tua!!" Bastian berjalan kearah Alis, tangannya langsung melayang kepipi Alis hingga Alis tersungkur ke lantai, ia merasakan perih luar biasa pada pipinya, namun lebih perih lagi pada hatinya.


"Kenapa Anda memukul Alis, pukul saya saja! Disini saya yang salah, bukan dia." Rafael menatap Bastian dingin. Ia meraih Alis dan membawanya kedalam pelukannya. Ia tidak suka Alis disakiti oleh seseorang walaupun itu adalah ayahnya sendiri.


"Aku berhak untuk ikut campur karena ini ada hubungannya dengan diriku."


Bastian terdiam setelah mendengar ucapan Rafael barusan, bahkan ucapannya terdengar sangat dingin dan menusuk.


Alis melepaskan pelukan Rafael padanya. Ia menatap kearah kedua orang tuanya. Tangisnya pecah, ia menyesal sudah merahasiakan hal sebesar ini pada ayahnya. Matanya beralih menatap kearah Al yang justru mengalihkan tatapannya. Ia membuang muka dan tidak tega melihat semua yang terjadi didepan mata. Ia tidak dapat berbuat apa-apa kini. Hatinya sakit saat melihat Alis diperlakukan seperti itu oleh ayahnya namun lebih sakit lagi saat melihat Alis didekap oleh pria yang lain..


"Pa, ma'afkan Alis pa. Alis tau kalau Alis salah. Ma'afkan Alis pa," Alis bersimpuh di kaki Bastian namun Bastian justru memundurkan dirinya, menolak sentuhan langsung dari Alis. Ia merasa sangat kecewa pada anaknya, dan tidak menyangka bahwa kehidupan keluarganya bisa semalang ini. Bahkan sudah 2 kali Alis mencoreng nama baiknya. Apakah ini juga sebuah fitnah seperti yang lalu, kejadian beberapa tahun yang lalu.


Bastian mengusap wajahnya frustasi. Sebenarnya ia tidak tega memarahi Alis, namun ia terlalu terbawa emosi hingga refleks memukulnya.


"Alis, sudah. Jangan menangis lagi." Shakila meraih tubuh Alis dan memeluknya, ia membawanya kearah sofa. Menyerahkan segelas air putih untuk Alis. Matanya berair karena tidak tega melihat Alis yang dipukul oleh ayahnya sendiri hingga pipinya lebam.

__ADS_1


"Pa, seharusnya tadi papa tidak perlu memukulnya. Kasian Alis. Disini tidak ada yang salah, Alis diculik dan dibius, sedangkan Rafael dijebak dan diberi obat. Mereka melakukannya secara tidak sadar, itu terjadi bukan atas kemauan mereka sendiri." Shakila menatap suaminya dengan berlinang airmata. Ia benar-benar kecewa dengan suaminya yang tiba-tiba main tangan sendiri.


"Apa yang dikatakan mama itu benar pa, papa seharusnya tidak memukul Alis seperti itu! Kita bisa membicarakannya baik-baik. Apalagi di sekolah tadi, Alis kembali mendapat bullyan dari teman-temannya." Riyan yang sejak tadi hanya diam menjadi penonton, kini angkat suara.


Bastian kembali terlihat frustasi, beberapa kali ia mengusap wajahnya. Matanya beralih menatap kearah keluarga Arya yang sejak tadi diam saja tanpa ingin ikut campur urusan keluarga Bastian.


Walaupun mereka merasa prihatin dengan Alis, tetap mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka tidak tahu permasalahan apa yang dihadapi oleh keluarga sahabatnya, Bastian.


"Baiklah. Lupakan dulu masalah yang tadi. Kita akan membicarakan tentang rencana perjodohan yang sekarang akan kami batalkan, berhubung musibah ini datang pada keluarga kami."


Al dan Alis saling menatap. Dengan cepat Alis menundukkan pandangannya. Ia tidak mengerti dengan pembicaraan orang tuanya, namun ia tidak berani untuk mrmbuka suara.


"Maksud Om apa?" tanya Al bingung.


Tadinya ia hanya disuruh datang kerumah Bastian. Rupanya ayah dan ibunya juga ada disana bahkan kedatangan mereka sudah terlebih dahulu dari dirinya.


"Perjodohan antara dirimu dan juga Alis akan om batalkan. Kamu tidak pantas untuk bersama dirinya, karena masih banyak gadis diluaran sana yang lebih pantas untukmu." Bastian tampak menahan geramnya setelah kembali mengingat anaknya yang sudah ternoda.


Alis terhenyak mendengarnya. Ia tidak menyangka bahwa orang yang akan dijodohkan bersamanya adalah Al. Sedangkan Al, ia tampak terbelalak mendengarnya, karena sangat terkejut dengan semua ini. Tapi ia tidak terima dengan keputusan Bastian yang hanya sepihak menurutnya.


"Tapi om, aku tetap bisa menerima Alis walau bagaimanapun keadaannya. Aku tidak perduli, apakah dirinya masih perawan ataukah sudah tidak perawan lagi," sahut Al.


"Aku tidak setuju! Karena aku yang akan bertanggung jawab untuk menikahi Alis. Kita tidak pernah tahu, apakah Alis akan hamil atau tidak untuk kedepannya. Tidak mungkin aku membiarkan kamu memelihara anakku!!" Rafael tampak memerah menatap kearah Al yang menatap kearahnya dengan tajam. Mereka bertatapan cukup lama seolah sedang perang batin, hingga ucapan Riyan memutus tatapan mereka yang bersitegang.


"Apa yang tuan Rafael katakan ada benarnya. Dia yang lebih pantas untuk bertanggung jawab atas segala perbuatannya."


"Tapi aku tidak setuju. Bagaimana kalau Alis tidak hamil!!" Al berdiri dari posisi duduknya. Ia benar-benar tidak rela posisinya digantikan oleh Rafael. Apalagi gadis itu sudah sangat dicintainya, bagaimana mungkin ia mau melepaskan peluang emas yang sudah ada didepan mata. Ingatkan dia saat pulang nanti untuk menginterogasi kedua orang tuanya.


"Kamu hanya punya tanggung jawab padanya, kamu tidak mencintainya. Lalu, bagaimana ia bisa hidup bahagia bersamamu, sedangkan kamu tidak punya cinta untuknya. Seperti cintaku pada dirinya."


Rafael mengepalkan kedua belah tangannya. Ia merasa terhina karena ucapan anak bau kencur tersebut. Rupanya pemuda ini sedang menantang dirinya.

__ADS_1


"Aku mencintainya!!" tunjuk Rafael pada Alis yang semakin menunduk setelah mendengar perdebatan mereka.


💦💦💦


__ADS_2