
Alis memasuki mobil Al dan menutup pintunya, ia menatap Al yang tampak sangat berbeda dari sebelumnya. Ia terlihat begitu emosi dan tanpa bicara sedikitpun ia menancapkan gasnya dengan kencang. Tanpa sadar, Alis memejamkan matanya dan berpegangan erat pada sealtbeat. Ia berharap mereka akan sampai dengan selamat.
Ciiitttt.
Ban mobil berdecit, Alis menahan beban tubuhnya yang hampir ambruk kedepan dan membentur dasboard. Ia membuka matanya perlahan dan melirik kearah Al yang masih bersikap sama seperti diawal tadi. Alis melepaskan sealtbeatnya, ia memegang gagang pintu mobil dan ingin membuka pintu mobil tapi sebelum itu, Al sudah mencegatnya dengan sebuah pertanyaan.
"Kenapa? kenapa kamu lakukan padaku Lis?" tanya Al dengan berdesis. Ia mencengkram setir mobil dengan kencang untuk menyalurkan amarah dan kekecewaannya. Ia juga kecewa pada Alis yang hingga kini hanya diam saja tanpa menjelaskan apapun padanya.
Alis menatap Al dengan penuh heran. "Apa maksudmu Al, aku tidak mengerti?" tanya Alis sambil berbalik menatap raut wajah Al dan juga tangannya yang kelihatan memutih.
"Kenapa kamu membohongiku Lis?" kembali berdesis dan menatap dengan tajam kearah Alis. "Jawab!!!" ucap Al lagi dengan berteriak.
Alis terperanjat namun ia hanya bisa memejamkan matanya sesaat. Ia tidak paham dengan kata-kata Al barusan. Apa kesalahan yang diperbuatnya hingga Al begitu marah dan berteriak didepannya. Ia mencoba-coba mengingat kejadian sebelumnya, tapi ia sungguh tak tahu dimana letak kesalahannya. Bahkan hingga kini ia juga belum mengerti dengan peringatan Arya saat dimeja makan tadi. Yang ia tahu, Al sangat marah saat mendengar ayahnya memanggil dirinya dengan nama Syaiba. Apakah itu letak kesalahannya. Tapi apa?
"Sekarang kamu keluar! keluar aku bilang!!!" teriak Al dengan tersengal-sengal. Ia begitu emosi dan kecewa karena gadis yang baru pertama kali dicintainya sudah berani membohonginya. Bahkan ia dengan tega menutup fakta yang terpampang didepan mata.
"Al... apa, apa salahku Al?" tanya Alis dengan terbata. "Sungguh, aku, aku tidak paham dengan situasi ini." Alis menatap Al dengan menghiba namun Al tidak perduli, ia mendorong tubuh Alis agar keluar dari mobilnya. Ia benar-benar muak melihat gadis yang berlagak polos didepannya ini.
Setelah Alis turun, Al membanting pintu mobilnya dengan keras dan membanting setirnya untuk berpaling haluan. Tanpa menatap kearah Alis, ia menancapkan gasnya dengan kencang.
Alis tertegun melihatnya. Hanya dalam hitungan detik Al sudah berubah dan membencinya tanpa ia tahu letak kesalahannya.
Alis melangkah dengan gontai kearah rumahnya. Ia menatap kedepan, disana hanya ada kegelapan. Alis mendongakkan kepalanya, ia menatap kearah langit yang sudah menggelap. Disana terdapat ribuan bintang. Ia mendudukkan dirinya dengan perlahan dipadang rerumputan didepan rumahnya. Alis meraba dadanya, ia meremasnya dengan perlahan.
Kenapa sakit saat ia mengabaikanku. Kenapa perasaan ini begitu asing.
Alis kembali menatap bintang, ia teringat dengan sosok Angga. Ia teringat dengan pertanyaan Angga.
"Aku tidak tahu, apakah aku menyukai seseorang saat ini, tapi aku merasa sangat sakit saat ia mengabaikanku bahkan ia melemparkan kesalahan padaku disaat aku tidak tahu dimana letak kesalahan itu." Lirih Alis sambil menyembunyikan wajahnya diantara kedua belah lututnya.
Alis terdiam beberapa saat, hingga ia terkejut saat mendengar suara seseorang dibelakangnya.
__ADS_1
"Alis, kamu kenapa dek?" ucap Riyan yang sudah berjongkok dihadapan Alis dan memegang kedua belah bahu Alis. "Coba ceritakan pada kakak." bujuk Riyan sambil membawa Alis kedalam pelukannya. Ia merasakan pergerakan Alis yang melemah, ia menatap kearah Alis yang sudah tertidur dibahunya. Dengan segera Riyan menggendong Alis dan membawanya kedalam rumah Alis. Ia menatap prihatin pada adiknya yang terlelap tidur. Entah apa yang dipikirkannya hingga Alis begitu kelelahan.
Dengan perlahan Riyan meletakkan Alis diatas ranjangnya, ia melepaskan sepatu Alis dan menyelimuti Alis hingga sebatas dada. Riyan duduk sesaat ditepi ranjang, ia memperhatikan raut wajah Alis yang terlihat resah dan juga sedih namun tidak sedikitpun ada jejak airmata disana. Entah apa yang membuatnya sampai tertekan seperti ini.
Riyan melangkah keluar kamar Alis, ia mengambil handphonenya untuk menghubungi ayahnya dan memberitahukan keadaan Alis yang baik-baik saja bersama dengan dirinya.
"Alis, kemanapun kamu pergi, pulangmu tetaplah kerumah ini. Apa kakak terlalu keras mengekangmu hingga membuat kondisimu seperti ini." gumam Riyan sambil menatap kearah dinding rumah yang dipenuhi dengan lukisan mural.
Riyan kembali mengambil handphonenya untuk menghubungi orang suruhannya yang selalu memantau Alis tanpa sepengetahuannya. Ia akan cari tahu penyebab Alis menjadi seperti ini.
*****
Al termenung dikamarnya, ia meremas rambutnya dengan kasar, dan kembali menatap kearah foto Alis yang ada dimeja nakasnya. Foto yang sempat diambilnya diam-diam saat Alis bermain layangan dahulu. Sungguh ia tak menyangka, Alis begitu tega membohonginya dan menyimpan rapat tentang dirinya yang akan dijodohkan dengan sahabatnya sendiri. Akan bersikap Apa ia kedepannya terhadap Aldo.
Selama ini Al terus mendukung Aldo dan perjodohannya tanpa ingin tahu siapa yang akan dijodohkan bersamanya. Penyesalan kembali menghampirinya saat ia sudah menjatuhkan hatinya pada orang yang salah. Orang yang seharusnya tidak pernah untuk mendapatkan perhatian dan cintanya.
Al sungguh tidak menyangka, Alis adalah Syaiba. Lalu, permainan apalagi yang akan dimainkan oleh Alis untuk menipu semua orang. Atau mungkinkah rumor mengenai dirinya adalah juga benar. Al menggelengkan kepalanya saat pikirannya soal itu menghampirinya.
Tok-tok
Al menatap kearah pintu yang diketok. Ia mengatur deru napasnya agar terdengar kembali normal.
"Masuk! tidak dikunci." ucap Al menginterupsi.
Arya muncul dibalik pintu kamar Al, ia tersenyum dan menghampiri Al yang tampak duduk dan menyandar dikepala ranjang. Ia tahu bahwa putra satu-satunya sedang tidak baik-baik saja.
"Al, papa berharap kamu melupakan gadis sederhana itu dan mau menerima perjodohan yang pernah papa ajukan dulu." ucap Arya sambil duduk dikursi single yang ada dikamar Al tersebut.
Al menatap kearah ayahnya dengan sendu. Ia belum bisa melupakan Alis, walaupun semua ini mendadak dan tanpa bisa dikontrolnya. Namun ia tetap marah karena saking kecewanya dirinya pada Alis. Ia hanya diam saja sambil menatap kearah langit-langit kamar.
"Dia hanya memanfaatkan situasi Al, karena ia merasa berjasa sudah menolongmu dan juga papa. Sebab itu ia bertingkah, hanya ingin agar ia bisa mengambil hatimu. Sadarlah Nak, kamu sudah diperdaya olehnya." ucap Arya lagi. Ia merasa tidak rela Al terjatuh pada gadis sederhana yang pura-pura polos itu.
__ADS_1
Al mengeraskan rahangnya mendengar penuturan Arya seperti itu. "Tidak semudah itu Pa, dan harus papa ingat, Alis tidak seperti itu." ucap Al sarkas.
"Bukankah dia gadis yang dijodohkan dengan sahabatmu, Aldo?" tanya Arya kembali mengingatkan. "Lalu, apa namanya kalau dia tidak memanfaatkan situasi, sedangkan dia sudah hampir bertunangan dengan Aldo." ucap Arya kembali sambil memperhatikan Al yang hanya diam saja.
"Pa, Alis tidak seperti itu, dia gadis baik-baik. Tidak seperti gadis yang papa bayangkan itu." Al menjawab dan menatap dalam kearah ayahnya. Ia ingin agar ayahnya tidak memandang rendah pada Alis.
"Oke, oke. Papa mengerti, kamu sedang dibutakan oleh cinta. Dan cintamu tidak akan pernah sampai Al, karena kamu sudah menghianati persahabatan kalian jika itu sampai terjadi." ucap Arya dengan suara rendah. "Dan satu lagi, tolong kamu pikirkan tentang perjodohan yang pernah papa ajukan dulu. Tapi, semua pilihan ada ditanganmu." berjalan kearah pintu tanpa berpaling pada Al dan menutupnya.
Al menggenggam tangannya dengan kuat, ia membanting apa saja yang ada disekitarnya. Bahkan ia berguling-guling diatas ranjangnya untuk meredakan amarahnya yang meluap. Al berdiri dan bergegas kekamar mandi, ia ingin mendinginkan pikirannya agar kembali tenang.
Prangggg.
Terdengar pecahan kaca dari tempat Al berada. Tangannya sudah dilumuri darah, ia sengaja meninju cermin yang ada disana.
"Al! buka pintunya Al!" Harwinda menggedor-gedor pintu kamar mandi Al dengan keras. Ia yang tidak sengaja lewat, mendengar bunyi sesuatu yang pecah, seperti pecahan kaca dari dalam kamar Al.Bergegas ia masuk dan memperhatikan ruangan kamar yang tampak berantakan, dan ia mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
Al membuka pintu dengan perlahan, ia menatap ibunya yang mengkhawatirkannya dan memperhatikan dirinya dengan seksama.
"Tangan kamu kenapa Al?" tanya Harwinda sambil meraih tangan kanan Al yang masih menegeluarkan darah.
"Bibi, tolong ambilkan kotak p3k!!" teriak Harwinda. Ia menuntun Al menuju kearah ranjangnya. Dan mendudukan Al disana.
"Kenapa ma, dia tega padaku? kenapa dia membohongiku?" tanya Al dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Al, tenangkan dirimu. Dia tidak bermaksud membohongimu, hanya situasinya yang berbeda Al." ucap Harwinda sambil meraih kapas yang sudah dilumuri alkohol. "Dia pasti punya alasan dibalik semua itu."
"Alasannya sudah jelas ma, dia membohongiku dan menipuku." lirih Al.
"Kamu jangan menjudge sebelum tahu kebenarannya. Maka cari tahulah terlebih dahulu sebelum kamu menyimpulkannya. Karena kamu akan menyesal apabila salah dalam mengambil keputusan." ucap Harwinda sambil membalut tangan Al dengan perban. Baru kali ini Harwinda melihat anaknya yang terlihat sangat kacau.
Al kembali diam dan memikirkan kata-kata ibunya barusan. Ia juga sekaligus mempertimbangkan kata-kata ayahnya sebelumnya.
__ADS_1
💦💦💦