Layangan Kertas

Layangan Kertas
Pesta


__ADS_3

Semua mata terpana saat Alis sudah memasuki aula sekolahnya yang sudah disulap dan didekorasi sedemikian rupa untuk acara pesta. Beberapa teman-temannya tampak berdecak melihat penampilannya yang tidak biasanya. Sungguh, kali ini dia terlihat sangat cantik apalagi kalau di hiasi dengan sedikit senyum di bibirnya.


"Alis! Apa kabar? Lama kita tidak bertemu?" Anggalah yang pertama kali datang dan menyapanya. Ia menatap penampilan Alis yang terlihat dewasa dimatanya dari atas sampai bawah.


"Baik. Iya, kita mrmang lama tidak bertemu."


"Kupikir kamu hanya 3 hari diskorsingnya, ternyata sampai mingguan. Dan beruntungnya pesta ini tidak kamu lewati sama sekali."


Alis menatap kearah Angga dengan kaku, ia merasakan aura yang sangat mengerikan saat tatapan matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata biru yang sengaja dihindarinya tadi.


"Sebaiknya kita ke stand makanan dan minuman!" Alis mengajak Angga beralih darisana karena ia merasa sangat tidak nyaman dengan dua pasang mata yang terus-menerus mengawasinya.


Ia berjalan bersama Angga kesalah satu stand makanan dan minuman. Disana tersedia berbagai rasa minuman dengan berbagai warna. Kesemua minuman itu aman dan bebas dari alkohol tentunya.


"Kamu mau minum yang mana?" tanya Angga. Ia beralih menatap kearah Alis yang terlihat gelisah.


"Aku mau jus alvokad saja." Matanya masih menatap kearah kerumunan yang ada didepan pintu masuk. Entah apa yang sedang mereka perebutkan hingga para gadis berkerumun dengan heboh didepan pintu.


"Apa yang sedang mereka lakukan didepan pintu?" gumam Alis sambil menerima minuman yang baru saja diambilkan oleh Angga.


"Biasa. Paling-paling mereka memperebutkan the most wanted sekolah kita, siapa lagi kalau bukan si Al. Kulihat tadi dia baru masuk aula, tau-taunya mereka sudah mengejar seperti seorang penggemar fans."


Alis hanya mengangguk. Matanya beralih menatap kearah Angga yang masih berdiri dihadapannya. Tadinya ia belum sempat memperhatikan penampilan lelaki dingin tersebut. Angga terlihat berkali-kali tampan dengan balutan jas hitam miliknya dan celana bahan hitam. Dengan rambut yang dibuat klimis dan disisir rapi kebelakang. Warna hitam sangat sesuai dengan sifatnya yang dingin didepan semua orang.


Walaupun Angga lelaki yang sangat tampan bahkan lebih tampan dari seorang Aldebran namun pesonanya tidak kalah oleh Al. Dia mempunyai sifat sangat dingin pada orang lain apalagi pada gadis-gadis yang ingin mendekatinya sehingga para gadis hanya berani mengaguminya dalam diam dan juga jarak yang jauh.


"Hmm." Alis berdehem saat ia membandingkan Angga dan juga Al. Segera ia meneguk minuman yang ada ditangannya untuk menghilangkan rasa tidak nyamannya. Matanya kembali melirik kearah beberapa perempuan yang tampak mencibir dirinya.


"Coba kamu lihat deh Wi penampilan Alis, dari atas sampai bawah luar biasa ferfect. Tapi aku yakin kalau gaun yang dipakainya adalah gaun KW alias palsu. Mana mungkin ia dapat membeli gaun semahal itu,menyewanya saja ia perlu menjual tubuhnya terlebih dahulu." Sindir Nadin dengan gaya mencibir tepat berada dihadapan Alis.


Alis hanya diam saja, walaupun sebenarnya hatinya merasa geram dengan mulut Nadin dan Dewi yang mati-matian memojokkan dirinya.

__ADS_1


"Memalukan. Dia pikir orang akan terpesona dengan barang rongsokan miliknya," sahut Dewi.


Alis berbalik dan ingin menjauh dari mereka, namun tangan Angga sudah lebih dahulu mencegatnya. Ia menatap Alis dan menyuruhnya untuk tetap berdiri pada posisinya.


"Apa kalian tetap akan senang setelah kalian tahu sebuah fakta nantinya. Jangan menyesal dan jangan pernah menarik kembali ucapan yang kalian ucapkan nanti saat sebuah fakta terungkap!!" sahut Angga dengan dingin sambil menatap keduanya.


Nadin dan Dewi tampak membungkam, mereka tidak berani melawan Angga yang sebenarnya adalah anak salah satu donator sekolah ini. Ia bahkan sangat berpengaruh dikalangan seluruh siswa.


Mata mereka beralih menatap kearah Alis yang sejak tadi hanya diam dan sibuk dengan minuman yang ada di tangannya.


"Alis!" teriak Liza yang sudah berjalan dengan tergesa-gesa kearah Alis yang sedang bersama Angga. Matanya melirik dan mengkode seperti biasa. Alis mengangguk samar.


"Ngga, aku mau kesana dulu, ada perlu dengan Liza. Kamu nikmatilah pestanya."


Angga hanya mengangguk saja, sesekali ia hanya memperhatikan jalannya pesta.


Para tamu terus berdatangan mengisi aula sekolah yang sangat besar tersebut. Bahkan para orang tua murid juga sengaja di undang untuk meramaikan pesta sekaligus memperkenalkan pemilik sekolah yang selama ini sangat tertutup.


Sedangkan Rafael di salah satu stand minuman sejak tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari Alis. Gadis kecil itu sungguh mencuri perhatiannya semenjak ia menapaki ruangan aula sekolah ini. Dia sangat anggun dengan gaun biru pastel yang pas melekat di tubuhnya.


Namun satu yang Rafael tidak suka. Alis sedang bersama lelaki yang sayangnya tidak dikenal olehnya. Lelaki itu juga sangat tampan, pantas saja Alis merasa sangat nyaman berbicara bersamanya.


"Yaska! Cari tahu siapa lelaki yang sejak tadi menempeli gadisku terus-menerus!" geramnya karena tidak suka melihat Alis yang berhadapan dan saling bertatapan dengan Angga.


Rasanya ia sangat ingin menarik dan menyeret Alis agar menjauh dari lelaki yang nyata-nyata tatapannya menyiratkan rasa sukanya pada Alis. Andainya ia tidak melakukan kesepakatan dengan Al kemarin untuk tidak mendekati Alis, sudah ia pastikan saat ini Alis tidak akan ada di pesta ini. Rasanya ia tidak rela gadisnya menjadi santapan-santapan lelaki playboy ingusan itu.


Tidak lama setelahnya, Yaska tampak kembali kearah Rafael. Ia membisikkan sesuatu ditelinga Rafael. Membuat Rafael menggenggam tangannya erat menahan cemburu dihatinya. Rasanya ingin sekali dia banting gelas yang ada ditangannya seandainya ia tidak sedang berada dikeramaian.


Pergantian musik yang diputar membuat Rafael mengalihkan tatapannya. Ia beralih menatap lelaki yang mendekat kearahnya. Rupanya mereka yang ada disana sangat mengenal dirinya. Patutlah ia menyombongkan dirinya dihadapan Alis, karena bisnisnya ternyata merambah sampai kemana-mana.


Ia juga melirik kearah para gadis remaja yang sejak tadi terus-menerus memperhatikan dirinya. Bahkan mereka terlihat tebar pesona. Tapi tidak akan pernah berhasil karena hati Rafael sudah terkunci hanya untuk Alisya saja.

__ADS_1


"Tuan Rafael, apa kabar? Senang melihat Anda berada dipesta ini juga." Hendri menyodorkan tangannya kearah Rafael yang disambutnya dengan suka cita.


"Seperti yang Anda lihat tuan Hendri. Saya sehat dan tidak kekurangan satupun," sahutnya.


"Lalu, apa yang membuat Amda berada di pesta ini? Apakah Anda salah satu donator disini atau Anda juga tertarik untuk menjadi donator disini?"


"Oh, saya baru saja melihat-lihat keadaan sekolah ini. Semuanya bagus dan juga sesuai dengan kurikulum internasional. Tentu saja nanti saya akan menjadi donator tetap disini."


"Hahaha... iya, Anda memang benar, sekolah ini sungguh luar biasa. Tapi sayangnya identitas pemiliknya dirahasiakan. Padahal semua orang sangat penasaran dengan sosok dibalik sekolah ini."


Perbincangan mereka membuat Rafael melupakan tentang Alis sejenak. Ia tampak meladeni lelaki tua yang sedang berbasa-basi didepannya. Mencari muka lebih tepatnya.


Sedangkan pada bagian yang lain, Al tampak kesusahan karena terus-menerus dikerumuni oleh para gadis di sekolahnya. Bahkan mereka menghalangi tatapan matanya yang sejak tadi terus-menerus mencari-cari keberadaan Alis yang sejak pertama sudah menarik perhatian seluruh tamu undangan yang ada disana.


Ia begitu terpesona dengan sosok Alis sehingga tidak mampu untuk berpaling darinya. Ingin rasanya ia mendekat dan berbincang bersama Alis, namun niatnya ia urungkan setelah mengingat janjinya bersama Rafael. Pantang baginya ingkar janji, karena orang yang tepat janji adalah ciri lelaki sejati.


Alis begitu mempesona dimatanya dengan gaun biru pastel yang senada dengan gaun yang dipakai oleh Shakila. Ia baru kali ini melihat penampilan Alis yang berbeda selain dirinya memakai kaos lengan panjang dan celana jeans dalam kesehariannya.


"Pergi!!" desis Aldo. Membuyarkan lamunan Al tentang Alis. Ia menatap kearah Aldo yang tampak jengah dengan tingkah gadis centil yang berada disekeliling mereka.


Semua yang ada disana segera pergi. Mereka begitu segan dengan sikap Aldo yang terlewat dingin, bahkan lebih dingin dari sikap Angga. Jadi wajar saja para gadis terus-menerus merasa takut dengannya walaupun penampilannya lebih tampan dari Al.


"Padahal Al ganteng bangat malam ini," gerutu salah seorang gadis dengan gaun merah maron ditubuhnya. Walaupun keberatan, ia tetap pergi dari sana.


Al memang terlihat sangat perfect. Dengan balutan jas hitam yang pas ditubuhnya. Kemeja putih sebagai dalamannya. Ditunjang dengan sebuah dasi kupu-kupu berwarna putih melingkar dilehernya.


Seorang pembawa acara tampak naik keatas panggung mengambil alih perhatian semua orang. Ia mempersilahkan semua tamu untuk duduk pada kursi yang sudah disediakan. Untuk para orang tua berada pada kursi tamu sebelah kanan sedangkan untuk para siswa berada pada deretan kursi sebelah kiri.


Acara pertama yaitu pembukaan, langsung di pimpin oleh pembawa acara sendiri. Kemudian acara kedua, mereka mengadakan penyambutan untuk para tamu undangan dengan menghadirkan pergelaran tarian seni modern dan dipadu dengan tarian seni klasik. Beberapa siswa tampak mengadakan tarian dan di iringi oleh musik yang dimainkan oleh para siswa lainnya diatas panggung.


Kemudian acara selanjutnya, sambutan oleh kepala sekolah. Dan disusul dengan sambutan oleh ketua osis yang juga berperan sebagai panitia penyelenggara acara.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2