
Alis berlari kearah tepi jalan yang ditumbuhi oleh rerumputan dan semak liar. Tadinya ia melihat seorang perempuan yang sedang diseret oleh beberapa orang preman. Sepertinya perempuan itu berada dalam bahaya. Ia juga tidak menghiraukan Rafael lagi yang pasti akan marah padanya karena keluar mobil tanpa seizinnya, bahkan secara tiba-tiba.
Alis tampak celingak-celinguk mencari sumber bunyi yang terdengar samar ditelinganya, suara jeritan dan kesakitan seorang perempuan yang minta tolong. Langkah Alis semakin menggiringnya masuk kedalam rerumputan dan pohon kecil pada lahan kosong yang ditumbuhi banyak pepohonan kecil, sekuat tenaga ia memfokuskan pendengarannya pada sumber bunyi. Matanya melotot melihat seorang gadis yang sudah tidak berdaya lagi di keroyoki oleh 5 orang preman, dibawah pohon perdu. Bahkan mereka terlihat melecehkannya dan ingin menelanjanginya.
Terdengar jeritan tangis yang menyayat hati disela tawa para lelaki br*ngs*k tersebut. Alis geram saat melihat mereka yang tampak buas dan dengan tidak sabaran merobek pakaian gadis yang wajahnya tertutupi rambut panjangnya. Ia sudah tidak tahan lagi melihat kebejatan mereka pada wanita lemah dan tidak berdaya tersebut. Sungguh tidak bermoral. Dan tangannya sudah gatal ingin segera menghabisi mereka semua.
"Hei!! Kalian semua. Lepaskan dia!!" tunjuk Alis pada gadis yang sedang mereka perebutkan, ia menatap tajam kearah mereka dengan penuh waspada.
Semua yang ada disana seketika langsung menghentikan gerakannya, mereka menoleh kearah Alis. Seketika tawa mereka membahana, bahkan diantara mereka ada yang meneteskan air liurnya saat melihat penampakan gadis cantik didepan mereka.
"Wow... ada gadis cantik yang ingin menyerahkan dirinya pada kita. Sepertinya kita akan puas hari ini, karena ada dua mangsa sekaligus," ucap salah seorang diantara mereka yang berbadan jangkung. Ucapannya tampak disambut senang dan gelak tawa oleh yang lainnya. Bahkan diantara mereka tampak cengengesan, membuat Alis bergidik jijik. Matanya bergulir menatap sosok perempuan yang masih dipegangi oleh salah seorang diantara mereka. Pakaiannya sudah terlihat compang-camping, robek dimana-mana, sungguh memprihatinkan bagi yang melihatnya, sangat tidak layak pakai.
"Tangkap dia!!!" teriak salah seorang preman jangkung menunjuk kearah Alis. Serentak ke-empatnya berlari kearah Alis, tanpa aba-aba mereka langsung mengelilingi Alis bermaksud untuk menangkapnya. Namun tak disangka, Alis justru menghajar mereka satu persatu. Bahkan ia sudah mengahajar dua diantaranya sampai babak beluk. Ditendang, disiku, dan ditinjunya pada beberapa bagian tubuh mereka. Dia benar-benar murka pada mereka.
Alis kembali menatap kearah dua preman yang tampak marah karena Alis menyerang temannya dengan sangat ganas. Alis sedikit mundur kebelakang, saat ia ingin maju dan menyerang, tangannya sudah dikunci oleh seseorang.
Alis begitu terkejut saat tiba-tiba dirinya ditarik oleh seseorang dengan kencang kearah belakang. Dengan gerakan cepat ia menangkap tangan yang tepat berlabuh dibahu dan tangan kanannya tersebut bermaksud ingin memelintirnya, namun tangan itu sangat kuat mencekalnya. Bahkan dirinya sampai terangkat keatas dan punggunggnya menghantam sesuatu yang keras. Alis berpaling saat ia merasakan hembusan napas hangat seseorang disela telinganya. Pergerakannya brnar-benar terkunci sehingga ia hanya bisa pasrah saja namun tetap memutar otaknya.
Deg.
Alis menatap mata elang itu, yang menatap tajam kearah preman yang ada didepan mereka, namun sorotnya melembut saat menatap kearah Alis. Ia tidak menyadari kalau anak buah Rafael sudah berpencar dan menghabisi mereka tanpa ampun hingga babak belur.
"Biarkan anak buahku yang menghajar mereka. Kamu tidak pantas melakukannya," bisik Rafael sambil melepaskan pelukannya pada pinggang Alis saat ia merasakan pergerakan Alis yang melemah.
__ADS_1
Alis tersenyum dan mengangguk. Sungguh, lelaki ini sangat melindungi dirinya, bahkan ini bantuan yang entah keberapa kalinya diberikan oleh Rafael padanya.
"Terima-kasih," bisik Alis lembut, membuat bulu kuduk Rafael seketika meremang. Ia tersenyum miring kearah Alis.
"Berikan aku kiss disini!" tunjuk Rafael pada pipi kanan dan pipi kirinya. Seketika pipi Alis merona karena kesal dengan sikap Rafael yang tiba-tiba menjadi mesum.
Alis kembali teringat dengan gadis yang ingin ditolongnya tadi. Matanya langsung mencari-cari keberadaan gadis tersebut. Ia merasa kasihan saat matanya melihat gadis itu tampak meringkuk diatas dedaunan kering dan bersandar pada pohon yang sejak tadi ditempatinya. Wajahnya masih tidak terlihat karena tertutupi oleh rambut panjangnya. Alis melangkah dengan perlahan kearahnya meninggalkan Rafael yang menatapnya dengan senyum manis.
Sedangkan preman-preman tadi sangat mudah diringkus oleh anak buahnya yang sangat handal dan terlatih, juga orang-orang pilihan. Atas perintah Rafael, mereka semua digiring kekantor polisi dalam keadaan sangat babak belur.
"Kamu tidak apa-apakan?" tanya Alis sambil mendekat perlahan kearah gadis itu yang sudah menegakkan kepalanya dan menatap kearah Alis. Badannya terlihat masih bergetar dan ketakutan.
Dari jauh Rafael melemparkan jas miliknya yang sudah diambilkan oleh anak buahnya, kearah Alis. Alis tersenyum dan menerimanya. Ia kembali menatap kearah gadis didepannya yang masih meringkuk ketakutan. Alis menyelimutinya dengan jas yang tampak kebesaran ditubuh gadis mungil tersebut. Dengan gerakan lembut ia menyibak rambut gadis tersebut kearah belakang telinga.
Seketika matanya melotot dan menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Alis terdiam kaku, ia terpaku pada gadis yang juga menatap kearahnya dengan kaku. Sudah lama ia tidak melihat gadis cantik ini.
Alis merasa kasihan dengannya, tangannya mengeratkan pelukannya. Mata Alis tampak memerah, ia merasa bersyukur mereka belum merusak Jessica sebelumnya.
"Sudah, kamu jangan menangis lagi. Masih ada aku disini yang akan melindungimu," gumam Alis sambil menepuk-nepuk punggung Jessica dengan lembut.
Jessica tergugu mendengarnya, ia kembali mengeratkan pelukannya, bahkan bahu Alis sudah basah oleh air mata yang terus-menerus tumpah disana. Alis melirik kearah Rafael yang mengangguk kearahnya dan berjalan meninggalkan mereka berdua, ia ingin memberikan privasi pada keduanya.
"Jess, kamu tenangkan dirimu dulu, masih ada aku disini," ucap Alis sekali lagi menenangkan sambil melepaskan pelukannya. Tangannya bergerak dengan perlahan menghapus air mata yang terus bercucuran dimata Jessica yang sudah membengkak dan juga merah.
__ADS_1
Sejak tadi Jessica tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, ia masih merasa syok dengan kejadian yang baru saja dihadapinya. Dan beruntungnya ada Alis yang menolongnya. Dia pikir hanya sampai disinilah umurnya dan juga kehormatannya. Namun takdir berkata lain, masih ada penolongnya, malaikatnya. Ia menatap dalam kearah Alis dan mengangguk.
"Ayo! aku akan mengantarmu pulang." Alis memapah Jessica yang masih lemah dan tidak bertenaga. Setelah Jessica berdiri, ia memakaikan jas ditubuh Jessica dengan benar. Ia menuntun Jessica hingga ketepi jalan. Disana, Rafael sudah menunggunya dengan gelisah, bahkan mobilnya dan beberapa mobil lainnya sudah terparkir didekat dirinya.
Sopir Rafael segera membukakan pintu mobil untuk tuannya, namun Rafel hanya menyuruh Alis dan gadis yang tidak dikenalnya yang bersama Alis untuk masuk dan duduk dibelakang. Sementara dirinya akan duduk didepan bersama sopir.
Sebuah mobil kembali berhenti tepat dihadapan mereka. Yaska keluar dengan sebuah paper bag yang ada ditangannya. Rupanya lelaki itu baru saja dari toko pakaian setelah dirinya mengurus kelima preman tersebut ke kantor polisi. Ia menyerahkan paper bag tersebut kepada Alis.
Alis menyambutnya dengan mata berbinar. Ia menatap kearah Yaska dengan senyum tipisnya. Yaska tidak berani menatap kearah Alis karena ia dapat melihat tatapan tajam dan marah seorang Rafael kearahnya.
"Berterima-kasihlah padanya, karena dirinya yang menyuruh untuk melakukan semua ini. Aku hanya melakukan tugasku saja," jawab Yaska sambil melangkah menjauh dari Alis sebelum ia melihat kemurkaan Rafael padanya.
Alis menatap kearah Rafael yang sudah memalingkan dirinya kearah lain, ia tidak suka Yaska berbicara pada gadisnya. Ia juga tidak ingin menatap kearah Alis lagi karena dadanya semakin berdebar saat senyuman manis itu menghiasi bibir Alis.
"Bantu dia mengganti pakaiannya didalam mobil, sebelum kita mengantarnya pulang!" ucap Rafael tegas.
"Dan kalian semua! Tidak ada yang boleh menatap kearah mobil!" perintah Rafael pada semua yang ada disana. Serentak mereka mengangguk dan berpaling.
Alis menatap kearah Jessica yang tertegun menatap Rafael. Ia tidak sempat memperhatikan wajah Rafael tadi karena ia masih syok dengan keadaannya. Alis menggiringnya kearah kursi mobil. Mereka masuk dan pintu mobil tertutup. Dengan perlahan Jessica melepaskan gaun selututnya yang sudah robek dibagian dada, pinggang dan juga pahanya dengan dibantu oleh Alis.
Jessica mengambil kaos lengan panjang yang diberikan oleh Alis. Ia memakainya dengan perlahan, kemudian dia mengenakan celana jeans dengan berjongkok dan hati-hati. Kemudian dia duduk dengan tenang disamping Alis.
Pintu mobil kembali terbuka. "Sudah selesai, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini," ucap Alis menatap dingin kearah Rafael.
__ADS_1
Rafael berbalik dan mengangguk samar, ia masuk kedalam mobil beserta sopirnya. Mobil mereka melaju meninggalkan tempat yang sepi tersebut.
💦💦💦