
Selepas mengantar Al kerumahnya, Aldo langsung bergerak mencari alamat yang diberikan oleh Arya. Sekitar 23 menit kemudian, ia menemukan alamat tersebut. Ia mengerinyit heran, rumah ini terasa familiar. Ia menatap sekali lagi pada rumah sederhana yang dikelilingi banyak bunga.
"Bukankah ini rumah Alis. Lalu kenapa om Arya memberiku alamat ini? Ada apa ini?"
Aldo menatap sekitar rumah yang tampak sangat sepi, ia begitu penasaran dengan sosok yang bernama Syaiba. Setelah dirasa cukup lama ia mengamati rumah tersebut dan tidak ada pergerakan sama sekali. Aldo melajukan mobil kearah rumahnya, rasanya mustahil menerima kenyataan ini. Tapi, apakah mungkin Alis dan Syaiba bersaudara. Alis orang yang sangat tertutup, sehingga sulit menggali informasi darinya.
Aldo kembali dilanda bingung, ia ingin mengorek informasi yang lebih detail pada orang tuanya. Bukankah orang tuanya sangat mengenal Syaiba dan keluarganya. Tapi tunggu dulu, dia punya saudara dan orang tua, sedangkan Alis adalah orang yang hidup sendiri.
Apa-apaan, Aldo merasa frustasi karena terus membandingkan sosok Syaiba dan sosok Alis, yang menurut cerita dari Arya dan orang tuanya, mereka berdua jelas terlihat perbedaannya.
"Aldo, kamu kenapa sayang?" Arini menghampiri anak ketiganya dengan rasa khawatir, saat Aldo memasuki ruang tamu. Tidak seperti biasanya Aldo bersikap begini dengan pakaian yang berantakan.
"Ma, ceritakan sosok Syaiba padaku, seperti apa dia sebenarnya?" Memposisikan duduknya berhadapan dengan ibunya, agar ia dapat membaca raut muka ibunya saat berbicara.
Arini tersenyum manis sambil menatap anaknya. Jadi, ini toh yang menjadi pengacau pikiran anaknya yang biasanya bersikap dingin dan diam tapi sekarang terlihat berantakan dan awut-awutan.
"Mama dan Ayah pertama kali bertemu sosok Syaiba itu di panti asuhan. Waktu itu ia datang dengan membawa banyak buku, makanan dan mainan untuk anak-anak panti. Ia begitu hangat dan sosok yang penyayang pada anak-anak panti. Bahkan ia juga menjadi guru bagi anak-anak panti, juga sangat suka membacakan cerita bagi mereka." kata Arini panjang lebar sambil mengingat ekspresi Syaiba yang penuh dengan senyum.
"Jadi, menurut mama kalau sosok Syaiba itu orang yang ceria dan murah senyum?"
Arini menatap kearah Aldo yang terlihat begitu penasaran.
"Ya, begitulah. Kamu akan tahu sendiri nanti, apabila sudah bertemu dengan orangnya secara langsung."
"Lalu, bagaimana dengan saudaranya, apa mama juga mengenalnya?"
Biarlah kali ini Aldo banyak bertanya, ia begitu penasaran dengan Syaiba versi mamanya dan Syaiba versi Arya. Apakah orang yang sama ataukah sosok yang berbeda. Ataukah Arya yang sudah salah memberikan alamat padanya.
"Kakaknya bernama Riyan, pemilik Fawwaz Corp yang sudah lama bekerjasama dengan ayahmu. Dia sangat menyayangi adiknya dan yang mama tahu, mereka tinggal bersama. Sedangkan orang tua mereka tinggal diluar negri, mengurus bisnisnya disana."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan Syaiba?"
Arini tampak sangat antusias mendengar Aldo yang banyak bertanya, pasti dia sangat tertarik dengan sosok gadis cantik tersebut. Hatinya bersorak senang memikirkan semua itu.
"Dia gadis yang sibuk. Sibuk dengan sekolahnya. Terakhir mama melihatnya itu dia sedang makan dikafe bersama kakaknya. Dia juga gadis yang sangat sopan, tegas dan juga pintar."
Aldo menganggukan kepalanya. Ternyata benar dugaannya, sosok Alis dan Syaiba adalah sosok yang berbeda. Mungkin Arya hanya keliru dalam menuliskan alamatnya. Yang perlu dilakukannya sekarang adalah mencari sosok gadis tersebut disekolahnya sendiri.
"Aldo kekamar dulu, membersihkan badan."
Arini mengangguk sambil menatap kepergian Aldo yang menaiki tangga untuk menuju kearah kamarnya dilantai atas.
💦💦💦
Alis sedang sibuk bersama Januar dikantornya, ia juga mempelajari beberapa berkas yang akan mereka bahas pada rapat besok.
"Lis, tanda tangan disini." tunjuk Januar sambil menyerahkan sebuah map pada Alis.
"Sekitar 30 menit lagi kita akan bertemu dengan seseorang." Sambil menatap jam yang melingkar ditangannya. "Sebaiknya kita membereskannya sekarang dan langsung berangkat ketujuan." Menatap kearah Alis yang hanya mengangguk saja. Ia melihat Alis yang kali ini bersikap profesional saat awal memasuki kantor tadi, walaupun pagi tadi ia mengalami mode diam namun sepertinya tidak berpengaruh pada pola kerjanya. Sepertinya, ia mampu menempatkan perasaannya pada situasi yang pas. Benar-benar pemimpin yang hebat.
"Memangnya kita mau kemana?" Alis menatap Januar yang sudah memasuki lift.
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri."
Alis mengangguk paham, ia kembali diam dan tidak mempermasalahkan hal tersebut lagi. Kalau Januar sudah berkata seperti itu, artinya Alis hanya diam dan menurut saja.
Tanpa sepatah katapun, mereka memasuki mobil dan melakukan perjalanan yang entah kemana tujuannya. Hanya Januar yang tahu.
Perjalanan yang mereka tempuh hanya memakan waktu 20 menit saja. Mereka telah sampai pada bangunan rumah yang cukup megah dan Alis merasa asing dengan rumah tersebut.
__ADS_1
Pagar tinggi menjulang tampak terbuka dan seorang satpam tampak mengangguk hormat pada Januar, seolah-olah mereka tidak merasa asing dengan Januar.
Siapa pemilik rumah ini dan kenapa Januar seperti sangat mengenal pemiliknya.
Alis terperanjat saat Januar menepuk pundaknya dan menyuruhnya untuk turun.
Alis tampak bungkam menatap kesekeliling halaman yang luas dan banyak ditumbuhi dengan tanaman Anggrek dan juga bunga mawar merah. Mengingatkan Alis pada sosok ibu tirinya yang sangat menyayanginya. Lalu, bagaimana kabar wanita itu sekarang, apa dia baik-baik saja setelah Alis menghilang dari hidup mereka.
"Alisya!!"
Deg.
Suara itu, kenapa suara itu muncul memanggil namanya hanya karena Alis teringat dengan sosok ibunya tersebut. Mungkin khayalannya terlalu tinggi hingga ia mendengar suara yang terdengar nyata ditelinganya.
"Alisya, mama kangen kamu nak."
Alis berbalik saat ia mendengar suara yang sama namun dengan kata-kata yang berbeda. Ia sangat terperanjat saat sosok wanita yang sempat memberikannya kasih sayangnya dulu, sudah berdiri dihadapannya. Alis membatu, tanpa bisa berbuat dan berkata apa-apa. Ia hanya bisa diam sambil menatap wanita paruhbaya didepannya ini yang sudah dipenuhi dengan air mata. Wanita tersebut menghambur memeluk Alis yang tidak merespon sama sekali. Alis terlihat linglung dan hanya diam saja seperti patung manequin.
"Alis, ini mama sayang. Mama merindukanmu." Membelai lembut kedua belah pipi Alis dan kembali memeluknya dengan sangat erat.
Alis tersadar dari lamunannya, ini bukan halusinasi ataupun bayangannya. Tapi ini nyata, ini terasa sangat nyata. Pelukan ini sama hangatnya dengan pelukan dimasa lalu. Namun pergerakan Alis sama sekali tidak terlihat, ia hanya diam dengan tatapan kosong.
"Sudah, kita masuk kerumah dahulu." Shakila menyeka air matanya yang terus-menerus meleleh dipipinya. Kini, rasa rindu dan sakit hatinya sudah terobati. Ia merasa senang melihat sikap Alis yang diam saja dan tidak memberontak sama sekali. Namun, ia juga merasa sedih saat melihat hanya tatapan kosong yang diberikan oleh putrinya.
"Alisya..." Bastian berdiri tepat didepan pintu rumahnya, ia menyaksikan semua yang baru saja terjadi. Sesalnya semakin kuat saat melihat Alis yang tidak merespon sama sekali dan hanya memberikan tatapan kosongnya pada ibunya, padahal dahulunya Alis begitu akrab dan manja pada ibu tirinya tersebut.
Alis kembali bungkam saat melihat sosok ayahnya yang berdiri dihadapannya dan mengulurkan kedua belah tangannya untuk meminta Alis memeluknya. Alis tetap bergeming, ia menatap nanar sosok yang berada didepannya ini. Ingatannya kembali kemasa lalu, saat-saat ayahnya mengusirnya tanpa mendengarkan alasannya terlebih dahulu. Pandangan Alis semakin kosong dan buram bahkan menggelap. Ia tidak menyadari apa yang terjadi selanjutnya setelah samar-samar ia mendengar namanya diteriakkan oleh beberapa orang.
Alis pingsan karena syok dengan kejutan yang belum pernah dibayangkannya terlebih dahulu. Walaupun keinginan untuk bertemu dengan kedua orang tuanya sangat kuat dibenaknya, namun keberaniannya untuk bertatapan langsung sangatlah lemah. Ia sering dibayangi rasa takut karena penolakan dan rasa takut karena kekecewaan.
__ADS_1
Kejutan ini bagai bom waktu yang menghanguskan kesadaran Alis. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya saat ia sadar dari pingsannya nanti.
💦💦💦