Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kamu Tidak Mengenalku


__ADS_3

Aldo menghembuskan napasnya gusar, ia merasa marah pada dirinya sendiri karena Alis selalu membayangi pikirannya. "Ini, pasti karena om Arya yang salah dalam menuliskan alamat rumahnya, hingga bayangan Alis selalu menguasai benakku. Dasar sial!!" maki Aldo pada dirinya sendiri.


Ia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya dengan perlahan. Saat ini Aldo sedang berada diatas rooftop sendirian.


"Do, bagaimana? apa kamu sudah menemukannya?"


Aldo tampak terkejut sekali saat Al bertanya sambil menepuk bahunya. Ia tampak ragu mengatakannya.


"Aku belum mencari alamatnya." bohong Aldo. Aldo merasa bersalah karena membohongi sahabatnya ini, namun ia juga tidak mau kalau sahabatnya akan salah paham dengannya.


"Al, menurutmu bagaimana sosok Alis dimatamu?"


Al mengerinyit heran dengan pertanyaan Aldo kali ini, yang biasanya tidak perduli namun sekarang secara tiba-tiba menanyakan hal seperti ini. Walaupun disela keheranannya, Al tetap menjawab.


"Dia baik, sederhana, pandai berkarya dan aku rasa dia orang yang serba bisa." ucap Al sambil kembali mengingat waktu-waktu yang dilaluinya bersama Alis.


"Suka-suka kamu aja deh Al menilainya, semua dari segi yang baiknya saja. Tapi jangan lupa, setiap manusia juga punya sisi buruknya. Jadi, kuharap kamu tidak melupakan sisi yang satu itu." tiba-tiba Andra ikut menimpali pembicaraan Al dan Aldo.


"Tumben kamu bijak, Dra. Salah makan apa kamu dikantin tadi?" tanya Irfan.


"Sialan kamu, kita belum kekantin, kepo!!" Andra tampak kesal karena Irfan yang mengubah situasi yang tadinya serius menjadi sedikit rusak.


"Aku lihat dari hari kehari si Alis makin bersinar aja." ucap Irfan sambil tersenyum manis.


"Apa maksud kamu?" tanya Al.


"Yang selalu kita tahu, dia selalu masuk trending topik sekolah tiap minggu akhir-akhir ini. Bahkan keberadaannya dimanapun selalu dibicarakan. Padahal dulunya dia sangat tersembunyi." kata Irfan menjelaskan.


"Tapi sayangnya Fan, romurnya yang selalu membuat kuping panas atau setidaknya membuat darah mendidih." sambung Andra.


"Tapi, aku yakin kalau Alis adalah orang baik." ucap Al mantap.


"Suka-suka kamu ajalah Al, orang yang sedang jatuh cinta mana bisa dilawan." cibir Irfan.


"Dasar kamu Fan, kalau kamu yang merasa, juga akan bersikap begini." ucap Al lagi.


"Asal jangan cinta buta saja." sahut Irfan lagi.

__ADS_1


"Al, apa ayahmu tidak salah dalam menuliskan alamat kemarin?" tanya Aldo yang kembali mengubah topik pembicaraan.


"Kurasa tidak, Do. Memangnya kenapa? Apa ada masalah?" tanya Al sambil menatap kearah Aldo.


"Tidak ada, aku hanya takut kalau nanti, alamat yang kucari ternyata tidak ada." ucap Aldo.


"Maksudmu alamat palsu?" tanya Irfan terkekeh. "Seperti lagu dangdut aja." tambahnya lagi.


"Ya, semacam itulah." jawab Aldo.


Al tampak heran, ia memicing menatap Aldo. Ia merasa ada sesuatu yang aneh yang sudah terjadi namun ia tidak ingin ikut campur terlalu dalam. Cukuplah ia memberi jalan saja.


"Disekolah ini, yang bernama Syaiba, tidak ada seorangpun. Bahkan aku sudah memeriksanya diruang kesiswaan." kata Aldo.


"Apa mungkin itu hanya sebuah kode?" tanya Irfan.


"Bisa jadi, dia hanya sedang mengalihkan suasana." jawab Aldo dingin.


"Kurasa bukan karena itu, tapi karena namanya sangat panjang. Sepanjang rel kereta api." jawab Andra tersenyum sumringah.


Yang lainnya tampak diam mencerna kata-kata Andra barusan,mereka menganggukan kepalanya membenarkan kata-kata Andra.


Alis baru saja ingin keluar kantin. Ia sudah dihampiri sang pembuat onar, Alifa dan Jessica.


"Duh, Alis... ck.ck.ck. kasian amat hidupmu, penuh dengan drama. Dari drama miskin hingga drama mellow karena tidak punya uang. Dan sekarang drama pelakor!" ucap Jessica sambil menarik baju Alis.


"Hey!! lepaskan Alis. Kalian yang penuh drama. Drama jagoan." Liza mulai geram melihat tingkah laku Jessica dan Alifa yang akhir-akhir ini sangat mengganggu pihak sekolah.


"Iya, jagoan yang akan membunuh tikus disarangnya." melepaskan tangannya dari baju Alis dan mengibaskan tangannya seolah jijik dengan kotoran.


"Kau!! kau akan menyesal setelah tahu siapa sebe___" Liza melotot saat Alis membekap mulutnya dan menariknya keluar kantin.


Cukup sudah Alis mengabaikan mereka. Kali ini ia akan bertindak tegas demi popularitas dan nama baik sekolahnya dan ia tidak ingin sekolahnya dicap sebagai sekolah yang buruk.


"Lis, apa-apaan kamu! kamu dihina seperti ini hanya diam saja! dimana keberanian kamu Lis?!!" Liza berucap dengan setengah berteriak. Ia geram melihat tingkah laku mereka yang sesuka hatinya menginjak Alis dan ia gemas melihat Alis yang hanya diam sebagai penonton saat sekolah miliknya mulai tercemar nama baiknya.


"Mana janjimu dulu Lis, yang akan menghukum mereka dan tidak akan lagi memberi mereka kesempatan bagi mereka yang menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada!!"

__ADS_1


"Za, semua perlu proses dan semua itu tidak instan. Kamu pahamkan maksudku?" tanya Alis meyakinkan.


"Baiklah, tapi tetap aku tagih janjimu." mengubah suaranya menjadi lebih lembut setelah menarik napas beberapa kali.


Alis mengingat kembali percakapannya dengan Januar dan kepala sekolah, yang akan memberi kesempatan Jessica selama seminggu. Dan ini baru 2 hari berjalan, masih ada 5 hari kemudian.


"Yaudah, kita kekelas sekarang." ajak Liza.


Alis melangkah dengan pikiran yang berkecamuk, ia bingung dengan perjodohan ini. Dan ia juga tidak ingin gegabah dalam mengambil sikap tentang kelakuan Jessica dan Alifa yang selalu membuat ulah disekolahnya. Bahkan membuat guru BK selalu uring-uringan.


"Kamu harus tegas Lis, jangan biarkan sekolah milikmu menjadi buruk dalam pandangan masyarakat hanya karena mereka yang suka membuat rumor yang buruk mengenai kamu. Orang diluaran sana tidak akan perduli dengan kebenaran yang ada dan pembelaan, kalau sekolah ini sudah terlanjur dicap buruk. Selamanya mereka tetap akan memandang buruk, walaupun kenyataannya berbanding terbalik."


Alis menatap kearah Liza sesaat, ia tersenyum tipis. Rasanya, hanya Lizalah yang paling mengerti dengan dirinya, seperti apapun situasinya.


"Alis, boleh aku bicara padamu?" tanya Al.


Alis menatap kearah Al dan ketiga sahabatnya yang tiba-tiba berada didepannya. Ia menganggukan kepalanya.


Alis berjalan mengikuti Al yang berjalan didepannya. Alis berjalan dengan pandangan lurus kedepan, sepanjang jalan ia mendapat banyak cemoohan dan gunjingan, tapi ia tidak perduli. Biarlah kali ini ia bermuka tebal, toh mereka juga tidak tahu tentang kebenarannya.


"Lis, siapa orang yang mengantarmu tadi pagi?" tanya Al langsung keintinya.


Alis menatap Al dengan heran, ia tampak curiga dengan pertanyaan yang tanpa basa-basi tersebut.


"Jangan bilang kalau dia adalah bos tempat kerjamu atau juga orang yang membeli buahmu." Al menatap Alis dengan tatapan dingin.


"Apa urusanmu?" tanya Alis yang juga berusaha bersikap biasa saja, padahal ia merasa lelaki didepannya ini sedang menyinggungnya.


"Aku hanya khawatir padamu, apa kamu tidak takut berganti-ganti orang yang mengantarmu!!" Al terdengar emosi, ia berucap dengan keras hingga beberapa siswa yang berlalu lalang menetap kearah mereka.


"Aku bukan siapa-siapamu dan satu hal lagi, kamu tidak mengenalku cukup dalam. Jadi berhentilah mencampuri urusanku." Alis berdesis dan meninggalkan Al yang mematung setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Alis tersebut.


Jadi selama ini aku tidak berarti dimatamu, bahkan kamu tidak melihat keberadaanku yang selalu ingin berada didekatmu.


Al mengepalkan kedua belah tangannya, ia akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Alis. Agar Alis dapat memandang kearahnya.


"Aku yang begitu tampan, kenapa dia bilang begitu? Gadis aneh." Al bergumam sendiri, untuk menyangkal rasa kecewanya.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2