Layangan Kertas

Layangan Kertas
Pertolongan untuk Arya


__ADS_3

Angin malam ini berhembus begitu dingin bahkan rasanya hingga menusuk ketulang bahkan Alis yang sudah memakai jaket tebalpun tetap terlihat kedinginan. Beberapa kali ia merapatkan jaketnya yang sedang menempel ditubuhnya. Kali ini Alis sedang berjalan keluar rumah. Ia ingin menikmati dinginnya malam seperti dinginnya kehidupan yang dilaluinya. Ia merasa bosan dirumah, Riyan sudah pulang kerumahnya sendiri. Mungkin ada urusan yang harus diselesaikan.


Beberapa kali ia menatap dan mendongakkan kepalanya kearah atas untuk menatap bintang yang gemerlapan. Ia kembali menunduk dan menatap kesekelilingnya yang tampak begitu sepi bahkan hanya suara binatang malam yang terdengar. Rumah-rumah penduduk yang tadinya berjejer, kini sudah tidak ada lagi. Yang ada dan terlihat hanyalah pepohonan dan jalan yang berliku.


Alis kembali mengerinyit, ia kembali menatap penuh waspada. Ia berpaling kebelakang, sejauh mana ia melangkah, rupanya tak disadarinya bahwa dia sedang tersesat dan tidak tahu jalan. Alis menepi kepinggir jalan untuk menatap dikegelapan malam yang remang-remang karwna penerangan lampu jalan.


"Dimana aku, aku tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya." Alis bergumam pada dirinya sendiri. Ia menatap jam dipergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan jam 22.17. Rupanya Alis sudah berjalan selama 2 jam lebih tanpa arah dan tujuan.


Alis berjongkok untuk meraba kakinya yang terasa pegal, ia menatap kekanan dan kekiri untuk melihat pengguna jalan yang lewat. Namun, sudah 15 menit berlalu tak ada seorangpun yang terlihat.


Alis menatap kearah handphonenya yang menyala memperlihatkan beberapa notif pesan dari Riyan. Baru saja Alis ingin membukanya, ia urung karena mendengar sebuah teriakan tampak menggema. Seperti sebuah ketakutan dan permohonan. Alis meraba tengkuknya yang terasa merinding, ia kembali melayangkan pandangannya kesekelilingnya guna mencari keberadaan sumber suara.


"Toloooonnnnggggg!!! Ampuunnn!!!" Suara itu terdengar lebih jelas dari sebuah rintihan. Alis mengarahkan langkahnya menuju kearah suara yang semakin jelas. Suara itu terus berulang dan menggema semakin nyata.


Dari jauh, Alis melihat sebuah mobil yang tampak terbuka pintunya dan beberapa orang yang tampak saling memperebutkan sebuah koper.


Alis bergegas berlari, tanpa berpikir panjang ia langsung menendang 5 orang preman dengan wajah beringas mereka. Sedangkan kopernya yang terjatuh tadi akibat refleks Alis sudah berada ditangan pemiliknya.


"Bapak berdua masuk mobil!." Alis memerintah dengan tegas namun matanya tetap awas melihat kelima preman didepannya yang tampak senang karena mendapat bonus gadis cantik.


"Tapi..., bagaimana dengan kamu nak?" Ragu-ragu bapak-bapak berjas rapi menjawab perintah Alis. Ia menatap kearah preman dan juga Alis bergantian.


"Sudahlah pak Arya, ikuti saja maunya." sang sopir yang sudah ketakutan tampak menghiba. Ia menggigil menatap kearah preman-preman yang mencegah mereka sewaktu dalam perjalanan pulang tadi. Entah nasib apa yang menimpa mereka yang akan terjadi beberapa menit kedepan, ia begitu takut membayangkannya.


"Cepat masuk!!" Alis yang tampak geram berteriak seiring dengan berlarinya beberapa preman kearahnya guna melakukan serangan.


Alis yang dikelilingi lima orang preman tampak waspada dan berkonsentrasi penuh dengan memasang kuda-kuda.


Beberapa preman tampak terpental karena mendapat serangan dari Alis. Bahkan beberapa dari mereka tampak sangat kesakitan.


Bug! Alis mendapat pukulan dari samping dan tepat mengenai jidatnya. Darah tampak mengucur keluar dari jidatnya. Alis terjatuh dan merasakan sakit dikepalanya. Alis mencoba berdiri dan mencoba menahan matanya yang tampak memburam.


"Hahaha.... gadis manis yang kuat. Menarik! Pasti sangat nyaman untuk disantap." Pemimpin preman tampak tergelak melihat Alis yang tersungkur.


Alis tampak sangat geram mendengarnya, giginya terdengar gemelatuk karena marah dengan penghinaan mereka.


Tanpa aba-aba, mereka kembali bergerak menyerang Alis, namun kali ini kekuatan Alis jauh lebih besar dari yang tadi sehingga dengan begitu mudah ia melumpuhkan mereka yang bermulut congkak. Mereka tergeletak pingsan ditengah jalan.


Nging nging nging


Terdengar suara sirine mobil polisi, Alis kembali bernapas lega setelah pertolongan kembali datang. Beberapa polisi tampak bergerak membekuk para preman yang sangat meresahkan warga dan keamanan berlalu lintas.


"Kamu tidak apa-apa?" Arya menatap kearah Alis yang tersenyum kearahnya, Alis menganggukan kepalanya.


"Kamu berdarah, kita kerumah sakit sekarang!" Arya sangat khawatir melihat jidat Alis yang masih berdarah.

__ADS_1


"Tidak usah pak, ini hanya luka kecil kok dan saya bisa mengobatinya nanti dirumah." Alis menurunkan tangan Arya yang menyentuh sekitar lukanya.


"Mang utuh, ambil peralatan p3k dimobil." Arya masih menatap kearah Alis. Ia merasa takjub dan sangat merasa berhutang budi, kalau tidak ada Alis yang menolongnya entah seperti apa nasibnya kedepannya.


"Nama kamu siapa? Panggil om Arya."


"Syaiba."


Arya menepuk-nepuk pundak Alis.


"Selamat malam pak, terima kasih atas kerjasamanya dek, kami boleh minta keterangan dari dek Syaiba untuk semua kejadian ini tapi dikantor polisi nanti." Polisi yang bernama tag Taupik itu menatap kearah Alis dan Arya secara bergantian.


Alis menganggukan kepalanya. "Kami akan segera kesana". Arya menjabat tangan Taupik dan mengajak Alis untuk memasuki mobilnya. Alis hanya diam dan mengikuti mereka.


Selama dimobil, Alis hanya bungkam sambil membersihkan lukanya. Sedangkan Arya terus-menerus memperhatikan wajah Alis yang tampak familiar dimatanya.


Setelah sampai dikantor polisi, Alis dan Arya memberikan keterangan yang diminta oleh polisi tersebut, setelah urusan selesai mereka kembali kemobil.


"Nak Syaiba, rumah kamu dimana?" Arya membuka percakapan dengan keterdiaman mereka. Mungkin Syaiba sedang sakit kepala sehingga ia tidak berbicara lagi, begitu pikir Arya.


Alis mengatakan alamat rumahnya yang tidak jauh lagi jaraknya. "Sebaiknya kita kerumah sakit saja untuk memeriksa lukamu, siapa tahu ada luka dalam." Arya sangat khawatir dengan keadaan Alis yang hanya diam saja sedari tadi.


"Tidak usah pak, saya baik-baik saja. Hanya sedang mengantuk saja." tersenyum canggung.


"Cari angin pak, soalnya banyak tugas sekolah yang membuat kepala pusing."


"Sejauh itu?"


"Ya, tidak sadar tadi kaki terus saja melangkah, sebenarnya saya tadi mengejar bintang jatuh."


"Oh, iya. Orang bilang segala permohonan akan dikabulkan." Arya tampak terkekeh dengan kata-katanya sendiri.


"Itu rumah saya pak, turun disini saja."


Arya menatap kearah telunjuk Alis, ia tampak berkerut menatap rumah sederhana yang dipenuhi dengan bunga.


"Rumahmu sangat indah, banyak bunganya. Bersama siapa kamu tinggal disini?"


"Saya sendirian pak, makasih atas semuanya karena sudah mengantarkan saya sampai rumah."


"Kamu bicara apa sih, seharusnya om yang banyak mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolong om."


"Tidak apa-apa om, itu hal yang biasa."


"Kalau ada apa-apa, hubungi om. Ini kartu nama om."

__ADS_1


Alis menyambut kartu nama tersebut dan menganggukan kepalanya. Ia menatap Arya yang memasuki mobilnya dan berlalu dari hadapannya.


"Alis! Kamu darimana saja. Kakak khawatir sama kamu. Kamu tidak membalas pesan kakak."


Riyan yang mendengar deru mobil didepan rumah segera menyusul alis yang masih berdiri didepan pagar rumahnya.


"Alis tidak apa-apa kak, hanya jalan-jalan saja tadi."


Riyan sangat terkejut menatap wajah Alis yang dijidatnya tampak menempel perban putih bahkan ia melihat baju Alis yang tampak kotor.


"Alis! kamu kenapa? Habis darimana?"


Alis menggelengkan kepalanya melihat Riyan yang tampak sangat khawatir.


"Didalam kak."


Riyan mengangguk dan mengikuti langkah Alis yang memasuki rumah. Ia menyusul kesini karena Alis yang tidak membalas satupun chat darinya, bahkan membuka pun tidak. Ia tampak gelisah karena tidak biasanya Alis akan bersikap seperti itu padanya.


"Sebenarnya tadi Alis merasa bosan dirumah dan Alis keluar untuk sekedar jalan-jalan."


"Lis, kamu itu perempuan dan keluar malam adalah bahaya terbesar untuk perempuan, kamu tahu itukan?" Riyan menatap Alis dengan marah.


"Ma'af kak." menundukan kepalanya.


Riyan mengangguk. "Lalu setelah itu?"


Alis menceritakan semua kejadian itu tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Alis, kenapa kamu berani mengambil sikap seperti itu. Itu sangat mengancam nyawamu. Apa kamu tahu itu, mereka banyak sedangkan kamu masih seorang diri Lis. Lain kali kakak akan menyewa bodyguard untukmu."


Alis tercengang mendengarnya. Ia kembali menundukan kepalanya tanpa bersuara.


"Sekarang kamu tidur kekamar dan istirahatlah. Besok kita kerumah sakit untuk memeriksa lukamu."


Alis menatap kearah kakaknya dan ingin membuka mulutnya.


"Tidak ada bantahan!"


Alis kembali menunduk dan menganggukan kepalanya, ia berlalu kearah kamarnya untuk mengistirahatkan badannya yang terasa remuk.


Riyan tampak gusar setelah kepergian Alis. Ia tampak marah dengan suruhannya yang tidak melaporkan kejadian ini padanya.


"Ada apa dengannya, kenapa ia sampai lepas mengawasi Alis." Riyan menekan-nekan handphonenya guna menelpon anak buahnya, orang suruhannya. Ia tampak sangat gusar dan memaki-maki sendiri saat menyadari handphonenya yang kehabisan daya.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2