
Bel pertanda istirahat berdentang 4 kali. Bergegas Al berlari dilorong sekolah, ia seperti merasa berpacu dengan waktu. Peluh terus membanjiri jidat Al namun ia tidak memperdulikan itu, yang ada dibenaknya adalah Alis, Alis dan Alis. "Semoga aku tidak terlambat untuk meminta ma'af." Al bergumam pada dirinya sendiri setibanya didepan ruangan kelas Alis.
Sunyi, tidak ada seorang pun yang berada didalam kelas itu. Al menatap sepanjang koridor yang mengarah kekantin, namun ia tidak menemukan apa-apa disana, tidak tampak sedikitpun keberadaan Alis. Al mendesah dan menyugar rambutnya, ia menatap kearah lapangan, tampak bergerombol beberapa siswi yang sedang berjalan kearah kantin, bahkan beberapa dari mereka tampak menatap kearah Al dengan senyum malu-malu.
Al berlari kearah tangga dan menatap kearah atas, mungkinkah Alis sedang berada disana. Rasa khawatir Al berbaur dengan bayang-bayang Alis yang melukai dirinya sendiri. Kali ini, langkah Al lebih lebar dari susunan tangga-tangga yang ada. Ia tampak gemetar saat menghadap pintu besi tersebut, bayangan teriakan Alis membahana dikepala Al.
"Tidak!" Al berteriak saat pintu itu terbuka. Namun kosong, tidak ada seorang pun disana. Hanya suara angin yang berhembus menyisakan gemuruh suara anak-anak yang berada dibawahnya, tepatnya dilapangan didepan sekolah.
Al tampak termenung menatap kearah bawah, ia teringat masih ada beberapa tempat yang belum ditelusurinya. Ia kembali berbalik dan alangkah terkejutnya dia, kini Alis sudah berada didepannya dengan senyum manisnya. Al mendekat dan ingin menyentuhnya, namun semuanya kosong, hilang. Ah ternyata hanya bayangannya saja, hanya fatamorgana.
Al kembali memacu larinya dilorong sekolah hingga menabrak beberapa siswa yang dilewatinya. Ia melewati depan kelas Alis dan kembali menengok kedalam kelas Alis, namun tetap kosong.
Taman belakang sekolah, pasti Alis berada disana. Al tersenyum membayangkan itu. Bergegas ia ketaman, namun sesampainya disana ia kembali menelan pil pahit, Alis tidak berada disana. Bahkan ia juga sudah berkeliling taman tersebut. Al menatap kecewa pada semua orang yang berada disana saat ia menanyainya, karena hanya gelengan kepala yang didapatnya.
Mungkin perpustakaan, Al yang hampir putus asa segera mengarahkan kakinya kearah perpustakaan yang berada tidak jauh dari kantor guru. Ia tampak bersiul senang, kali ini ia merasa yakin bahwa gadis aneh itu pasti sedang membaca buku seperti biasa. Bahkan mungkin ia sedang duduk dipojokan. Ia tersenyum senang membayangkan itu semua.
Senyum Al kembali menghilang setelah ia berkeliling perpustakaan dan tidak menemukan Alis disana. Yang ada hanya beberapa siswa yang tampak sibuk mencari-cari buku di rak buku tanpa memperdulikan keberadaannya.
Mungkin kantin, Al kembali berlari kearah kantin, kali ini larinya tampak melambat. Ia tidak yakin kalau Alis sedang berada disana, karena itu bukan tempat yang biasa disinggahinya.
"Liza!" Al melambaikan tangannya pada Liza saat Liza ingin memasuki kelasnya. Liza tampak menatap heran padanya, namun ia tetap menunggu Al yang menghampirinya.
"Ada apa!?" tanya Liza yang tampak marah dengan keberadaan Al didepannya. Ia menatap kedalam kelas, untung tidak ada Alis disini.
"Alisnya ada sama kamu?" tanya Al yang tidak menggubris kemarahan Liza.
"Ada apa lagi kamu mencari dia, apa kamu masih ingin memarahinya seperti pagi tadi?" sinis Liza sambil melipat tangannya didada.
"Bukan, aku hanya ingin minta ma'af padanya."
"Baguslah kalau kamu sadar." Liza melangkah kedalam kelas namun tangannya sudah dicekal oleh Al terlebih dahulu.
"Tunggu, Alisnya dimana?" Al menatap kearah Liza yang menatapnya dengan sengit.
Liza menghembuskan napasnya beberapa kali, ia menetralisir rasa gemuruh didadanya. Ia begitu kesal dengan lelaki tampan didepannya ini karena sudah memarahi Alis didepan banyak orang pagi tadi.
"Alis diruang kepala sekolah, ada keperluan." Jawab Liza yang menatap kasihan pada Al yang tampak terlihat kecewa.
"Memangnya ada perlu apa Alis disana? Apa ini berhubungan dengan kasus beberapa hari yang lalu atau kejadian pagi tadi?" Al menatap Liza yang hanya diam menatap kearah Al.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu." Liza segera berlalu dari hadapan Al. Ia menduduki bangkunya dan kembali menatap kearah Al yang masih berdiri didepan kelasnya.
Al tampak berpikir sejenak, ia tampak khawatir dengan keberadaan Alis diruang kepala sekolah. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.
"Sial bangat, Alis tidak ketemu. Laparnya iya." Al menggerutu sepanjang koridor menuju kearah kelasnya. "Mungkin pulang sekolah nanti aku akan mengantarnya pulang." Gumam Al sambil menduduki bangkunya.
💦💦💦
Al sudah tampak berada didepan gerbang sekolah dengan mobil putihnya. Ia mencari-cari keberadaan Alis yang sedari tadi memang sengaja ditunggunya. Al tersenyum sumringah saat melihat gadis dengan rambut sepunggung itu berjalan kearahnya dengan tetap membaca seperti kebiasaannya. Senyum sumringah Al kembali hilang setelah dilihatnya mobil Angga yang berada tepat disisi Alis. Alis menganggukan kepalanya dan memasuki mobil tersebut.
Gemuruh didada Al makin hebat, beberapa kali ia memukul stir dan klakson mobil hingga semua siswa-siswi yang berlalu lalang didepan gerbang tampak menatap kearahnya dengan heran. Al tidak pernah merasakan semua ini sebelumnya, semua rasa asing ini. Rasa marah saat Alis dengan mudahnya menerima ajakan Angga untuk pulang tanpa tahu bahwa dirinya yang sudah menunggunya bahkan sudah mencarinya berkeliling sekolah saat istirahat pertama tadi.
Al mengikuti laju mobil Angga yang mengarah bukan kearah rumah Alis melainkan ketempat lain. Al yang memang sengaja mengikuti mereka pun tampak bertanya-tanya dalam benaknya. Ia kembali resah saat melihat mobil Angga yang tampak berhenti didepan sebuah kafe. Jangan-jangan Angga ingin memberikan kejutan untuk Alis atau mengatakan sesuatu. Dada Al kembali bergemuruh hebat bahkan berdenyut sakit. Rasa kecewanya perlahan memebesar dan menguasai dirinya. Mungkinkah ia terlambat.
Al terus memantau mobil Angga yang hanya berhenti didepannya tanpa diparkirkan terlebih dahulu. Tampak Alis yang keluar dari mobil dan mengucapkan sesuatu, mungkin terima kasih. Setelahnya mobil Angga kembali melaju meninggalkan Alis yang memandang kepergian mobil tersebut.
Tin-tin
Alis berpaling kebelakang saat klakson mobil berbunyi nyaring tepat dibelakangnya. Ia menatap penghuni mobil yang baru turun dari mobilnya. "Al," gumam Alis yang tampak terkejut menatap keberadaan Al disini.
"Alis, boleh aku membicarakan sesuatu denganmu?" Al sudah berdiri tepat dihadapan Alis. Ia menantikan kata yang keluar dari mulut Alis. Namun hanya anggukan yang diberikan Alis sebagai jawaban.
Al mengukir senyumnya tipis, sangat tipis hingga hanya orang-orang yang peka melihatnya. Hatinya bersorak senang bahkan ia merasa laju degup jantungnya lebih kencang dari biasanya. Sesenang inikah ia saat mendapat anggukan dari gadis yang dulunya dianggapnya aneh.
"Ada yang bisa dibantu mas?" Anto menghampiri meja mereka dengan membawa catatan untuk mereka yang memesan makanan. Ia menatap kearah Al dan dahinya berkerut dalam, ia tidak mengenalnya sama sekali. Ini bukan pemuda yang waktu itu bersama dengan Alis.
Al memesan beberapa makanan dan juga minuman. Berbeda dengan Alis, ia hanya memesan sebuah minuman.
"Kamu tidak ingin makan," tanya Al yang menatap kearah Alis dan dibalas Alis hanya dengan gelengan.
Anto menatap Alis dengan mengerling nakal dan dibalas Alis dengan tatapan tajamnya. Ia segera berlalu untuk menyerahkan pesanan bos mereka pada Anin.
"Lis, aku minta ma'af soal pagi tadi. Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya refleks waktu itu dan aku juga punya masalah sehingga membuatmu yang menjadi pelampiasanku. Tapi itupun tidak aku sengaja." Al menatap kearah Alis yang juga menatapnya.
"Tidak apa-apa, aku maklum kok." Alis menatap kearah Anto yang terus memperhatikan mereka dari balik kaca dapur. Alis merasa jengah dengan sikap manejernya yang sok ingin tahu.
"Benar, kamu mema'afkanku dengan semudah itu?" Al menatap Alis yang hanya diam saja sedari tadi. "Seperti orang yang sakit gigi saja atau sariawan." Gumam Al sambil menatap Alis yang tampak datar.
Alis mengerinyitkan dahinya kearah Al, ia menunjuk kearah dirinya sendiri. "Sakit gigi?" tanya Alis yang ternyata mendengar gumaman Al tersebut.
__ADS_1
Al tampak salah tingkah, ia yang baru saja meminta ma'af malah membuat kesalahan lagi dengan menyindir Alis. Ia pikir Alis tidak mendengarnya. Jangan sampai deh Alis mendengar saat ia berkata budeg.
"Ah... itu, aku tadi salah ngomong, bukan. Maksudku kamu yang salah dengar." Tuhkan Al kembali salah bicara lagi, ia memukul mulutnya yang tampak keseleo.
Alis menatap Al dengan bingung namun ia tampak menggelengkan kepalanya.
"Bicara dong Lis, kamu mirip deh sama om Limbad. Bisanya cuma angguk dan geleng-geleng saja." Al menatap Alis yang tampak melotot kearahnya.
Al kembali menutup mulutnya, kali ini ia akan diam saja karena memang perutnya benar-benar lapar makanya mulutnya asal saja bicara. Al menatap makanan yang baru saja diletakkan diatas meja dengan berbinar. Ia makan dengan lahap hingga hampir tersedak beberapa kali, ia benar-benar lapar. Alis hanya diam saja menatapnya. Hingga ada seseorang yang tampak menepuk bahunya beberapa kali. Alis menoleh kebelakang dan menatap ibu-ibu yang tersenyum menatap kearahnya dan tampak tidak suka menatap kearah Al.
Al yang menatap ibu-ibu tersebut menghentikan aksi suap-suapannya, ia melihat interaksi Alis dan wanita tersebut. Alis yang tampak canggung.
"Syaiba, apa kabar sayang?" Wanita yang tidak lain bernama Novia tersebut langsung duduk disamping Alis.
Alis menatap kearah Novia dan tersenyum sangat tipis. "Baik tante, seperti yang tante lihat."
Al tampak mengerutkan dahinya bingung dengan nama panggilan yang diucapkan oleh wanita tersebut kepada Alis.
"Wah, ini siapa ya, makannya lahap juga. Temannya ya?" tanya Novia yang menatap makanan yang menumpuk didepan Al.
Al tersenyum kaku mendengar sindiran wanita tersebut yang tampaknya sangat tidak menyukai kebersamaannya dengan Alis.
"Iya tante saya temannya. Al menganggukan kepalanya kearah wanita tersebut yang tidak ditanggapinya sama sekali.
"Nanti kalau kamu jadi mantunya kakak saya, jangan bawa-bawa lelaki seperti dia. Tidak sopan dan juga tidak baik. Nanti dikira selingkuhan." Novia mencibir kearah Al yang menatap kearahnya.
Alis yang memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini hanya menganggukan kepalanya saja. Toh tidak rugi juga bahkan dapat pahala untuk menyenangkan hati wanita disampingnya tersebut. Mungkin dia sedang ada masalah dirumahnya atau bersama suaminya, makanya bicaranya juga asal.
Al yang mendengar semua itu tampak menggenggam erat tangannya yang berada dibawah meja. Satu fakta lagi yang ia tidak tahu, bahwa wanita ini sudah menjodohkan Alis dengan keponakannya, itu yang disimpulkan Al dari arah pembicaraan wanita tersebut. Sedangkan Alis hanya mengangguk saja mendengar semua itu tanpa protes sama sekali. Rasa laparnya kembali menguap, rasanya hari ini ia mendapatkan kesialan bertubi-tubi. Al yang tampak melamun sudah tidak menyadari dengan kepergian Novia dari sana hingga Alis menyentuh tangannya. Al tampak tersentak kaget namun hanya sesaat.
"Kamu kenapa Al, apa ada masalah?" tanya Alis yang tampak heran menatap Al yang hanya diam saja setelah ia memakan pesanannya tersebut. "Apa makanannya kurang enak atau ada sesuatu yang kurang pas pada makanannya?" Alis tampak khawatir melihat respon Al yang hanya diam saja.
'Kok makanan sih! aduh kenapa dia hanya khawatir dengan makanan saja bukannya khawatir denganku. Aku dong Lis yang dikhawatirkan, aduh... bagaimana dengan hatiku.' Hati Al tampak merintih. Al menatap kecewa terhadap Alis yang menurutnya sangat tidak peka. Al menggelengkan kepalanya.
"Kalau tidak, kenapa tidak dihabiskan saja Al?" Alis kembali bertanya tanpa memahami situasi hati Al yang tampak semakin memburuk setelah mendengar pertanyaan yang terus diajukan oleh Alis.
Al menatap kearah Alis dengan mengukir senyum terpaksanya. Ia mulai melahap makanan yang dikhawatirkan oleh Alis tersebut. Al tersenyum jahil sambil menatap kearah Alis. Ia mengarahkan sendoknya yang berisi makanan kemulut Alis, namun disambut Alis dengan gelengan kepala. Al tidak putus asa, ia tetap memaksa Alis untuk membuka mulutnya dengan berpura-pura kesal dan marah.
Berhasil. Alis membuka mulutnya dan Al bersorak riang didalam hatinya. Rasa hatinya yang sempat dongkol tadi kembali menghangat hingga tersenyum manis kearah Alis. Tanpa Alis sadari, ia membalas senyum Al dengan senyum manisnya juga hingga membuat Al rasanya ingin berhenti bernapas saja dan detak jantungnya melemah sebelum akhirnya berhenti berdetak.
__ADS_1
Al meraba dadanya yang menggila, ia benar-benar terpesona dengan senyum Alis yang baru pertama kalinya dilihatnya. Bahkan ia lebih terpesona lagi dengan sosok Alis yang sederhana dimatanya.
💦💦💦