
Istirahat kali ini Al dan Aldo sedang berada di rooftop sekolah. Aldo sengaja mengajak Al hanya berdua bersamanya tanpa Andra dan juga Irfan, karena ia ingin berbicara dari hati kehati.
Aldo berdiri dengan membelakangi Al dan menghadap kearah lapangan sekolah. Kedua belah tangannya dimasukkannya kedalam saku celananya.
Angin bertiup dengan semilirnya, karena keadaan langit kali ini yang terlihat mendung, walaupun belum terlihat tanda-tanda langit akan turun hujan.
"Al, seandainya kamu tahu siapa Alis sebenarnya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aldo masih dengan posisi awalnya. Ia berusaha untuk tenang dan berusaha untuk tidak melukai hati sahabatnya.
Al menatap punggung Aldo dan berjalan kearahnya, ia berdiri tepat disisi Aldo. Ia juga memandang kearah depan, persis seperti pandangan Aldo. "Aku akan tetap menerimanya, walaupun kehidupannya yang sekarang penuh dengan kepalsuan. Karena aku yakin, ia punya alasan dibalik semua itu."
"Benarkah kamu seyakin itu, walaupun itu adalah hal yang paling kamu benci sekalipun, yaitu kebohongan?" sambil berpaling menatap kearah Al.
Al juga menatap kearah Aldo, ia hanya diam sesaat dan tampak berpikir sejenak. Al kembali melirik kearah Aldo, pergerakannya masih sama dan tidak bisa dibaca. Al menyipitkan matanya menatap kearah Aldo yang tidak biasanya membicarakan seorang Alis, namun ia mengusir rasa curiganya pada Aldo. Ia mengangguk dengan ragu.
"Memangnya apa yang kamu tahu tentang Alis?" tanya Al kembali menatap kedepan.
"Aku hanya bertanya saja padamu, aku hanya ingin tahu tentang keyakinanmu." ucap Aldo dengan getir. Ia tahu bahwa sahabatnya sangat mencintai Alis dan Alis merupakan cinta pertamanya.
"Lalu bagaimana dengan perjodohanmu?" tanya Al tanpa berekspresi sama sekali. Ia tetap menatap datar kearah depan.
Aldo mendesah dan ia tersenyum tipis. Al menatap senyum tersebut, ia tahu arti senyum itu yang berarti bahwa Aldo baik-baik saja mengenai semua itu.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan dirimu?" tanya Aldo balik.
"Aku tidak tahu mengenai itu, dan seterusnya aku berharap kalau semua itu hanyalah keinginan orang tuaku yang bakalan tidak teraamiinkan." ucap Al dengan sendu.
"Ya, aku paham dengan semua itu. Pasti kamu merasa berat seperti halnya aku sewaktu diawal. Tapi, setelah aku mengenalnya, mungkinkah persahabatan kita tetap utuh Al?" tanya Aldo dengan lirih sambil menatap dalam kearah Al.
Al menatap balik kearah Aldo, ia mengunci pandangannya untuk mengartikan maksud dari Aldo tersebut tapi ia tidak dapat membaca pandangan itu. Ia hanya melihat gambaran kesedihan dan takut kehilangan.
"Aku berharap, persahabatan kita tetap seperti ini." ucap Aldo lagi, ia 0kembali menatap kearah depan. Al menganggukan kepalanya dan juga menatap kearah depan. Al tampak bingung dengan Aldo kali ini yang lebih suka berbicara panjang lebar tapi tetap bijaksana.
"Al, aku minta ma'af, kalau kedepannya kita akan bersaing untuk membahagiakan orang yang sama." Aldo menari napas sejenak, ia memberi jeda dan menatap kearah Al. "Bukan maksudku merebutnya darimu, tapi semua ini adalah takdir Al, takdir yang sudah ditentukan untukku dan juga untukmu. Dan ada sebuah janji yang harus aku tepati. Kuharap kamu bisa mengerti keadaanku." Aldo menepuk pundak Al dan berlalu dari hadapan Al yang tampak mematung.
Apa maksud Aldo, apakah mungkin...? Al berbalik dan menatap kearah Aldo. Ia ingin memanggilnya, namun terlambat, Aldo sudah menghilang dibalik pintu rooftop. Al memang tidak mendengar secara keseluruhan pembicaraan terakhir Aldo tadi, karena pikirannya sedang berkelana mrngenai perjodohan tentang dirinya yang pasti akan terjadi hanya tinggal menunggu waktu. Al merasa bersalah karena ia tidak memperhatikan Aldo saat berbicara tadi. Mungkinkah ia sedang putus asa, sehingga mengucapkan kata ma'af padanya. Ia berpikir keras untuk mengartikan semua ucapan Aldo tersebut namun malah buntu, tidak ada titik terang sedikitpun.
"Alis, kamu tidak kenapa-kenapakan?" tanya Al yang terdengar khawatir. "Ma'af, aku tidak sengaja." ucap Al sambil memungut buku Alis yang terjatuh tadi.
"Aku tidak apa-apa." jawab Alis sambil menerima buku yang diserahkan oleh Al.
Al menatap kesekelilingnya, ia tidak melihat Aldo. Al menatap kearah Alis dan menarik tangannya dan membawanya menuju kearah taman belakang sekolah. Tempat yang sering mereka habiskan berdua hanya dengan duduk tanpa bicara. Sekarang perasaannya sedikit tidak tenang dan ia berharap setelah bersama Alis, perasaan gundahnya menghilang.
Dari kejauhan Aldo menyaksikan semua itu. Kini ia merasa bersalah, namun ia juga tidak berdaya karena janji yang sudah diucapkannya pada orang tuanya dan juga orang tua Syaiba, kemarin sore sewaktu mereka tidak sengaja bertemu dikantor ayahnya Aldo.
__ADS_1
Ia menyesal, seandainya ia lebih awal bertemu Arya dan memastikan semua itu, maka tentu saja ia akan menolak semua itu termasuk janji pada ayahnya Alisya yaitu Bastian. Ia tidak menyangka bahwa Syaiba adalah Alis, begitu juga dengan Alisya yang juga adalah Alis yang dikenalnya. Ia benar-benar tidak berdaya, semua sudah terjadi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap Al, ia benar-benar merasa bersalah.
Aldo terus memperhatikan Alis dan juga Al dari kejauhan. Ia sengaja menghindar dari Al karena ia tahu bahwa Al pasti akan menanyakan tentang semua yang diucapkannya tadi. Tapi ia masih belum.yakin bahwa yang dimaksud Bastian dengan Alisya adalah Alis yang bersama dengan Al sekarang sebelum ia melihat dan bertemu orangnya.
Aldo akan berusaha untuk menjaga hatinya seandainya memang benar yang dijodohkan dengannya adalah Alis si gadis kutu buku.
Sementara itu disudut taman, tepatnya dibawah pohon ketapang, Alis tampak bingung menatap kearah Al yang juga menatap kearahnya dengan wajah yang masih dipenuhi dengan kekhawatiran. Alis yang tadinya bermaksud ingin pergi ketaman depan sekolah untuk memakan bekalnya kembali urung karena tabrakan itu. Ia meletakkan kotak bekalnya bersama buku yang dibawanya disamping tempat duduknya, lebih tepatnya diantara mereka berdua.
"Ada apa kamu menarikku kesini? Jangan katakan kalau kamu ingin menanyaiku soal cinta lagi seperti pagi tadi."
Al tersenyum manis menatap kearah Alis. Ada sedikit ketakutan yang tergambar dari raut wajah itu. "Lebih penting daripada itu, ini menyangkut masa depanku, hidup dan matiku."
Alis mengangguk saja walaupun sebenarnya ia tidak paham dengan kata-kata Al barusan. Ia masih menatap senyum Al, senyum yang biasanya selalu dihindarinya, tapi berbeda kali ini. Ia merasa senyum Al adalah candu baginya.
"Lis, aku hanya kangen dengan rasa masakanmu." ucap Al sambil melirik bekal yang tergeletak disampingnya. Bukan, bukan kalimat itu yang ingin diucapkannya, tapi kalimat yang lain, yang mewakilkan perasaannya. Namun ia terlihat urung mengucapkannya, biarlah lain waktu.
"Oh, makan. Kukira ada hal darurat lainnya." sambil membuka bekal yang ia bawa.
Iya Lis, darurat. Hatiku sedang dilanda krisis percaya diri dan juga dilanda wabah virus cinta.
Ucap Al dalam hati sambil terus memandang kearah Alis yang tampak mempesona dimatanya.
__ADS_1
💦💦💦