
Alis berjongkok memperhatikan keadaan Al yang masih telentang di atas tanah. Alis prihatin melihat kondisi Al yang tampak babak belur dengan banyak lebam kebiruan di wajahnya. Bahkan darah terlihat masih keluar dari hidungnya. Ia mengambil sapu tangannya di dalam tas selempangnya kemudian menyerahkannya pada Al. Al tampak gemetaran menerima sapu tangan tersebut sambil melihat ke arah Alis. Sesekali terdengar ringisan yang keluar dari mulutnya. Al hanya bungkam sambil memperhatikan pergerakan Alis, ia begitu kesulitan saat akan berbicara.
Alis melihat ke sekelilingnya dan menemukan handphone yang tergeletak tidak jauh dari tempat Al berada. Ia mengambil handphone tersebut kemudian dengan cekatan ia memapah Al keluar dari gang tersebut. Al yang sudah tidak berdaya hanya bisa pasrah saja. Ia terlalu lelah untuk bisa berpikir dan ia tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri.
Alis menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat di depan mereka. Bergegas sopir taksi tersebut membantu Alis untuk memapah Al dan membukakan pintu mobil. Dengan perlahan Alis meletakkan Al di kursi penumpang. Alis duduk tepat di samping Al. Mobil pun melaju mengikuti arahan Alis yaitu rumah sakit terdekat.
Al merasakan sakit di sekujur tubuhnya dengan perlahan-lahan penglihatannya menggelap, Al berusaha menahannya namun gagal hingga akhirnya ia kehilangan kesadarannya. Alis yang merasakan pergerakan Al yang melemah dengan cekatan meletakkan kepala Al pada pahanya. Ia menatap sesaat ke arah wajah Al kemudian menatap ke arah depan. Ia tetap terlihat tenang sesuai dengan pembawaannya.
Perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu 20 menit, hingga tiba di rumah sakit terdekat. Sopir berlari menghampiri perawat dan meminta pertolongan. Beberapa perawat bergegas kearah mobil yang di tumpangi Alis dengan membawa bed. Mereka membawa Al memasuki ruang UGD.
Sementar itu, Alis tampak duduk di bangku tunggu di depan UGD. Ia menunggui Al dan hanya bisa diam. Alis terus memperhatikan ponsel yang layarnya sedikit retak. Ia mencoba menghidupkan handphone tersebut dan berhasil. Alis mencari kontak yang bisa ia hubungi di handphone Al. Ia menemukan kontak dengan nama 'My Mommy'. "Mungkin ini ibunya" pikir Alis. Ia menekan tombol hijau pada layar handphone tersebut. Pada deringan pertama, telpon langsung terhubung. Belum sempat Alis berbicara, sebuah suara wanita sudah terdengar menginterupsinya dari seberang sana.
"Halo Al, kamu dimana sayang? Kenapa andphone kamu sulit di hubung?."
"Ma'af tante, ini benar dengan ibunya Al?" tanya Alis menyela dan tampak ragu mengucapkan nama Al karena ia tidak tahu sama sekali dengan laki-laki yang di tolongnya tadi. Bahkan ia tidak mengenalnya, ia hanya menuruti ucapan wanita tersebut saat ia mengucapkan nama Al.
"Iya benar, ini dengan siapa ya? Dan Al dimana!? Kenapa handphonenya bisa ada sama kamu!?" Wanita itu terdengar sangat cemas.
"Al sekarang dirumah sakit dan sedang berada di ruang UGD." Alis hanya mengatakan poin pentingnya saja dan tidak menjawab pertanyaan yang beruntun tersebut.
"apa!?" Wanita itu terdengar begitu terkejut dengan berita yang Alis sampaikan. Alis juga mengatakan nama rumah sakit tersebut dan juga alamatnya.
Tut.
Telpon langsung di tutup dari seberang sana.
Setelah selesai menelpon ibunya Al, Alis mengambil bukunya dari dalam tas selempangnya dan membuka bukunya dengan perlahan. Sambil menunggu dokter keluar dari ruang UGD dan juga menunggu kedatangan ibunya Al, Alis membaca bukunya sesaat. Sesekali Alis melihat kearah jam tangannya. Ia merasa bosan karena beberapa orang yang lewat selalu memperhatikannya dan menatapnya aneh.
Sudah 30 menit berlalu, tapi dokter yang memeriksa Al belum juga keluar. Bahkan ibunya Al juga belum sampai hingga sekarang. Alis mencoba bersabar dan kembali fokus dengan bukunya. Ia tidak menghiraukan lirikan beberapa orang yang berada disekitarnya.
Terlihat hells yang berhenti dan menghadap kearahnya. Alis mendongakkan kepalanya sambil menutup bukunya. Tampak seorang wanita paruh baya sedang berdiri dihadapannya, ia terlihat masih cantik dengan wajahnya yang terlihat begitu gelisah. Ia menyunggingkan senyumnya pada Alis dan hanya di balas Alis dengan anggukan.
"Apa benar kamu tadi yang menelpon saya menggunakan handphone Al?" tanya wanita itu tanpa menutupi perasaan cemasnya.
Alis mengangguk. "Al sedang di dalam tante, masih di periksa oleh dokter." Alis memperhatikan raut wajah ibunya Al.
"Nama kamu siapa sayang? Panggil tante Winda ya." Harwinda tersenyum sambil membelai rambut Alis.
__ADS_1
Alis tampak kaku. "Alis, tante!"
"Kenapa dengan Al?"
Belum sempat Alis membuka suaranya, pintu ruangan UGD terbuka. Tampak seorang dokter keluar bersama perawatnya. Bergegas Winda menghampirinya. Beliau tampak sedikit lega setelah mendengar keterangan dari dokter tersebut.
" Pasien hanya mengalami luka ringan saja dan akan segera sembuh dalam beberapa hari kedepan, setelah dirawat disini," ucap dokter yang bername tag Wahid dengan ramah. Dokter tersebut juga memperbolehkan pasien untuk di jenguk karena pasien sudah sadar dan sebelum di pindah ke ruang perawatan.
Dokter berlalu setelah ibunya Al mengucapkan terima-kasih.
Bergegas Winda memasuki ruang UGD disusul oleh Alis. Tampak Al terbaring di atas ranjang dengan jarum infus yang menancap ditangan kirinya. Ia menoleh kearah ibunya dan tampak terkejut dengan keberadaan ibunya yang sudah ada didepannya.
Ibunya menghambur memeluk Al dan merasa sangat sedih melihat banyaknya luka lebam di wajah Al. Sementara Alis hanya diam saja saat melihat interaksi ibu dan anak tersebut. Ia sedikit merasa iri karenanya.
Al melirik pada perempuan yang berada dibelakang ibunya dan ia kembali terkejut. Namun, keterkejutannya hanya sesaat setelah ia mengingat bahwa Alislah yang telah menolongnya.
"Ma, mama kapan datang?" Al bertanya dengan ekspresi bingung.
Ibunya tersenyum. "Baru saja, itupun Alis yang memberitahu ibu, coba kalau tidak ada dia, entah bagaimana nasibmu," celoteh Winda sambil membelai rambut Al.
"Pagi tadi, saat sampai dirumah, kamu tidak ada. Kata bi Munah kalau kamu pergi jogging."
"Ayah mana mam?" Al memperhatikan kesekeliling ruangan, ia tidak melihat batang hidung ayahnya.
"Tadi ada pertemuan dengan sahabatnya tapi sebentar lagi juga kesini. Sudah ibu kabari juga." Winda menoleh pada Alis.
"Lis, terima-kasih banyak ya, karena sudah menolong anak Tante."
Alis hanya mengangguk dengan senyum kakunya.
Ia berjalan mendekat kearah Winda dan menyerahkan ponsel milik Al pada Winda kemudian ia berpamitan untuk pulang.
Sepeninggal Alis, ibunya Al pergi ke depan untuk membayar administrasi. Sementara Al di suruh kembali beristirahat.
💦💦💦
Angga baru saja keluar dari rumah sakit sehabis menjengok kakaknya yang baru saja melahirkan, ia cukup terkejut dengan keberadaan Alis yang sedang menuju keruang UGD bersama seorang pasien yang tidak jelas ia melihat wajahnya. Angga yang penasaran pun mengikuti Alis dan mengintip di balik tembok yang tidak jauh dari tempat Alis duduk.
__ADS_1
"Siapa yang dibawa dan ditunggui oleh gadis kaku itu? Kenapa ia bersikap biasa saja?" Angga sibuk dengan pemikirannya karena melihat Alis yang sedang membaca buku dan duduk tenang dengan dunianya sendiri.
Hingga muncul seorang wanita paruh baya yang juga tidak dikenalnya, wanita itu terlihat gelisah dan panik. Juga terlihat dari raut wajahnya rasa khawatir. Angga mengerutkan dahinya bingung.
"Gadis itu memang benar-benar kaku, untuk mengekpresikan wajah khawatir saja dia tidak bisa apalagi wajah sedih." Angga menggumam setelah melihat interaksi keduanya. Ia menghela napas melihat sikap gadis kaku yang suka diganggunya tersebut. Kemudian ia berlalu dari sana.
💦💦💦
Alis terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Saat hari libur seperti ini, Alis menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengurus beberapa cabang kafe miliknya. Bahkan ia sering turun tangan untuk membantu para karyawannya. Seperti sekarang ini, kafe sedang ramai-ramainya. Ia terlihat sibuk mondar-mandir melayani para pelanggan.
Sehabis ia mengantar Al tadi kerumah sakit, Alis langsung menuju kearah kafenya. Setelahnya, ia membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah suasana kafe dirasa sudah cukup lengang, Alis berlalu keruangannya yang berada di lantai tiga untuk memeriksa berkas-berkas keuangan kafe. Kafenya terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk pertemuan biasa atau untuk sekedar bersantai. Lantai kedua memiliki ruangan privat yang di peruntukan bagi mereka yang ingin memiliki privasi ataupun mengadakan meeting. Sedangkan di lantai tiga adalah ruangan pribadi Alis sekaligus tempat tinggal Alis jika sewaktu-waktu ia malas untuk pulang kerumah.
Alis berkutat dengan berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya serta laporan keuangan bulan ini.
Tok tok tok
Terdengar pintu ruangan diketuk. Pintu terbuka setelah Alis menginterupsinya untuk mempersilahkannya masuk.
"Alis!! kangen...," Liza menghambur memeluk Alis. Alis tampak memutar bola matanya malas saat melihat penampakkan sahabat semata wayangnya.
"Ke toko buku yuk sebentar, bantu aku mencari buku. Mau ya?" Liza membujuk Alis dengan tatapan puppy eyes andalannya.
"Nanti. Aku selesaikan pekerjaanku dulu," ucap Alis dengan matanya yang tetap fokus pada berkas yang ada didepannya.
Liza mengangguk dan mengambil sebuah buku yang ada di rak buku di ruangan tersebut. Ia duduk santai pada kursi sofa yang ada disana.
"Yah...isinya buku bisnis semua!?" Liza mendesah kecewa dan tampak melongo di buatnya. Ia menggelengkan kepalanya sambil menatap kearah Alis. Sementara Alis tetap fokus dengan berkasnya.
Liza mengembalikan buku yang sudah diambilnya tadi dari tempatnya dan kembali duduk di kursi sofa, ia membuka handphonenya. Liza berteriak heboh saat melihat postingan di instagram salah satu anggotaThe Most Wanted sekolahnya, yaitu Irfan. Mengenai sakitnya seorang Aldebran. Namun semua itu tidak ditanggapi oleh Alis sama sekalu, ia benar-benar tidak peduli dan tetap menatap berkasnya.
Liza kembali berdecak tidak suka melihat respon Alis tersebut, tapi ia tidak ambil pusing setelahnya.
Setelah selesai Alis dengan pekerjaannya, mereka berangkat ke toko buku.
💦💦💦
__ADS_1