Layangan Kertas

Layangan Kertas
Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama 12 jam lebih, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat di bandara Soekarno Hatta. Saat ini waktu di Jakarta menunjukkan pukul 00.15 menit. Rafael menatap kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, waktu menunjukkan pukul 19.15 menit waktu negara asalnya, Luxemburg. Perbedaan yang sangat jauh. Rafael menatap kearah Alis yang tampak berbinar namun senyum manisnya tidak didapatkan Rafael selama seharian ini. Bahkan saat dirinya mengurung Alis di kamar tadipun juga tidak dihiraukan oleh Alis. Setelah Alis meminum obatnya, ia kembali tidur dengan nyenyak hingga pramugari datang dan memberitahu padanya bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat. Dengan cepat Rafael membangunkan Alis dan mengajaknya untuk duduk dibangku penumpang dan memasang sabuk pengaman pada diri masing-masing demi keselamatan diri.


Matanya kembali melirik kearah Alis yang masih bermuka bantal. Bahkan wanita tersebut mengusap wajahnya beberapa kali, padahal sebelumnya ia sudah mencucinya dengan air.


Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, pintunya terbuka. Mereka melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh mereka. Rafael menuntun Alis untuk keluar pesawat, menuruni eskalator hingga sampai didepan sebuah mobil Roll Royce miliknya yang sudah disiapkan oleh sopirnya yang sangat hapal dengan ibukota dan berdomisili di Indonesia. Setelah Yaska membukakan pintu mobil untuk mereka, Alis dan Rafael segera masuk kedalam.


Alis kembali disuguhkan dengan sikap manis Rafael saat didalam mobil. Ia menyuruh Alis untuk memejamkan matanya dan bersandar dibahu Rafael. Sedangkan Alis hanya bungkam saja sambil melirik kearah Rafael yang terus menatapnya dengan hangat. Tatapan Alis beralih kearah jalanan yang tidak seberapa ramai karena suasana yang hampir dini hari. Beberapa kali ia menggosok tangannya yang terbuka karena suhunya yang dingin dan mulai berembun.


Rafael menatap kearahnya dan melepaskan jas yang melekat ditubuhnya. Dengan gerakan perlahan ia membalutkannya ketubuh Alis, membuat Alis yang masih menatap kesamping tampak terkejut dibuatnya, ia berpaling kearah Rafael kemudian menatap kearah jas yang sudah menempel di tubuhnya, ia kembali menatap kearah jalanan. Alis benar-benar tidak nyaman dengan perhatian yang diberikan oleh Rafael. Tidak seharusnya ia secuek ini pada Rafael karena ia sudah sampai dinegaranya sekarang dengan selamat. Setidaknya ia harus menghargai pengorbanan yang diberikan oleh Rafael, tapi apa yang bisa dilakukannya.


Alis berusaha membuang jauh-jauh pikirannya mengenai hutang budinya pada Rafael. Biarlah ia menikmati sesaat udara kota Jakarta. Ia bisa bernapas lega sekarang karena sebentar lagi ia bisa bebas, sebebas dulu saat beberapa minggu yang lalu.


Senyum manis terbit dibibirnya saat ia kembali teringat dengan kakaknya Riyan dan juga orang tuanya. Akhirnya setelah cukup lama penantian, ia bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Tanpa sadar Alis kembali tersenyum senang. Ia tahu kalau rindunya pasti terbalas.


"Kamu kenapa senyum-senyum, apa di kepala cantikmu ini sudah membayangkan sosok lelaki lain?" tanya Rafael tiba-tiba saat melihat Alis tersenyum cukup panjang. Ia begitu terpukau dengan senyum itu walaupun senyum itu bukan untuknya, tapi setidaknya hatinya ikut menghangat menyaksikan semua itu. Tapi ia merasakan gemuruh didadanya saat membayangkan pertanyaannya tersebut. Dibalik pertanyaannya tersebut membuatnya risau dan sedikit cemburu. Gadis kecil ini ternyata mampu membuat alur kepalanya sedikit kacau.


Alis segera merubah mimik wajahnya kembali kemimik seperti semula. Tadinya ia tidak menyadari keberadaan seseorang disampingnya.


"Kita mau kemana?" tanya Alis mengubah topik pembicaraan.


"Hotel!" jawab Rafael sambil menatap Alis dengan jahil.


Alis membelalakkan matanya karena terkejut dengan kabar yang diberitahukan oleh Rafael. Ini tidak baik karena di Indonesia, tidak ada laki-laki dan perempuan yang tidur sekamar tetapi mereka berstatus orang lain atau bukan muhrim. Ini melanggar etika.


"Apa yang kamu pikirkan hah?" tanya Rafael sambil tangannya kembali terulur dan mengacak rambut Alis dengan lembut. Ia kembali menarik tangannya setelahnya dan menatap Alis dengan sorot hangat.


"Bukankah kita sudah pernah tidur satu kamar bahkan tidur dalam satu selimut," ucapnya lagi dengan senyum menggoda. Sontak membuat Alis mendelik kearah Rafael sambil mengerutkan dahinya samar. Ia sama sekali tidak mengingat semua itu. Bahkan ia merasa tidak pernah melakukannya. Apakah lelaki disampingnya ini kembali mengada-ada. Tapi buat apa, tidak ada yang menguntungkan juga dengan dia berbohong.


"Kita memang sudah pernah tidur bersama bahkan sampai dua kali. Termasuk saat di pesawat tadi. Apakah kamu lupa kalau kamu sendiri yang memeluk diriku dengan sangat kencang," ucap Rafael kembali menatap Alis dengan bibirnya yang berkedut. Biarlah kali ini ia yang menjahili gadis pendiam tersebut, ia ingin tahu seperti apa reaksinya. Dengan gerakan perlahan ia mengambil handphone miliknya kemudian membuka galery yang ada disana. Beberapa kali ia melirik kearah Alis dengan ekor matanya, yang sejak tadi menatap dirinya.


"Ini, coba kamu lihat video saat dirimu tertidur dan memelukku dengan sangat kuat, bahkan aku hampir tidak bisa bernapas."


Alis kembali terbelalak setelah melihat video yang berdurasi beberapa menit tersebut. Disana memang benar Alis memeluk Rafael bahkan Alis berusaha menggulingkan Rafael kesisi tubuhnya yang lain. Ia menganggap Rafael adalah guling yang bisa dipeluk kekiri dan kekanan. Wajahnya terasa panas, namun sebisa mungkin ia menahan diri dari rasa malunya, ia melirik kearah depan menatap Yaska yang juga sedang melirik kearah mereka, lebih tepat kearah Rafael.


"Hei! apa yang kamu lihat disitu, aku ada disampingmu. Sebaiknya kamu hanya melihat diriku saja!" ucap Rafael dengan sedikit jengkel saat melihat mata Alis yang menatap kedepan.

__ADS_1


Yaska hampir saja terlonjak kaget karena Rafael berucap dengan ketus dan keras. Ia bahkan seperti orang yang sedang cemburu karena pacarnya sedang dilirik orang lain. Benar-benar lucu tingkah bosnya saat dia cemburu. Bahkan baru kali ini ia melihat sikap Rafael yang selalu menatap orang lain dengan tatapan hangat, biasanya dirinya selalu memberikan tatapan angkuh pada semua orang yang ditemuinya.


"Sebaiknya kita kekediamanku saja. Dijam seperti ini, sayang uang terbuang karena chekc in sudah dini hari," ucap Alis polos, ia tahu peraturan hotel di Indonesia.


"Kamu tenang saja, Yaska sudah mengurusnya sejak siang tadi. Kita hanya tinggal ceck in saja. Sudah, sebaiknya kamu tidur dulu sebelum kita sampai ditujuan." Rafael meraih kepala Alis dan menyandarkannya kedadanya. Ia tahu kalau Alis masih mengantuk, apalagi sekarang adalah waktunya dimana semua orang sedang nyenyak dalam buaian mimpi.


Alis berusaha menarik kepalanya, namun Rafael menahannya dengan cukup kuat. Ia terpaksa mengalah dan membiarkan kepalanya berada didada Rafael. Ia dapat mendengar degup jantung Rafael yang tampak berirama lebih cepat dari biasanya dan itu sebagai penghantar Alis kealam mimpi. Ia benar-benar tertidur dengan cepat.


Mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti tepat disebuah hotel. Bergegas Yaska membukakan pintu mobil untuk Rafael.


Dengan hati-hati Rafael mengangkat Alis dan menggendongnya. Entah kenapa akhir-akhir ini gadis mungil tersebut sangat sering tertidur. Ia tersenyum samar sambil menggiring langkahnya memasuki hotel dan menuju kearah kamar yang sudah mereka pesan bersama salah seorang karyawan hotel yang tampak melayani mereka. Mungkin besok saja ia berencana menuju kearah vilanya yang cukup jauh dari hotel.


***


Alis membuka matanya dengan perlahan, ia menatap kekanan dan kekiri. Ruangan ini tampak sangat luas dan juga mewah bahkan dindingnya tampak berwarna pastel. Dia lupa kalau dirinya masih berada di hotel, bukan dikediamannya. Ah, dia sangat merindukan rumahnya dan juga sekolahnya. Tiba-tiba sosok Al melintas dibenaknya, membuat dadanya berdebar namun pandangannya kembali sendu sambil menatap kearah perutnya. Dia masih tidak percaya kalau dirinya pernah melakukan itu dengan Rafael, apalagi Yaska bilang kalau dia sempat membuka kamar mereka waktu itu dan tidak ada pergerakan sama sekali. Apalagi Rafael dalam keadaan mabuk berat, pastilah dia pingsan karena tidak tahan.


Bergegas Alis berdiri dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruang kamar. Ia tampak bernapas lega karena ia merasa aman, tidur sendirian. Ia tahu kalau Rafael hanya mengerjainya saja. Lelaki sombong dan angkuh itu rupanya juga pandai bercanda.


Alis bergegas kekamar mandi miliknya, ia membersihkan dirinya terlebih dahulu, kemudian memakai pakaian yang sudah dibawanya kedalam kamar mandi. Kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana jeans panjang.


"Ayo! turun kebawah dan kita sarapan!" ucap Rafael sambil memperhatikan penampilan Alis yang terlihat santai. Sedangkan dirinya memakai sweater dengan dilapis kemeja lengan pendek pada bagian dalam, celana panjang dan sepatu sintesis. Ia terlihat benar-benar mempesona dengan tampilannya yang selalu rapi dan juga keren.


Alis mengangguk dan berjalan dibelakang Rafael, ia hanya menunduk saja. Namun ia terhenti saat mereka ingin melangkah keluar.


"Ada apa?" tanya Rafael bingung saat melihat Alis yang terdiam dan kembali menatap kebelakangnya.


"Tunggu!" ucapnya sambil berlari kearah ranjangnya. Ia meraih buku yang ada di nakas kamar tersebut. Kemudian kembali berlari dan menghampiri Rafael yang berdecak melihat apa yang sudah ditenteng Alis.


"Sebaiknya kamu tidak perlu membawa buku tersebut. Kita akan sarapan, bukan belajar atau pidato atau juga berada di ruang baca tapi direstoran," ucap Rafael tegas. Ia tidak suka saat Alis lebih perduli pada bukunya daripada dirinya yang sudah tampil maksimal didepannya.


"Tapi aku ingin baca, bukunya belum aku baca sampai habis," sanggah Alis sambil mendelik kearahnya dengan datar.


"Tapi bisa nanti, Lis!" geram Rafael. Gadis kecil ini sangat keras kepala, bahkan dia sudah sering menentang dirinya.


"Terserah kamu sajalah!" ucap Alis berlalu tapi masih membawa buku ditangannya. Ia berjalan cepat meninggalkan Rafael yang terkadang membuatnya jengkel.

__ADS_1


Alis berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan Rafael yang meneriaki namanya. Ia benar-benar kesal dengan lelaki angkuh tersebut.


Brukkk.


Buku yang Alis pegang terlempar jauh kedepan karena ada seseorang yang tanpa sengaja sudah menabrak dirinya dari samping hingga dirinya hampir saja terjatuh. Beruntung ia bisa menahan diri, sehingga yang si penabraknya lah yang terjatuh. Mata Alis bergerak kearah seorang perempuan yang tersungkur didepannya. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Alis sambil menghampiri wanita tersebut bermaksud ingin menolongnya, namun langkahnya terhenti karena Rafael sudah meraih tubuhnya terlebih dahulu.


"Alis, kamu kenapa? Dimana yang sakit?" tanya Rafael panik sambil memeriksa beberapa bagian tubuh Alis.


"Aku tidak apa-apa, tapi dia yang terjatuh," tunjuk Alis pada wanita yang sudah mengangkat kepalanya dan menyibak rambutnya. Mata Alis tampak terbelalak menatap perempuan yang berada didepannya ini, ia tidak percaya bahwa wanita ini bisa ada disini. Begitupun dengan wanita tersebut yang juga terbelalak menatap kearah Alis.


"Alis!"


"Alifa!"


Ucap mereka secara bersamaan. Kemudian mereka tampak terdiam sesaat sambil saling menatap dan berbicara melalui tatapan. Tatapan yang tidak bisa dideskripsikan karena mereka saling menatap dengan tatapan datar. Alifa melirik kearah Rafael, ia baru menyadari ada orang lain disamping Alis, lelaki asing yang sangat tampan dan juga keren, sepertinya bukan dari kalangan orang biasa .


"Oh! rupanya kamu bersenang-senang dengan lelaki ini di hotel! sebab itu kamu tidak pernah lagi muncul di sekolah," ucap Alifa mengejek kearah Alis sambil tangannya merekam Alis dan lelaki bule yang bersamanya menggunakan handphone miliknya. "Atau jangan-jangan pihak sekolah sudah memberhentikanmu dari sekolah karena mereka tahu tentang kelakuanmu yang seperti ini!?" tanya Alifa dengan jijik dusertai dengan tawa meledeknya. Rasanya ia baru saja menemukan permata yang baru hilang. Bagaimana tidak, ia baru saja menemukan fakta kalau Alis sedang bersama lelaki bule di sebuah hotel dengan kamar presiden suite. Apalagi yang mereka lakukan saat dua orang dewasa dalam satu kamar, pasti tidak jauh-jauh dari hal yang berbau sedap-sedap.


Alis mengepalkan tangannya marah mendengar tuduhan Alifa padanya. Gadis ini terlalu iri padanya hingga ia selalu mencari celah untuk menjatuhkan dirinya. ia menatap kearah Alifa dengan sorot tajam dan mengintimidasi.


"Kenapa? Mau marah? Mau memukul?" tanya Alifa menantang sambil menatap kearah tangan Alis yang terkepal. Ia merasa menang sekarang karena Alis pasti akan lebih buruk dari yang sudah-sudah. "Apa yang aku katakan benarkan kalau dirimu baru saja tidur dengan lelaki asing ini?" tunjuk Alifa pada Rafael yang sedari tadi hanya bungkam saja sambil menatap kearah Alifa tanpa berkedip.


Prok prok prok.


"Wow, gadis batu tetapi j*l*ng, akan ada gosip diharian sekolah kita," gumam Alifa senang sambil berlalu meninggalkan Alis yang hanya diam dengan mode marah.


Alis benar-benar geram dengan Alifa. Ia pasti menyebarkan romur baru di sekolah mereka. Lalu, sedang apa dia disini? Alis menatap kearah kamar hotel yang baru saja ditinggalkan oleh Alifa, ia mengerut dalam saat pertanyaannya tidak dapat dia jawab.


"Ayo! kita sarapan sekarang. Setelah ini kita akan kerumah orang tuamu," ucap Rafael santai sambil menyerahkan buku Alis yang terlempar tadi.


Alis kembali melirik kearah Rafael dengan tatapan selidik, ucapan Rafael barusan seperti mengandung dua makna.


"Ayo, sayang!" ajak Rafael lagi sambil menarik tangan Alis agar segera berjalan bersamanya. Rafael masih penasaran dengan wanita yang seumuran dengan Alis tadi. Wanita yang memaki-maki Alis dengan sorot kebencian dan juga rasa tidak sukanya. Kenapa Alis hanya diam saja saat ditindas seperti itu, bahkan juga sudah diancam pula? Apakah gadis itu lebih berkuasa dan lebih kaya dari Alis sehingga ia diam saja? Ada banyak tanya dibenak Rafael yang belum mampu untuk dijawabnya.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2