
Keluarga Arya sedang berkumpul diruang keluarga, mereka sedang menonton tv bersama. Al sibuk dengan bukunya sementara Arya bersama istrinya bersantai saja. Ada yang aneh kali ini menurut Al, entah itu apa penyebabnya, yang jelas semenjak ibunya baru datang bersama ayahnya tadi sampai sekarang, Harwinda terlihat sangat senang bahkan senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya.
Arya yang juga melihat perubahan itu menatap kearah Al namun Al hanya mengangkat bahunya. Begitupun Arya, ia tampak menggelengkan kepalanya.
"Senang bangat kayaknya mama, ada apa ma?"
Harwinda menatap kearah Al yang menanyainya. "Mama lagi senang aja."
"Ih mama, aku penasaran loh." Al tersenyum dengan poppy eyesnya.
Harwinda terkikik geli menatap kearah Al yang tampak sangat imut. "Yakin mau tau?"
Al dan Arya tersenyum senang, mereka menganggukan kepalanya secara bersamaan.
"Mama tadi ketemu sama Alis, gadis yang menolongmu waktu itu, Al."
"Dikafe tadi, yang bicara sama mama tadi?" Arya mencerocos setelah mengingat kejadian tadi.
Harwinda menganggukan kepalanya. "Ia bekerja dikafe itu. Padahal mama ingin sekali berbicara banyak dengannya tapi sepertinya ia sedang kurang sehat, bahkan juga sibuk."
"Kurang sehat gimana, Ma?" Al menatap Harwinda dengan fokus, ia berusaha menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang berhubungan dengan foto dan gosip pagi tadi.
"Jidatnya itu loh terluka dan sedikit agak bengkak. Tapi dia tetap saja memaksakan diri untuk bekerja."
Arya tampak terkejut mendengarnya, ia teringat kejadian semalam. Gadis yang menolongnya juga terluka jidatnya, tapi tidak mungkin itu gadis yang sama karena nama mereka berbeda.
"Apa mama bertanya padanya tentang asal muasal lukanya?" Kali ini Arya menanggapi dengan serius. Ia masih merasa khawatir dengan Syaiba karena tidak mengetahui kabarnya sama sekali bahkan ia hidup sendiri.
Al memperhatikan ayahnya, ia tampak bingung melihat sikap ayahnya yang tampak perduli dengan orang yang bahkan belum dikenalnya. Tapi itu wajar sih karena ayahnya merasa berhutang budi dengan gadis yang menolongnya, bahkan dengan suka rela menyerahkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan nyawa yang lain. Tentu saja, karena resikonya fatal kalau sampai gadis itu kalah dalam bertarung melawan begal yang jumlahnya tidak sedikit. Tapi ia juga merasa salut dengan gadis hebat itu, ternyata tidak hanya Alis yang menjadi penolong bagi keluarga mereka. Ia juga ingin berterima kasih secara langsung pada gadis yang sudah menolong ayahnya itu.
"Katanya sih habis terbentur sesuatu karena jatuh. Memangnya kenapa, Pa?" Harwinda menatap suaminya yang tampak bernapas lega.
"Papa kira dia gadis yang menolong Papa tadi malam. Ternyata bukan, namanya juga berbeda. Mana mungkin Syaiba menjadi Alis." Arya menggelengkan kepalanya dan terkekeh setelahnya.
Syaiba? Sepertinya aku pernah mendengar nama tersebut tapi dimana ya?
Al tampak berpikir keras berusaha untuk mengingatnya, namun percuma. Ia sama sekali tidak mengingat nama itu.
"Apa kamu mengenalnya Al, mungkin juga satu sekolah denganmu."
__ADS_1
Al menggelengkan kepalanya. "Memangnya kenapa, Pa?"
"Papa hanya khawatir melihat kondisinya tadi malam. Lukanya cukup parah dan juga memar membengkak. Sampai sekarang juga dia tidak ada menghubungi papa untuk meminta biaya berobat, padahal Papa sudah mengatakan padanya tadi malam agar hari ini dibawa kerumah sakit."
"Sebaiknya Papa susul saja kealamatnya, Papakan tahu dimana alamatnya. Kalau Papa keberatan, Mang Utuhkan bisa diminta kesana." Al merasa kasian melihat ayahnya yang tampak mengkhawatirkan Syaiba.
"Sudah, bahkan dari pagi hingga sekarang rumah itu selalu diawasi suruhan Papa, tapi rumahnya kosong."
Al hanya bisa diam setelah mendengar kata-kata ayahnya barusan, memangnya ia bisa apa?
"Sudahlah Pa, mungkin besok dia ada dirumahnya. Kita tunggu saja kabar dari orang suruhan Papa." Harwinda tampak menenangkan suaminya.
Benak Al kembali berkecamuk, ia ingin menanyakan tentang hal apa saja yang dibicarakan oleh ibunya bersama Alis dikafe tadi, namun urung. Ia merasa ini suasana yang kurang tepat.
"Pa, Ma, Al kekamar duluan."
Ibu dan ayahnya Al hanya menganggukan kepalanya.
"Pa, Mama sangat menyukai Alis loh, dia orangnya pendiam tapi tegas Pa, coba kalau Papa ketemu pasti langsung suka."
Al menghentikan pergerakan kakinya yang ingin menapaki anak tangga pertama, ia memperlambat gerakannya sambil mencuri-curi dengar pembicaraan orang tuanya.
"Ih apa-apaan sih Papa, sudah tua.Ingat umur Pa." Harwinda tampak cemberut menatap kearah suaminya, sedangkan Arya terkekeh senang karena ia berhasil menggoda istrinya.
"Apa-apaan sih mereka." Gumam Al sambil mempercepat langkahnya menuju kearah kamarnya.
💦💦💦
Alis terlihat masih sibuk dengan laporan keuangan semua kafe yang dimilikinya. Tangan kanannya bahkan datang ketempatnya untuk meminta tanda tangan darinya. Banyak dokumen-dokumen yang dibawa oleh Januar.
"Lis, kamu mau pulang?" Januar menatap Alis yang terlihat lelah dan mulai mengantuk.
"Aku menginap disini saja, Kak. Malas pulang, ini sudah larut malam juga."
Januar hanya mengangguk paham. "Itu ide yang bagus. Kamu sudah lama tidak masuk kantor, rasanya sudah dari beberapa hari yang lalu."
"Iya, Kak. Ma'af karena akhir-akhir ini Alis sering merepotkan kakak dan juga kak Riyan."
"Itu bukan apa-apa Lis, itu semua wajar, biasa. Seorang kakak pasti selalu ingin melindungi adiknya dan itu bukan suatu beban. Dan tidak ada yang perlu untuk dima'afkan ataupun meminta ma'af soal itu."
__ADS_1
Alis menganggukan kepalanya, ia tampak menguap beberapa kali.
"Ya sudah, kamu sekarang tidur. Biar badan kamu segar kembali saat bangun besok. Dan untuk besok, kamu sebaiknya istirahat saja tidak usah bekerja. Ya udah, kakak pulang dulu." Riyan beranjak dari duduknya.
Alis menganggukan kepalanya. "Maksih kak."
"Iya, sama-sama. Selamat malam."
"Malam juga kak."
Setelah cukup berbasa-basi, Januar mengarahkan kakinya keluar ruangan.
Alis segera menutup kertas-kertas laporan keuangannya. Ia menatap kearah jam yang berada didinding didalam ruangan tersebut, jam sudah menunjukkan 21. 47, yang berarti ini sudah waktunya tidur.
Bergegas Alis menuju kearah pintu berwarna putih yang terletak tidak jauh dari meja kerjanya. Saat ia membuka pintunya, suasana kamar yang bernuansa gelap menyambutnya. Dinding kamarnya yang berwarna hitam pekat sangat kontras dengan cover tempat tidurnya yang terang , tampak gemerlapan cahaya bintang menghiasi langit-langit kamarnya. Dengan sebuah tempat tidur berukuran king size. Ada beberapa kursi yang terletak diujung ranjangnya, juga televisi didinding atasnya. Di pojok ruangan juga terdapat sebuah pintu, kamar mandi.
Bergegas ia memasuki kamar mandi guna membersihkan dirinya. Setelahnya, ia berjalan kearah ranjangnya dan merebahkan dirinya. Alis tidak dapat memejamkan matanya. Ia nanar menatap kearah lukisan bintang dilangit-langit kamarnya. Benda mati yang seolah-olah hidup, sedangkan dirinya adalah benda hidup yang seolah-olah mati.
Ia kembali memikirkan gosip yang beredar tentang dirinya disekolah. Ia berharap kesalahpahaman ini segera berlalu. Alis benar-benar tidak dapat memejamkan matanya, ia tampak menghela nafas. Entah langkah apa yang akan dilakukannya terhadap siswa dan siswi yang kali ini sudah keterlaluan dan melanggar tata tertib sekolah.
Ia yang memang tidak bisa tidur , meraih sebuah buku yang terdapat diatas nakas samping tempat tidurnya. Alis kembali fokus dengan bukunya, tiba-tiba dering handphone membuyarkan konsentrasinya. Alis meraih handphone dan melihat nama pemangginya.
"Halo." Alis menyapa terlebih dahulu.
"Sayang, kamu dimana, Dek?" Dari seberang sana.
"Alis menginap dikafe, Kak. Ini sudah larut malam jadi Alis malas untuk pulang."
"Baiklah, kamu hati-hati ya. Soalnya kakak tidak bisa menemanimu sekarang. Kakak masih sibuk karena besok kakak akan pergi ke Kalimantan, ada urusan bisnis selama 2 hari."
"Iya kak."
"Jangan kangen ya..." Terdengar usil. "Jangan lupa jaga diri dan kesehatan juga. Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu tidur. Selamat malam."
"Malam juga kak."
Telpon dimatikan dari seberang sana. Alis mematikan lampu kamarnya dan merebahkan kembali tubuhnya. Dengan perlahan ia masuk kealam mimpi.
💦💦💦
__ADS_1