
Al menghampiri Alis yang sedang menatap kosong, ia memeluk Alis dengan lembut. Alis terkejut dan melototkan matanya, namun ia membiarkannya saja karena ia merasakan perasaan hangat.
Deg deg
Jantung Alis berdetak tidak normal, detaknya begitu cepat. Ia merasa familiar dengan pelukan ini. Dengan segera ia mendorong Al agar melepaskannya. Bukannya melepaskan pelukannya, Al malah semakin erat memeluknya.
"Biarkan ini sesaat, aku hanya ingin memelukmu sesaat." ucap Al dengan lirih.
"Al..." gumam Alis dengan lirih, ia mengangkat tangannya dengan perlahan dan membalas pelukan Al tersebut. Alis terisak didada Al hingga baju yang dikenakan oleh Al basah.
"Menangislah, aku akan selalu ada untukmu." ucap Al sambil membelai rambut Alis dengan lembut. "Ma'afkan aku karena beberapa hari ini selalu menghindarimu, tapi aku begitu juga demi kamu. Agar kamu bahagia, tapi ternyata aku tidak bisa lepas darimu." ucap Al masih dengan memeluk Alis.
"Apa maksudmu?" tanya Alis yang sudah tidak terisak lagi, ia tidak mengerti sama sekali dengan pembicaraan Al barusan.
Al melepaskan pelukannya, kedua tangannya beralih kepundak Alis. "Dengar! aku hanya akan mengucapkannya sekali, tidak lebih!" Al menatap kedalam mata Alis yang bulat dan hitam, mata yang begitu cantik dan menenangkan. "Kamu, akan selalu ada disini." tunjuk Al pada dadanya, lebih tepatnya pada bagian hatinya.
Alis menatap Al dengan terharu dan hanya mengangguk saja. Ia tidak percaya, masih ada orang yang perduli padanya dibalik kebencian semua orang padanya hari ini. Ia begitu terharu mendengar penuturan Al tersebut.
"Jadi, apapun masalahmu, kamu harus cerita padaku. Sesulit apapun itu, aku akan berusaha untuk selalu membantumu dan menyokongmu. Sekarang kamu semangat ya." Al menghapus air mata yang menetes dipipi Alis.
Alis mengangguk dan kembali menatap Al, ia takut semua ini hanyalah halusinasinya saja.
"Udah, sekarang kamu tidur." ucap Al sambil merebahkan Alis dan menutup tubuh Alis dengan selimut yang ada disana. Ia tersenyum kepada Alis untuk menularkan rasa bahagia dan menunjukkan rasa aman.
Alis mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Pikirannya benar-benar tenang sekarang dan ia sudah dapat menghadapi hari-hari selanjutnya dengan penuh semangat.
Al duduk ditepi ranjang Alis sambil menatap Alis yang terlihat sangat tertekan, ia merasa sangat bersalah karena meninggalkan Alis dalam kesendirian dan juga dalam situasi yang tidak bagus seperti sekarang ini.
Diluar ruangan, ketiga sahabat Al dan juga Liza bersama Alex sudah mendengar percakapan mereka. Mereka begitu bahagia dan sekaligus terharu, akhirnya semua perselisihan diantara mereka dapat terselesaikan.
Selepas Alis tertidur, Al berjalan keluar ruangan untuk melihat keributan apa yang baru saja terjadi. Ia terkejut melihat teman-teman sekelas Alis sedang adu mulut bersama Liza.
"Dengar ya, kami ingin agar Alis keluar dari sekolah ini." ucap salah satu teman sekelas Alis yang bernama Nadin.
"Apa-apaan sih kalian, memangnya kalian siapa sok mengatur-ngatur Alis!" ucap Liza dengan emosi.
"Iya, kami sudah bosan mendengar namanya yang selalu mencemarkan nama baik kelas kita bahkan sekolah kita." ucap yang lainnya.
"Udah! cukup! sebaiknya masalah ini kita selesaikan dengan baik-baik. Kita tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak, ini harus dibicarkan bersama dewan guru dan juga komite sekolah ini." ucap Al yang merasa marah dengan kata-kata mereka yang memojokkan Alis.
"Ini, ada apa sih, kok ribut-ribut diruang USK, kasian pasien yang didalam jadi terganggu." Angga tiba-tiba datang. Ia yang berkeinginan untuk pergi kekantin tiba-tiba batal setelah melihat keributan dan gerombolan siswa-siswi didepan ruangan UKS.
Semuanya tampak bungkam sambil menatap kearah Angga. Mereka yang tadinya berbicara lancang tampak kicep setelah melihat aura Angga yang mengintimadasi. Selain itu, Angga adalah salah seorang anak donator terbesar disekolah ini, jadi wajar saja mereka takut dan tunduk.
__ADS_1
"Kenapa diam?" tanya Angga dengan menatap satu-persatu kearah mereka. "Siapa yang kalian jugde?" tanyanya lagi.
Masih sama, tidak ada yang berani menjawab.
"Eh ada apa ini? Siapa yang sakit?"
Mereka serempak menoleh keasal sumber suara, disana Jessica dan Alifa berjalan kearah mereka.
"Alis yang sakit." ucap Nadin menjawab dengan cibiran.
"Ya ampun, jangan-jangan benar lagi rumor yang waktu itu kalau Alis sedang hamil." ucap Alifa tanpa rasa bersalah.
"Kalau ngomong jangan sembarangan!" marah Liza.
Al yang sejak tadi tidak tahu letak permasalahannya, hanya diam saja sambil menggenggam tangannya menahan amarah. Seandainya yang didepannya bukanlah perempuan, maka habislah mereka semua.
"Sudah, sebaiknya kita diskusikan saja dulu maslah ini dikelas sebelum kita adukan pada pihak sekolah." ucap Angga menengahi. Semua yang ada disana tampak mengangguk dan membubarkan diri dari kerumunan.
"Aldo, tolong kamu jaga Alis disini. Aku ingin mendengarkan komentar mereka mengenai Alis." ucap Al selepas semuanya sudah bubar.
"Sebenarnya ada masalah apa sih ini?" tanya Irfan bingung, karena sejak tadi ia tidak mengetahui permaslahan yang terjadi.
"Aku juga tidak tahu, sebaiknya kita ikuti saja mereka dan dengarkan apa yang mereka inginkan juga alasan-alasan mereka." ucap Al pada ketiga sahabatnya.
"Makasih banyak ya, kalau ada apa-apa, tolong beritahu aku." ucap Al lagi. Siswi tersebut hanya mengangguk.
Al dan ketiga sahabatnya segera berlalu menuju keruang kelas 12 ipa2.
Ketika mereka memasuki kelas, suasana kelas sudah tampak tegang.
"Stop! jangan adu mulut lagi. Sekarang jelaskan permasalahannya." Angga menggebrak meja guru yang ditempatinya. Ia tampak geram melihat Nadin yang sejak tadi terus saja memprovokasi teman-temannya. Mereka kembali diam setelah mendapat peringatan dari Angga.
"Nadin, coba kamu jelaskan permasalahannya." ucap Angga sekali lagi.
"Alis sudah mencoreng nama baik sekolah kita, khususnya kelas ini. Jadi, kami ingin agar Alis keluar dari sekolah ini." ucap Nadin berapi-api.
"Setuju, betul itu." gemuruh dari pihak yang menyetujui terdengar riuh.
Tok-tok
"Boleh bapak masuk?" Siswanto, kepala sekolah mereka sudah berdiri didepan pintu kelas bersama Riyan dan juga Januar.
Seluruh siswa tampak mengangguk setuju, terlihat senyum senang dari Jessica dan Alifa saat melihat banyaknya siswa dan siswi yang membenci Alis.
__ADS_1
"Bapak dengar dari laporan seseorang, sejak pagi tadi dikelas ini ada keributan." ucap Siswanto yang sudah berdiri didepan kelas dan menatap seluruh siswa-siswi yang ada diruangan tersebut. Bahkan diluar ruangan pun sudah dipenuhi oleh seluruh siswa siswi yang juga penasaran dengan keributan. Mereka sedang jam kosong, karena seluruh dewan guru sedang mengadakan rapat mengenai ujian semester ganjil yang akan diadakan beberapa bulan kedepan.
"Coba kalian jelaskan permasalahannya." ucap Siswanto dengan tenang.
Bisik-bisik riuh kembali terdengar dari siswa dan siswi yang sedang menatap kearah Januar dan Riyan.
"Itukan lelaki yang bersama Alis dirumah sakit waktu itu." gumam beberapa siswi yang terdengar hingga ketelinga mereka.
"Iya, yang satunya itukan yang selalu mengantar Alis sekolah." ucap yang lainnya.
"Kenapa mereka kompak ya, jangan-jangan Alis sudah menipu mereka hingga mereka tidak tahu."
"Ya ampun... ganteng bangat, pantas saja Alis serakah."
Begitulah bisik-bisik yang terdengar hingga ketelinga mereka. Januar dan Riyan menatap satu-persatu orang yang sudah membully Alis habis-habisan, ia mengabsen wajah-wajah mereka dan ingin melakukan perhitungan pada mereka semua.
"Tolong jangan ribut. Ada yang bisa menjelaskan letak permasalahannya?" tanya kepala sekolah lagi. "Kebetulan disini juga ada asisten dari pemilik sekolah." tunjuk Siswanto pada Januar. "Jadi, kalian bisa menyampaikan keluhan kalian langsung padanya." ucap Siswanto lagi. "Mulai dari kamu!" tunjuknya pada Nadin.
Nadin menatap kearah Riyan dan juga Januar, ia tersenyum manis. Pasti Alis akan dikeluarkan dari sekolah ini, pikirnya. Ia melirik kearah Alifa dan juga Jessica yang mengangguk padanya. Semua itu tidak pernah luput dari pandangan Januar dan juga Riyan.
"Kami tidak suka Alis bersekolah disini, dia sudah mencemarkan nama baik sekolah kita. Banyak romur yang beredar bahwa Alis adalah perempuan bayaran. Bahkan ia juga pernah pergi kerumah sakit khususnya poly kandungan. Dan juga, kami sudah sering melihatnya berganti pasangan." ucap Nadin sambil sesekali melirik kearah Riyan dan Januar.
"Betul itu, dan sekarang katanya Alis sedang sakit. Apa kemungkinan besar dia sedang hamil?" ucap Alifa menambahkan. "Dan satu lagi, Alis adalah seorang kriminal dimasa lalunya." ucapnya dengan tenang.
Seluruh siswa yang ada diruangan itu membelalakkan matanya, kecuali mereka yang memihak pada Alis dan juga mereka yang sedang berdiri didepan kelas.
Riyan menggenggam jemarinya dikedua sisinya dengan kuat hingga memutih, rahangnya mengeras dan wajahnya memerah, ia sangat marah pada Alifa yang mengada-ada dan juga Nadin yang menuduhkan hal bohong. Ia menatap tajam kearah tersangka utama.
"Baiklah anak-anak, disini sebenarnya hanya terjadi kesalahpahaman saja mengenai teman kalian si Alisya. Dia hanya korban oleh kecurangan pihak yang tidak bertanggung jawab." menarik napas sejenak.
"Mengenai kejadian pertama, itu sudah pernah kita konfirmasikan sebelumnya, bahwa rumor itu hanyalah palsu, kita sudah tahu siapa penyebarnya dan sudah dihukum juga." Siswanto menatap kearah Jessica yang menunduk.
"Sedangkan yang selanjutnya, mengenai siapa saja yang mengantar Alis kesekolah, bisa saja itu adalah sopir taksi, kerabatnya, keluarganya." ucap Siswanto lagi.
"Tapi pak, itu bukan mobil taksi." ucap yang lainnya karena merasa tidak terima dengan sanggahan Siswanto. Siswanto mengangkat tangannya agar mereka yang kembali riuh dapat diam.
"Intinya, kalian jangan hanya bisa menjudge teman kalian. Coba kenali lebih dalam lagi teman kalian, siapa tahu ada sesuatu yang mengejutkan nantinya." ucapnya dengan tersenyum.
"Pak bagaimana dengan permasalahan ini?" tanya yang lainnya karena merasa kurang puas dengan semua ini.
"Beri kami waktu selama 3 hari. Dalam hari ketiga kedepan, kami akan mengumumkan hasilnya didalam acara ulang tahun sekolah kita nanti." ucap Januar mengambil alih. 'Dan tentunya ini akan menjadi kejutan yang paling berkesan bagi kalian'. tambahnya dalam hati. "Dan untuk Alisya, dia akan kita skorsing dulu selama 3 hari ini." ucap januar yang disambut sorakan senang dari pihak Alifa dan Nadin.
Sementara pihak Al tampak melotot mendengar keputusan itu. Mereka begitu kecewa dengan semua itu. Berbeda dengan Liza, ia sangat senang mendengar kabar baik tersebut.
__ADS_1
💦💦💦