Layangan Kertas

Layangan Kertas
Senyap


__ADS_3

Alis ditarik oleh Liza kearah taman yang berada tepat dihadapan aula. Dengan gerakan cepat ia berbalik dan menatap Alis dengan penuh selidik.


"Jelaskan!" Pintanya, membuat Alis mengerutkan dahinya bingung karena sikap Liza yang terlihat tidak sabaran. Dan ia sama sekali tidak mengerti dengan yang barusan diminta oleh Liza.


"Jangan pura-pura tidak tahu maksudku. Atau kamu memang sedang menghindariku!"


"Za, memang aku tidak tahu dengan yang kamu maksud. Meminta sesuatu tanpa penjelasan, aku kan jadi bingung Za."


Liza menarik napasnya menahan kesal atas jawaban Alis padanya.


"Kenapa kamu merahasiakan ini dariku. Kamu tega Lis, kamu anggap apa aku ini ha?" Liza mulai mendrama.


Alis tertunduk. Ia mengerti sekarang dengan maksud Liza. Ia menatap kearah sahabatnya dengan perasaan campur aduk. Rasanya ia ingin bersama-sama terus dengan Liza hingga kuliah dan bekerja nanti. Tapi, mungkinkah ia bisa, kalau seandainya benar janin itu tumbuh di rahimnya.


"Apa yang kamu tahu tentang semua itu?"


Liza mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Alis. Kenapa ia justru bertanya, apakah ia takut ataukah malu kalau Liza tahu tentang semuanya.


"Aku hanya tahu kalau kamu di culik, kemudian di jual dan yang terakhir kamu ditiduri oleh lelaki tampan bermata biru!"


Wajah Alis seketika terlihat masam saat mendengar Liza yang memuji Rafael dengan nada riang dan centil.


"Itu benarkan Lis kalau wajahnya sangat tampan. Pastilah anak kalian juga blasteran, ukkhhh pasti tampan ataupun cantik." Liza seketika menutup mulutnya sendiri saat mendapati Alis yang menatapnya dengan tajam. Gadis didepannya ini memang tidak suka saat diajak berbicara mengenai barisan lelaki tampan.


Apa-apaan Liza ini. Alis sedang sedih dalam menghadapi musibah itu, dia justru bahagia karena Alis beruntung mendapatkan Rafael, bule tampan.


"Za, nanti aku akan cerita padamu tentang semuanya." Alis beralih menatap kearah Januar yang berjalan kearah mereka. Sejak tadi ia ingin menghampiri Alis namun sepertinya Alis terlihat sedang serius berbicara dengan Liza sehingga ia menahan dirinya.


"Ada apa?" tanya Alis saat Januar sudah berada dekat dengannya. Liza langsung membalikkan badannya menatap kearah sumber yang diajak bicara oleh Alis.


"Acara sudah dimulai sejak tadi. Sebentar lagi kamu akan naik keatas panggung. Jadi, persiapkan dirimu mulai sekarang!"


"Oke!"

__ADS_1


"Za, sebaiknya kita masuk kedalam dulu. Aku akan memberitahumu nanti."


"Baiklah. Aku berharap kamu tidak menyembunyikannya dariku. Dan semoga setelah ini kamu selalu baik Lis. Sukses ya, moga berhasil di atas panggung!" Sahutnya memberi semangat pada Alis.


Alis hanya mengangguk samar. Ia meninggalkan Liza dan mengikuti langkah Januar yang membawanya ke belakang panggung. Hingga mereka tiba disana. Banyak siswa-siswi yang sedang bersiap menunggu giliran untuk tampil, bahkan ada yang pergi keruang ganti. Beberapa dari mereka juga terlihat sibuk memegang kertas teks, karena nanti akan ada drama dan juga pembacaan puisi. Bahkan ada juga yang menyanyi.


Seluruh mata menatap heran kearah Alis. Setahu mereka kakak kelas tingkat akhir tidak kebagian dalam peran disini karena mereka disibukkan dengan kegiatan belajar menghadapi UN.


"Kenapa tuh kak Alis datang ke belakang panggung?" tanya salah seorang siswa yang tampak keheranan.


"Mungkin dia ada perlu sama seseorang. Coba lihat lelaki yang ada disampingnya, asisten pemilik sekolah!" sahut yang lainnya.


"Mungkin saja dia sedang bermasalah dengan pemilik sekolah. Rumornya kan tidak pernah berhenti."


"Ternyata kak Alis itu cantik ya," celetuk salah satu dari mereka.


"Iya, tapi sayang dia sangat murahan. Katanya sering menginap di hotel dengan lelaki hidung belang!" sahut yang lainnya sambil berdecih.


Alis hanya melirik kearah mereka. Bisa-bisanya mereka membicarakan dirinya tepat dihadapannya. Bahkan mereka berbicara asal saja tanpa tahu kenyataannya. Setelahnya ia menatap datar kedepan, menunggu gilirannya untuk di panggil. Sedangkan Januar tampak sibuk berbicara dengan seseorang.


"Kini tiba saatnya momen-momen yang paling kita tunggu-tunggu, yaitu sambutan dari pemilik sekolah BIMA GALAXY pada khalayak ramai. Disini saya juga penasaran loh dengan pemiliknya, katanya orangnya masih muda dan sangat berbakat. Dan oh ya satu lagi, dia juga memiliki bisnis yang lainnya. Untuk mempersingkat waktunya, marilah kita panggil pemilik sekolah Bima Galaxy untuk naik keatas panggung!" teriak MC di iringi dengan tepuk tangan heboh dari para undangan yang duduk berjejer pada kursi penonton.


Suasana aula terlihat tampak tenang dan seluruh perhatian tersedot kearah panggung. Semua mata tampak menantikan sang pemilik sekolah muncul, mereka sangat penasaran dengan sosok yang selama ini mengubur dirinya sendiri.


Alis dengan dibantu oleh Januar, bersiap di belakang panggung. Ia terlihat cukup gugup karena ini yang pertama kalinya ia menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada disana.


Mungkin, setelah ini kehidupannya tidak akan bisa tenang lagi. Bahkan ia yakin kalau disetiap harinya pasti ia akan menemukan muka-muka palsu dan penjilat.


Alis segera berdiri. Semua siswa yang ada disana tampak menatap kearah Alis dengan heran. Namun wajah mereka seketika menjadi pias setelah mendengar ucapan dari Januar.


"Alisya, sekarang giliranmu untuk memperkenalkan siapa sebenarnya dirimu!"


Mereka yang tadinya menjelekkan Alis seketika langsung membeku, bahkan wajah mereka terlihat sangat pucat. Berusaha mencerna ucapan Januar.

__ADS_1


"Jadi, kak Alis adalah___." Mereka tidak meneruskan ucapan mereka. Dan beralih menatap ketempat duduk Alis, namun terlambat. Alisnya sudah pergi terlebih dahulu kearah panggung.


Rasa sesal dan takut seketika menghiasi wajah mereka. Takut dengan kemurkaan Alis dan juga nasib mereka kedepannya di sekolah ini.


Sorot lampu mengarah kearah Alis dan Januar saat Alis memasuki panggung. Beberapa orang tampak ternganga dan kaku tanpa mampu berucap sepatah katapun.


Bahkan beberapa yang lainnya tampak memucat. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.


Disana, diatas panggung berdiri siswi yang selama ini mereka bully habis-habisan bahkan tidak jarang mereka meminta agar dia segera keluar dari sekolah.


Teman-teman sekelas Alis tampak gemetaran melihat kearahnya. Mereka tidak menyangka ternyata Alislah pemilik sekolah elit ini. Gadis itu benar-benar tidak dapat ditebak dari kehidupannya sehari-hari.


Ternyata benar kata pepatah, semua isi buku tidak bisa dilihat dari sampulnya saja. Yang berkulit mulus dan baik belum tentu menjamin isinya baik dan bagus, begitupun sebaliknya.


Suasana seketika menjadi sangat senyap dan hening. Tidak ada yang mampu membuka suara. Tarikan napas pun hampir tidak terasa. Semua terlihat sangat tegang, menatap kearah panggung dengan rasa percaya dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat barusan.


Menyesal mereka tidak mempercayai ucapan Liza waktu itu. Menyesal mereka berlaku jahat pada Alis dan menyesal mereka mempercayai rumor itu begitu saja.


"Selamat malam semuanya." Alis menyapa seluruh tamu yang ada disana. Matanya memindai dari kanan kekiri hingga ke pojok. Tatapan datar namun hangat, ia melihat ada dari beberapa siswa yang tampak gelisah dan menunduk malu saat dirinya menyorot mereka. Banyak wajah-wajah keterkejutan yang didapatnya, termasuk wajah Al.


"Perkenalkan, nama saya Alisya Syaibatul Azizah, biasa dipanggil Alisya. Tapi mungkin bagi sebagian teman-teman sudah ada yang mengetahuinya. Disini saya hanya ingin menyampaikan sepatah dua patah kata saja dalam rangka HUT sekolah kita ini." Alis menarik napas sejenak.


Senyap. Masih tidak ada yang bersuara. Bahkan suara cicak di dinding juga tidak kedengaran. Mata mereka terus menatap kearahnya tanpa berkedip, begitupun dengan para orang tua, mereka semakin ingin tahu dan ingin menggali mengenai sosok Alis yang misterius.


"Memang benar apa yang sudah di sampaikan oleh MC dan juga Januar tadi bahwa saya memang benar adalah pemilik sah sekolah ini. Di lihat dari wajah-wajah kalian yang tidak percaya. Tapi kepercayaan itu tidak bisa hanya dilihat dari tampilan luar saja, kita juga harus mengetahui secara keseluruhan terlebih dahulu."


"Disini saya selaku pemilik sekolah, berharap agar kedepannya sekolah kita tidak lagi mengalami hal-hal yang sampai membuat para wartawan memburu dan mencari berita hanya karena sesuatu yang tidak sepantasnya dijadikan sebagai bahan kesalahan."


"Yang utama, kita semua harus menjaga nama baik sekolah kita. Baik di lingkungan sekolah, rumah ataupun lingkungan luar yang lainnya. Tidak ada lagi sistem diskriminasi diantara kita dan juga pembullyan yang berujung kerugian bagi diri masing-masing. Dan juga kedepannya, semoga sekolah kita ini jaya, maju dan sukses serta mewariskan generasi yang berbudi pekerti yang luhur. Kiranya itu saja sepatah dua patah kata dari saya. Selamat malam dan silahkan melanjutkan acaranya."


Alis membungkukkan sedikit badannya dan segera turun dari panggung melalui sisi panggung. Ia berjalan kearah ayah dan ibunya serta Riyan yang duduk pada kursi deretan paling depan. Beberapa kali Riyan terlihat mengacungkan jempolnya. Ia terlihat puas dengan suasana yang seketika tampak senyap.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2