
Acara penghargaan untuk tim Al sudah selesai, masing-masing siswa dipersilahkan untuk ke kelas masing-masing dan di istirahatkan.
"Alis. Kita ke taman yuk sebentar!" ajak Liza pada Alis.
Alis melirik saja, sebenarnya ia ingin ke perpustakaan. Karena banyak buku yang ingin di carinya untuk referensi pembuatan makalah.
"Aku ingin ke perpustakaan," sahut Alis.
"Ayolah! Hanya sebentar saja. Ada sesuatu yang ingin aku ambil." Liza tampak memelas.
Alis mengernyit heran. Tidak biasanya Liza mengajaknya menuju taman sekolah. Ia menatap curiga kearah Liza, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya.
"Tumben. Biasanya kamu selalu sibuk di kantin atau juga sibuk pacaran sama Alex," cibir Alis.
"Jangan gitu dong Lis, kamu curigaan melulu bawaannya akhir-akhir ini." Liza bersikap biasa dengan wajah cemberut karena Alis mengacuhkan keinginannya.
"Urusan buku, nanti deh aku bantu mencarikan untukmu!" bujuk Liza lagi. Kali ini ia berusaha bersikap biasa saja dan memelas.
Alis menjadi tidak tega. Ia mengangguk hingga membuat Liza bersorak senang.
Sepanjang lorong sekolah yang dilewati olehnya, tampak semua siswa mengangguk hormat padanya. Mereka terlihat segan. Inilah yang tidak disukai oleh Alis saat kedok dirinya dibongkar, banyak muka-muka palsu yang mencari perhatiannya.
"Alis! Mau kemana?" Angga datang dan menghampiri kearahnya. Angga tidak berubah, ia tetap bersikap seperti sebelumnya.
"Mau ketaman!" jawab Liza ketus sambil menyilangkan tangannya di dada. Entah kenapa ia merasa dongkol dengan Angga karena menghalangi jalan mereka.
"Bagaimana kalau kita ke kantin saja, makan bersama," ajak Angga.
Alis melirik kearah sekitarnya, mereka sedang menjadi pusat perhatian. Ia tidak suka itu, karena mereka selalu membicarakan dirinya di belakangnya.
"Kamu kenapa sih menghalangi jalan kami. Kami mau ke taman bukan ke kantin," lagi, Liza yang menyahut.
Angga mengernyit menatap heran kearah Liza yang tampak ketus kearahnya.
"Apanya yang menariknya di taman sana, siang begini pasti cuacanya sangat panas. Lebih baik ke kantin, mendinginkan tenggorokan yang terasa kering karena bicara ketus," sindir Angga.
Liza tampak melotot, ia terlihat begitu kesal dengan sindiran Angga. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan Alis dan menyeretnya menuju ke taman, meninggalkan Angga yang melongo dibuatnya.
"Kenapa dengan dirinya? Apakah dia sedang menstruasi?" gumam Angga sambil menggaruk tengkuknya. Ia menggeleng saja melihat sikap kekanakan Liza.
"Kamu kenapa sih Lis, diam saja setiap kali mereka mengajakmu ini itu. Selalu aku yang berdebat sejak pagi tadi hingga siang ini!" Liza benar-benar kesal dibuatnya.
__ADS_1
"Tapi aku tidak menerima ajakannya kan dan itu tidak perlu di permasalahkan lagi. Ayo kita ke taman, setelahnya baru kita ke kantin," sahut Alis.
Liza melotot menatap kearah Alis, ia menghentikan langkahnya.
"Memangnya aku sama seperti yang Angga bilang tadi?" Liza memberengut kesal.
"Aku tidak bilang begitu," sahut Alis dengan senyum tipis di bibirnya.
Handphone Liza berdering, ia segera memeriksa notif yang ada disana. Senyumnya segera terbit dan melupakan kekesalannya tadi.
Alis dibuatnya heran, ia berusaha mengintipnya, tapi Liza segera mematikan handphonenya.
"Pacarmu kah yang mengirim pesan?" Alis sedikit penasaran dibuatnya, karena tidak biasanya Liza selalu memperhatikan benda persegi empat panjang tersebut.
"Ayo. Kita ke taman sekarang!" Liza tampak riang menarik tangan Alis tanpa menjawab pertanyaan Alis yang sebelumnya.
Alis hanya mengikuti saja langkah Liza sambil sesekali ia mengangguk membalas sapaan dari siswa yang di laluinya.
Sesampainya di taman, Alis dibuat heran karena keadaan taman yang terlihat ramai dari biasanya. Bahkan di tengah-tengah taman ada seseorang yang berdiri menatap kearahnya. Ia sangat mengenalnya. Orang itu adalah Al.
"Mereka sedang apa?" tanya Alis karena ia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi.
"Tumben kamu memuji orang lain selain Alex." Alis kembali melirik kearah Liza.
"Memang itukan kenyataannya!" Liza tersenyum saat Alex melambaikan tangannya. Ia juga membalas melambaikan tangannya.
Alis hanya mengangguk setuju saja dengan ucapan Liza barusan. Ia melirik kearah Jessica yang tampak bersisian duduk dengan Andra. Ada apa dengan mereka?
Setibanya mereka di taman, Alis sibuk memperhatikan Andra dan Jessica. Beberapa hari ini ia tidak melihat keberadaan Alifa. Kemana gadis itu sekarang, ataukah ada sesuatu yang terjadi dengannya.
Tanpa sadar, semua siswa yang ada di tengah lapangan tampak menyingkir dan membuat pola lingkaran. Liza juga sudah tidak berada di samping Alis lagi.
Alis terlalu asyik dengan pikirannya hingga tidak menyadari keberadaan Al yang berdiri di hadapannya dengan sebuah bunga mawar putih di tangan kanannya dan sebuah coklat di tangan kirinya.
Al berdiri dan menatap Alis dengan dalam, senyumnya terukir manis saat Alis memalingkan wajahnya. Alis terperanjat dibuatnya dan baru menyadari kalau hanya ia dan Al saja yang berada di tengah lingkaran yang mereka buat.
"Alis, entah sejak kapan kamu selalu hidup di ruang hampa hatiku dan entah sejak kapan kamu selalu mengisi ruang pikiranku. Yang jelas kamu selalu mengacaukan hariku." Al menatap dalam Alis yang hanya diam dan berusaha mencerna ucapannya.
"Saat kamu berada di rooftop waktu itu, sejak saat itu aku selalu perduli padamu. Kepergiaanmu dan menghilangnya dirimu saat itu membuat hatiku teramat gelisah. Bahkan membuatku kehilangan dirimu dan selalu mengharapkanmu untuk kembali."
Dan kali ini, biarkan aku egois untuk memilikimu. Karena aku tidak bisa menikmati kebahagian ketika orang yang kucintai tidak bisa menikmatinya bersamaku." Al masih menatap dalam wajah Alis.
__ADS_1
"Izinkan aku untuk menjadi kekasihmu dan memberikanmu cinta yang banyak." Al berlutut dan mengacungkan kedua benda yang ada di tangannya.
Alis terperanjat dibuatnya. Apakah Al sedang menembaknya, menyatakan cintanya. Alis berusaha untuk mencerna semuanya, hingga lamunannya terbuyarkan oleh sorak siswa yang mengelilingi mereka.
"Jika kamu mengambil bunga mawar putih, berarti kamu menerimaku dan jika kamu mengambil coklat, berarti kamu menolakku." Al masih pada posisinya, berlutut dihadapan Alis.
"Terima. Terima. Terima!!!" Terdengar sorakan siswa yang berada di sekeliling mereka.
Alis merasakan euforia kebahagiaan memenuhi hatinya, bahkan debaran dadanya semakin menggila. Ia tidak dapat mencerna semuanya hingga ia terlihat gemetaran dan gugup.
Alis menatap kearah Liza yang mengangguk dan memgacungkan jempolnya. Ia sedang di gandeng oleh Alex, kekasihnya.
Mata bulat Alis beralih menatap kearah Al yang masih menatap dan berharap kepadanya. Alis tersenyum, senyum manis bercampur dengan rona merah di pipinya.
Ia mengangguk dan berjalan mendekat kearah Al. Mengambil mawar putih yang ada di tangan kanan Al. Wajahnya terlihat sangat merah hingga sampai ke telinganya. Rupanya Alis sangat malu.
Al bersorak senang didalam hati karena Alis menerima dirinya. Inilah langkah awalnya untuk memiliki Alis seutuhnya.
Sorakan senang membahana mengisi taman yang berada di depan sekolah tersebut. Mereka tahu kalau Al dan Alis sangatlah serasi dan sangat cocok menjadi pasangan yang couple.
Angga yang berada di lorong sekolah tampak heran dibuatnya karena keributan suara yang berasal dari taman tersebut. Tapi ia tidak perduli karena itu bukan urusannya.
"Setiap hari selalu ada saja lelaki yang menembak wanita," gumam Angga sambil berlalu kearah kantin.
Seluruh siswa yang berada di taman tampak sudah bubar. Yang tersisa hanyalah Alis dan Al beserta semua sahabatnya.
"Selamat ya atas jadiannya kalian berdua," Jessica datang dan menjabat tangan Alis. Sejak tadi tangan Andra selalu bertengger di bahunya. Alis memperhatikannya.
"Mereka baru jadian, lebih tepatnya keesokan harinya setelah pesta ulang tahun sekolah." Irfan yang menyahut, mengerti dengan tatapan Alis.
"Owh... selamat juga untuk kalian berdua," balas Alis. Inikah penyebab berubahnya sikap Jessica. Akhirnya ia menemukan pelabuhan hatinya untuk membawanya berlayar ke jalan yang lebih baik.
Mata Alis beralih kearah Liza yang terlihat cekikikan bersama Alex. Ia tahu sekarang kenapa Liza sejak pagi tadi tidak melepaskan handphone dari tangannya. Rupanya dirinya bersekongkol untuk acara ini.
"Ma'af Lis, aku tidak memberitahukan sejak awal. Karena ini merupakan kejutan untukmu, biar patah hatimu terobati," ledek Liza.
Alis hanya terlihat kesal dibuatnya. Namun ia tidak ingin menanggapinya, memperpanjang perdebatan diantara mereka. Semua juga sudah terjadi dan momen ini sangatlah bersejarah baginya.
Satu yang masih membuat Alis heran, Aldo sejak tadi menatapnya dengan dingin. Hanya dirinyalah yang tidak mengucapkan selamat untuk mereka. Ada apa dengannya hingga sikapnya seolah-olah sangat tidak menyukai Alis.
💦💦💦
__ADS_1