Layangan Kertas

Layangan Kertas
Perdebatan Kecil


__ADS_3

Pagi hari ini Alis terbangun dengan bingung menatap kearah sekeliling kamar yang ditempatinya.


Ini bukan kamarku, dimana aku?


Alis berusaha mengingat-ingat kejadian sebelumnya, namun ia tidak ingat, entah apa yang terjadi tadi malam. Matanya melebar membola saat mengingat kejadian kemarin sore, saat ia bertemu orang tuanya.


Alis menyibak selimutnya dan turun dari ranjangnya, ia bermaksud untuk keluar kamar ini sekarang juga, namun urung karena pintu kamarnya sudah terbuka terlebih dahulu.


"Alisya... kamu sudah bangun sayang. Sekarang kamu mandi dan siap-siap sekolah. Mama akan memasakkan makanan kesukaanmu." Shakila menatap Alis dengan tatapan sendu yang penuh rindu. "Bagaimana tidurmu tadi malam, nyenyak?"


Alis hanya menganggukan kepalanya saja, ia menatap pergerakan wanita didepannya ini yang berjalan mendekat kearahnya.


Shakila membelai lembut rambut Alis. Sementara Alis tampak menegang.


"Mama tunggu dibawah, diruang makan." Berlalu keluar kamar Alis.


Alis hanya diam sambil menatap mamanya yang menghilang dibalik pintu. Ia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat sekolah.


Alis menuruni tangga dengan perlahan, ia menatap sekeliling rumah ini yang terlihat mewah dan elegan dengan dinding warna putih gading.


"Non, mari ikuti bibi menuju keruang makan. Tuan dan nyonya sudah menunggu."


Alis mengangguk dan mengikuti langkah asisten rumah tangga tersebut. Setibanya diruang makan, ia disambut oleh Shakila.


"Sayang, ayo duduk disini disamping mama." berdiri dan menggeser kursi yang ada disamping kanannya.


Alis berjalan dan menghampiri kearah ibunya, ia mendudukan dirinya dengan perlahan.


"Alisya, ayah sama mama ingin minta ma'af padamu karena kesalahan yang ayah perbuat dahulu. Ayah sangat menyesal karena sudah tidak mendengarkan kata-kata polisi waktu itu dan lebih percaya pada video yang dikirim oleh anak itu. Jadi, ayah benar-benar minta ma'af." menatap dengan sedih dan penuh sesal.


"Sudahlah ayah, semua sudah berlalu. Dan sekarang semua baik-baik sajakan juga sudah berkumpul. Jadi, tidak ada yang perlu dima'afkan. Lagi pula, itu hak ayah untuk mendidik anak ayah, hanya caranya saja yang agak salah." Alis menatap balik kearah ayahnya. Perasaannya membuncah, ia benar-benar terharu. Akhirnya semua penantiannya selama ini tidaklah sia-sia.


"Ayo kita makan." Shakila berbicara mewakili semuanya.


Alis mengangguk dan tersenyum manis sambil menatap kearah ayah dan ibunya. Ia berharap ini bukanlah fatamorgana dan semoga selamanya tetap akan seperti ini.


"Udah ma, kebanyakan."


"Masakan mama ini loh. Enak loh. Coba." Shakila menyodorkan beberapa lauk kedalam piring Alis.


"Em... enak bangat ma, rasanya Alis sangat merindukan masakan mama."


"Alis, boleh ayah bertanya satu hal sama kamu?"


Alis mengangguk, ia menatap ayahnya dengan serius karena sikap ayahnya terlihat lebih serius lagi.


"Kamu sudah punya pacar?"


Alis yang tidak mengerti dengan pertanyaan ayahnya kembali menatap kearah ibunya dan mendapat anggukan dari ibunya. Alis merasa kecewa dengan pertanyaan ayahnya tersebut. Setelah sekian lama tidak bertemu, hal pertama yang ditanyakannya adalah masalah asmara. Bukannya ditanya tentang kehidupan seperti apa yang dijalaninya atau bagaimana ia bertahan hidup atau seperti apa lingkungan tempat tinggalnya. Alis menarik napasnya dengan perlahan.

__ADS_1


"Belum yah." jawabnya dengan lesu sambil menunduk menatap kearah makanan yang ada dihadapannya.


"Bagus. Itu artinya kamu akan ayah jodohkan dengan seseorang, anak sahabat ayah."


Alis terhenyak mendengarnya. Jadi, benar yang dikatakan oleh Januar pagi kemarin bahwa dirinya akan dijodohkan. Kali ini Alis tidak akan gegabah seperti kemarin lagi, ia akan bersikap tenang.


"Siapa?" tanya Alis.


Bastian mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Alis yang terdengar hanya sepotong.


"Apanya yang siapa?" menatap Alis dengan lembut.


"Siapa orangnya?" tanya Alis kembali untuk memperjelas pertanyaan yang sebelumnya.


"Dia pemuda yang baik dan dari keluarga baik-baik juga. Kamu tenang saja, ayah sudah memilihkan yang terbaik untukmu."


"Boleh aku tau namanya?" tanya Alis sambil menatap kearah ayahnya.


"Tentu saja kamu harus tau namanya, sayang. Dia yang kelak akan menjadi suami kamu, jadi ayah rasa mulai sekarang kamu harus mengenalnya. Namanya Naufal, dia juga bersekolah disekolah yang sama dengan tempat kamu bersekolah."


Alis memejamkan matanya sesaat saat ayahnya bilang kata 'suami'. "Yang bernama Naufal itu banyak yah disekolah. Tidak hanya satu atau dua orang saja." berusaha mempertahankan nada suaranya agar tetap terdengar hangat dan tidak terdengar dingin.


"Nanti kita akan adakan pertemuan." Berdiri dan bersiap untuk berangkat kerja. "Dan satu lagi, identitasmu tidak boleh ditutup-tutupi lagi, ayah tidak suka kamu terus dibully." berlalu dari ruang makan dan disusul oleh Shakila.


Alis termenung mendengarnya, perasaannya lebih menghangat lagi. Dengan segera ia menghabiskan sarapannya, ia ingin ikut bersama ayahnya hari ini untuk diantar kesekolah. Ternyata ayahnya tidak seburuk bayangannya dan masih sangat memperhatikannya.


"Minta tandatanganmu, karena ada berkas yang belum kamu tanda tangani. Sekaligus menjemputmu, ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan." kata Januar.


Alis mendekat dan duduk dihadapan Januar. Ia mengambil berkasnya dan memeriksa berkas tersebut sebentar, setelah dirasa sesuai ia memberikan tanda tangannya dan kembali menyerahkan berkas tersebut pada Januar.


"Jadi, bisakah kita berbicaranya disini saja?" tanya Alis.


Januar menatap Alis dan juga orang tuanya. Ia mengangguk dengan ragu.


"Tentang apa?"


"Perusahaan dari Eropa ingin bekerja sama dengan perusahaan kita, tapi dia ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan."


"Kapan?"


"Hari ini, jam 19.00." Sambil menatap jam yang melingkar ditangannya. "Tapi, persiapkan dirimu dengan matang karena ini merupakan perusahaan terbesar di Eropa dan pemiliknya tidak menyukai kesalahan sekecil apapun."


"Kakak tenang saja, aku akan berusaha supaya maksimal."


"Bagus." Januar tersenyum. Ia memang yakin dengan kemampuan Alis dalam mengelola dan menjalankan bisnisnya karena ia sudah ditempa oleh neneknya mulai dari umur 10 tahun dan berlanjut belajar bersama dengannya hingga kini.


"Tapi, aku ingin berangkat sekolahnya diantar sama ayah saja." Menatap kearah Januar dan melirik kearah ayahnya sesaat. Ia menunggu persetujuan ayahnya.


Bastian mengangguk mantap, ia begitu senang atas permintaan anaknya tersebut. Sebenarnya, ia sangat mengetahui dengan jelas perkembangan Alis melalui Riyan anak tertuanya, tetapi ia tidak pernah tahu dimana posisi keberadaan Alis hingga beberapa minggu terakhir ini. Ia juga tahu bahwa Alis sangat hebat dalam memimpin perusahaannya dan baru beberapa hari ini ia tahu bahwa beberapa kafe yang memiliki dekorasi yang unik dikota ini adalah milik Alis. Tidak sia-sia ia mengirimnya pada neneknya.

__ADS_1


"Kalau begitu. Saya permisi dulu Om, Alis." berdiri dan mengacak rambut Alis sesaat.


"Hati-hati dijalan." Shakila mengantar kepergian Januar bersama dengan suami dan anaknya.


"Ma, ayah berangkat dulu. Baik-baik dirumah." menyodorkan tangannya pada istrinya dan disambut oleh Shakila. Kemudian Bastian mencium dahi istrinya. Begitupun dengan Alis, ia melakukan hal yang sama.


"Hati-hati dijalan dan Alis, belajar yang benar."


"Iya ma." jawab Alis sambil masuk kedalam mobil dan melambaikan tangannya.


Mobil yang dibawa oleh sang sopir melaju dengan perlahan keluar dari halaman rumah mewah tersebut untuk membawa sang juragan ketempat tujuan masing-masing.


Keadaan mobil hening sesaat, hanya terdengar bunyi buku yang dibolak-balik oleh Alis. Bastian menatap kearah anaknya yang terlihat sibuk membaca tersebut. Ia memperhatikannya, mungkin karena pingsan kemarin sehingga ia tidak belajar tadi malam. Begitulah yang ada dibenak Bastian.


"Kamu ada ulangan, Nak?" tanya Bastian.


"Tidak." jawab Alis dengan singkat.


"Lalu itu?" tunjuk Bastian pada buku tebal yang ada ditangan Alis.


"Ini hanya buku biasa yah, bukan buku sekolah." menatap kearah Bastian yang menganggukan kepalanya.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Alis tampak ragu mengucapkannya.


"Ada apa, Nak?" tanya Bastian yang melihat kegelisahan Alis yang berada disampingnya.


"Kenapa ayah begitu mengatur hidupku setelah ayah membuangku dulu?" menatap dengan sedih kearah ayahnya.


"Ayah sayang sama kamu Alisya, jadi wajar ayah mengaturmu. Ayah ingin yang terbaik untukmu. Ayah tidak pernah membuangmu, kamu salah paham." kata Bastian dengan penekanan kata.


"Tapi ayah waktu itu mengusirku." dengan suara lirih.


"Kamu salah paham Alisya. Kamu tidak mengerti situasinya pada waktu itu, karena kamu masih kecil."


"Apa yang tidak aku mengerti, kenapa ayah tidak menjelaskannya sekarang setelah aku sudah besar."


"Belum saatnya." kata Bastian.


"Kenapa ayah baru muncul sekarang, setelah sekian lama sejak kejadian itu?" Alis bertanya dengan penuh emosi. Ia marah dengan ayahnya karena ia merasa ayahnya egois dan hanya mengambil keuntungan darinya dengan cara menjodohkannya dengan orang yang diinginkan ayahnya. Dan satu lagi, ayahnya membiarkan kesalahpahaman ini menjadi berlarut-larut.


"Alisya, kamu akan paham nanti setelah ayah jelaskan. Tapi untuk sekarang, tolong menurut dengan kata-kata ayah dahulu."


"Baiklah." Alis mengalah kali ini karena ia juga tidak ingin berpisah dari orang tuanya lagi. Toh semua sudah terjadi, sesalpun tiada berguna.


Mobil berhenti tepat dipintu gerbang sekolah. Beberapa siswa tampak memperhatikan keberadaan mobil mewah yang tampak asing tersebut. Mereka kembali tercengang dengan seseorang yang keluar dari mobil tersebut.


Alis turun dari mobil dengan ditatap kesedihan dan penyesalan yang dalam oleh Bastian. Biarlah untuk saat ini Alis salah paham dengan semua situasi, tapi nanti dia akan mengerti juga.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2