Layangan Kertas

Layangan Kertas
Panik


__ADS_3

Al berjalan kearah mobil yang sudah berhenti di depannya. Mobil yang ditumpangi oleh Alis serta ibunya. Saat ini ia sudah berada di kediaman orang tua Alis. Ia ingin memastikan keadaan Alis terlebih dahulu sebelum memutuskan menyerah ataukah tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya.


Hari ini ia memang tahu kalau Alis sudah memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Itupun didapatnya dari pemberitahuan tante Shakila padanya subuh tadi sebelum berangkat. Sebenarnya ia sangat ingin menemani gadis pendiam tersebut pergi ke rumah sakit, walaupun hanya sekedar untuk menguatkannya saja. Namun ia tidak mampu dan belum siap untuk mendengar semua kenyataan yang ditakutinya apabila benar-benar terjadi.


"Alis...." lirih Al saat Alis keluar dari mobil. Matanya menatap kearah Alis yang terlihat kaku menatap kearah Al. Tidak ada senyum sedikitpun di wajah gadis tersebut saat menatap dirinya.


Ada apa dengan Alis? Dia bahkan terlihat seperti saat pertama kali Al bertemu dengannya. Sangat acuh dan tatapannya menggambarkan ketidak perduliannya pada sekitarnya.


Mungkinkah? Al menggelengkan kepalanya samar atas pemikirannya yang justru melemahkan seluruh urat sarafnya.


"Al...," gumam Alis membalas. Ia terperanjat melihat keberadaan Al di kediaman orang tuanya. Ia berdiri tepat dihadapan Al. Menatap kearah mata gelap yang selalu menenggelamkan dirinya.


Apakah Al datang kesini hanya ingin memutuskan untuk menyerahkannya pada Rafael seperti yang dikatakannya tadi malam.


Riyan dan Shakila segera masuk kedalam rumah. Mereka tidak ingin ikut campur urusan Alis dan Al. Biarlah mereka menyelesaikan segala permasalahan yang terjadi diantara mereka.


Al meraih tangan Alis yang bergerak bebas di sisi tubuhnya. Menggenggamnya tanpa ingin melepaskan walau sedetikpun.


"Katakan! Katakan padaku kalau semua itu tidak benar," bisik Al dengan tatapan sendu. Terasa menghujam tepat di hati Alis. Ia tidak melepaskan tatapan matanya dari gadis kaku tersebut.


Al berharap agar Alis mengangguk dan membenarkan pertanyaannya serta tersenyum bahagia setelahnya. Ia juga berharap agar Alis bisa bersamanya tanpa ada Rafael diantara dirinya dan juga Alis. Namun di satu sisi, ia tidak ingin egois karena ada hati yang akan tersakiti karenanya. Dan akan ada jiwa yang akan kehilangan sosok pelindung.


Alis melepaskan tangannya dari genggaman tangan Al. Membuat Al kecewa dan dapat membaca apa yang sudah terjadi. Ia mengangguk dan berjalan mundur selangkah kebelakang.


"Alis. Selamat! Kamu akan menjadi seorang istri dari orang lain! Dan juga menjadi seorang ibu!" Al mencoba untuk tersenyum dan bernegosiasi dengan dirinya sendiri untuk bisa menerima kenyataan.


"Mulai sekarang, aku akan pergi darimu dan juga menjauh darimu." Terasa berat memang ia mengatakannya namun apa boleh buat, harus itu yang di ucapkannya untuk keadaan sekarang. Ia memang sangat mencintai Alis namun ia tidak bisa mengorbankan sesuatu yang lain demi keegoisannya.


Alis mengerutkan dahinya samar, mengulum senyumnya dan menatap Al dengan jenaka. Ingin rasanya ia tertawa sekarang melihat tingkah Al yang terasa lucu di matanya.


"Al, jangan katakan itu!" sahut Alis saat Al ingin melangkahkan kakinya menjauh meninggalkan Alis.


Al urung, ia berbalik. Ingin menatap Alis, namun belum sempat ia melakukannya, Al sudah terhuyung kebelakang karena Alis sudah menubruk dirinya. Menenggelamkan tubuh mungilnya dalam pelukan Al.


"Jangan katakan itu padaku, karena nyatanya aku tidak mampu untuk jauh darimu."


Al melepaskan pelukannya, menangkup wajah Alis. Ia melihat airmata mengalir di pipi Alis. Rasa bahagia seketika menguar di dirinya hingga rasanya ia tidak mampu untuk mengendalikan dirinya.


Dengan gerakan tak terduga, ia meraih tubuh Alis dan menggendongnya ala bridal sytle, membawanya berputar-putar. Menatap mata Alis yang terlihat lebih hangat.


"Al, cukup! Aku pusing!" pekik Alis membahana.


Dengan segera Al menghentikan gerakannya. Melepaskan Alis kembali. Alis dan Al langsung terhuyung dan seketika mereka ambruk di halaman yang di tumbuhi rerumputan hijau. Tawa mereka seketika pecah.


Alis terlihat sangat berbeda. Ia seperti baru saja mendapatkan sebuah boneka kesayangan yang sudah lama hilang. Sejak tadi ia tidak dapat membendung senyumnya. Bahagianya menguar dari hatinya.


Dari kejauhan ada seseorang yang sedang mengamati mereka. Bahkan membidiknya dengan kamera berulang kali.


***


Rafael sangat geram setelah mendengar berita tersebut. Ia kesal dan marah pada anak buahnya yang gagal dalam menyuap dokter kandungan tersebut.


Padahal kemarin dirinya sudah menawarkan banyak uang pada dokter wanita tersebut untuk memalsukan hasil USG Alis. Tapi dokter tersebut tetap bersikeras untuk menolaknya. Dia pikir akan bertahan lama apa dia bekerja di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Brengs*k!!" makinya sambil membanting gelas kristal yang berisi air putih di tangannya. Ia tidak rela kalau gadis yang di cintainya menolak dirinya dan hidup bersama orang lain.


"Apa yang akan kita lakukan, Bos?" tanya Yaska. Sejak tadi ia berdiri dihadapan Rafael. Bahkan ia tidak terpengaruh sama sekali dengan kemarahan Rafael karena ia biasa menghadapi hal seperti itu.


"Buat bangkrut perusahaan milik keluarga Hadinata. Agar mereka sadar, tidak sepatutnya bersaing dengan diriku dalam hal apapun juga." Ia menatap foto kebersamaan Alis dan Al. Meremas-remasnya hingga tidak berbentuk dan melemparkannya sembarangan.


"Tapi Bos, apa itu tidak keterlaluan?"


"Apa kamu bilang? Kamu membela mereka dan membiarkan begitu saja sainganku menang dan bahagia!" semprot Rafael menggebu-gebu. Matanya sudah tidak dapat dikatakan seperti apalagi karena saking marahnya dengan Yaska. Bahkan ia sudah seperti mengeluarkan tanduknya saja.


"Kamu menentangku hah!!" teriaknya dengan marah.


Yaska terdiam dan menggeleng samar. Buksn itu permasalahannya. Perusahaan Hadinata sangatlah sulit untuk dibuat bangkrut karena pertahanan mereka sangat kuat. Bahkan akan dengan cepat ketahuan kalau mereka menyusupkan orang-orang mereka kedalam perusahaan tersebut. Karyawan mereka terkenal sangat setia dan jujur, sebab itu gajih mereka juga agak mahal dari perusahaan lainnya.


"Hah... kamu tidak berguna!!" makinya lagi sambil meraih kunci mobil miliknya dan meninggalkan Yaska yang menatapnya dalam diam.


Rafael mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Ia tampak sangat kesal dengan Yaska, terlebih lagi pada dokter yang sok jujur tersebut. Awas saja nanti, ia akan membuat perhitungan dengan dokter tersebut.


Mobil Rafael berdecit, berhenti tepat di halaman rumah Bastian. Ia keluar dari mobil, matanya bergerak kesana kemari mencari keberadaan gadis mungil miliknya.


Disana. Di padang rerumputan Alis tampak bercanda dengan Al, membuat emosi Rafael semakin naik ke ubun-ubun. Ia begitu panas melihat tingkah Alis yang tidak pernah memperlakukannya semanis itu. Apalagi hingga terdengar tawa cekikikan keluar dari mulutnya.


"Apa-apaan kalian? Bersenang-senang di belakangku?" Rafael menarik tangan Alis dan mendekapnya posesif. Menatap Al dengan mata penuh kobaran api.


"Lepaskan dia! Dia bukan pacarmu apalagi istrimu!!" Sahut Al.


Rafael semakin menatap Al dengan sengit, begitupun juga dengan Al.


Terjadilah adu jotus yang tidak di inginkan. Bahkan Alis sejak tadi berteriak untuk melerai mereka. Tapi tidak di gubris sama sekali oleh mereka. Ia tampak kesal dan maju ketengah-tengah mereka. Namun dirinya justru terdorong hingga jatuh ke tanah.


"Awww!" pekik Alis saat merasakan benturan keras pada tubuhnya. Ia memberengut dan berpaling menatap Rafael dan Al yang langsung terdiam menatap kearahnya.


Bergegas mereka berdua meraih tubuh Alis. Tanpa pikir panjang lagi, mereka langsung membawa Alis kearah mobil Rafael, membawanya menuju kearah rumah sakit. Mereka berdua terlihat begitu panik hingga melupakan perkelahian mereka tadi. Yang ada justru kekompakan mereka.


Al menyetir dengan kencang karena rasa khawatirnya terhadap Alis. Ia merasa bersalah karena tanpa sengaja mendorong Alis.


Begitupun dengan Rafael, ia sibuk menatap kaki dan tangan Alis. Memeriksa cederanya. Ia tidak sengaja mendorongnya tadi.


"Apa-apaan kalian berdua! Berhenti!! Kalian mau membawaku kemana?" teriak Alis frustasi, tapi tidak di gubris sama sekali oleh mereka.


Alis kembali melongo melihat tempat yang mereka datangi. Rumah sakit? Alis menepuk jidatnya berulang kali. Ingin rasanya ia pura-pura pingsan saja melihat ketololan mereka berdua.


"Dokter! Tolong dia, dok!!" teriak Al saat berada di lobi rumah sakit.


Alis hanya mampu menyembunyikan wajah datarnya di dada Rafael yang menggendongnya. Ia benar-benar tidak dapat berbuat apa-apa lagi karena tingkah mereka yang konyol, hanya ada rasa malu menghinggapinya.


Salah seorang suster tampak berlari kearah mereka dan langsung membawanya ke ruangan dokter Femi, dokter kandungan. Dia pikir kalau Alis sedang keguguran karena pagi tadi ia melihat Alis memeriksakan dirinya di tempat dokter Femi.


"Dokter! tolong dia!!" teriak Rafael setibanya di ruangan dr Femi. Ia meletakkan Alis di atas ranjang.


Alis sebenarnya sangat geram dengan sikap mereka yang menjadi pusat perhatian seluruh penghuni rumah sakit. Apalagi mereka berdua terlihat sangat panik, padahal dirinya tidak kenapa-kenapa.


"Ada apa? Kenapa dengan gadis ini?" tanya Femi sambil mendekat kearah Alis. Ia menatap lekat Alis.

__ADS_1


Alis meringis malu, sejak tadi ia ingin membuka mulutnya namun Rafael selalu menghalanginya.


Femi menatap sekilas kearah Alis, keningnya berkerut samar. Ia berpaling menatap kearah Rafael. Memperhatikan Rafael dari atas hingga bawah.


"Kamu!" tunjuknya pada Rafael setelah mengingat pertemuan mereka kemarin. Lelaki sombong yang ingin menyuapnya demi memalsukan hasil USG seorang perempuan.


"Oh! Jadi kamu lelaki kurang ajar yang menyuruh istrimu untuk hamil! Apa kamu bodoh, istrimu masih sangat muda. Mana mungkin dia baik-baik saja mengandung!!" maki Femi yang merasa kesal dengan tingkah Rafael. Matanya beralih menatap kearah Al yang hanya melongo saja di buatnya.


Rafael membulatkan matanya mendengar dokter di depannya yang dengan lancang mengatakan kalau dirinya bodoh. Selama ini tidak ada yang mengatakan kalau dirinya bodoh. Wanita ini sudah dua kali membuatnya kesal.


"Sudah! Keluar kalian berdua. Aku akan memeriksa adik kecil ini!" ucapp Femi sarkas sambil mengusir Rafael dan juga Al.


"Tapi__," belum sempat Rafael mengatakan keberatannya, pintu sudah di tutup oleh dr Femi.


Rafael makin kesal dengan wanita tidak tahu sopan-santun tersebut. Tidak tahukah dirinya kalau dia seorang Ceo ternama dan terkenal di dunia bisnis.


Matanya beralih menatap kearah Al yang tampak gelisah dan sejak tadi tidak pernah diam.


"Hey, kamu. Apakah kamu bisa diam di tempat. Aku pusing melihat tingkahmu! tunjuk Rafael pada Al.


Al mendelik kearah rivalnya. Ia tidak menggubrisnya dan tetap pada tingkahnya. Namun sedetik kemudian dia terdiam dan menatap Rafael dengan heran. Ia merasa ada yang janggal disini, tapi apa.


"Hey. Kenapa kita membawa Alis kesini, ini bukan ruangan untuk Alis berobat!" ucap Al setelah melihat papan nama yang terpampang di depan pintu tersebut.


Rafael berbalik dan menatap Al. "Apa maksudmu? Dia seorang dokter, tentu saja dia bisa memeriksa dan mengobati Alis!" sahutnya ketus.


"Bukan itu masalahnya. Dia itu dokter kandungan, bodoh! Alis tidak hamil!"


Rafael melotot menatap kearah Al yang mengatainya bodoh. Sudah dua kali dirinya dikatakan bodoh hari ini.


Baru saja Rafael ingin balas memaki Al, ia urungkan karena pintu ruangan terbuka. Wajahnya terlihat masam saat menatap dr Femi yang sudah tampak duduk santai di balik meja kerjanya.


"Silahkan masuk Tuan," suster mempersilahkan mereka berdua masuk.


Mereka masuk dan dipersilahkan duduk di hadapan dr Femi. Beralih menatap Alis yang menatap mereka berdua dengan tajam. Alis sangat kesal dengan tingkah mereka yang konyol hingga ia kembali berhadapan dengan dokter kandungan tersebut.


"Begini Tuan. Istri kecilmu tidak kenapa-kenapa. Keadaan rahimnya juga baik-baik saja. Dan barusan pagi tadi dia juga sudah memeriksakan dirinya disini." Femi terlihat tenang.


"Apa kamu bilang! Dia tadi terjatuh karena tanpa sengaja kami___," Rafael tidak meneruskan kata-katanya lagi setelah kembali mengingat ucapan dr Femi barusan. Rahim? Matanya seketika membulat menatap dr wanita tersebut.


"Iya. Dia tidak kenapa-kenapa. Rahimnya masih bagus, letaknya juga pas. Jadi tidak ada cidera pada rahimnya, kalau kau khawatir tentang itu," ulang Femi.


Alis menundukkan kepalanya dalam. Ia sangat malu mendengar ucapan dr Femi tersebut. Sedangkan Al hanya terdiam saja, ia mencoba untuk mengikuti sandiwara ini agar Rafael dan Alis tidak malu nantinya.


"Disini seharusnya yang diobati itu adalah dirimu dan juga dia!" tunjuk Femi pada Rafael dan Al. "Sepertinya kalian baru saja mengalami kekerasan karena banyaknya biru dan lebam pada wajah kalian," ucapnya lagi.


"Baik, dok. Kalau begitu kami permisi. Mari dok!" Al mengambil alih pembicaraan. Ia tidak ingin membiarkan Rafael berbicara. Yang ada pembicaraannya semakin kacau. Ia menarik tangan Alis keluar ruangan tanpa menghiraukan Rafael yang masih duduk di hadapan Femi.


"Hey. Aku suaminya, mau kamu bawa kemana istriku!" teriak Rafael saat melihat Al dan Alis sudah keluar ruangan.


Femi hanya menggeleng saja melihat tingkah mereka yang konyol. Apalagi melihat tingkah Rafael yang sangat khawatir pada istrinya tersebut hingga salah memasuki ruangan periksa.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2