Layangan Kertas

Layangan Kertas
Dari Hati Kehati


__ADS_3

Alis terus melangkah menuju kearah luar restoran, ia berjalan kearah taman yang ada disamping restoran tersebut. Dengan perlahan ia menduduki bangku kosong yang ada disana. Sedangkan Aldo hanya mengikutinya saja sejak tadi. Kali ini Aldo tampak lebih dingin daripada pagi tadi disekolah. Persis bonglun yang mampu mengubah diri dalam sekejap.


"Do, apa yang kamu inginkan?" tanya Alis tanpa menatap kearah Aldo yang sudah duduk disampingnya. "Apa kamu sudah tau semuanya?"


Aldo menatap kearah Alis sesaat, ia berdiri dan berjalan kearah depan dengan memasukkan tangannya kedalam kantong celananya. "Aku tidak menginginkan apa-apa, aku hanya menjalani apa yang harusnya aku jalani."


"Apa maksudmu?!!" Alis menatap fokus pada punggung Aldo didepannya.


"Lain kali jangan gunakan nama palsumu untuk mengelabui orang lain. Akibat yang ditimbulkannya sangat fatal."


Alis hanya diam saja mencerna kata-kata Aldo barusan. Ia tampak kesal setelah paham apa yang diucapkan oleh Aldo.


"Itu bukan nama palsu, bodoh. Itu nama lain dari diriku, sama seperti dirimu." Alis tampak kesal.


"Ya, ya, terserah kau sajalah." Aldo membalikkan badannya. Ia menatap kearah Alis yang juga menatapnya. "Lalu, bagaimana dengan perjodohan ini? Apa kamu akan menerimanya?" tanya Aldo lagi. Ia terlihat begitu santai seolah-olah semua ini bukan apa-apanya. Padahal bagi Alis, ini menyangkut masa depannya.


"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Alis yang tidak menghiraukan pertanyaan Aldo barusan. Aldo menganggukan kepalanya. "Apa kamu mencintaiku?" tanya Alis dengan sungguh-sungguh. Ia menatap dalam kemata Aldo yang tampak menggelap.


Aldo menatap terkejut pada Alis kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Sungguh, pertanyaanmu sangat lucu. Ini bukan lelucon." Aldo berusaha bersikap normal kembali setelah melewati ketidak normalannya.


Alis melotot kearahnya, lelocun katanya. "Bukankah ini tujuan dari perjodohan ini. Tunangan dan pernikahan lalu hidup bersama." ucap Alis sarkas. Ia benar-benar kesal pada Aldo yang menganggap kata-katanya adalah lelucon.


"Itu hanya ada dipikiranmu Nona. Bagiku perjodohan ini hanyalah simbol dari persatuan kedua perusahaan orang tuamu dan juga orang tuaku. Mungkin semacam bisnis." Aldo mendesah dan berjalan kearah Alis. Ia duduk tepat disamping Alis.


Alis menatap pergerakan Aldo, tidak ada yang terlewat sedikitpun. "Jadi, apa keputusanmu?" tanya Alis mengalihkan pandangannya saat Aldo menatapnya. Ia tidak percaya dengan yang Aldo katakan barusan, bukankah ayahnya pernah bilang kalau perjodohan ini hanyalah untuk mempererat tali persahabatan yang sudah terjalin.


"Entahlah, aku akan mengikuti apa maumu. Karena aku tau, kamu akan mengambil keputusan yang benar." Aldo menggenggam tangan Alis. "Lis, kamu tidak mencintaiku, dan kamu juga sudah mencintai seseorang tapi kamu selalu menyimpannya didalam hatimu." Aldo menarik napasnya sesaat. "Sekarang, bahagiakan dia dan jangan biarkan dia menjadi salah paham. Aku ada disini dan selalu akan menolongmu." Aldo melepaskan tangannya.

__ADS_1


"Bagaimana dengan kamu?" tanya Alis sambil menatap dengan sendu kearah Aldo. Ia merasa bersalah karena menolak perjodohan ini, tapi ia juga tahu kalau Aldo tidak mencintainya sama sekali.


"Disini, sudah ada yang menempatinya. Tapi hanya menunggu waktu saja yang akan mempertemukan kami." tunjuk Aldo pada dadanya. "Sekarang kita kedalam, yang lainnya pasti sedang menunggu kita." ucap Aldo sambil berdiri dan berjalan bersisian dengan Alis.


Alis tersenyum sepanjang jalan, beberapa kali ia menatap kearah Aldo dan mengucapkan terima kasihnya karena Aldo mau mengerti tentang dirinya.


Mereka memasuki ruangan dengan disambut senyum oleh kedua belah pihak setelah melihat senyum merekah dan binar bahagia dari kedua anak muda tersebut.


Alis mendudukan dirinya dengan perlahan, ia menatap kearah Aldo dan diangguki oleh Aldo.


"Bagaimana keputusan kalian berdua?" tanya Arini dengan senyum merekah. Ia menatap kearah Alis dan juga Aldo secara bergantian.


"Tante, setelah kami bicara cukup panjang tadi. Kami memutuskan untuk menolak perjodohan ini." ucap Alis sambil menatap seluruh anggota keluarga yang tampak terkejut dibuatnya.


"Tapi, kenapa? Bukankah Aldo orang yang sempurna, dia juga tampan dan juga pewaris perusahaan dan satu lagi, dia juga cerdas dalam nilai akademiknya. Kelakuannya juga bagus loh Lis, coba kamu pikirkan sekali lagi." ucap Arini dengan memelas. Ia merasa tidak puas dari jawaban Alis, ia berharap Alis akan merubah keputusannya.


"Apa? Apa yang tidak dia miliki?" tanya Arini. Ia tampak sangat kecewa mendengar keputusan Alis tersebut.


"Aldo tidak mencintai Alis." ucap Alis sambil menatap kearah Aldo.


"Lis, masalah cinta, itu akan tumbuh dengan sendirinya nanti apabila kalian sudah terbiasa. Tante yakin, kalian pasti bisa menjalaninya." Arini tampak memaksa. Ia benar-benar tidak ingin mendengar penolakan Alis.


"Ma, udah dong ma. Ini bukan hanya Alis yang menolak, tapi Aldo juga." ucap Aldo. Seketika Arini langsung terdiam. "Tapi kenapa Do?" tanya Arini dengan kecewa.


"Bukankah aku pernah bilang sama mama dan juga papa, kalau dia tidak terikat dengan orang lain maka aku akan menerimanya. Tapi, ternyata dia memiliki hati sahabatku ma, aku tidak ingin menjadi penghancur persahabatanku sendiri. Dan mama pasti tahu, apa yang ada didalam hatiku." ucap Aldo dengan sendu.


"Apa yang dikatakan oleh anak-anak itu benar. Kita harus bisa menerimanya, keputusan apapun itu. Kita memang berencana untuk mereka tapi mereka sudah punya pilihan masing-masing." ucap Subhan yang mengakhiri perdebatan antara anak dan istrinya.

__ADS_1


"Iya, itu benar. Semua keputusan tadi sudah diserahkan pada mereka. Dan saat mereka sudah memutuskan, maka tentu saja kita akan menerimanya. Kita sebagai orang tua pastilah menginginkan yang terbaik untuk anaknya tapi semua itu belum tentu sama bagi mereka. Jadi keputusan yang mereka ambil sudah benar. Daripada kedepannya mereka bermasalah, lebih baik mencegahnya sejak dini." ucap Bastian panjang lebar. Ia menatap istrinya yang memberikan senyum hangat dan Riyan yang tersenyum bangga, karena ayahnya begitu bijaksana.


"Tapi, bagaimana dengan keluarga kita kedepannya?" tanya Arini.


"Tenang saja, keluarga kita masih sama seperti sekarang. Tidak ada yang berubah, tidak ada kesalah pahaman dan anggap saja yang hari ini tidak pernah terjadi. Kalau memang mereka benar-benar berjodoh, maka mereka pasti akan disatukan dengan cara yang berbeda." Shakila menenangkan Arini.


"Baiklah kalau begitu, tapi tante masih berharap agar Alis dan Aldo benar-benar berjodoh." menatap kearah Alis dan Aldo. "Lis, ma'afkan tante yang terlalu memaksamu." ucap Arini dengan tulus.


Alis tersenyum dan mengangguk, ia benar-benar lega . Semua bisa ia lewati dengan begitu mudahnya, dan ia berharap kedepannya agar dimudahkan dalam urusan apapun juga.


"Mereka melanjutkan acara mereka dengan makan malam bersama dengan diselingi dengan candaan. Mereka benar-benar menganggap pertemuan ini hanyalah ajang silaturahmi untuk mempererat hubungan dan tali persahabatan mereka. Anggap saja sebagai reuni kecil-kecilan.


"Do, yang hari ini tolong kamu simpan rahasia kita dan aku berharap kita akan menjadi teman." ucap Alis sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Sedikit kekanakan memangnya tapi Aldo tetap saja mengangguk dan menyambut jari kelingking Alis tersebut. Ia baru tahu kalau Alis punya hati yang kuat dan tidak goyah oleh apapun juga.


"Lalu, bagaimana dengan gosip yang menyebar disekolah tentang kamu? apa kamu tidak ingin mengklarifikasinya?" Aldo melirik kearah Riyan. Ia baru tahu sekarang kalau Alis bukanlah gadis miskin dan gampangan. Tapi ia gadis kaya yang terbiasa hidup sederhana.


"Biarkan saja, nanti ada waktunya untuk aku mengklarifikasi kabar itu." jawab Alis dengan tenang.


Aldo mengangguk, ia kagum pada sosok didepannya ini. Pantas saja Al begitu mudah jatuh cinta padanya, ternyata Alis punya hati yang murni.


"Tolong rahasiakan ya tentang jati diriku pada siapapun." pinta Alis lagi.


"Kamu tenang saja." ucap Aldo.


Mereka melewatkan makan malam ini dengan penuh banyak momen yang tidak bakalan terlupakan.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2