
Dani meletakkan Rafael yang sudah terlihat setengah sadar, disofa dengan perlahan. Ia juga melepaskan sepatu dan jas yang melekat ditubuh Rafael. Bahkan Dani juga melonggarkan dasi yang melekat dilehernya. Setelahnya ia segera keluar dari kamar tersebut.
Rafael hanya bisa memijat kepalanya yang terasa benar-benar pusing dan juga memberat. Rasanya ia baru saja mengalami mabuk berat. Ia meraih handphone yang ada disaku celana bermaksud untuk menghubungi asistennya. Namun sial. Justru handphonenya dalam keadaan mati karena kehabisan daya. Matanya memindai seluruh ruangan tersebut untuk mencari keberadaan charger handphone yang mungkin saja bisa digunakan untuk mengisi baterai handphonenya.
Matanya justru terperangkap pada sosok yang sedang tertidur cantik diatas ranjang. Bahkan wanita itu terlihat sangat cantik dan menggoda dengan pakaian yang sangat minim melekat ditubuhnya.
Dengan perlahan dan berjalan terseok-seok, akhirnya Rafael sampai kedepan ranjang tersebut. Ia sudah melupakan tujuan awalnya yang ingin mengisi daya baterainya. Beberapa kali ia meneguk salivanya saat melihat kulit putih dan mulus milik wanita yang tertidur tersebut.
Tanpa sadar, Rafael sudah berada diatas ranjang dan membelai lembut kulit gadis tersebut. Bahkan belaiannya sudah mulai naik bahkan berpindah kearah tangan gadis tersebut.
Ia merasakan libidonya yang semakin naik tanpa bisa ditahannya lagi. Dengan tergesa-gesa Rafael melepaskan semua pakaian yang melekat disekujur tubuhnya hingga hanya menyisakan sebuah boxer saja.
Matanya tidak pernah berkedip sedikitpun saat melihat gadis yang masih dengan setia memejamkan matanya. Ia sedikit terkekeh saat melihat semua itu, gadis itu persis seperti putri tidur seperti yang ada di dongeng-dongeng.
Rafael menunduk dan mengecup dahi perempuan itu sekilas. Ia menyibak rambut hitam yang tergerai indah dari wajahnya. Dengan intens ia menatapnya. Cantik! hanya satu kata itu yang ada dibenaknya. Ia kembali mengerjapkan matanya saat melihat wajah gadis yang sangat familiar tersebut. Beberapa kali ia mengetok kepalanya dengan tangannya agar kesadarannya mampu bertahan. Tetapi yang dirasakannya adalah desakan libido yang semakin memintanya untuk dipuaskan.
Tidak ingin berlama-lama, akhirnya dengan tidak sabaran Rafael merobek pakaian yang melekat ditubuh gadis tersebut. Bahkan ia sudah menindihnya dan memberikan kismark disepanjang tubuh gadis yang masih belum sadar tersebut. Entah karena apa gadis itu sama sekali tidak pernah membuka matanya sama sekali.
Rangsangan libido Rafael semakin meningkat saat ia menatap tubuh bugil gadis tersebut. Dengan tangan bergetar ia melepaskan satu-satunya penutup miliknya. Rafael yang memang sudah dibutakan oleh nafsu dan dipengaruhi oleh obat tersebut tidak ingin menunda lama. Ia ingin segera menuntaskannya.
Rafael kembali mencium leher gadis tersebut dan tetap memposisikan dirinya diatas gadis tersebut. Tanpa menyadari pergerakan dari gadis tersebut, ia terus melakukan aksinya bahkan ia begitu sangat menikmatinya.
__ADS_1
Wanita itu mulai membuka matanya dengan perlahan saat ia merasakan sesuatu yang terasa sakit dan juga berat, bahkan rasanya seperti menggelitik dan sedikit basah. Ia terbelalak kaget saat melihat seorang lelaki yang tidak dikenalnya sedang berada diatasnya dan sedang menciumi lehernya.
Rafael sudah bersiap memposisikan miliknya tepat dihadapan milik wanita tersebut. Namun ia sangat terkejut saat tubuhnya tiba-tiba terpental karena ditendang oleh wanita tersebut hingga ia terjatuh kelantai. Ia meringis saat merasakan cairan yang merembes dari hidungnya dan masuk kedalam mulutnya, terasa asin. Rupanya hidungnya sudah mengeluarkan darah karena tendangan wanita tersebut.
Dengan setengah kesadaran Rafael menyeka bibirnya yang terasa robek tersebut dan berusaha berdiri. Namun perempuan itu justru kembali menyerang dirinya. Gerakannya begitu lincah walaupun dibaluti oleh selimut. Namun tidak berapa lama justru perempuan itu tampak ambruk diatas tubuh Rafael. Seakan mendapatkan kesempatan, bergegas Rafael memeluk perempuan itu dan kembali mencium leher wanita tersebut yang tidak sadarkan diri diatas tubuhnya.
***
Yaska kembali masuk kedalam club malam tersebut bermaksud untuk menghampiri Rafael, namun keberadaan Rafael sudah tidak ada ditempatnya. Matanya mengedar keseluruh penjuru club itu, tetap saja Rafael tidak nampak batang hidungnya. Yaska mulai merasa tidak nyaman. Ia segera menghubungi beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Rafael, bahkan ia menghubungi pemilik club tersebut untuk melihat rekaman cctv.
Mata Yaska tampak terbelalak saat ia melihat Rafael yang langsung mabuk berat setelah disuguhi minuman oleh seorang bartender tersebut. Ia mulai curiga dengan minuman tersebut. Yaska yakin, pasti ada yang tidak beres dengan semua ini.
Ceklek.
Akhirnya pintu terbuka, keadaan kamar tersebut tampak remang-remang namun itu semua tidak membuat pandangannya terganggu bahkan ia masih bisa melihat dengan jelas keadaan kamar yang berantakan, kasur yang sudah acak-acakan bahkan pakaian tampak berceceran dimana-mana dan beberapa diantaranya pakaian wanita yang tampak sobek. Mata Yaska kembali membulat setelah melihat pemandangan didepannya, pemandangan yang membuat Yaska tidak percaya, bagaimana bisa seorang Rafael sedang ditindih oleh seorang perempuan. Bukannya mereka bergelut diatas ranjang, yang ada justru diatas lantai. Ia berdecak beberapa kali saat imajinasi liar berfantasi diotaknya.
Dengan lirikan matanya, ia melarang semuanya mengintip, bahkan ia sendiri mulai mundur dan kembali menutup pintu tersebut. Ia tahu bahwa dirinya berada diwaktu yang tidak tepat dan sangat mengganggu privasi bosnya sendiri, bahkan ia baru tahu kalau bosnya pun sudah mengenal yang namanya wanita karena ini yang pertama kalinya ia melihat Rafael bersama dengan wanita dalam satu kamar.
"Sebaiknya kalian berjaga didepan pintu kamar ini, terus awasi Bos, jangan sampai dia kenapa-napa dan pastikan dia dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Yaska pada seluruh anak buahnya yang berjumlah puluhan tersebut.
"Pak, kalau begitu saya juga ingin menginap dikamar yang tepat berada disebelahnya. Kamar ini belum ada penghunikan?" tunjuk Yaska pada kamar yang berada tepat disamping kamar 707.
__ADS_1
"Tidak ada, Pak. Kamar ini sedang kosong. Kalau begitu saya akan mengambilkan kuncinya untuk Bapak terlebih dahulu." Yaska hanya mengangguk saja setelah melihat kepergian pemilik club tersebut dari hadapannya. Ia menunggu pemilik club tersebut sambil sesekali menatap kearah pintu yang dihuni oleh Rafael untuk menghabiskan malam panjangnya.
***
Keesokan harinya, Rafael membuka matanya dengan perlahan, rasanya kepalanya begitu berat. Bahkan sekujur tubuhnya terasa dipaku. Ia berusaha menyibak selimut yang ada diatas tubuhnya, namun gagal. Dengan perlahan ia mencoba menggerakkan badannya, namun ia mengernyit dalam saat merasakan badannya yang ditindih oleh beban berat, bahkan ranjang yang biasanya empuk tiba-tiba terasa sangat keras.
Sekali lagi Rafael mencoba memperjelas pandangannya. Ini bukan kamarnya, bahkan ia sedang tertidur dilantai yang dingin tanpa beralaskan apapun juga. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu yang terjadi sebelumnya namun tidak ada hal yang mampu di ingatnya. Semua terasa begitu samar di ingatannya.
Mata Rafael tampak terbelalak kaget saat melihat ada rambut seorang perempuan yang menyembul dibalik selimutnya. Dengan sedikit kekuatan ia akhirnya bisa menyingkirkan beban yang ada diatas tubuhnya.
Dug.
Badan waniya tersebut tampak terhempas kelantai, namun kesadarannya masih belum pulih juga. Rafael hanya melirik saja pada perempuan yang tidak kelihatan wajahnya tersebut. Ia ingin duduk, namun Rafael kembali terbelalak saat melihat dirinya yang tanpa sehelai benang pun, bahkan pakaiannya dan juga pakaian wanita yang masih belum bangun tersebut masih berserakan dilantai. Seumur hidup, belum pernah ia melakukan hal sampai sekhilaf ini. Bahkan untuk mencium perempuan pun ia tidak pernah melakukannya, lalu apa ini? Ia tampak terhenyak melihat pemandangan yang tampak asing tersebut. Ia benar-benar tidak mengingat semuanya.
Yang ada dibenak Rafael adalah bagaimana permainan pertamanya tadi malam hingga mereka sampai berada diatas lantai dan cukup jauh keberadaannya dari ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan perlahan, namun justru rasa sakit yang ia rasakan pada wajahnya.
Matanya kembali terpaku pada sosok wanita yang sejak tadi masih tergeletak tidak berdaya diatas lantai dengan selimut yang masih membalutinya. Rafael merasa kasian dengan wanita tersebut, dengan perlahan ia menyibak selimut yang masih menutupi wajah gadis tersebut. Alangkah terkejutnya dirinya saat melihat wajah gadis tersebut. Gadis belia yang sempat ditemuinya beberapa waktu yang lalu. Bahkan gadis itu pula yang sudah sangat dikagumi oleh asistennya Yaska karena umurnya yang belia namun ia sangatlah pandai dalam mengurusi bisnisnya.
"Alisya!!"
💦💦💦
__ADS_1