
"Jadilah istriku dan juga ibu dari semua anak-anakku," ucap Rafael berbisik di telinga Alis. Seketika Alis langsung mendorong tubuh Rafael dari pelukannya, membuat Rafael langsung terjatuh dan terduduk di lantai marmer. Matanya melotot kearah Rafael sambil berdecak tidak suka dan tangannya menggosok telinganya beberapa kali, barangkali ia tadi salah dengar.
"Apa-apaan kamu! Tidak sopan!" ketus Alis memberengut sambil memalingkan tatapannya dari Rafael yang sudah mengedutkan sudut bibirnya melihat respon Alis tersebut. Ingin rasanya ia tertawa tapi sebisa mungkin ia menahannya, kalau tidak maka rencananya untuk bisa bersama dengan gadis mungil ini akan gagal.
"Bagaimana kalau kamu hamil anakku? Tentu saja kamu akan menikah denganku!" ucap Rafael tenang sambil berdiri. Ia duduk kembali di hadapan Alis sambil menatap mata Alis yang menatap kearahnya.
"Bagaimana kalau aku tidak hamil?" tanya balik Alis tanpa menjawab pertanyaan Rafael. Rasanya ia tidak percaya kalau ia dan Rafael pernah tidur bersama.
"Apa kamu yakin tidak hamil, sedangkan kita melakukannya berkali-kali, bukan hanya sekali!"
Alis melirik kearah Rafael yang tersenyum samar kearahnya, ia tidak bisa berkutik karena apa yang dikatakan oleh Rafael mungkin ada benarnya, apalagi waktu itu adalah masa subur dirinya. Alis menunduk menatap kearah depan hingga terpampang makanan yang sama sekali belum disentuh oleh Rafael didepan matanya.
"Apa itu benar? Apa kamu sudah menemukan buktinya?" tanya Alis lagi. Ia tidak ingin melihat mata Rafael dan merasa kecewa karenanya. Ia belum siap untuk menjalani masa-masa terikat dirinya dengan seseorang.
"Sudah. Apa kamu ingin melihatnya?" tanya Rafael. Ia menatap kearah Alis yang tampak ragu. Senyum samarnya kembali terbit, ia tahu kalau Alis tidak akan pernah mau menonton hal yang seperti itu, tontonan orang dewasa. Ia meraih handphonenya yang tergeletak diatas meja. Menggeser layar ponselnya dan mencari video tersebut yang sudah tersimpan di galery. Dengan gerakan perlahan ia mendekat kearah Alis.
Alis melirik kearah handphonenya saat video tersebut mulai diputar, ia merasa deg-degan luar biasa. Hingga pada adegan Alvaro menindih Alis yang tanpa busana, Alis segera memalingkan wajahnya.
"Stop!" teriak Alis. Ia benar-benar tidak ingin melihat adegan selanjutnya, karena ia sudah tahu kelanjutannya. Ia menarik napas sedalam-dalamnya untuk menghilangkan rasa sesak yang menghimpit dadanya, walau bagaimanapun juga sesuatu yang sudah dijaganya selama ini ternyata sudah hancur. Ingin rasanya ia menangis dan berteriak tapi tidak ada gunanya juga, semua sia-sia. Ia tidak menyangka kalau dirinya begitu mudah menyerahkan semuanya bahkan dengan orang asing dan orang yang tidak dia cintai.
Rafael tersenyum senang dan segera menutup video yang berdurasi selama beberapa menit tersebut. Akhirnya Alis menyerah juga untuk melihat adegan selanjutnya yang memang tidak dikehendakinya Alis untuk melihat kebenarannya.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Rafael kemudian. Ia menatap Alis yang terlihat lebih diam dimatanya.
"Aku akan menikah denganmu apabila aku hamil tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya?" tanya Rafael dengan cepat, ia sudah bersorak senang didalam hatinya karena Alis akhirnya menyetujuinya walaupun dengan cara curang.
"Izinkan aku untuk tinggal disini, melanjutkan sekolahku dulu. Setelah aku lulus baru kita akan menikah," pinta Alis.
Rafael menatap tidak suka pada apa yang sudah di minta oleh gadis mungil tersebut. Rasanya ia tidak rela apabila Alis jauh dari dirinya. Ia sudah merasa sangat nyaman bersama Alis bahkan ia sudah menjatuhkan hatinya pada gadis pendiam namun berwibawa ini. Bahkan ia juga sangat mengagumi Alis, dibalik ketidak sadarannya, Alis masih bisa merespon bahwa dirinya dalam bahaya. Sungguh gadis ini istimewa, dapat menjaga mahkotanya dengan sangat baik. Rafael tidak menanggapi permintaan Alis tersebut. Ia hanya bungkam saja sambil beberapa kali menatap Alis yang sudah mengalihkan tatapannya kearah lain.
"Sebaiknya kamu sarapan dulu, karena sejak tadi aku lihat sarapanmu masih utuh," tunjuk Alis dengan dagunya kearah sarapan Rafael yang mulai dingin. Ia tidak ingin memperpanjang percakapan ini yang nantinya akan berbuntut panjang.
"Sebagai hukuman yang pagi tadi," ucap Rafael lagi menambahkan dengan nada dingin dan ketus.
Alis meraih piring milik Rafael sambil menggerutu. Ia tidak suka dengan tingkah Rafael yang manja dan tidak sesuai dengan umurnya.
"Sudah tua masih manja!" gerutu Alis sambil mengangkat sendok yang sudah berisi makanan kehadapan Rafael. Ia menyuapai Rafael dengan telaten. Senyum samar kembali terbit diwajah Rafael, rasa senang yang tidak pernah ditemukannya sejak dulu. Bahkan saat dirinya melihat Alis yang memberengut, dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
•••
Mobil Roll Royce melaju membelah jalanan ibukota, beberapa mobil lainnya tampak menggiring mobil mewah tersebut. Mobil yang ditumpangi oleh Alis dan juga Rafael. Setelah Rafael menghabiskan sarapannya tadi, mereka langsung beranjak meninggalkan hotel bintang 5 tersebut untuk menuju kearah kediaman orang tua Alis. Yaska sudah menginformasikan kedatangan Rafael yang ingin berkunjung kerumah Bastian namun tidak dikatakan bersama dengan Alis. Begitupun dengan Alis yang juga tidak diberitahukan sebelumnya. Mereka ingin memberi kejutan kepada keduanya.
__ADS_1
Alis terlihat gelisah dan sesekali matanya melirik kearah jalanan. Buku yang dipegangnya sejak tadi tidak dibacanya sama sekali, hanya tangannya yang tidak berhenti membolak-balik halamannya. Ia terlihat sangat gugup dan juga takut akan murka orang tuanya, terlebih lagi ia tidak ingin melihat kekecewaan dimata mereka.
"Berhenti membolak-balik buku itu! Kamu ingin merobek halamannya!?" sindir Rafael yang merasa jengah melihat tingkah gugup Alis. Ia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis mungil tersebut.
Alis hanya mendelik kearah Rafael, kemudian matanya beralih menatap kearah buku yang ada ditangannya. Benar, buku itu bahkan terlihat sudah lecek. Tangannya bergerak perlahan, menggosok dan meniup kertas-kertas tersebut dengan gerakan halus dan itu menimbulkan kernyitan halus didahi Rafael. Ia menatap Alis bingung.
"Jangan memperlakukannya seperti itu, seperti dia kekasihmu saja!" ketus Rafael lagi sambil melipat kedua belah tangannya di dada.
Alis menghentikan pergerakannya, ia kembali mendelik kearah Rafael kemudian mengalihkan tatapannya lagi kearah tepi jalan yang terlihat jarang rumah penduduk.
"Stoppp!!!" teriak Alis keras. Seketika mobil berdecit dan berhenti dengan mendadak ditengah jalan. Alis bergegas membuka pintu mobil, ia berlari keluar dari mobil. Buku yang ada ditangannya dilemparkannya begitu saja kearah Rafael.
Rafael terkejut dan melongo sekaligus, melihat gerakan Alis yang sangat cepat. Matanya menatap tajam kearah sopir yang tampak ketakutan. Ia lupa mengunci mobilnya secara otomatis. Ia menyadari sesuatu, Alis sedang melarikan diri darinya. Rafawl seketika terlihat murka dan mengetatkan rahangnya.
"Kenapa kamu hanya diam saja!!? Cepat kejar dia!!!" teriak Rafael murka pada sopir dan juga beberapa bodyguard yang datang menghampirinya. Ia menatap kearah belakang sekilas, Alis sudah menghilang dari pandangannya. Ia tidak percaya bahwa gadis itu bisa lepas dari tangannya begitu saja bahkan tanpa diduganya, gerakannya juga sangat gesit dalam melarikan diri.
Rafael beberapa kali meninju kursi kosong yang tadi sempat diduduki oleh Alis. Dengan segera ia keluar mobil dan membanting pintu mobil dengan sangat keras. Ia tidak tahu kemana larinya Alis, ia sama sekali tidak mengenal daerah ini.
"Cepat cari dia sampai dapat, kalau tidak maka kalian akan mendapatkan hukumannya!!!" gertak Rafael semakin murka menatap kearah anak buahnya yang tampak gelabakan dan tampak kalang kabut. Ia benar-benar seperti monster yang sedang kelaparan dan mengamuk.
💦💦💦
__ADS_1