Layangan Kertas

Layangan Kertas
Kebenaran


__ADS_3

Alis mendelik tak suka kearah Rafael saat mendengar kata-kata Rafael barusan yang memanggilnya sayang. Ia kembali berjalan bersama dengan Rafael. Benaknya dipenuhi tanda tanya tentang keberadaan Alifa di hotel ini.


"Jangan terlalu banyak berpikir nanti kepalamu bisa botak," ucap Rafael blak-blakan sambil menyentil dahi Alis saat mereka berada didalam lift.


Alis hanya menggosok dahinya yang terasa sedikit sakit. Ia tidak perduli dengan keberadaan Rafael disampingnya. Yang dipikirkannya adalah ancaman Alifa, apa yang sedang direncanakannya untuk menjatuhkan Alis lagi. Rasanya Alis benar-benar sakit hati dengan sikap Alifa padanya sejak dulu saat mereka masih bersahabat. Untungnya tadi dirinya bisa menahan amarahnya. Kalau tidak, maka Alifa sudah menjadi samsaknya atau mungkin dia bisa menjadi remahan kue.


"Hmmm." Alis melirik sesaat kearah Rafael yang berdehem, ia kembali mengalihkan tatapannya kedepan saat pintu lift sudah terbuka. Mereka kembali melangkah kearah restoran yang terdapat di hotel tersebut.


Yaska dan beberapa orang bodyguard yang lainnya berjalan kearah Rafael dan membisikkan sesuatu, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Alis tidak tahu karena ia tidak mendengarnya, lagi pula itu bukan urusannya. Ia meraih kursi kosong yang sudah disediakan untuk mereka. Duduk tenang disana sambil meraih buku menu yang ada di meja tersebut.


Beberapa orang tamu yang ada disana tampak menatap mereka dengan pandangan berbeda. Beberapa wanita juga tampak memandang Rafael dengan tatapan terpesona, bahkan mereka kini sudah menjadi pusat perhatian seluruh para tamu. Alis merasa tidak nyaman dengan tatapan seperti itu, rasanya ia seperti dikuliti saja. Ia beralih menatap Rafael yang sudah duduk dihadapannya, lelaki sombong itu terlihat biasa saja dan tidak perduli dengan situasi disekitarnya, dia benar-benar acuh dan angkuh.


Salah seorang wanita cantik dengan pakaian seksi tampak mendekat kearah meja yang mereka tempati. Pandangannya begitu menggoda dan gayanya sangat centil. Melihat hal itu, Alis segera meletakkan buku menu dan membuka buku yang ada ditangannya, ia tidak perduli pada apa yang akan terjadi selanjutnya karena ia sudah bisa menduganya.


"Hai, boleh aku duduk disini?" tanya perempuan itu dengan suara yang dibuat-buat mendesah dipendengaran Alis.


"Ma'af nona, Tuanku sedang tidak ingin diganggu!" bukan Rafael yang menjawab, tapi Yaska.


"Kalau begitu, boleh kita berkenalan? Tidak lama kok, hanya 5 menit," pintanya lagi sambil mengulurkan tangannya kearah Rafael, disertai dengan senyum manis dan menggoda.


"Nona, sudah saya bilang kalau Tuan tidak ingin diganggu!" sahut Yaska lagi masih dengan inotasi sopan. Tapi wanita itu tidak perduli pada apa yang diucapkan oleh Yaska, seolah-olah ia hanya mendengarkan dengungan nyamuk ditelinganya.


Tanpa seizin pemilik meja, wanita itu duduk disamping Rafael, ia terdengar berdecak kagum beberapa kali saat menatap kearah Rafael dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan ia hampir meneteskan air liurnya. Matanya mengerling beberapa kali. Namun yang ditatap dan digoda tidak perduli, bahkan terkesan angkuh dan sombong. Ia bahkan sama sekali tidak berkeinginan untuk melirik kearah wanita tersebut. Sedangkan Yaska tampak kalang kabut karena sikap tidak sopan wanita tersebut dan juga melihat sikap Rafael yang sejak tadi diam saja namun mendekam kemarahan.


Alis menutup bukunya dan melirik kearah wanita yang bermake up tebal tersebut. Ia sama sekali tidak mengenalinya. Matanya memindai pada gaun seksi yang dikenakannya, sangat terbuka dengan leher v yang memperlihatkan belahan dadanya. Sungguh Alis bergidik melihatnya.


"Hai dek, kakak boleh duduk disini kan?" tanyanya pada Alis dengan gaya yang centil tetapi manis, seolah-olah ia mengenal Alis dengan sangat akrab. Sedangkan Yaska sudah ingin menarik wanita itu, ia sudah memegang pergelangan tangan wanita tersebut.


Alis melirik kearah Rafael yang langsung dihadiahi oleh Rafael dengan pelototan mata. Alis tahu kalau Rafael sangat risih dengan keberadaan wanita yang ada di meja mereka. Alis tersenyum tipis saat ide jahil muncul dibenaknya.


"Boleh kok Mba!" ucap Alis, yang kembali dihadiahi dengan pelototan dan tatapan intimidasi dari Rafael. Aura terasa sangat mencekam di meja mereka, namun Alis tidak perduli. Ia acuh saja dan melirik kearah wanita tersebut yang sangat bernafsu menatap kearah Rafael. Pesona Rafael memang membuat wanita mana saja klepek-klepek tapi tidak termasuk dirinya.


"Tuhkan, Tuan Ganteng, adiknya saja sudah mengizinkanku. Adiknya memang manis dan cantik!" ucap wanita tersebut sambil melepaskan tangannya yang dipegang oleh Yaska. Wanita itu mendelik kesal kearah Yaska sambil mencibir. Kemudian dia tersenyum kembali menatap kearah Rafael yang sejak tadi acuh saja.


Alis memberengut kesal saat wanita itu bilang kalau dirinya adalah adik Rafael. Adik darimana coba, wajah mereka jauh berbeda. Begitu juga perawakan mereka. Warna rambut tidak sama, warna mata juga tidak sama dan juga warna kulit mereka juga berbeda. Dimana coba kemiripannya. Mungkin yang dimaksudnya adalah adik pungut.


"Hmm. Nona, dia bukan adik Tuan tapi dia istrinya Tuan," bisik Yaska didekat telinga wanita tersebut membuat wanita itu terkejut dan melotot dan langsung mendelik kearah Alis. Bahkan ia memindai tubuh Alis dari atas sampai bawah, membuat Alis menjadi sangat risih dibuatnya. Begitu juga dengan Alis yang tampak terkejut mendengar penuturan Yaska yang seenaknya saja. Wajahnya seketika berubah masam.


Berbeda dengan Rafael, ia menunjukkan rasa senangnya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Yaska barusan. Ingatkan dia untuk memberikan bonus pada Yaska nanti setelah sarapan berakhir. Dan wajah itu membuat Alis merasa jengkel saat melihatnya, ingin rasanya ia tonjok dengan tangannya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Rafael dengan gerakan mulut yang cukup dimengerti oleh Alis, karena ia mengucapkannya tanpa suara. Ia menatap kearah Alis dengan tatapan jahil.


"Apa-apaan dia?" gumam Alis didalam hatinya. Ia menatap kearah wanita yang sejak tadi memperhatikannya dan memberikannya penilaian. Bahkan ia juga menatap kearah dirinya dan Rafael secara bergantian, Alis kembali merasa risih.


"Gadis yang belum masak ini sudah menjadi istrimu, apa kamu bercanda!?" ucapnya tiba-tiba setelah keterkejutannya, ucapannya seolah-olah meremehkan Alis. Dan itu semua membuat hawa neraka terasa membius bertiup disekitar mereka.


Rafael menatap wanita itu dengan sangat dingin bahkan rahangnya terlihat mengeras. Ia tidak suka kalau gadisnya dijelek-jelekkan apalagi itu terjadi dihadapannya sendiri.


"Cukup!! Sebaiknya kamu pergi dari mejaku. Kamu menggangguku yang sedang berbulan madu dengan istriku!!" ucap Rafael berdesis yang membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia menatap dingin wanita tersebut yang tampak ketakutan dibuatnya. Meja yang mereka tempati sudah menjadi pusat perhatian beberapa orang.


Wanita tersebut segera berdiri, ia berlalu tanpa kata. Alis merasa bersalah karena sudah mengizinkan wanita tersebut untuk duduk disini. Tadinya dia hanya ingin menjahili Rafael namun ternyata semua itu membuat Rafael terlihat sangat marah, ia menyesal. Ia menatap kearah Rafael yang masih memerah menatap kearah dirinya, dengan tatapan penyesalan dan tatapan minta ma'af.


"Kamu akan mendapatkan hukumannya setelah ini!" ucap Rafael dingin sambil menatap Alis dengan sorot tajam.


"Ma'af, tadi aku tidak bermaksud__."


"Cukup! Sebaiknya kamu segera habiskan makananmu dan setelah itu aku akan segera mengantarmu pada orang tuamu!" ucap Rafael yang sudah berdiri dari duduknya. Ia berjalan meninggalkan Alis yang menatapnya dengan rasa bersalah.


Pergerakan Alis yang ingin berdiri dan mengejarnya terhenti saat Yaska menatapnya dan menggelengkan kepalanya. Ia menyuruh Alis untuk memakan makanan yang baru saja diletakkan pramusaji diatas meja dihadapannya. Yaska memang sudah menyiapkan semua menu makanan untuk mereka sarapan sehingga saat mereka sudah berada dimeja restoran, mereka tidak perlu menunggu lama untuk makanan yang mereka pesan.


Alis melirik sekali lagi kearah Rafael yang sudah menghilang dibalik pintu lift. Bahkan lelaki bermata biru tersebut sama sekali tidak ingin menatap kearahnya. Alis semakin merasa bersalah karena membuat lelaki sombong itu marah bahkan ia tidak sarapan.


"Kalau begitu, bisakah kamu menolongku? Bawakan Rafael sarapan kekamarnya," ucap Alis yang membuat garis melengkung dibibir Yaska. Ia tahu kalau gadis pendiam ini sangatlah memperhatikan Rafael bahkan ia terlihat sangat mengkhawatirkannya.


"Baiklah kalau itu maumu, aku akan segera keatas." Yaska memanggil salah seorang pramusaji yang berlalu lalang disana. Ia menyuruh mereka untuk mengantarkan sarapan kekamar Rafael. Ia juga meninggalkan beberapa orang bodyguard untuk menjaga keselamatan Alis. Benar-benar sangat protektif.


Alis makan dengan tidak tenang, ia terus memikirkan cara meminta ma'af pada Rafael. Ia tidak tahu kalau Rafael begitu sensitif kalau menyangkut masalah perempuan.


•••


Rafael sedang duduk di kamarnya bersama berkas yang ada ditangannya. Ia terlihat sedang tidak baik, bahkan pikirannya sedang memikirkan gadis yang akhir-akhir ini mengacaukan pikirannya.


Tok tok tok


"Masuk!" ucapnya tanpa mengalihkan tatapannya kearah pintu yang terbuka.


Pintu terbuka, Yaska masuk bersama seorang pramusaji ywng membawakan dirinya makanan. Rafael masih sibuk dengan berkasnya tanpa menatap sedikitpun pada Yaska. Ia tahu kalau Yaska sedang berjalan kearahnya bersama makanan yang sudah diambilnya dari Pramusaji tersebut. Setelah Yaska meminta pramusaji untuk keluar dan menutup pintunya.


"Sebaiknya kamu makan dulu, jangan membuat Alis khawatir. Kasian dirinya, dia terlalu muda untuk memikirkan semua itu dan tidak mengerti dengan pikiran orang dewasa seperti dirimu."

__ADS_1


"Jangan menasehati diriku seperti kamu ibuku!" ucap Rafael jengkel sambil menatap kearah Yaska dengan kesal. Entah kenapa saat ia mendengar Yaska yang membela Alis, ia merasa kesal. Seolah-olah Yaska ingin menjadi pelindung bagi Alis.


"Hah... terserah kau sajalah. Kamu juga menganggap diriku sebagai Bapakmu, aku tidak masalah," jawab Yaska acuh. Wajah Rafael seketika menjadi masam.


"Bagaimana dengan kejadian malam itu, apa kamu sudah bisa mengungkit semua kebenarannya. Karena Alis meminta bukti itu padaku sebelum aku benar-benar menikahinya." Rafael mengubah topik pembicaraannya. Ia meletakkan berkas ditangannya keatas meja yang ada dihadapannya. Pandangannya tampak serius menatap kearah Yaska.


"Aku sudah menemukannya."


Rafael tampak mengangguk, ia tahu kalau Yaska sangat bisa diandalkan. Namun disatu sisi ia menginginkan untuk mengetahui kebenarannya sedangkan disisi lainnya ia tidak ingin menelan pil pahit kalau semua itu palsu. Ia tidak ingin ketakutannya menjadi kenyataan. Ia merasa sudah nyaman bersama gadis mungil tersebut. Walaupun Alis pendiam tetapi dia mempunyai rasa hangat dan nyaman.


"Apa yang sudah kamu dapatkan?" tanya Rafael dengan tegas.


Yaska tersenyum kearahnya. "Sebaiknya kamu menontonnya sendiri karena aku tidak ingin melihat privasi milik Bosku sendiri," sindir Yaska terkekeh sambil menyerahkan ponsel miliknya.


Rafael mengambilnya, kemudian kembali menyerahkan ponsel tersebut pada Yaska. "Sebaiknya kamu kirim saja ke ponselku rekaman CCTV tersebut," pintanya. Yaska mengangguk sambil meraih posel miliknya. Ia mengotak-atik sebentar hingga terdengar bunyi notif dari ponsel milik Rafael.


Dengan tenang Rafael membuka ponsel miliknya yang berada diatas mejanya. Ia menggeser layar handphone tersebut dan menatap kearah video yang baru saja dikirim oleh Yaska padanya. Ia mengkliknya dan menontonnya. Ada raut lega diwajahnya namun tidak menutupi ada sedikit keresahan dari tatapannya.


"Jadi benar kalau malam itu aku tidak menidurinya. Kami hanya melakukan pemanasan dan setelahnya kami justru berguling di lantai karena Alis yang menendang diriku. Sungguh memalukan karena harga diriku sedang terkoyak," gumam Rafael yang disambut kekehan oleh Yaska.


"Itu artinya kalau kamu masih perjaka!" ucapnya kembali terkekeh. Ia menghentikan tawanya setelah terdengar ketukan pintu dari luar. Mereka terdiam dan menatap kearah pintu.


"Sebaiknya kamu rahasiakan semua ini dari Alisya, karena aku tidak ingin dirinya tahu kebenarannya."


Yaska mengangguk, dia mengerti karena setelah ini maka kehidupan Alis tidak akan seperti dulu lagi sebelum mereka pernah sekamar berdua. Ia berjalan kearah pintu dan membukanya. Yaska mengulas senyumnya saat melihat Alis yang sudah berdiri didepan pintu. Ia menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan Alis masuk kedalam sementara dirinya keluar kamar untuk memberikan kesempatan pada mereka berdua.


Alis menatap kebelakang saat pintu kamar yang mereka tempati tertutup. Ia kembali menatap kearah Rafael yang duduk sambil memeriksa berkas miliknya. Mata Alis beralih pada makanan yang sama sekali belum disentuh olehnya dihadapan Rafael. Benar dugaannya kalau Rafael sedang marah padanya, buktinya dirinya sama sekali tidak ingin menatap kearahnya sama sekali.


"Kenapa tidak dimakan?" tanya Alis sambil duduk didepan Rafael.


Sudut bibir Rafael tampak berkedut, ia tahu kalau Alis pasti sangat mengkhawatirkannya. Namun ia ingin bermain-main terlebih dahulu untuk membuat gadis didepannya ini semakin merasa bersalah dan tidak mengulang perbuatannya dikemudian hari.


Rafael meletakkan berkas yang ada ditangannya, bahkan sejak Alis masuk tadi dirinya hanya berpura-pura saja memeriksanya padahal yang sebenarnya dirinya justru ingin melihat sikap Alis padanya. Ia menatap kearah Alis dengan sorot kecewa dan terluka bahkan ia seperti kucing liar kurus yang baru saja dipukuli.


Alis terkejut menatap kearahnya, ia menunduk sambil meremas tangannya. Alis tidak sadar kalau Rafael sudah berada sangat dekat dengan dirinya.


"Aku__," mata Alis melotot saat Rafael tiba-tiba memeluk dirinya. Tadinya ia bermaksud ingin meminta ma'af padanya namun justru yang didapatnya Rafael tiba-tiba memeluknya. Alis rasanya tidak bisa bernapas. Ia gugup, namun ia akui kalau dirinya juga merasakan rasa hangat yang menjalar keseluruh tubuhnya.


"Jadilah istriku dan juga ibu dari semua anak-anakku!"

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2