
Sesampainya di kantin, mereka duduk pada meja yang biasa ditempati oleh mereka. Semua mata masih menatap dan mencemooh terhadap Alis.
"Wow wow... gadis panggilan sudah kembali ke sekolah setelah bersenang-senang dengan bule kemarin di hotel!" Alifa datang menghampiri Alis, bahkan suaranya yang kencang sudah menjadi pusat perhatian seluruh siswa yang ada disana.
Al tampak geram mendengarnya, ingin rasanya ia mengacak-acak mulut pedas Alifa yang tidak tahu aturan.
"Jaga bicaramu, apa begini caramu mencari muka dengan selalu suka mencari masalah?" desis Al.
"Dia memang biang gosip," timpal Andra dengan sinis.
"Untung bukan biang keringat!" ceplos Irfan asal sambil terkekeh.
Alifa hanya memutar bola matanya mendengar ucapan Andra dan juga Irfan.
"Itu kebenarannya Al, apa kamu tidak melihat berita yang sudah beredar di chanel sekolah kita?" Alifa menatap sinis kearah Al yang selalu membela Alis, ia sangat iri dengan Alis yang selalu di kelilingi oleh lelaki ganteng. Bahkan ia sempat marah dan kecewa pada ayahnya karena sudah gagal melenyapkan Alis, bahkan kini ayahnya sedang dalam masa pengejaran. Ya, Munawir adalah ayahnya Alifa, orang yang penuh dendam pada keluarga Alis hingga mendarah daging pada anaknya. Rasa dendamnya semakin memuncak terhadap Alis karena kerjasama ayahnya dan tuan Maxwell harus menumbalkan dirinya sebagai pemuas nafsu lelaki bejat tersebut. Dan ia bertekad agar Alis merasakan seribu kesakitan yang sudah dialaminya.
Alifa menatap semakin benci terhadap Alis.
"Pembunuh!!" umpat Alifa kesal. Ia benci melihat sikap Alis yang sejak tadi terlihat tenang dan acuh padanya. Bahkan gadis itu seolah-olah tidak mendengar yang diucapkannya.
Al tampak geram. "Apa buktinya kalau berita itu benar? Apa kamu bisa membuktikannya!!?"
"Kalian lihat saja nanti, gadis ini pasti akan hamil. Paling lama 3 bulan, perutnya pasti akan terlihat besar!!" Ia berucap dengan enteng. Alifa menunjuk kearah Alis. Ia sudah tahu apa yang terjadi pada Alis di luar negri sana, karena dirinyalah yang meminta agar kesucian Alis direnggut oleh seseorang. Dan atas permintaannya jugalah ayahnya menculik Alis untuknya. Namun ia belum merasa puas kalau Alis masih muncul didepan matanya.
Alis ingin membela diri namun ucapan Alifa terasa sangat menohoknya, bahkan kata-kata pedas itu benar adanya. Ia benci mengakuinya. Alis mengangkat wajahnya dan menatap kearah Alifa dengan tajam, gadis ini tidak layak untuk dikasihani, walau bagaimanapun dia adalah orang yang paling benci dengan dirinya hanya karena masalah pekerjaan ayahnya dulu. Dendamnya benar-benar mengakar dengan kuat di urat nadinya.
Alis berdiri dan berjalan kearah Alifa, ia berdiri tepat disisi tubuh Alifa.
"Tidak perlu menuduhku seperti itu kalau ternyata kamu juga melakukan hal yang sama dengan yang aku lakukan. Aku masih ingat suara desahan di sebuah kamar yang kamu tempati malam itu. Bahkan desahannya berlangsung sampai pagi." Bisik Alis tepat ditelinga Alifa, membuat Alifa seketika membulatkan matanya terkejut. Namun ia segera merubah raut wajahnya, tangannya terkepal erat disisi tubuhnya, ia benar-benar benci pada Alis.
"Kenapa? Kamu terkejut? Apa kamu ingin kedokmu aku buka didepan umum besok, di pesta ulang tahun sekolah besok. Dan aku ingatkan sekali lagi padamu, aku adalah pemilik sekolah yang saat ini kamu injak. Apa kamu ingin dikeluarkan dari sekolah dengan cara tidak terhormat?" Alis masih berbisik, ia terlihat sangat tenang walaupun tatapan matanya begitu menusuk.
Sedangkan Alifa semakin terkejut mendengarnya. Ia berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila. Bahkan rahasianya sudah diketahui oleh Alis. Namun ia berusaha bersikap tenang.
Ia mensedekapkan tangannya didada, tatapannya dibuatnya begitu menantang. Ia tidak ingin terintimidasi oleh Alis yang nyatanya tidak punya apa-apa sekarang, hanya bermodal tubuh maka ia akan diantar oleh setiap lelaki ke sekolahnya dengan mobil mewah mereka. Nyatanya mobil yang ditumpanginya tidak pernah sama.
"Coba saja kalau kamu berani, dan soal sekolah ini milikmu, jangan mimpi. Ini masih siang!!" ucap Alifa dengan suara yang sengaja dikencang-kencangkan agar siswa yang lain mendengarnya.
__ADS_1
Mereka semua yang ada disana tampak tertawa, mentertawakan Alis yang mengada-ada menurut mereka.
"Mana ada gadis miskin mampu memiliki sekolah sebesar ini, kecuali dia sudah tidur dengan pemiliknya. Tapi kurasa itu juga tidak mungkin, tubuhnya tidak pantas dihargai semahal itu," sindir Alifa.
Gubraakkk!!!
Semua tampak terlonjak saat Al menggebrak meja didepannya dengan sangat kuat. Cukup sudah ia mendengar pelecehan Alifa terhadap Alis. Ia sangat tidak suka Alis direndahkan seperti itu.
Seluruh mata menatap kearahnya, Al yang terkenal baik dan lembut tiba-tiba hari ini terlihat kasar. Dan semua ini membuat mereka diam.
Al meraih tangan Alis dan menggenggamnya, membawanya keluar dari kantin. Ia tidak ingin Alis mendapatkan kesedihan lagi.
"Alis, kita pulang sekarang!!" ucap Al menarik tangan Alis dan membawanya kearah mobilnya di parkiran.
"Alis!!!"
Alis berbalik saat Liza berteriak memanggilnya. Ia menatap kearah Al yang masih menahan amarahnya. Terlihat jelas aura wajahnya yang masih menggelap.
"Kamu tidak apa-apakan?" Liza memutar-mutar tubuh Alis sekilas.
"Kalian mau kemana?" Liza beralih menatap kearah tangan Alis yang masih digenggam oleh Al.
"Aku ingin membawa Alis kesuatu tempat!"
Al kembali menarik tangan Alis menuju ke mobilnya tanpa memberikan kesempatan untuk Liza bertanya mrngenai mereka.
Alis tampak diam termenung, bukan tentang kata-kata Alifa yang dipikirkannya tapi tentang kehidupannya yang kacau akhir-akhir ini. Tadinya ia sempat bermimpi bisa bersama pangerannya menjalani masa-masa indah saat remaja. Namun justru bencana datang dan mengacaukan semuanya.
Matanya melirik kearah perutnya, ada rasa tidak rela saat perutnya benar-benar terisi dengan seorang bayi.
Semua pergerakannya sejak tadi selalu diperhatikan oleh Al. Ia tidak tahu apa yang ada dibenak Alis sehingga ia beberapa kali selalu menatap kearah perutnya.
"Ada apa? Sejak tadi aku lihat kamu selalu menatap kearah perutmu. Apa kamu sedang sakit perut?" tanya Al masih fokus menyetir.
Alis terperanjat mendengarnya, ia melirik kearah Al dari samping. Ia merasa gugup bahkan jantungnya berdetak tidak karuan.
"Aku tidak apa-apa," sahut Alis sambil membuang mukanya kearah jendela.
__ADS_1
"Aku tidak yakin. Kamu sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Sahut Al dingin.
Alis terkesiap mendengar suara Al yang terdengar dingin ditelinganya, biasanya Al berbicara selalu hangat padanya. Ia terlihat serba salah karena ia sudah berbohong pada Al. Ia juga takut jujur pada Al maka Al akan meninggalkan dirinya. Bolehkah ia juga berharap pada sosok yang selalu ada dikala dirinya dalam kesusahan ini.
Ciiiittttt.
Mobil berdecit saat Al menghentikan lajunya dengan mendadak. Ia berbalik menatap kearah Alis dengan kecewa.
"Jawab Alis!!" desis Al semakin dingin seiring dengan tangannya yang mencengkeram bahu Alis.
"Aku tidak apa-apa!" ucap Alis berusaha tenang. Padahal didalam hatinya ia merasakan gelombang luka sedang menghampirinya. Bahkan menghantam hatinya hingga berdentam-dentam.
"Kamu bohong Alis!!" teriak Al, mukanya tampak memerah menatap kearah Alis.
"Aku mendengar semua bisikanmu pada Alifa tadi. Apa kamu lupa kalau keberadaan kalian berdua tadi sangat dekat denganku!" Kali ini Al terdengar sedikit lebih lunak. Ia menatap bola mata Alis yang terlihat sangat resah bahkan keringat dingin muncul dipelipisnya.
"Aku tidak menyangka, ternyata berita yang selama ini beredar adalah benar. Ataukah kamu memang benar-benar sudah tidur dengan Rafael?" Al mengungkapkan seluruh kekecewaannya. Ia benar-benar kecewa pada Alis. Wanita yang selama ini dikaguminya tidak seperti kenyataannya.
Alis menggeleng beberapa kali, ingin rasanya ia mengatakan tidak tapi semua itu memang benar adanya. Hatinya berdenyut hebat, bahkan ujung matanya mulai berembun saat Al menyuruhnya untuk keluar dari mobilnya.
"Al, dengarkan aku, semua tidak seperti yang kamu kira!"
"Keluar!!!"
"Al, dengarkan dulu penjelasanku!"
"Keluar!!!"
Akhirnya Alis segera keluar dari mobil Al yang meninggalkan dirinya dengan kecepatan yang sangat kencang. Alis terhenyak melihatnya, hatinya benar-benar sakit, ia tidak punya lagi bahu untuk bersandar.
Beberapa kali ia memukul dadanya yang terasa sangat sesak. Bahkan tangis yang diharapkannya keluar tidak pernah ada. Hanya tatapan kosong dan dirinya yang semakin tenggelam kedalam lamunan.
Langkah Alis berjalan tak tentu arah, ia sudah biasa menghadapi kesakitan hidupnya. Tapi kali ini ia benar-benar merasa kehilangan. Sama seperti kehilangan neneknya saat meninggal dunia.
Seperti inikah rasanya tidak dipercaya oleh orang yang sudah kita percaya, sakit. Rasanya benar-benar sakit. Lebih sakit lagi dari pada kesakitan yang ditanggung wanita yang sedang melahirkan.
💦💦💦
__ADS_1