Layangan Kertas

Layangan Kertas
Perdebatan Kecil


__ADS_3

Aldo menatap Alis yang sedang duduk di depannya. Ia sengaja mengajak Alis untuk bertemu dengannya, karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya.


Sejak 5 menit yang lalu, mereka hanya saling menatap. Aldo dengan tatapan tajam dan sinisnya, sedangkan Alis dengan tatapan tidak perdulinya.


Alis menggerakkan dagunya pertanda bertanya ada apa.


"Jauhi Al!" desis Aldo dengan tatapan elangnya. Alis hanya diam saja tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang kaku.


"Aku tidak suka kamu mempermainkan dirinya. Kalau kamu benar-benar ingin melihat dia bahagia, segera jauhi dia!" peringat Aldo. Ia berdiri setelahnya, meninggalkan Alis yang masih duduk terpaku. Menimbulkan tanda tanya yang besar dibenak Alis hingga ia tidak sadar kalau Aldo sudah menghilang dibalik kafe miliknya.


"Bos! Bos! Ada apa?" Randy duduk didepan Alis tepat diposisi Aldo duduk tadi. Alis menatap kearah bawahannya dan menggeleng.


"Itu tadi siapa, Bos?"


"Teman sekolah," sahut Alis. Ia terlihat kurang bergairah.


"Sebaiknya kamu urus semuanya, aku perlu memeriksa laporan keuangan bulanan." Alis berjalan dan meninggalkan Randy menuju kearah ruang kerjanya.


Tatapan Alis nanar menatap kearah jalanan kota yang terlihat dari jendela ruang kerjanya. Pikirannya justru berkelana memikirkan tentang perkataan Aldo tadi.


Itukah alasannya yang selalu menatap Alis dengan tatapan tidak suka. Aldo hanya takut kalau Alis melukai perasaan Al. Tidak tahukah Aldo, betapa terlukanya dirinya kalau Al menjauh darinya.


Tanpa sadar ia meremas pulpen yang ada di tangannya. Lamunannya buyar saat terdengar pintu yang diketok dari luar.


"Masuk!"


Randy masuk dengan membawa banyak laporan di tangannya serta sebuah nampan di tangan pelayan yang ada di belakangnya.


"Kamu letakkan saja diatas meja situ airnya!" tunjuk Randy pada pelayannya.


"Bos, kenapa wajahmu pucat? Apa kamu sedang kurang enak badan?" Randy meletakkan laporan tersebut diatas meja Alis. Pelayan tadi sudah keluar.


Alis hanya menggeleng, ia menyunggingkan senyum kakunya. Senyum yang dipaksa lebih tepatnya.


"Aku hanya kelelahan, akhir-akhir ini sangat banyak tugas sekolah. Selain membuat makalah, juga harus belajar untuk persiapan ujian."


Randy mengangguk setuju dengan ucapan Alis tersebut.


"Sebaiknya Bos jaga kesehatan, jangan terlalu lelah. Kalau ada sesuatu, jangan terlalu sungkan padaku."

__ADS_1


"Atau Bos fokus dulu dengan sekolah Bos, biar urusan kafe aku yang menanganinya."


"Terima kasih," sahut Alis.


Alis mengangguk samar, ia menatap kepergian Randy dari ruangannya. Kembali berbalik menghadap jendela.


Pintu ruang kerjanya kembali terbuka, tampak sosok Rafael berdiri di belakangnya. Ia sudah tahu apa yang baru saja terjadi dan itu sangat menguntungkan dirinya.


"Jangan memikirkan hal yang membuat wajah cantik ini menjadi suram," ucap Rafael. Ia memeluk tubuh Alis dari belakang, meletakkan dagunya diatas bahu Alis. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah Alis.


Membuat Alis merasa resah, beberapa kali ia mencoba melepaskan pelukan tersebut, tapi tangan hangat itu terlalu sulit untuk di lepaskan.


"Rafael, lepaskan aku!" Alis bergerak ingin melepaskan dirinya untuk kesekian kalinya,tapi gagal. Bersamaan dengan itu, pintu ruangannya tampak terbuka.


Alis membelalakkan matanya, ia merasa sangat malu mendapati keadaan dirinya seperti ini. Sedangkan Rafael bersikap acuh saja, masih sama seperti tadi posisinya.


"Ma'af Bos kalau aku mengganggu!" Randy ingin menutup pintu ruangannya tetapi urung setelah mendengar pertanyaan dari Alis.


"Ada apa?" Alis sudah berhasil lepas dari Rafael setelah menginjak kakinya dan berjalan kearah Randy.


"Ada tamu yang sedang mencari Bos," sahut Randy. Ia menundukkan kepalanya saat melihat Rafael yang menatapnya tidak suka.


Alis langsung mendelik kearahnya, menatap tajam Rafael.


"Bawa aku kesana," ucap Alis acuh sambil mengikuti Randy yang sudah menganggukkan kepalanya.


"Aku ikut!" Rafael berlari mengejar Alis. Ia seperti anak kucing yang manja pada tuannya.


Alis hanya diam dan meneruskan langkahnya tanpa menghiraukan Rafael yang berada di belakangnya.


Setelah mencapai anak tangga terakhir, Alis terkesima menatap keberadaan Al yang duduk manis di meja pojok. Menatap kearah luar, melihat gemerlapnya lampu yang menghiasi taman kafe tersebut.


"Jangan jauh-jauh dariku," Rafael menarik tangan Alis dan menyeimbangkan langkahnya dengan Alis. Ia tidak akan membiarkan Alis berduaan dengan Al. Pantas saja Alis berdandan cantik, ternyata ingin bertemu dengan Al. Ia pikir Alis bertemu dengan pemuda sebelumnya saja.


Randy berdehem saat Alis sudah berada di hadapan Al.


Al berpaling menatap kearah Alis, ia terkesima dibuatnya. Senyumnya langsung mengembang melihat wajah Alis yang terlihat merona walaupun wajahnya tetap kaku.


Senyum Al menghilang saat pandangan matanya beralih menatap Rafael yang berdiri di samping Alis. Ia menatap tidak suka kearah Rafael, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"Meja ini hanya ada 2 kursi, jadi silahkan kamu cari meja yang lain," usir Al pada Rafael. Ia segera berdiri dan meraih tangan Alis.


Rafael menepis tangannya yang sudah menggenggam tangan Alis hingga terlepas.


"Siapa bilang meja ini hanya untuk 2 kursi?" Rafael menatap pelayan yang tampak memdekat kearahnya. Memberi kode agar meletakkan satu kursi lagi di meja hadapan mereka.


Sedangkan Al dan Alis sudah duduk di kursi masing-masing tanpa menghiraukan Rafael.


"Kenapa kamu selalu menjadi pengganggu diantara kami!" Al kembali menatap tajam Rafael. Sungguh lelaki dihadapnnya tidak tahu malu.


"Siapa bilang aku mengganggu? Aku hanya menjaga Alis saja dari sikap nakalmu. Siapa tahu terjadi hal-hal diluar sewajarnya," ucap Rafael sambil melipat tangannya di depan dada dan bersandar di kepala kursi.


"Bukankah lelaki dan wanita dilarang berduaan, karena yang ketiganya adalah setan. Maka keberadaanku disini untuk menghilangkan setan tersebut," sambung Rafael masih bersikap acuh.


Al tampak geram dibuatnya. Ini namanya bukan kencan romantis lagi karena ada pengganggu.


"Darimana datangnya dirinya?" gumam Al yang masih di dengar oleh Rafael.


"Apa? Apa yang barusan kamu bilang!?" Rafael tidak terima dengan sindiran Al.


"Aku tampan begini, tentu saja datang dari negaraku! Bukankah wanita Indonesia sangat menyukai pria bule," sahut Rafael lagi dengan nada sombong dan percaya diri.


Al melotot mendengarnya, ia sudah berdiri dan bersiap ingin memaki Rafael tetapi urung setelah melihat gelengan kepala dari Alis. Tangan Alis bergerak lembut membelai tangannya, menghantarkan perasaan tenang dan nyaman ke sarafnya.


"Rafael, bukankah kamu hari ini ada pekerjaan diluar? Sebaiknya segera panggil Yaska untuk menjemputmu!" Alis beralih menatap kearah Rafael dengan hangat membuat Al berdecak tidak suka dengan sedikit perhatian yang diberikan oleh Alis.


Namun, bagi Alis itu bentuk sebuah pengusiran secara halus.


"Kamu tenang saja, pertemuannya akan berlangsung disini!" Rafael tersenyum lembut kearah Alis.


Al melotot mendengarnya, berarti Rafael akan selalu mengganggu kebersamaan mereka.


"Kapan dia kembali?" bisik Al di telinga Alis.


"Tidak perlu bisik-bisik, aku masih mendengarnya!" Menatap kesal kearah Al. "Tanyakan saja padaku langsung, apa susahnya sih!" ucapnya lagi.


Alis mendesah mendengar perseteruan diantara mereka berdua. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka perdebatkan.


💦💦💦

__ADS_1


__ADS_2