Layangan Kertas

Layangan Kertas
Ada Apa Dengan Aldo


__ADS_3

Selama pelajaran berlangsung, Alis diam dan mendengarkan dengan seksama. Namun itu hanya gambaran luarnya saja, sedangkan hatinya tampak perih memikirkan masalah yang sedang dihadapinya.


"Alis, udah bel istirahat. Aku mau kekantor dulu, ada urusan."


Alis hanya diam saja dengan lamunannya, ia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Liza. Alis berdiri dan melangkah keluar setelah cukup lama ia melamun didalam kelas. Langkahnya menggiringnya menuju kearah kantin. Seluruh mata menatap kearah Alis yang duduk dipojokan kantin.


"Eh, kita jumpa lagi gadis sial."


Alis menatap kearah sumber suara. Jessica berdiri tepat dihadapannya bersama dengan Alifa. Mereka tersenyum senang saat menatap mangsanya duduk sendirian sedang melamun pula.


"Duh, putri malu melamun saja, mana pengawalmu yang waktu itu membelamu." kata Alifa dengan tawa renyahnya.


"Lif, tidak usah **** napa. Pengawalnya mengundurkan dirilah karena takut sama malaikat penjaga neraka."


Jessica dan Alifa tampak terbahak setelah mengucapkan kalimat tersebut. Namun Alis tidak bergeming sedikitpun, ia tetap diam tidak perduli dengan yang mereka katakan.


Apa-apaan sih mereka, sedang mengganggu malaikat pencabut neraka. Bukan malaikat penjaga neraka.


Alis tampak mulai geram dengan tangan nakal Alifa yang mulai membelai rambutnya. Tiba-tiba byur.... Alis melotot kearah Jessica yang memegang gelas kosong ditangannya. Baju Alis tampak basah kemerahan karena diguyur dengan jus buah naga.


"Ih takut... penjaga neraka berapi-api hingga badannya memerah." Dengan ekspresi pura-pura takut.


Alifa tampak tertawa puas dengan hasil kerja Jessica. Kini dendamnya akan terbalas dengan bantuan Jessica yang bahkan lebih hebat dari dirinya dalam hal mempermalukan Alis.


"Ternyata kamu sangat lemah, sama lemahnya seperti kamu kecil dulu." Alifa berbisik ditelinga Alis.


Alis tetap tidak menggubrisnya, ia menatap seisi kantin yang tampak ikutan mentertawakan dirinya yang tampak bodoh dan diam saja diperlakukan seenaknya oleh kedua gadis nakal didepannya ini. Bukannya ia takut pada mereka, ia hanya ingin agar mereka sadar dengan kebaikannya bukan dengan cara membalas perbuatan mereka dengan cara yang sama.


"Apa-apaan kalian!" Angga bergegas melepas jaketnya dan memakaikannya pada Alis yang tampak basah karena diguyur dengan dua buah gelas jus naga dan jus jeruk. Ia yang awalnya masuk kantin untuk makan diurungkannya setelah melihat keributan yang terjadi didepan matanya. Ia tidak menyangka bahwa Alis lah korban yang di olok-olok seluruh penghuni kantin.


"Jess! Kamu baru hari ini turun sekolah, bebas dari hukuman. Seharusnya kamu sadar dan bersyukur karena kamu sudah dima'afkan oleh pihak sekolah. Bukannya malah membuat onar." Angga menatap jengkel kearah Jessica.

__ADS_1


"Aku dima'afkan bukan karena dia! tapi karena mereka tahu bahwa aku adalah keponakan dari salah satu donator sekolah ini." Jessica tampak sombong dan pongah.


"Jess, tidak perlu kamu sesombong itu. Orang yang lebih dari kamu saja tidak seperti itu, dia masih bisa merendah." Angga menggertakan giginya kesal terhadap Jessica yang keterlaluan menurutnya. Ia membawa Alis yang hanya diam saja menuju kearah luar kantin.


Sedangkan Alifa tampak mendesis marah dengan kedatangan Angga yang mengganggu kesenangannya. "Dasar gadis lemah." Desisnya tepat dihadapan Alis.


Angga dan Alis sudah berada dilorong sekolah.


"Kenapa Lis kamu merendah, kenapa!" Angga menatap Alis dengan setengah kemarahannya. Ia mengacak rambutnya frustasi karena melihat gadis didepannya ini yang diam saja.


"Lis, kalau kamu punya masalah jangan diam saja, bicara Lis. Atau kamu merasa takut dengan mereka? Aku bisa melindungi kamu Lis." Angga merendahkan suaranya setelah dapat menguasai emosinya.


Alis menatap Angga dengan tatapan kosong, tanpa menggubris kata-kata Angga ia segera berlari dari hadapan Angga menuju kearah kamar mandi sekolah. Namun sebelum itu, tangannya sudah ditangkap oleh Angga terlebih dahulu.


"Sebaiknya kamu bersihkan dulu pakaianmu yang kotor, biar aku yang mengantarmu sampai kelas."


Alis melirik sesaat kearah Angga, ia menganggukan kepalanya. Pikirannya sedang tidak berada ditempatnya, ia terus terbayang dengan kata-kata Januar pagi tadi. Ia benar-benar sedih dengan sikap orang tuanya terhadapnya.


💦💦💦


"Aldo!! Ada apa denganmu?" Al menghampiri Aldo yang tampak kelelahan karena sudah membuang banyak energinya.


Aldo menatap kedepan dan membelakangi Al yang berjalan perlahan menghampirinya. Al baru pertama kali ini melihat Aldo bersikap seperti manusia, punya emosi yang cukup tinggi. Tidak seperti biasanya yang hanya diam saja dan bersikap dingin.


"Mereka hanya mementingkan ego mereka, tanpa memikirkan perasaan yang bersangkutan. Bahkan tidak pernah tahu apa yang diinginkan oleh anaknya sendiri."


Diam dan mendengarkan, hanya itu yang bisa dilakukan oleh Al untuk sekarang. Ia yang cukup mengenal Aldo, tahu bahwa Aldo adalah pribadi yang tenang namun rasa tenang itu akan berbanding terbalik apabila ada seseorang yang mengganggu privasinya. Al menyimpulkan bahwa untuk saat ini, privasi Aldo sedang diganggu oleh seseorang, tapi ia tidak tahu siapa orang itu hingga menimbulkan ledakan-ledakan kecil didalam diri Aldo.


"Aku ingin menolak tapi aku takut durhaka. Aku ingin menerima tapi aku takut untuk mencintainya, aku tidak bisa."


"Memangnya kamu ada masalah apa sih Do, hingga bersikap kekanakan seperti ini." Andra mendekat kearah Aldo yang terlihat sudah mulai tenang.

__ADS_1


"Aku dijodohkan oleh orang tuaku yang bahkan batang hidungnya saja aku tidak pernah melihatnya."


"Siapa?" Irfan memicingkan matanya dengan penuh tanya. Ia tampak sangat penasaran dengan sosok gadis yang memporak-porandakan seorang Aldo.


"Aku juga tidak tahu siapa, tapi gadis itu satu sekolah dengan kita."


Irfan tampak menganga mendengarnya. "Namanya mungkin, sebagai petunjuk." Irfan kembali mengungkit lebih dalam lagi.


"Syaiba."


"Aku tahu siapa Syaiba." Al memejamkan matanya sesaat, ia kembali mengingat percakapan ayahnya diruang makan pagi tadi. Irforman ayahnya memberi kabar bahwa Syaiba baik-baik saja. Ya, Syaiba adalah orang yang telah menolong ayahnya malam itu dan mendapat luka dijidatnya karena pukulan para preman malam itu. Tapi sayang, ia tidak melihat seperti apa wajah gadis tersebut. Tapi, dari kata-kata ayahnya jelas menggambarkan bahwa Syaiba adalah gadis cantik yang pemberani.


Seluruh mata menatap kearah Al, mereka tampak terkejut mendengarnya.


"Siapa Al?" Irfan kembali bertanya dengan antusiasnya.


"Gadis yang menolong ayahku malam itu dari gangguan para preman dan juga begal. Hanya ayahku yang tahu keberadaannya."


"Maksud kamu apa?" Aldo berbalik menatap kearah Al.


"Rumahnya, ayahku tahu dimana letak rumahnya. Kamu bisa mengintainya untuk melihat rupa wajahnya, agar kamu mengenalinya disekolah ini." Al tersenyum sambil menepuk bahu Aldo.


"Wah, aku juga ingin ikut mengintai gadis tersebut. Aku penasaran, secantik apa gadis pujaan Aldo." Irfan berkata dengan girang tanpa melihat perubahan wajah Aldo yang kembali menggelap.


"Ih, apa-apaan sih kamu." Andra menoyor kepala Irfan dan mencengir kearah Aldo.


"Sakit... tau." Irfan memberengut kesal dan menepis tangan Andra yang ingin mencubit pipinya.


"****. Gadis itu pilihan orang tuanya, bukan pujaannya."


"Iya-iya tau, tadi aku keceplosan." memperlihatkan senyum konyolnya.

__ADS_1


Aldo tampak bernapas lega setelah mendengar penjelasan Al. Itulah gunanya seorang sahabat, disaat sedang susah sekalipun, mereka akan datang membantu.


💦💦💦


__ADS_2