Layangan Kertas

Layangan Kertas
Perut Kamu


__ADS_3

Alis mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk keretinanya. Ia menatap kamar yang tampak asing dimatanya. Alis segera mendudukkan dirinya dan merasakan pusing yang mendera dikepalanya.


"Sudah sadar?" tanya suara yang sangat dikenal Alis dengan gaya sombongnya.


Alis mendelik tidak suka pada Rafael saat ia kembali mengingat pernyataan Rafael yang sangat mengejutkan tersebut, rasanya ia sangat malas untuk melihat wajah lelaki yang sayangnya sangat tampan tersebut.


"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu akan tergila-gila padaku."


Alis kembali mendelik kearah Rafael dengan sorot tak terbaca. Ia kesal dengan sikap Rafael yang suka seenaknya saja saat berbicara.


"Besok kita akan ke Indonesia, jadi hari ini sebaiknya siapkan dirimu untuk penerbangan besok!"


Alis terdiam mendengar ucalan Rafael barusan. Ia mengerjap beberapa kali dan menggosok telinganya berulang kali untuk memastikan bahwa yang didengarnya tidaklah salah. Dengan gerakan lambat Alis menatap kearah Rafael dengan tatapan bertanya.


"Iya. Besok kita ke Indonesia. Kamu ingin bertemu mereka 'kan?" Rafael kembali mengulang kata-katanya.


Tanpa sadar, Alis tersenyum girang, bahkan senyumnya sangat lebar hingga memperlihatkan sebaris giginya yang putih bersih, bahkan matanya tampak menyipit. Semua itu membuat Rafael tertegun melihatnya, baru kali ini ia melihat senyum tulus seorang Alisya yang sudah tinggal bersamanya selama sepekan. Tanpa sadar Rafael ikut menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis yang manis.


"Kak, boleh aku meminta sesuatu padamu?" tanya Alis yang tiba-tiba mendekat kearah Rafael, bahkan sangat dekat.


Deg.


Rafael merasakan debaran dadanya saat melihat Alis berbicara lugas dan sedikit manja. Tidak seperti biasanya yang hanya diam saja ataupun berbicara seperlunya saja. Ia mengangguk dan mengalihkan tatapannya kearah luar jendela. Ia merasakan kali ini atmosfer sangat panas sehingga membuatnya sangat gugup berhadapan dengan Alis.


"Aku ingin main layangan diatas rooftop!" pintanya sambil memegang lengan baju Rafael.


Rafael memperhatikan pergerakan Alis dan menatap kearah tangan Alis yang bertengger manis di lengan bajunya. Ia berdehem sesaat untuk menghilangkan perasaannya yang tiba-tiba menjadi gugup dan sedikit berdebar.


"Baiklah kalau itu maumu." Rafael bergegas berdiri dan meninggalkan Alis yang kembali menatapnya dengan sorot dingin.


***


Saat ini mereka berdua sedang berada diatas rooftop dengan layangan ditangan masing-masing. Layangan Alis tampak indah dengan bentuk burung dengan bervariasi warna yang menghiasnya, namun didominan dengan berwarna hijau. Sedangkan milik Rafael berbentuk ikan pari dengan warna dasar hitam.


Entah darimana Rafael bisa dengan cepat mendapatkan layangan tersebut, namun yang pasti ia segera mengabulkannya setelah Alis meminta padanya tadi. Ia baru tahu kalau gadis pendiam itu sangat menyukai sebuah layangan, bahkan sangat piawai memainkannya.


Dengan perasaan dag dig dug, beberapa kali Rafael tampak gelabakan saat layangannya terlihat terbang dengan liar, ia tampak kesusahan mengendalikannya, hingga dahinya tampak dipenuhi oleh keringat yang membanjirinya. Ini yang pertama kalinya ia memegang benang layangan dan memainkannya. Biasanya ia hanya sibuk dengan urusan pekerjaannya tanpa menghiraukan kesenangan dan hiburan. Kalaupun ia memerlukan hiburan, maka ia akan pergi ke klub untuk sekedar minum.


Alis menatap kearahnya beberapa kali dan meminta Rafael untuk mengikuti pergerakkan anggota tubuhnya. Lelaki dingin itu benar-benar tegang bahkan gerakannya terlihat sangat kaku. Dimata Alis, Rafael terlihat sangatlah lucu, hingga tanpa sadar ia tertawa sambil memegang perutnya.


Rafael kembali tertegun menatap kearah Alis, tanpa sadar ia melepaskan benang layangannya. Matanya mengerjap menatap kearah Alis yang tampak menawan dimatanya. Gadis belia itu benar-benar berbeda baginya.

__ADS_1


"Ka! benang layangannya!" tunjuk Alis pada benang layangan milik Rafael.


Rafael tampak tergugu, bergegas ia meraih benang layangan yang beruntungnya masih tersangkut di pagar rooftop tersebut.


"Kamu sangat jago rupanya bermain layangan, apa setiap hari kamu memainkannya?" tanya Rafael yang sudah duduk tepat disamping Alis. Matanya mengedar menatap kearah Alis yang terlihat sendu.


"Ini hanya sebagai hiburan," jawab Alis acuh dengan sedikit malas. Ia malas untuk kembali mengingat masa-masa sakit dan juga masa-masa dirinya terasingkan.


"Hah. Semua orang juga punya masa lalu yang pahit. Tidak hanya dirimu, diriku juga pernah mengalaminya. Kau tahu, setiap keberhasilan yang kita capai dalam membangun usaha, disitulah rintangannya. Banyak orang yang merasa tidak suka melihat keberhasilan yang kita dapatkan sehingga mereka dengan berbagai cara selalu menyingkirkan kita, termasuk menjebak kita."


Alis menyipit menatap kearah Rafael, ia tidak paham apa yang sedang dibicarakan oleh lelaki dingin tersebut.


"Maksud kamu apa? Apa ini ada sangkut pautnya dengan kita?" tanya Alis sambil menatap kearah Rafael yang hanya bungkam dan menatapnya dengan sorot tajam.


Dan juga, soal pernikahan itu aku tidak setuju. Karena__."


Belum sempat Alis mengutarakan alasannya, Rafael sudah berdiri dan meninggalkan dirinya dengan amarah yang meluap. Ia berjalan dengan langkah lebar bahkan tanpa menatap sedikitpun pada Alis. Ia sudah salah menilai gadis itu, ia pikir Alis sudah menerima dirinya, namun ia justru tidak pernah mau mengerti dengan situasi yang baru saja mereka alami.


"Rafael! tunggu!" Dengan cepat Alis mengejar Rafael, bahkan dengan gerakan salto . Tangannya dengan cepat menangkap pergelangan tangan Rafael yang berada didalam saku celananya. Ia terkejut saat Rafael menyorot kearahnya dengan tatapan yang mengintimidasi.


"Jangan bertingkah seperti itu lagi. Itu sangat berbahaya bagi perutmu!"


"A-ku, Akuu hanya, emm aku bingung dengan situasi ini," cicit Alis sambil mengedarkan tatapannya kearah mana saja asal jangan menatap kearah Rafael yang membungkusnya dengan tatapan dingin.


Rafel melepaskan tangannya yang masih dipegang oleh Alis. Ia menarik napasnya sejenak untuk menetralkan rasa marahnya. Rasanya sangat sulit menjelaskan pada gadis belia yang ada dihadapannya. Seandainya ia tahu sebelumnya bahwa ia dijebak, maka ia tidak akan pernah untuk menyentuh minuman laknat tersebut. Mata Rafael bergulir kearah perut Alis yang rata, membuat Alis mengernyit dan menatap kearah objek yang ditatap olehnya.


"Perut? Kamu sangat menyukai perutku yang rata ini sehingga kamu ingin menikahiku?" tanya Alis. Sesaat kemudian ia tampak tertawa, mentertawakan lelucon yang baru saja didapatnya. Semua itu begitu konyol menurutnya, ada seorang lelaki yang ingin menikahinya karena perutnya.


"Sebelum dia tumbuh didalam perutmu, sebaiknya kita segera menikah!"


Alis terperanjat mendengar jawaban Rafael. Tawanya seketika langsung senyap, ia menatap dingin kearah Rafael. Ia tahu apa yang barusan dimaksud oleh Rafael. Ia bukanlah anak TK lagi, tapi ia sudah belajar tentang reproduksi dan juga kata-kata kiasan seperti itu.


"Apa yang sudah kamu lakukan padaku!" Alis berdesis, matanya mulai berembun, tangannya terkepal menahan emosinya yang memuncak.


"Aku rasa kita sudah melakukannya malam itu. Ada seseorang yang menjebakku dan memasukkanku kedalam kamar yang kamu tempati. Dan tentu saja kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya kalau dua orang pria dan wanita berada dalam satu kamar." Rafael tersenyum miring kearahnya.


Lunglai, seluruh sendi Alis terasa lemah dan tidak berdaya. Ia berusaha menopang dirinya. Bahkan air matanya meleleh dipipinya tanpa ia sadari. Rafael tidak tega menatapnya, ia merasa bersalah kini karena sudah membuat gadis itu menjadi syok, tapi ia juga tidak ingin menundanya untuk memberitahunya. Akan sangat kacau apabila ia memberitahunya disaat perut Alis sudah membesar.


"Jangan mendekat! Biarkan aku sendiri disini!" teriak Alis parau saat Rafael berjalan selangkah kearahnya. Ia masih dengan posisinya, berjongkok dan menelungkupkan kepalanya pada lututnya.


"Kenapa ini terjadi padaku! Kenapa aku tidak bahagia selama hidupku. Kenapa!!?" isak Alis masih dengan paraunya.

__ADS_1


Rafael semakin tertegun melihat Alis yang menangis, tapi kenapa rasanya ia ikut sakit saat melihat gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Dengan langkah lebarnya ia berjalan menghampiri Alis, tak dihiraukannya semua penolakan yang diberikan oleh Alis padanya. Tangannya tergerak meraih Alis dan mendekapnya erat dalam pelukannya. Ia mempereratnya saat Alis memberontak, namun sedetik kemudian Alis terlihat tenang. Tangannya dengan perlahan membelai rambut Alis yang panjang. Ia benar-benar sakit saat melihat gadis ini menangis dan putus asa. Ia bertekad akan menghabisi siapa saja orang yang sudah menculik Alis dan menjebak dirinya.


Rafael mengernyit saat mendapati pergerakan Alis yang semakin melemah didalam pelukannya. Ia tersenyum samar saat mendapati gadis belia itu sedang tertidur disana. Dengan gerakan hati-hati ia meraih tubuh Alis dan mengangkatnya ala bridal style.


"Dia kenapa?" tanya Yaska saat melihat Alis yang berada didalam gendongan Rafael. Saat ini ia sedang keluar dari lift dan menuju kearah ruangannya.


"Nanti kuceritakan padamu didalam!" Yaska mengangguk dan segera membukakan pintu ruangan untuk bosnya sekaligus sahabatnya tersebut.


Dengan hati-hati Rafael meletakkan Alis diatas ranjang yang ada di ruangan pribadi miliknya. Dengan perlahan ia menyapu jejak air mata yang masih membekas disana. Hatinya kembali berdenyut saat mengingat Alis yang meraung dan putus asa. Gadis sebelia itu terlihat tidak pernah bahagia. Biasanya seorang gadis seumuran dia akan selalu bersama teman atau sahabatnya, mereka akan shoping bersama ataupun berkumpul di kafe, taman, ataupun bermain di mall. Berbeda dengan gadis ini, dia hanya suka membaca buku dan sifatnya sangat tersembunyi karena saking pendiamnya.


Rafael bergegas keluar kamar setelah Yaska menatap dan mengkodenya dari arah pintu. Ia menyelimuti tubuh Alis sebatas dada terlebih dahulu. Dengan gerakan lambat, ia mengecup dahi Alis dalam durasi beberapa detik.


"Eem kamu terlihat sangat perhatian padanya bahkan memberikan kecupan sebelum tidur. Apa kamu menyukainya?" ledek Yaska saat Rafael sudah duduk di sofa yang ada di ruangan kantornya tersebut. Sedangkan Rafael hanya bersikap acuh saja tanpa menghiraukan ledekan yang dilontarkan oleh Yaska padanya.


"Ada apa dengannya?" tanya Yaska kembali, kali ini dengan nada serius. Ia tahu kalau Rafael bukanlah orang yang bisa diajak untuk sekedar bercanda. Hidupnya terlalu keras hingga membuatnya sangat dingin. Namun Yaska tahu, setelah kehadiran Alis dikehidupan Rafael. Rafael sedikit demi sedikit sudah mulai membuka diri, bahkan ia bisa mengukir senyumnya. Berbicarapun tidak sepelit dulu dan juga sifat sombongnya perlahan mulai memudar.


"Aku hanya mengatakan alasan menikahinya!" ucap Rafael acuh tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa yang kamu katakan padanya?" Yaska sedikit melebarkan matanya. Ia menatap tak percaya pada apa yang baru saja dilontarkan oleh Rafael.


"Aku bilang padanya bahwa 'kita akan menikah sebelum dia tumbuh didalam perutmu'. Hanya itu yang aku ucapkan, tapi dia terlihat sangat marah padaku. Bahkan dia mengatakan akulah yang menjebak dirinya. Aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa saat dia bangun nanti. Aku benar-benar tidak mengerti dengan makhluk yang bernama wanita," gumam Rafael sedikit frustasi.


Yaska tersenyum saat melihat rasa khawatir Rafael yang teramat besar untuk Alis. Ia tahu kalau perlahan-lahan hati Rafael sudah mulai bisa menerima kehadiran Alis didekatnya. Tidak salah kalau ia memutuskan untuk segera menikahi Alis, karena ini adalah solusi yang tepat. Demi anak yang ada di perut Alis dan demi sikap yang ada di diri Rafael yang semakin menghangat.


"Kamu jangan khawatir, dia hanya syok saja. Besok juga akan menghilang rasa marah dan kecewanya padamu. Sebaiknya kamu beristirahat juga karena besok kalian akan melakukan penerbangan kenegara Indonesia."


"Aku khawatir dia akan berbuat sesuatu yang nekat," ucap Rafael sambil menerawang mengingat Alis yang tampak putus asa.


"Tidak akan, dia gadis kuat dan dia juga bukan gadis yang kebanyakan pada umumnya. Jadi kamu tenang saja. Lagi pula, masih ada kamu yang akan selalu menjaganya."


Rafael mengusap wajahnya. "Bagaimana dengan perkembangan kasusnya? Apakah kamu sudah mendapatkan petunjuknya?" tanya Rafael.


"Aku sudah memeriksa cctv yang ada di klub malam tersebut. Sepertinya ada seseorang yang sengaja mensabotase cctvnya sehingga kejadian yang kamu alami bersamanya di kamar 707 malam itu tidak ada. Bahkan orang yang sudah kami tangkap tersebut, ternyata juga dibayar oleh seseorang. Ia sama sekali tidak tahu siapa dalang dibalik kasus ini."


"Jadi, kasus ini orang bayarannya semacam berantai?"


"Bisa dibilang begitu," sahut Yaska sambil menganggukkan kepalanya.


"Tadi juga aku sudah menghubungi mata-mata kita yang ada dinegara Indonesia. Ia juga tidak dapat mengumpulkan bukti-bukti disana, karena cctv yang ada didepan rumah Alis sudah dirusak oleh orang itu terlebih dahulu."


Rafael hanya terdiam mendengar penuturan Yaska. Ia merasa khawatir dengan keselamatan Alis yang sedang diincar oleh seseorang diluar sana. Bagaimanapun juga ia akan bertekad untuk membongkar kasus ini dan akan melindungi Alis semampunya.

__ADS_1


💦💦💦


__ADS_2